
Membawa Anjar untuk bisa naik ke lantai dua adalah perjuangan luar biasa, karena begitu sampai mereka di Ruko Anjar masih dalam kondisi tidak sadar. Awal mulanya Juno berniat meninggalkan Anjar tertidur di mobil, tapi kembali Bulan mengingatkan kematian akibat tidur di mobil akhirnya Juno terpaksa menyeret Anjar masuk ke Ruko.. ya menyeret dalam arti yang sesungguhnya seperti karung beras.
“Astagfirullah Aa… jangan kasar gitu nanti dia cederanya nambah” Bulan berusaha membantu mengangkat kaki Anjar.
“Bang saadh… mimpi apa gw narik sonto loyo ini… Breng seek…” beribu umpatan makian dilontarkan Juno saat membawa Anjar naik. Bulan pun terengah-engah, waktu sudah menunjukkan jam dua kurang tapi mereka seperti pasangan yang sedang berjuang memindahkan jasad orang mati.
Setiba di lantai dua mereka berdua terkapar di lantai sambil berusaha menarik nafas.
“Astagfirullah… Anjar kenapa berat begini… padahal badannya kurus”
“Banyak dosa jigana(kayaknya) ini anak… sampai berat begini” Bulan menarik nafas panjang kepalanya bersandar pada perut Juno yang juga terkapar kelelahan.
“Bulaaan… Bulll….” kembali Anjar mengigau
“Jangan nikah…” ucapnya lagi
“Jangan nikah jangan nikaah… udah jelas nikah sama gw!”
“Keplaaak” Juno memukul kepala Anjar dengan sandal yang ada di dekatnya.
“Aa… Ya Allah malah dipukul lagi.. Itu mukanya udah bengep” Bulan melotot melihat aksi Juno antara ingin tertawa melihat kemarahan Juno dan kasihan melihat Anjar.
“Biarin aja orangnya juga gak sadar… masih lumayan cuma gw gampar pake sendal juga”
“Mustinya dari dulu udah gw hajar waktu nikahan” gerutu Juno sambil kembali menarik nafas panjang. Bulan mengusap-usap dada Juno untuk menenangkan.
“Sabar… biar jadi amal soleh” ucapnya sambil beranjak bangun. Ditariknya Anjar masuk ke dalam kamar seperti menarik karung beras.
“Mau diapain lagi dia?” teriak Juno.
“Dinaikin ke kasur!” teriak Bulan
“Ini gimana sih gak sadar… Anjar… woy bangun!” Bulan berusaha menariknya sedikit demi sedikit.
“Ughh bau gini… kenapa orang mau minum alkohol bau gini..weeekkk” ucap Bulan sambil menutup hidung, menatap Anjar yang terbaring dengan bingung. Bajunya masih memakai baju yang tadi siang di kantor, ada banyak kotoran di baju kalau tidak dibuka baunya akan menempel di kasur, perlahan ditariknya kerah baju Anjar ke atas.
“Mau ngapain kamu” bentak Juno, Bulan terlonjak kaget.
“Ini bajunya penuh sama kotoran muntahan dan bau alkohol kayaknya mesti diganti A” Bulan meringis bingung.
“Awas kamu yah… coba-coba buka baju dia” ancam Juno dengan mata melotot.
“Eheheheh… A tolong bantu buka baju dan celana dia, soalnya nanti bau ke kasur, bajunya aku pinjam yang Aa yah… kasian dia” Bulan menatap Juno dengan tatapan memelas.
“Gak… gak bisa, aku gak mau minjemin baju sama anak ini!” Juno menatap Bulan dengan kesal.
“Atulah plis masa aku minjemin baju aku sama Anjar. Cukup Aa aja yang pernah pakai baju aku, yang lain mah jangan” terpaksa Bulan mengeluarkan ilmu you're the only one terbukti beberapa kali ampuh dipakai untuk membujuk Juno.
“Bereng sek banget nih anak. Ya sudah cari baju yang paling jelek di koper… nanti mau aku buang!” Juno mendekat ke tempat tidur dan terdiam melihat Anjar, memang tampak menyedihkan dengan muka yang lebam.
“Keluar kamu!” ucapnya lagi saat Bulan memberikan baju ganti.
