Rembulan

Rembulan
Ada yang kenal sama Reza?


__ADS_3

Di perjalanan muka Juno terlihat kesal dan marah. Bulan sudah tahu penyebab kemarahannya, pasti suaminya melihat foto dirinya di handphone Raymond.


“Jangan marah sama aku… aku gak tau kalau Mbak Sarah ngirimin foto aku”


“Mestinya aku yang marah bukannya dimarahin”.


“Aku sudah berusaha supaya aku bisa lebih baik”


“Aku udah pakai hijab supaya orang tidak melihat fisik aku, secara aku sudah menikah jadi yang bisa melihat aurat aku cuma suami dan keluarga”


“Aku juga tadi udah bilang sama Mas Ray kalau aku sudah menikah”


“JANGAN SEBUT DIA MAS RAY” ucap Juno kesal, Bulan terlonjak kaget.


“Astagfirullah… jangan bentak-bentak gitu atuh bikin kaget”


“Bilang aja baik-baik… belajar mengendalikan diri” ucap Bulan sambil menarik nafas


“Aku manggil dia Mas karena kita itu harus menjalin hubungan yang baik dengan mitra, jangan kaku tapi membuat dua perusahaan akrab dan nyaman”


“Kalau memang Aa gak suka ya sudah aku tidak akan berurusan lagi”


“Capek  juga aku jadinya”


“Niat baik mau membantu perusahaan tapi salah”


“Aku mau ngurusin kerjaan aku saja”


“Peduli amat sama perusahaan!” muka Bulan terlihat kesal, membalikan tubuh menatap keluar. Matanya sudah berkaca-kaca kesal. Siapa yang tidak kesal kalau fotonya diam-diam dikirim pada orang lain dan kemudian dijadikan background hp-nya.


Semenjak tahu fotonya dikirim kepada Raymond, ia langsung meminta Sarah untuk menyampaikan kepada laki-laki itu untuk menghapus foto-foto yang dikirimkan dan mengganti background hpnya. Tidak mungkin ia yang melakukannya sendiri, Bulan hanya berharap agar Raymond bisa bersikap dewasa dan melakukannya sendiri, terutama karena dia sendiri tidak tahu kalau Bulan sudah menikah. Orang yang harus disalahkan atas kesalahpahaman ini tentu saja Sarah.


“Iya maaf… aku cuma kesal saja” tiba-tiba Juno membuka percakapan setelah cukup lama mereka terdiam.


“Lain kali kamu harus memakai cincin kawin, supaya orang tidak salah paham”


“Sudah jangan marah… nanti aku peringatkan Sarah supaya tidak melakukan hal seperti itu lagi”


Bulan tetap diam, hatinya kesal bukan kepalang. Merasa sudah diperdaya kemudian dimarahi atas kesalahan yang tidak ia perbuat.


“Aku senang kalau kamu mau membantu dalam perusahaan ini”


“Kamu kan tahu kalau aku belum bisa membayar staf karena kita baru mulai”


“Jadi tetap bantu aku semampu kamu”


“Cuma kalau ketemu kasus yang seperti ini lagi kamu harus lebih hati-hati jangan sampai nanti ada salah paham lagi” jelas Juno. Bulan hanya mengangguk samar tanpa menjawab apapun. Ia sudah malas berurusan dengan tim kontraktor ini sejak awal. Tapi ia tidak punya pilihan karena proyek ini sangat penting bagi mereka.


Juno mengulurkan tangannya, mencoba menggapai tangan Bulan yang hanya melirik dengan diam.


“Sini tangannya… jangan marah gitu dong sama suami” bujuk Juno


“Sendirinya suka marah-marah sama istri!” balas Bulan masih dengan posisi membelakangi Juno seperti enggan melihat suaminya.


“Hehe suka emosi kalau berhubungan soal laki-laki lain tuh” Juno menggaruk garuk kepalanya walau tidak gatal.


“Capek tahu gak?! … A Juno tuh gak ngerti-ngerti aja. Kalau aku tuh gak akan macem-macem sama orang lain”


“Aku tuh udah nikah… jadi gak akan kemana-mana” mata Bulan melotot kesal.


“Ahaha… dengan pake kerudung, keliatan makin cantik saat melotot gini” Juno tertawa terbahak.

__ADS_1


“Gak lucu!” kibas Bulan kesal. Mukanya ditekuk kesal.


“Hmmm nanti temenin aku ke Bintaro yah”


“Kamu kan sudah terbukti jago buat handel klien yang agak-agak rewel”


“Kata temen aku… adik iparnya ini agak rewel orangnya”


“Proyeknya  lumayan ok… tiga lantai full interior”


“Include taman di rooftop”


“Cuman agak sedikit ribet banyak maunya, untuk desain rumahnya aja dulu sampai tiga kali ganti desain padahal sebagian udah jalan”


“Laki-laki atau perempuan?”


“Ntar berisik lagi kalau laki-laki. Males aku!” ucap Bulan kembali membelakangi Juno.


“Laki-laki sudah menikah tapi yang ini jadi aman… istrinya orang Bandung, dia adiknya temen aku itu”


“Ehhh kalau gak salah anak Unpad juga… mungkin seangkatan sama kamu”


“Masa sih… departemen apa?” Bulan langsung berbalik, informasi memiliki calon klien yang berasal dari satu almamater membuatnya tertarik apalagi berasal dari daerah yang sama.


“Yaah mana aku tahu… aku cuma tahu informasi suaminya, anak pemilik perusahaan besar di Jakarta”


“Weeeis nikah sama chaebol” teriak Bulan.


“Udah tua dong suaminya?”


