Rembulan

Rembulan
Menepis Ego


__ADS_3

Gerakan pintu kamar yang terbuka sontak menarik perhatian tiga orang yang tampak menunggu dengan sabar. Cedrik keluar dari kamar dengan hati-hati dan tersenyum penuh kesantunan pada tiga orang yang menunggu dengan sabar.


“Maaf tadi saya menunggu Bulan sampai betul-betul terlelap” ia tampak mengusap-usap pergelangan tangannya yang kemerahan karena cengkraman tangan Bulan.


“Mohon tidak salah paham Mas Juno… tadi dia betul-betul ketakutan”


“Mama mau ke dalam melihat Bulan” ucap Mama sambil tersenyum pada Cedrik yang mengangguk sopan, beranjak masuk diikuti oleh Afi meninggalkan Juno dan Cedrik berdua.


“Tadi dia panik” Cedrik menarik napas panjang dari tadi ia nyaris tidak bisa duduk, sehingga akhirnya duduk beristirahat di sebelah Juno.


“Maaf saya tidak tahu dia sedang hamil sehingga memintanya ikut presentasi hari ini”


“Saya kaget melihat dia tergeletak di toilet” pandangannya terlihat sedih menatap lantai rumah sakit.


“Terima kasih sudah membawa Bulan ke rumah sakit” ucap Juno pelan.


“Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, dia terus bilang kalau ia akan meninggal seperti mendiang ibunya” tanpa melihat reaksi Juno, Cedrik terus bercerita.


“Dulu saya pernah melihat dia sedih seperti itu… waktu mahasiswa… ada kegiatan pengabdian himpunan acaranya pembagian pakaian layak pakai dan sembako” Cedrik tampak tersenyum sedih mengingatnya.


“Ada perempuan hamil yang mengikuti kegiatan itu sambil membawa anaknya”


“Ternyata waktu kita membagikan pakaian layak pakai dan sembako,  masyarakat yang datang sangat banyak sampai si ibu hamil terdesak dan pingsan… tebak siapa yang paling panik sampai nangis keras?” tanya Cedrik sambil kembali tersenyum sedih. Menatap Juno sambil tersenyum samar.


“Pasti dia… kalau sudah nangis suara tangisannya nyaring kaya yang punya air mata seember” ucap Juno pelan.


“Hahahaha…Betul! Nangisnya lebih keras dari anak perempuan kecil yang dibawa ibu itu”


“Hampir membuat acara pembagian sembako dibubarkan gara-gara tangisannya yang bikin panik seruangan”


“Ibu…ibu jangan mati… ibu…ibu jangan mati” ucap Cedrik menirukan Bulan sambil tersenyum getir.


“Saat itu saya baru menyadari kalau kematian ibunya waktu kecil menyisakan trauma yang sangat mendalam untuk dia”


“Anak kecil yang tidak sempat berduka karena harus mengurus bayi yang ditinggal mati ibunya, padahal dia juga masih kecil” kembali Cedrik menarik napas panjang.


“Maaf bukan saya tadi bersikap sok jadi pahlawan dengan bersama dia, hanya saja ketakutannya tadi seperti ketakutan anak kecil yang merasa akan mati sendirian”


“Tolong temani dia… jangan biarkan dia sendiri lagi”


“Dibalik sikap ceria dan mandirinya… sebetulnya dia anak yang rapuh”


“Hanya karena harus mengurus adiknya dan mengurus rumah sendiri,  dia berkembang menjadi perempuan yang keras, cepat mengambil keputusan sering otoriter mengambil keputusan sendiri”


“Terkadang menguntungkan karena kemandiriannya tapi menyulitkan oleh sikap keras kepalanya dan susah diatur” Cedrik tersenyum miris, Juno meliriknya sambil tersenyum sinis.


“Sedekat apa kalian dulu sampai hapal sifat dia?” muka Juno terlihat kesal.


