Rembulan

Rembulan
Penolakan


__ADS_3

Waktu terasa berlalu sangat cepat, dari satu minggu waktu yang di berikan oleh mamanya kini hanya tersisa hari ini dan besok, permasalahan ini benar-benar menguras pikiran Athar bahkan Athar sangat susah tidur setiap malamnya. Semakin lama di pikir semakin Athar menemukan jalan buntu dan kepalanya rasanya ingin pecah.


Sore ini sepulang dari berdinas Athar tak lantas kembali ke rumah, namun menuju salah satu komplek perumahan yang sudah beberapa kali dirinya datangi. Athar memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah bercat hijau muda dengan pagar besi berwarna putih. Rumah tersebut terlihat sangat sepi, sepertinya sang empunya belum kembali dari rutinitasnya.


Athar duduk gelisah di kursi kemudi sambil terus mengamati rumah tersebut, ya rumah tersebut memang milik kedua orang tua Kenanga, bahkan beberapa kali Athar pernah berkunjung kemari dengan dalih ingin bersilaturahmi dengan pasiennya yaitu ibu Anesa, bahkan Athar selalu di sambut hangat oleh kedua orang tua Kenanga. Pandangan mata Athar menyipit saat melihat sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumah, seorang wanita muda turun dari taksi tersebut menggunakan setelan pakaian kerja rapih. Ya, wanita itu adalah Kenanga yang baru saja pulang dari bekerja.


"Aku harus mencoba berbicara dengannya" Athar mencoba meyakinkan diri serta memberanikan dirinya untuk mengutarakan keinginannya kepada Kenanga.


Selain karena permasalahan ini, Athar juga memang sudah menaruh rasa sejak lama pada Kenanga, jadi jika pernikahan terjadi itu tentu saja bukan hanya karena masalah ini melainkan karena perasaannya juga terhadap Kenanga. Athar hendak turun dari mobilnya namun niatnya dia urungkan saat sebuah mobil hitam memasuki pelataran rumah Kenanga, mobil yang biasa di gunakan oleh papa Kenanga pergi ke kantor.


"Bagaimana ini, aku sangat nerveous" Athar memegang dadanya yang terasa sangat berdebar saat ini.


Setelah menarik nafas dan menghembuskannya beberapa kali serta merasa sedikit tenang, Athar memilih turun dari mobil dan berjalan kaki menuju rumah Kenanga.


"Selamat sore paman" Sapaan Athar membuat papa Adam yang baru saja turun dari mobil sedikit terkejut


"Eh, nak dokter.." seulas senyuman hangat terbit di bibir pria paruh baya yang terlihat mulai ada garis keriput di wajahnya


"Sudah lama tidak datang kemari, mari masuk. Kebetulan putri saya baru kembali dari Surabaya beberapa hari yang lalu" Papa Adam berucap dengan nada yang hangat kepada Athar.


Tak bisa di pungkiri kalau papa Adam juga respect terhadap Athar yang sangat sopan dan baik, bahkan beberapa kali berkunjung untuk memeriksa keadaan istrinya. Dengan sedikit ragu Athar berjalan beriringan masuk ke dalam rumah bersama papa Adam.


"Ma, lihat siapa yang datang" Papa Adam terdengar memanggil istrinya supaya bisa menyambut kedatangan Dokter Athar.


"Papa ini kenapa teriak-teriak?" Mama Anesa terlihat tergopoh-gopoh menghampiri suaminya yang berada di ruang tamu

__ADS_1


"Nak dokter ternyata" Mama Anesa tak kalah menyambut hangat dengan senyuman manis di bibirnya


"Bibi, apa kabar?" Athar terlihat menjabat tangan Mama Anesa layaknya anaknya yang sudah lama tidak jumpa.


Kenanga yang baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas kasur merasa sedikit penasaran saat mendengat suara papanya yang memanggil mamanya dengan begitu heboh.


"Memangnya ada tamu spesial siapa sih" Kenanga hanya bertanya tanpa ingin tahu jawabannya. Tubuh Kenanga terasa sangat lelah jadi Kenanga memilih memejamkan matanya, pekerjaannya hari ini sangat melelahkan sekali.