“Hmmm gak tau, lebih tua dari aku yang pasti”


“Gimana mau ikut?, nanti kamu bantu menghitung kalau terjadi lagi perubahan desain”


“Dia jago kalau pilih bahan yang bagus  untuk buat unit tapi kalau sudah disuruh ngitung hadeeeuhhh lama trus salah melulu kesal jadinya” keluh Juno.


“Kapan mau ketemu kliennya?” Bulan jadi bersemangat.


“Hmm besok kalau gak ada perubahan… aku mesti lihat lokasinya dulu.. Sekaligus menawarkan desain”


“Ok aku ikut!” Bulan jadi melupakan rasa kesalnya tadi. Ternyata membuka usaha sendiri menyenangkan juga, terutama kalau berhasil mendapatkan proyeknya.


“Tadi kan proyeknya acc jadi tanda tangan kontrak...hmmm” Bulan tampak berhati-hati


“Mestinya celebration dong… traktir atuh!” ucapnya sambil mendelik


“Tadi kan udah makan malam… masa mau makan lagi?”


“Nanti tambah bulat pipinya”


“Tuh kan beneran aku ngegendutin yah?...makin keliatan kan kalau dipakein kerudung kaya gini?!”


“Padahal aku tuh udah pakai inner anti tembem, katanya bikin muka kita lebih tirus tapi tetep aja keliatannya tembem yah…. Hahhhh salah padahal udah beli mahal-mahal”


“Tau tetep keliatan tembem mah ngapain juga aku beli… matak rugi bandar!” omelnya kesal.


“Biasa aja kalau kata aku sih”


“Mau dibeliin apa?” akhirnya Juno menyerah


“Kaya yang gak rela gitu ngomongnya” gerutu Bulan.

__ADS_1


“Lahhh katanya mau ditraktir… ditanya mau makan apa disebut gak rela… jadi maunya apa?” Juno melirik kesal.


“Traktir tuh gak selalu makanan… bisa apa saja” jelas Bulan.


“Ya udah mau apaaa atuuuuh?” tanya Juno menirukan logat sunda Bulan.


“Tuhhh malah ngeledek ngomongnya juga… kalau menirukan orang Sunda ngomong jangan suka di gitu-gitu kaya orang bloon jadinya”


“Di sinetron juga… logat pemain di sunda-sundain… kesannya tuh lugu dan bloon padahal kan orang Sunda itu banyak yang pintar. Bukan cuma kasep dan geulis saja tapi juga pintar” ucap Bulan berapi-api.


“Iya-iya neng Bulan yang pintar dan geulis… mau dibeliin apa sama Aa?” masih dengan logat Sunda yang dibuat-buat oleh Juno.


“Geuleuh ah… ngomongnya biasa aja… getek dengernya juga!” Bulan melengos kesal. Juno tertawa terbahak, salah satu hiburannya saat ini adalah menggoda istrinya yang semakin kesini semakin mudah kesal dibuatnya.


“Percuma minta dibeliin macem-macem juga da pasti gak akan dibeliin soalnya udah malam” gerutu Bulan.


“Yaa pengen apa… sebutin aja, gak mesti dapat tender kalau ada keinginan bilang aja nanti aku beliin” hibur Juno, setelah dipikir-pikir ia memang jarang membelikan barang atau keinginan dari istrinya.


“Kalau di Bandung jam segini pengen ngemil Bapak suka beli martabak Bangka” akhirnya pikiran Bulan tetap pada makanan.


“Ada martabak manis, pilihannya pasti yang  original kacang coklat susu keju”


“Kalau martabak yang asinnya yang pake kuah pedas manis martabak mesir” membayangkan kedua martabak itu Bulan langsung keluar air liur.


“Hmmm dimana beli Martabak Bangka yahh?” Juno mengerutkan dahi kemudian mengambil handphone untuk mencarinya di map.


“Ooooh ada di dekat rumah Mama malahan” seru Juno senang.


“Ehhh serius? Kita bisa sekalian pulang ke rumah Mama aja yuk? kita nginep disana”


“Aku udah kangen ngobrol sama Afi dan Mama” keluh Bulan, Juno menganggukan kepalanya tanda setuju.


“Asyiiiik…. Eh tapi nanti Mbak Sarah sendirian, dia kan gak tahu kita mau nginep di Mama” Bulan tercenung.


“Biarin aja dia sendiri, biar mikir… enaknya aja ngirim foto-foto kamu sama laki-laki lain”


“Kurang ajar banget dia… kesel gw!”


“Si Ray nya juga kayak yang malu begitu hp nya bunyi langsung dia simpan ke saku”


“Aku yakin dia bakalan ngeganti dan ngehapus foto kamu”


“Kalau dia waras gak akan mungkin memajang foto istri orang di hp”


“Syukurlah… keliatan kok orangnya dewasa gitu Mas Ray tuh” puji Bulan.


“Gak usah muji-muji laki-laki lain di depan aku!” ucap Juno tegas, Bulan langsung tersenyum.


“Biarpun A Juno belum dewasa tetap lebih cakep dan keren dibandingkan Mas Ray” berusaha untuk menghibur hati yang luka.


“Eh… itu klien yang di Bintaro orang mana?”


“Gak tau orang mananya… tapi kuliahnya jurusan ekonomi juga… cuma gak tau apa di Unpad juga atau bukan, kalau di Unpad sih bisa jadi kakak kelas kamu”


“Ehhh seriusan… siapa namanya?” tanya Bulan antusias.


“Hmmm Reza kalau gak salah”


“Rezaa? Hmmm ada sih kakak kelas aku beda dua angkatan namanya Reza tapi chinese dan agak gendut gitu orangnya… tapi kayaknya bukan anak penguasa soalnya dia anak dosen juga”


“Reza yaaahh… apa angkatan atas aku gitu yah?!”

__ADS_1


Ada yang kenal sama Reza yang ini? Anyone :)


__ADS_2