“Yeey siapa juga yang mau diem disini!” gerutu Bulan sambil menutup pintu. Hari ini adalah hari yang panjang untuknya, untung saja sempat tidur tadi menjelang magrib. Bulan langsung melotot kaget, artinya tadi dia belum sholat magrib dan isya. Dia langsung bergegas ke kamar, jangan sampai menunda lagi bisa-bisa terlewat.
“Aduuuuh” keluh Juno sambil melemparkan tubuhnya ke kasur, sudah jam tiga dini hari dan ia baru bisa berbaring.
“A… ini gak apa-apa bau lem, kayanya dari wallpaper yah” Bulang mengernyit sambil duduk di atas sajadah.
“Hmm…” Juno menatap ke sekeliling kamar, setelah sebentar ia cium udara kamar perlahan betul juga pikirnya.
“Aduuh aku capeee” keluhnya sambil berbaring di tempat tidur.
“Kita ke ruangan kantor aja, gak bau kalau mau tidur” tawar Bulan, tadi ia sudah mengecek ke kamar sebelah.
“Ya sudah kita tidur di sana saja” Juno beranjak bangun dengan tertatih, kepalanya sudah terasa pusing karena ingin tidur.
“Ini sofa bed jadi bisa dijadikan kasur” Juno menarik sofa yang terletak di pojok kamar. Begitu terbuka ia langsung membaringkan tubuhnya.
“Gara-gara si sontolo yo itu badan aku lemes banget, ngantuk…”
“Padahal udah pengen ngerasain vitamin K’ ucapnya sambil menarik nafas panjang tapi dengan mata tertutup.
“Udah tidur aja dulu, vitamin K, vitamin C, vitamin D sama vitamin B gak akan kemana-mana gak akan kadaluarsa walaupun gak diminum sekarang juga” Bulan menyisipkan bantal di kepala Juno, dan menutupi tubuh suaminya dengan selimut. Tiba-tiba saja muncul keinginan untuk mencium pipi Juno terlebih dahulu. Ada perasaan gemas yang muncul dalam pikirannya saat melihat suami tertidur lelah seperti ini. Mencium pipi, mencium kening, mencium mata, mencium hidung dan terakhir mencium bibirnya sekilas.
“Kamu berani kalau aku udah lemes kaya gini”
“Awas kalau aku udah bertenaga, terus pura-pura jual mahal lagi!” ucap Juno lirih, kesadarannya sudah hilang setengah sehingga tidak berkutik saat diserang ciuman Bulan. Tidak butuh waktu sampai lima menit Juno sudah tertidur dengan pulas, energinya yang terakhir sudah habis saat harus mengganti pakaian Anjar.
Bulan menengok ke kamar Doni, dilihatnya Anjar sudah tertidur pula dengan posisi yang tergeletak tanpa bantal dan selimut. Disisipkannya bantal dan ditutup dengan selimut, ia merasa lega melihat sahabatnya walaupun dengan kondisi terluka dan lebam tapi sudah bisa terawat dengan baik. Saat memperhatikan pakaian yang dikenakannya, Bulan hanya bisa menarik nafas, kaos yang dipakai Anjar ternyata terbalik. Ia hanya tersenyum membayangkan upaya suaminya untuk bisa membalas kekesalan hati dengan memasangkan kaos terbalik.
Ditutupnya pintu kamar, suasana Ruko terasa sepi dan lengang, dengan sisa semangat dan energi yang dimiliki Bulan kemudian mengeksplorasi ruangan di lantai dua. Lantai yang dilengkapi dengan kitchen set dan beberapa perlengkapan lainnya. Dibukanya satu persatu lemari ternyata masih kosong, ada tumpukan dus di pojok yang belum dibuka membuatnya penasaran. Dan Taraaa… ternyata isinya barang pecah belah, gelas, cangkir, mangkuk, piring, sendok garpu dan kelengkapan pan untuk merebus dan menggoreng. Bulan langsung tersenyum senang, barang-barangnya terlihat bagus dan berkelas. Suaminya memang memiliki selera yang tinggi.
Perlahan Bulan membersihkan perlengkapan pecah belah dan pan. Dicuci bersih, tidak ada sabun cuci di Ruko, tapi sabun mandi cair pun jadi yang penting bersih dan bisa dipakai makan nanti. Senangnya hati Bulan bisa menata perlengkapan dapur seperti halnya perempuan-perempuan lain yang menata rumah pertama kali.