Namun semakin lama Kenanga merasa penasaran saat mendengar gelak tawa dari kedua orang tuanya yang sedang mengobrol dengan tamu di ruang tamu sana.


"Memangnya siapa sih? Mama dan Papa bisa seheboh itu" Kenanga yang merasa penasaran langsung beranjak dari atas kasur dan keluar kamar menuju ruang tamu.


Langkah kaki Kenanga terhenti saat berdiri di ambang pintu kamarnya, kebetulan letak ruang kamar Kenanga dan ruang tamu memang sangat dekat. Kini kedua mata Kenanga di buat menyipit saat mendapati sosok Athar yang sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya.


"Kenanga? Kemari nak, ternyata kau masih ingat dengan dokter Athar" Mama Anesa menepuk kursi kosong di sebelahnya


"Sedang apa dokter di sini?" Kenanga mengacuhkan pertanyaan mamanya dan memilih mengajukan pertanyaan kepada dokter di hadapannya.


"Bibi, Paman, apa saya di perbolehkan mengobrol dengan Kenanga sebentar di teras?" tanya Athar menatap kedua orang tua Kenanga secara bergantian.


"Tentu saja boleh" papa Adam langsung menimpalinya


^


Kini Athar dan Kenanga duduk di kursi taman yang terletak di halaman rumah Kenanga, bukan teras yang Kenanga pilih karena jika duduk di teras, kedua orang tuanya besar kemungkinan akan menguping pembicaraannya. Hening, Athar masih menyusun kata-kata dalam benaknya, dirinya takut akan salah berbicara dan malah membuat Kenanga marah.

__ADS_1


"Jadi apa yang hendak dokter bicarakan denganku?" suara Kenanga membelah kesunyian yang menyelimuti keduanya.


"Kenanga." Athar menghela nafasnya panjang


"Menikahlah denganku" imbuhnya dengan suara yang mantap


"Apa...??" Kenanga di buat sangat terkejut dengan apa yang di ungkapkan oleh Athar.


"Aku serius Kenanga" imbuh Athar


"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari yang lalu bersama mama dokter?" tanya Kenanga penuh selidik, namun Athar malah bungkam


"Jika iya, biarkan aku yang akan menjelaskan permasalahannya kepada Mama dokter. Supaya dokter tidak usah menikahiku. Toh tidak terjadi apapun dengan kita, bukan?"


"Tapi Mama ku tidak akan mau mendengarkan penjelasanmu, beliau hanya ingin melihat kita menikah bukan beralibi"


"Dokter tidak perlu takut, saya akan berusaha meyakinkan beliau kalau memang tidak terjadi apapun di antara kita berdua. Karena tidak mungkin ada pernikahan di antara kita berdua, tidak ada landasan apapun malah terdengar sangat konyol jika menikah dengan alasan seperti itu" jelas Kenanga


Athar terdiam, dirinya tak bisa berkata apapun, hatinya terasa sakit saat mendengar penolakan dari Kenanga. Bahkan untuk mengatakan kalau dirinya sudah menaruh perasaan kepada Kenanga pun Athar tak memiliki tenaga, karena Athar yakin kalau Kenanga pasti juga akan menolaknya jadi Athar memilih bungkam dari pada menerima penolakan kedua kalinya.


"Tolong dokter tuliskan nomor ponsel dokter, besok sepulang bekerja kita bertemu di rumah kediaman kedua orang tua dokter" Kenanga menyerahkan ponsel miliknya pada Athar, dan Athar hanya menerimanya dengan pasrah lantas menuliskan digit nomornya di ponsel milik Kenanga.


"Dokter tenang saja, semua akan baik-baik saja. Dokter tidak perlu kawatir kalau akan di usir oleh kedua orang tua dokter, dan setelah masalah ini selesai dokter bisa melanjutkan kembali kehidupan dokter dengan normal"


Athar hanya terdiam mendengar setiap perkataan Kenanga kepadanya. Bahkan saat Kenanga berpamitan untuk masuk ke dalam rumah, Athar hanya mengiyakan saja tanpa mencegahnya. Harapannya sudah pupus, penolakan Kenanga pasti akan membawanya terusir dari kota ini dan keluarganya tentunya.

__ADS_1


__ADS_2