“Sedekat kakak dan adik kelas” jawab Cedrik dengan nada diplomatis dan tersenyum lebar pada Juno.


“Beruntung sekali bisa hidup bersama dengan dia selama hidup di dunia” ucapnya sambil menepuk pundak Juno.


“Tidak semua laki-laki seberuntung kamu Mas”


“Tolong mengerti dan hargai dia” ucap Cedrik pendek.


“Saya tinggal dulu yah, masih banyak urusan yang belum saya selesaikan di kantor”.


“Tadi katanya sudah melanjutkan sesi tanya jawab dengan investor? semoga hasilnya nanti memuaskan” Cedrik mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Juno yang disambut dengan tatapan datar dan genggaman erat.


“Terima kasih atas segala bantuannya” ucap Juno perlahan, yang dibalas dengan anggukan dan senyuman hangat oleh Cedrik. Juno menatap kepergian Cedrik dengan lekat, entah kenapa pada laki-laki itu ia tidak bisa mengeluarkan kekesalan dan amarah padahal mereka berdua terlihat sangat intim dan dekat.


Juno akhirnya masuk ke kamar perawatan, tampak Afi yang terbaring di sofa sambil bermain handphone, perutnya sudah terlihat besar tapi gayanya tidak seperti orang hamil. Duduk dengan kaki diangkat ke atas sisi sofa membuatnya lebih mirip seperti anak kecil yang perutnya besar karena kekenyangan.


“Cape yah De” tanya Juno pelan, Afi hanya meliriknya tajam tanpa menjawab, mendengus dan melanjutkan bermain hp.


Bulan masih tertidur lelap, posisinya seperti tidur dengan bersandar karena posisi tempat tidur yang diangkat ke atas pada bagian kepalanya. Mama Nisa duduk di sofa yang ada di sebelah tempat tidur Bulan, menatap menantunya dengan tatapan sedih dan prihatin. Juno mendekat dan melihat dari ujung tempat tidur. Istrinya tampak pucat dan lemah, kerudungnya hanya tersampir di kepala, sebagian rambut sudah keluar menyisakan lembaran ikal yang keluar dari sisi kepalanya.


Entah karena kehamilan atau memang sudah bawaan Bulan, tapi kecantikannya terlihat semakin menonjol. Selama seminggu tinggal di rumah Mama membuatnya lebih berisi dan lebih sehat walaupun masih pucat. Hampir dua minggu Juno tidak bisa menyentuh istrinya, entah kenapa hari ini semakin membuatnya ingin memeluknya erat. Mama Nisa memberikan tanda untuk tidak membuat suara, Juno mengangguk dan akhirnya duduk di sofa sebelah Afi.


“Jangan salah paham De” ucapnya pelan.


“Aku gak selingkuh”


“Aku gak akan mungkin melakukan kebodohan seperti yang Papa lakukan pada Mama” ucap Juno sambil menatap kepala adiknya yang duduk membelakangi, hanya terdengar suara dengusan Afi tanpa ada jawaban apapun.


“Aku cinta dan sayang sama Bulan gak akan mungkin mengkhianati dia”


“Aku gak tahu kenapa Inneke sampai ngomong kaya gitu ke Bulan”


“Soal pembelian mobil aku memang batalkan sama Bianca soalnya Bulan gak setuju”


“Rupanya Bia yang ngomong ke Inge soal pembatalan pembelian mobil karena rencananya akan menggunakan kredit pinjaman dari Banknya Inge” jelas Juno. Kali ini penjelasan Juno sukses membuat Afi membalikan badan dengan cepat.


Kilatan tajam terlihat pada mata Afi, bibirnya yang tipis membentuk sudut melengkung ke bawah menandakan pemiliknya sedang kesal. Sebelum Afi sempat bersuara, Juno sudah memberikan tanda untuk tidak ribut. Hidung Afi terlihat kembang kempis karena menahan amarah yang hampir saja keluar dari mulut kecilnya.


“Kakak urus perempuan itu” bisiknya sambil melotot.