__ADS_1
Bulan jadi tersenyum ia ingat saat kecil dulu sering memperhatikan burung yang dipelihara Bapak membuat sarang di kandangnya, Bapak kerap melemparkan ranting-ranting kecil atau serutan kayu ke dalam kandang burung. Saat ditanya untuk apa malah bikin kotor kandang, Bapak bilang kalau sebentar lagi Tuwit burung kesayangan Bapak itu akan bertelur dan dia akan membuat sarang.
Betul saja, Tuwit membuat sarang dari serpihan kayu dan ranting kecil yang dilemparkan Bapak. Baru sekarang ia menyadari bahwa pada fitrahnya perempuan juga sama, senang menata rumah seperti ia sekarang, membuat sarang yang menyenangkan untuk dirinya dan Juno suaminya.
Untunglah penanak nasi dan beras ia bawa dari kost-an, padahal sempat berpikir untuk ditinggalkan. Tapi ia berpikir panjang kalau laki-laki pasti lebih memilih membeli daripada memasak, hingga kemudian Bulan membawa penanak nasi yang berisi beras dan makanan kaleng instan.
Seusai sholat subuh, Bulan memasak bubur, paling tidak sarapan yang bisa dimakan orang sakit dan manusia normal adalah bubur, ada bumbu dapur instan lengkap yang bisa dipakai menanak bubur. Lauknya dia bisa pakai tuna kaleng, tinggal ditumis sedikit supaya kering dan harum.
Saat dilihat di kamar, Juno masih tidur dengan nyenyak namun saat masuk ke kamar Doni, dilihatnya Anjar sudah terbangun, duduk termenung bersandar ke dinding.
“Sudah bangun? Tunggu sebentar aku tadi buatkan bubur supaya kamu bisa minum obat” segera ia ke dapur untuk menuangkan bubur ke mangkuk dan diberi tumisan ikan tuna, taburi bawang goreng… oke jadi, teh hangat madu akan membantu mengurangi pengar orang yang mabuk kalau ia baca kemarin.
“Katanya kalau sudah mabuk alkohol suka pusing Njar.. minum dulu ini teh madunya” Bulan menyodorkan teh ke hadapan Anjar, yang diberi teh hanya melengos dan diam. Bulan menarik nafas panjang. Melihat muka Anjar yang lebam tapi terlihat kemurungannya ia tahu kalau Anjar sedang merasa sedih.
“Siapa yang bawa aku kesini?”
“Ini dimana?” tanya Anjar.
“Ini di Ruko yang disewa untuk kantornya A Juno, aku tinggal disini sekarang”
“Tadi malam ada yang telepon ke aku, dia bilang kalau kamu mabuk dan bikin onar di Pub”
“Aku gak akan tanya gimana kejadiannya karena pasti kamu gak akan ingat”
“Cuma sekarang kamu mesti makan dulu supaya bisa minum obat”
“Siangan dikit nanti aku beli salep untuk lebam di muka kamu”
“Kenapa gak panggil si Niko aja, dia bisa anterin aku ke rumah!” jawab Anjar ketus, hadeuh pikir Bulan ini orang betul-betul melatih kesabaran.
“Tadi malam sudah jam dua belas, aku gak mau bikin keributan telepon Nico jam dua belas malam, kamu tahu sendiri kalau si Afi paling gak suka sama kamu”
“Trus si Nico pasti bakalan nganterin kamu ke rumah kan, memangnya kamu mau Bunda kamu ngeliat kamu kaya gini?, bonyok habis dipukuli orang?”
“Sudah sekarang kamu makan, pulihkan kondisi baru pulang!” ucap Bulan tegas, sudah waktunya ia membuat batasan yang jelas dengan Anjar, selama ini selalu bersikap mengalah karena rasa bersalah.
