Rembulan

Rembulan
Manis Sekali


__ADS_3

Kenanga baru saja mematikan komputer di meja kerjanya, waktu berlalu begitu cepat, pantas saja kalau dirinya tambah berumur tak terasa. Kenanga memasukkan perlengkapan kerjanya ke dalam tas slempang miliknya, kemudian Kenanga membuka ponsel miliknya dan terdapat satu pesan masuk dari Athar yang mengatakan kalau pria itu tidak bisa menjemputnya sore ini karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan.


"Aku lebih suka memiliki kekasih seorang dokter" Kenanga menghela nafasnya kemudian memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam tas miliknya.


Kenanga duduk bersandar terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa pegal yang menjalar di sekujur punggungnya karena lelah duduk seharian di depan komputer. Suasana kantor menjadi riuh, derap langkah kaki terdengar sangat jelas, hampir semua karyawan berbondong-bondong meninggalkan kantor untuk kembali ke rumah masing-masing, bercengkrama dengan keluarga serta berkumpul dengan orang-orang terkasih. Berbeda dengan Kenanga, dirinya malah duduk santai melihat orang-orang berlalu lalang melewati meja kerjanya, bahkan beberapa orang dari mereka juga terdengar menyapa Kenanga dan mengajaknya pulang bersama, namun gadis itu hanya tersenyum saja.


^


Athar duduk di kursi kerjanya, dengan pakaian yang sudah tidak rapi, dasinya terlihat melonggar, lengan panjangnya dia gulung hingga siku tangannya, terlihat tidak rapih dan maskulin seperti saat jam kantor. Ya, saat ini juga kantor milik Athar sudah sepi, hanya ada beberapa karyawan yang masih berada di kantor miliknya untuk menuntaskan pekerjaan mereka, tapi itupun berbeda gedung dengan dirinya. Sementara, sekertarisnya, Ilea, sudah Athar perintahkan untuk pulang. Meski sebenarnya berkas yang harus Athar periksa tidak-lah sedikit, tapi Athar tidak mau timbul gosip di kantornya atau malah membuat Kenanga menjadi tidak nyaman bila dirinya menghabiskan waktu berdua dengan Ilea. Ilea gadis yang cukup menarik, muda dan tentu saja masih single belum menikah. Faktor itu semua bisa membuat Kenanga menaruh rasa curiga padanya, maka dari itu Athar lebih memilih lembur seorang diri untuk meminimalisir salah paham antara dirinya dan Kenanga.


"Shit..." Athar mengumpat sembari mengacak-acak rambutnya.


Kepala Athar terasa panas, tubuhnya sangat lelah. Meski begitu Athar masih saja duduk di kursi kerja yang sebenarnya milik kakaknya, Athira.


Pintu ruang kerja terdengar di ketuk beberapa kali. Namun Athar terlihat cuek saja dan membiarkan pintu tersebut terus saja di ketuk. Karena tak mendapat jawaban dari Athar, orang yang mengetuk pintu tersebut pun membukanya tanpa di persilahkan.


Athar berdecak kesal "Ilea, aku kan sudah menyuruhmu pulang. Untuk apa kau masih di sini"


Athar tetap saja fokus menatap berkas yang sedari tadi dirinya baca. Namun tak terdengar langkah kaki meninggalkan ruang kerjanya, hingga membuat Athar kesal akan tingkah Ilea yang tidak mau pulang.


"Ilea, kau mau aku pecat?" bentak Athar sembari mengangkat kepalanya menatap ke arah orang yang berdiri tepat di depannya hanya terhalangi oleh meja kerjanya.


"Galak sekali.." Kenanga memanyunkan bibirnya dengan manja


"Sayang..." Athar cukup terkejut saat melihat Kenanga yang kini berdiri di hadapannya.


"Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu" Athar buru-buru bangun dari duduknya dan menghampiri Kenanga yang terlihat manyun ke arah dirinya.


"Maafkan aku sayang.." Athar menangkup pipi Kenanga menggunakan kedua tangannya, namun Kenanga semakin memajukan bibirnya, membuat Athar semakin gemas saja.

__ADS_1


"Kenapa malah datang kemari hm? pulanglah dan beristirahat" Athar menaikkan kedua alisnya ke atas dan menatap wajah Kenanga yang di rasa semakin menggemaskan dan manis


"Aku ingin mengunjungimu. Memangnya tidak boleh?"


"Boleh, tentu saja boleh. Kalau begitu duduk lah, aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku bereskan" Athar membimbing Kenanga untuk duduk di sofa yang tersedia di ruang kerja tersebut.