“Atau aku akan bikin perhitungan sama dia” muka Afi hanya satu jengkal dari depan muka Juno hingga hembusan napas Afi bisa dirasakan Juno yang malah tersenyum melihat kemarahan adiknya.

__ADS_1


Melihat Juno yang malah tersenyum melihatnya, Afi semakin kesal dan bermaksud memukul kakaknya dengan tangan yang sudah terkepal tapi kali ini Juno lebih cekatan. Dengan cepat menahan tangan Afi sebelum sampai memukul tubuhnya dan memeluk adiknya cepat.


“Kamu tuh jadi pemarah gini semenjak hamil… jangan mukulin aku dong Fi”


“Makasih yaa sudah membantu Bulan”


“Jangan khawatir Kakak gak akan menyakiti sahabat kamu” satu tangan Juno memegang tangan Afi satu lagi memeluk dan menepuk punggung adiknya. Mama Nisa yang melihat interaksi keduanya hanya bisa menggelengkan kepala. Ia segera bangkit dari kursi sofa di samping tempat Bulan dan mendekat pada kedua anaknya.


“Kalian ini malah ribut terus gimana sih” bisiknya kesal.


“Afi ayo kita pulang dulu saja, kamu harus istirahat jangan terlalu capek”


“Sebentar lagi suami kamu pulang, pasti nyari-nyari kamu” Mama Nisa sudah hapal kebiasaan Emil yang sangat protektif pada Afi sejak hamil.


“Ya Allah ini jam berapa?” Afi langsung meloncat turun dari sofa. Dilihatnya jam di tangannya ternyata sudah jam tiga lebih.


“Astagfirullah Afi hati-hati kamu… kamu sedang hamil” Mama Nisa hanya bisa mengusap dada melihat perilaku Afi yang grusa grusu. Juno hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya.


“Kakak jaga Bulan dulu, nanti Mama malam kesini membawa pakaian buat kalian berdua”


“Sekarang Mama pulang dulu sama Afi, kasian dia nanti terlalu capek” muka Mama Nisa juga terlihat capek, semua orang kehabisan energi karena kejadian ini.


“Iyalah aku disini...Mama dan Afi istirahat saja” ucap Juno tegas, tidak mungkin dia meninggalkan istrinya sendirian.


“Ingat kata Mama, kamu mesti intropeksi diri. Disini yang harus dijaga Bulan dan bayinya”


“Hilangkan ego dan sifat keras kamu” ucap Mama Nisa sambil memandang tajam, Juno menganggguk pelan.


Sepeninggal Mama Nisa dan Afi, Juno duduk di sofa sebelah tempat tidur Bulan memandang lekat istrinya yang tengah tertidur nyenyak. Tampak menyedihkan dengan kepala yang disangga oleh penahan leher, kerudungnya sebagian menutup wajah Bulan. Perlahan Juno membuka kerudung yang menutup wajah istrinya, berhati-hati menjaga jangan sampai istrinya terbangun. Masih ada sisa makeup di wajahnya sehingga bibirnya tampak sedikit merona dibandingkan pipinya yang tampak pucat. Walaupun tidur masih terlihat gurat kesedihan di muka perempuan itu.


Juno menarik napas panjang, ia tidak mengerti mengapa Inneke sampai hati mengirimkan pesan seperti itu kepada istrinya. Disaat kondisi Bulan yang sedang hamil dan kondisi fisik yang masih belum pulih. Wajar kalau tadi Afi sampai marah kepadanya, karena ia sendiri saat membaca pesan yang dikirimkan Inneke merasa sangat gusar. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan istrinya saat melihat video yang dikirimkan. Apa yang ada dalam benak dua temannya itu. Ia tidak menyangka kalau Bianca dan Inneke sampai sepicik itu pola pikirnya. Kalau saja kondisi Bulan saat ini bisa ia tinggalkan hal pertama yang ingin ia selesaikan adalah masalah dengan Inneke.