Ditinggalkannya kamar untuk memberi kesempatan bagi Anjar untuk berpikir, dia sudah dewasa harus mampu mengendalikan diri. Kembali ke kamar ternyata Juno masih tertidur juga, akhirnya ia memutuskan untuk merapikan pakaian Juno dan pakaian miliknya ke lemari pakaian yang sudah terpasang di kamar. Hampir dua jam ia merapikan pakaian sampai ia memutuskan untuk kembali melihat kondisi Anjar, kalau sudah dimakan buburnya bisa ia beri obat supaya mengurangi rasa sakitnya. Tidak terbayang pasti dia menderita kalau habis dipukuli, muka saja yang terlihat sampai lebam apalagi badan pikir Bulan.
Dan ternyata, bubur dan teh yang dibuatnya tidak disentuh sama sekali. Anjar terlihat berbaring menatap dinding, Bulan tahu kalau Anjar tidak tidur.
“Eh kok gak diminum sama dimakan, atuh udah dingin aku udah susah-susah bikin!” ucap Bulan kesal.
“Aku gak nyuruh kok!” jawab Anjar dingin, jawaban Anjar membuat Bulan kesal, sudah waktunya ia memberikan tausiah kepada pemuda galau yang ada di depannya.
“Dengerin yah aku mau ngomong sekarang sebagai orang yang merasa paling dekat sama kamu beberapa bulan belakangan ini”.
“Pertama-tama aku minta maaf kalau dulu aku minta kamu untuk bicara ke Bapak supaya bisa menikah dengan aku”.
“Aku kalut waktu itu karena Bapak terus meminta aku untuk menikah, padahal permasalahan Bapak meminta aku menikah karena Bapak melihat foto aku dengan A Juno dan beliau khawatir kalau aku jadi bergaul bebas sedangkan Bapak sakit. Bapak baru merasa tenang kalau aku menikah”.
“Seharusnya aku tidak meminta kamu untuk melakukan itu, sehingga akhirnya kamu salah paham”.
“Pernikahan aku dengan A Juno memang lebih pada pertanggungjawaban atas kesalahpahaman tapi buat aku dan ternyata buat dia juga ini merupakan takdir yang tidak usah disesali tapi disyukuri keberadaannya”
“Allah selalu punya rencana pada hamba-Nya dan aku percaya itu”.
“Dengan siapapun aku berjodoh aku percaya kalau dia adalah jodoh terbaik untuk aku”.
“Mau kamu, mau A Juno atau laki-laki manapun aku percaya kalau Allah sudah memilihkan, maka aku harus yakin kalau ia adalah lelaki yang terbaik yang dipilihkan”.
“Dan ternyata dia adalah Juno”.
“Aku tau dan aku merasa kalau hubungan kita sangat dekat, terus terang setelah putus pertunangan dulu, kamu adalah laki-laki yang paling dekat dengan aku”.
“Kamu tahu kamu itu orang yang bisa menghibur aku sampai aku gak merasa patah hati terlalu lama, kamu tuh lucu bisa membuat aku ketawa dan kembali menjadi seorang Bulan yang bisa melanjutkan kehidupan walaupun sendiri”.
“Hanya masalahnya adalah kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama dalam ikatan pernikahan, Njar…”.
“Kamu tahu gak Njar, aku sudah pernah mengalami apa yang kamu rasakan sekarang jauh saat waktu aku kuliah dulu, gara-gara kamu mabuk semalam aku bertemu lagi dengan laki-laki yang membuat aku menyadari bahwa hubungan yang nyaman, pertemanan yang erat dan sangat dekat tidak selalu berakhir kepada kepemilikan".
"Pada akhirnya aku tidak akan pernah bersama dia karena tidak mungkin”.
“Kamu tau sebabnya?” tanya Bulan, tapi Anjar tetap diam menatap dinding.
“Aku sama dia beda agama, dan aku sadar gak akan mungkin batasan itu dilanggar”.
“Tapi yah tidak apa-apa, life goes on”
“Aku bersyukur mengenal dia, mengenal sosok yang membuat aku tahu kalau sebetulnya gak ada tuh yang disebut dengan soulmate”.
“Aku ternyata bisa melanjutkan hidup tanpa dia, baik-baik saja selama bertahun-tahun”.
“Bohong Njar kalau ada yang disebut soulmate itu, itu cuma konsep yang digembar gemborkan oleh orang yang manja supaya orang lain tergantung sama dia, atau dia bisa memanfaatkan pasangannya supaya dia ada yang mengurus”.