Setelah mengantarkan Kenanga duduk, Athar kembali ke kursi kerjanya untuk melanjutkan kembali pekerjaan miliknya yang belum di selesaikan. Sementara Kenanga terlihat duduk mengamati ruang kerja milik Kak Athira. Jika tadi siang dirinya tak sempat memperhatikan, kini Kenanga memilik banyak waktu untuk melihat desain ruangan dengan tatanan klasik ini.


Kenanga mengambil ponsel miliknya untuk menghilangkan rasa jenuh yang melanda, sementara Athar, sesekali pria itu mencuri pandang memperhatikan Kenanga yang asik menonton serial drama di ponsel miliknya. Namun lama-kelamaan, Kenanga merasa bosan dan melirik ke arah Athar yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Apa masih banyak?" Tanya Kenanga seraya berjalan ke arah meja kerja milik Athar.


"Lumayan. Sayang lelah?" tanya Athar tanpa mengalihkan pandangan matanya dari berkas di meja


"Tidak.." Kenanga berjalan mendekat ke arah jendela kantor milik Athar, kemudian Kenanga menarik tirai jendela dan melihat pemandangan di luar sana. Langit mulai gelap, suara burung yang berkicauan saling menyahut untuk memberi kabar satu sama lain hendak kembali ke sarangnya.


Pikiran Kenanga tiba-tiba menelisik kembali masa lalunya. Dirinya dulu cukup lama berpacaran dengan Riko, namun belum pernah sekalipun Riko mengajaknya ke tempat kerjanya, bahkan pernah sekali Kenanga datang mengunjungi Riko ke kantornya namun malah di minta untuk menunggu di lobi. Berbeda sekali dengan Athar yang selalu welcome terhadap dirinya, baik dulu saat masih menjadi seorang dokter maupun sekarang saat menggantikan posisi kak Athira sebagai CEO Zanaka Group.


"Istirahat sebentar, baru setelah itu di lanjutkan kembali" bujuk Kenanga.


Athar hanya tersenyum kemudian mendongakkan kepalanya hingga melihat wajah Kenanga. Pijatan Kenanga sungguh membuat tubugnya merasa panas. Hormon pria dewasa dalam dirinya seakan kembali bergejolak. Entahlah, padahal hanya pijatan biasa tapi tetap saja Athar tak kuasa menahan hasratnya. Mungkin karena usianya juga sudah matang, pikir Athar.


"Sayang.." Athar menarik tangan Kenanga hingga tubuh gadis itu kini terduduk di pangkuan Athar.


"Jangan menggodaku" suara Athar terdengar parau.


"Menggoda apa?" Kenanga menaikkan kedua alisnya ke atas, niatnya hanya ingin memijat supaya pegal di tubuh Athar menghilang, bukan untuk menggoda pria itu.


"Aku..." Athar menghentikan kalimatnya.

__ADS_1


Kedua matanya menatap wajah Kenanga, pandangan mata Athar pun turun ke arah dada sintal milik Kenanga. Andai saja mereka sudah sah menikah, pasti Athar tidak akan ragu untuk mengajaknya berolah raga di ruang kerjanya saat ini. Pasti sensasinya akan sangat berbeda dan menyenangkan. Pikiran kotor dan liar itu tiba saja terlintas dalam benak Athar.


"Sial.." umpat Athar dalam batinnya. Kesal mengapa pikiran seperti itu akhir-akhir ini selalu melintas dalam benaknya saat berdekatan dengan Kenanga. Kenanga benar-benar membuat dirinya gila.


"Sa-sayang.." ucap Kenanga ragu-ragu


Mendengar ucapan yang di katakan oleh Kenanga membuat Athar terbangun dari segala kayalan kotor dalam otaknya saat itu. Apa dirinya saat ini juga sedang berhalusinasi lagi?


"Apa? apa ? Coba bisa di ulangi lagi?" pinta Athar


Sementara Kenanga malah membisu, bibirnya terasa rapat, lidahnya terasa kelu. Ini kali pertama dirinya memanggil Athar dengan sebutan Sayang setelah sekian lama mereka bersama. Menurut Kenanga panggilan itu cocok untuk pria sebaik Athar.


"Aku ingin mendengarnya lagi sayang" Athar menangkup pipi Kenanga kembali dan menatap lekat-lekat kedua bola mata gadis itu.


"Sa-sayang" ucap Kenanga pelan


"Ahh...." Athar tersenyum senang dan langsung menghujani pipi Kenanga dengan banyak sekali kecupan.


Akhirnya, perasaannya terbalaskan sudah, kesabaran menantikan Kenanga bisa membalas perasaannya kini sudah terbayarkan. Kesabarannya selama ini membuahkan hasil yang sangat manis, bahkan manis sekali.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Mau nulis Angella tapi di platform mana ya yang cocok?? ada saran???


__ADS_2