Tapi seperti kata Mama Nisa, sekarang yang harus menjadi prioritas adalah kesehatan Bulan dan bayi yang dikandungnya. Informasi dari perawat yang menyatakan bahwa kondisi Bulan masih dalam observasi dokter. Mereka belum memberikan obat untuk vertigo yang dialami. Hanya obat untuk lambung dan paracetamol yang dosisnya bisa diminum oleh ibu hamil selain dari cairan infus yang sekarang terpasang.


Juno tersentak dari tadi ia baru ingat belum sholat dhuhur sedangkan waktu sudah masuk ashar, mumpung Bulan masih tidur ia bergegas menjalan kewajibannya untuk Pencipta. Disaat banyak kesulitan dan permasalahan seperti ini, hanya doa dan permohonan pada yang Maha Besar yang mampu ia lakukan. Meminta untuk diberikan jalan keluar dan kemudahan dalam mengatasi segala permasalahan yang ada. Selama memanjatkan doa untuk pertama kalinya Juno merasakan kedekatan dan kepasrahan yang terasa dalam di hatinya. Banyak permasalahan yang timbul dari perbuatan yang ia lakukan tanpa berpikirpanjang. Tidak pernah menduga kalau permasalahannya bisa berkepanjangan seperti ini. Terdengar lirih suara Bulan membuat Juno langsung berdiri dan bergegas menghampiri.


“Euuuhhh” suara Bulan terdengar gelisah.


“Kenapa? Masih pusing?” tanya Juno pelan, satu tangannya mengusap rambut istrinya perlahan satu lagi menggenggam erat tangan Bulan. Perlahan Bulan membuka mata dengan dahi berkerut.


“Aa?” tanyanya parau.


“Iya… ini aku.. Kenapa? Ada yang terasa gak nyaman?” tanya Juno perlahan.


“Iya kepala aku pusing… mata aku kaya nongol keluar” keluh Bulan, tangannya terasa mencengkram erat tangan Juno.


“Mau pipis” ucap Bulan perlahan sambil meringis.


“Tapi kamu masih pusing, pipis di tempat tidur aja yah” tawar Juno


“Aku panggilkan suster”


“Gak maauuu… jorok ah” Bulan meringis sambil memegang bagian bawah perutnya.


“Aku mau pipis… pegangin mau bangun… awww” Bulan meringis ia lupa kalau tangan kirinya terpasang jarum infus.


“Aduuuh aku pengen pipisss” Bulan kembali meringis seperti akan menangis, Juno jadi semakin kalang kabut.


“Iya… iya jangan nangis… sebentar aku bawa dulu infusannya… ini ada roda… sebentar aku turunin dulu besi pembatasnya” dengan cekatan ia membuka besi pembatas tempat tidur, memegang tangan Bulan yang tidak diinfus dan mencoba membangunkannya.


“Pelaan-pelaan kepala akunya pusing” teriak Bulan sambil terus memejamkan mata.


“Iyaaa ini juga pelan, aku pelan banget kaya siput” ucapnya sambil mencoba tersenyum.


“Gak lucu” bentak Bulan kesal, perasaannya tidak karuan karena ingin segera ke toilet.


“Iya maaf… maaf… ok jalan pelan-pelan yah… atau mau digendong aja?” tawarnya. Bulan langsung membuka mata dan melotot kesal.


“Iya…iya gak akan digendong sama Abang dipegang aja”


“Gak mau nyebut Abang… Aa aja” ucap Bulan lagi dengan ketus.


“Iya… iya Aa aja… gak usah abang biar gak sama dengan abang tukang bakso yah” Juno berusaha membuat perjalanan ke toilet lebih ringan.


“Gak lucu” jawab Bulan lagi sambil meringis.


“Kaya jalan di air… goyang-goyang semuanya” keluhnya.


“Iya sabar yah… yang sabar yah supaya jadi penggugur dosa katanya” ucap Juno pelan sambil membuka pintu kamar mandi.