__ADS_1
“Kita lahir sendiri dan nanti pun mati sendiri”
“Kita bertanggung jawab atas dosa dan amal yang kita lakukan oleh diri kita sendiri dan kepada orang lain sama Allah”.
“Jadi kalau sekarang kamu sampai kaya gini, kamu jadi kaya orang bodoh yang menghancurkan diri sendiri untuk orang yang gak akan memberikan apapun buat kamu”.
“Batasan sayang dan cinta itu bukan kepemilikan Njar tapi saling mengistimewakan dan memberikan penghargaan”.
“Aku berpikir kalau kepemilikan itu berhubungan nafsu”.
“Makanya kalau cinta sudah dibarengi dengan nafsu dia harus diikat dalam pernikahan karena ia akan membuat klaim bahwa orang itu adalah miliknya”.
“Selama ini kita berteman tidak pernah kita melibatkan nafsu diantara kita, kenapa? Karena kita adalah teman yang baik yang saling support”.
“Kamu menyayangi aku sebagai teman dan aku juga menyayangi kamu sebagai teman”.
“Kalau kamu mencintai aku, biarkan rasa cinta itu tanpa adanya nafsu, biarkan perasaan cinta itu lebih pada saling mengistimewakan dan menghargai keberadaan”.
“Kita bisa tetap berteman, saling support satu sama lain supaya kita bisa bekerja hebat lagi seperti dulu”
“Jangan meributkan lagi soal kepemilikan, karena dulu pun kamu gak pernah terpikir untuk memiliki aku”.
“Relakan aku menjalani takdirku sama A Juno yang ternyata memang harus bersama sebagai pasangan”
“Kita tetap berteman kalau kamu bilang dulu TMT tapi bukan Teman Makan Teman sekarang sih Teman Mendukung Teman….hehehhehe”.
“Njar… sekarang kamu makan supaya bisa minum obat, nanti aku belikan obat buat luka lebamnya”
“Jangan minta aku untuk berbuat lebih dari ini”
“Aku udah menguji batas kesabaran A Juno, dengan membawa dan merawat kamu disini”
“Tolong bantu aku, jangan sampai aku menjadi perempuan yang tidak tahu diri”
“Aku juga masih belajar menjadi seorang istri, jangan sampai dia berpikir aku perempuan yang tidak terdidik dengan memperhatikan laki-laki lain dari suaminya sendiri”
“Makan yah… dihabiskan biar kamu cepat sembuh” ucap Bulan lembut, terdengar helaan nafas panjang Anjar.
“Ya... “ hanya itu jawaban dari Anjar, sebelum kemudian terdengar suara di pintu
“Aku lapar… mau makan!” ucap Juno dengan tatapan kesal.
Satpam sudah bangun… pengunjung mohon merapikan diri.
###############################
Hari ini salah seorang pembaca Rembulan menikah, senangnya memiliki teman-teman baru di aplikasi ini adalah tumbuhnya rasa kedekatan tanpa kehadiran secara fisik. Kewren.
Happy wedding day dokter Lyfa... selamat sudah naik kelas.. semoga berbahagia saling mencintai dan mendukung satu sama lain.
**Just remember that a wedding is for a day but a marriage is for a lifetime. **
Kalau dalam bahasa Inggris seperti itu, tapi ternyata ada lagu lokal dari Sumatera Utara yang diperdengarkan oleh ibu Admin pada saya. Amazing dalam banget buat yang sudah menikah, cuss silahkan cari lagunya sendiri.
Na sonang do hita nadua
Bahagianya/ senangnya kita berdua
Saleleng au rap do hot ho
Selamanya aku bersamamu
Nang ro dina sari matua
Bahkan sampai masa tua nanti
Sai tong ingoton hu do ho
Akan aku ingat selalu dirimu
Hupe apsude denggan ni basam
Semua kebaikanmu kusimpan dlm hati
Hu boto tu au do roham
Aku tahu hatimu untukku
Sayang Bulan bukan orang Sumatera jadi gak bisa nyanyi lagu itu.... tapi sudah pasti kalau Bulan akan menyimpan kebaikan Juno di dalam hatinya.
Lope lope sekebon dari teman-teman Gembulan
ShAnti
__ADS_1