“Tumben ngomongnya bener kaya ustad” ucap Bulan pelan. Juno hanya bisa membelalakan mata bingung. Semua yang dikatakannya salah.


“Closetnya mana A? Ihhh buruan udah mau keluar ini air pipisnya” Bulan sulit untuk melihat dengan jelas karena kepalanya tegak lurus sulit untuk menunduk.


“Iya bentar dibukain…. Sini pelan-pelan”


“Naaah duduk disini” ucap Juno.


“Rok akunya tolong naikin ke atas… aduuh… gimana mau pipis… aduh cepetan” Bulan menggapai-gapai rok nya yang panjang, hari tadi ia memakai blazer dengan rok span panjang sehingga sulit untuk diraih dan ditarik ke atas karena tangannya yang masih diinfus menyulitkannya untuk bergerak.

__ADS_1


“Oh ya ampun maaf… maaf aku gak sadar” dengan cekatan Juno berusaha membuka kancing rok span dari bagian belakang tubuh Bulan.


“Aa mau ngapain… jangan dibuka dari atas iiiih kelamaan, ini roknya aja keatasan… aduh cepetan” Juno terlihat bingung, ia tidak tahu kalau perempuan pintunya bisa dibuka dari atas atau dari bawah.


“Ohhh maaf-maaf… aduuuh sebentar” dengan cepat ia menarik ke atas rok Bulan, napasnya langsung terhenti melihat betis dan paha yang putih mulus.


“Awww… pelan-pelan nariknya iiih… udah..udah sama aku aja sekarang udah bisa” ucap Bulan sambil menarik roknya ke atas.


“Celana dalamnya aku bukain sekalin” ucapnya sambil memandang dengan hidung kembang kempis, menarik ****** ***** Bulan ke bawah, bibirnya langsung tersenyum tipis.


“Ehhh… gak usah… aku juga bisa… sana Aa nya keluar aku mau pipis” ucap Bulan sambil berusaha menahan tekanan berkemih, sambil menggapai-gapai posisi toilet.


“Aku temani saja disini… gak apa-apa… aku takut kamu jatuh”


“Keluar iiih… malu diliatin pipis” ucap Bulan kesal, tapi Juno menggelengkan kepalanya pasti, dengan kondisi Bulan seperti ini ia menjadi semakin khawatir. Akhirnya karena tidak tahan Bulan tidak memperdulikan kehadiran Juno, ternyata diinfus selain membatasi gerakannya juga membuat dirinya jadi ingin berkemih.


“Semprotannya mana?” Bulan menggapai-gapai ke sebelah kanan, kembali penahan kepala membuatnya sulit menunduk sehingga tidak bisa menemukan shower closet untuk membasuh.


“Tuh kan untung gak aku tinggalin” Juno memberikan shower closet pada Bulan untuk membasuh.


“Tissu” ucap Bulan tangannya kembali menggapai-gapai.


“Tisu? Untuk apa?” Juno terlihat bingung. Bulan kembali melotot kesal.


“Buat lap ini” ucapnya sambil menunjuk ke arah bawah perut.


“Ohhh… hehehe” Juno tertawa terkekeh senang, ia tidak menyangka kalau saat Bulan bangun malah bisa tersenyum dari tadi. Diambilkannya tisu gulung dan memberikan pada Bulan.


“Aku bantu lap?” tanyanya sambil tersenyum menggoda. Bulan kembali melotot, ia sudah enggan berbicara.


“Mana tempat sampah?” kembali ia bingung untuk membuang tisu bekas pakai.


“Sini biar sama aku… gak apa-apa… udah kenal kok sama yang dilapnya…hehehe” Juno kembali tertawa terkekeh. Diambilnya tisu dari tangan Bulan dan dibuang ke tempat sampah.


“Celananya aku pasangin lagi yaah” ucapnya dengan cepat mengambil alih posisi tangan Bulan yang tengah berupaya menarik ****** ********.


“Biasanya aku rajin ngebuka saja tapi gak pernah masangin lagi…hehehehe”


“Mimpi apa aku… liat yang mulus gini siang-siang” ucapnya sambil menarik rok Bulan turun..


“Addduuuuh” satu cubitan dari Bulan di leher Juno langsung membuatnya meringis.


“Jangan macem-macem… kalau aku gak sakit aku gak mau dipegang sama A Juno” ucapan Bulan yang pendek dan tegas sontak membuat Juno terdiam. Dari tadi sikap Bulan yang sangat kooperatif membuatnya lega karena tidak mempermasalahkan tentang Inneke.


Perjalanan kembali ke tempat tidur dilalui dengan diam, tidak ingin membuat Bulan kembali marah membuatnya mencari jalan aman. Setelah Bulan kembali duduk dengan tenang, ia menatap muka istrinya yang kembali memejamkan mata. Mukanya tidak terlalu pucat sekarang.


“Gimana sudah membaik?”


“Makan dulu yah sekarang, dari tadi belum makan siang kan” Juno meraih makan siang yang sudah dari tadi diantar tapi belum dimakan karena Bulan masih tidur. Tidak ada jawaban apapun tapi mengingat kondisi Bulan yang sedang hamil, tanpa banyak bicara ia menyiapkan makan untuk istrinya.


“Aaaa… buka mulutnya” dengan malas Bulan membuka mulut dan mengunyah dengan perlahan. Walaupun sebetulnya malas untuk berbicara tapi perutnya ternyata lapar. Sehingga acara makan diisi dengan keheningan.


Setelah selesai makan dan memberikan minum Juno mengusap lembut bibir istrinya dengan tisu. Bulan hanya diam, dia masih memilih memejamkan mata sampai satu kecupan lembut di bibir membuatnya terbelalak.


“Terima kasih sudah bisa sabar sama aku” ucap Juno yang menatap Bulan dengan sendu.


“Jangan berpikir terlalu jauh soal video yang dikirimkan Inneke”


“Kamu sama sekali tidak seperti yang dia bilang”


“Aku bisa mencapai kondisi saat sekarang karena dukungan kamu selama ini” ucapnya pelan sambil tetap memandang Bulan yang menatapnya lekat dengan mata yang membaur.


“Aku mau berjuang buat kamu sama anak kita… jadi aku minta kamu untuk bisa bersabar” ucapnya sambil mengusap tangan Bulan dan mencium punggung tangan istrinya.


“Aku… aku mau pulang ke Bandung” tiba-tiba Bulan menjawab sambil menatap suaminya tajam.


“Aku udah gak peduli lagi sama apapun yang A Juno lakukan”


“Terserah… mau sama Inneke atau Belinda.. atau Clara terserah”


“Aku sudah capek”


“Aku mau kembali ke Bandung saja sekarang… aku mau tinggal di Bandung aja”


“Tolong telepon Bapak untuk jemput aku”


“Bilangin aku sakit pengen dijemput Bapak”


Eh…. Uyug siah Juno ditinggalin sama Bulan….hahahahhaha… itu siapa Belinda dan Clara


#######################


Tidak terasa sudah diminggu terakhir Bulan Januari... sudah hampir setahun nih Rembulan.... Terima kasih yaa sudah setia berpetualang bersama Bulan dan Juno... minggu ini mudah-mudahan saya bisa menyelesaikan cerita Rembulan... Terima kasih juga atas dukungan vote, like, komen nano-nanonya, bunga sampai sekebon, kopi bergalon-galon, lope lope dan kursi pijat yang membuat saya bisa menikmati proses.


Mari kita menikmati minggu terakhir kita... Jangan marah-marah lagi yah sama Junaedi kasian sudah membiru hatinya di omelin deterjen....hahahahha.


Tetap semangat dan bahagia untuk semuanya.


Love - ShanTi

__ADS_1


__ADS_2