Rembulan

Rembulan
Bumper


__ADS_3

Suasana pagi terasa berbeda di saat Juno sudah pulang, setelah sholat subuh walaupun terasa mengantuk Bulan memaksakan bangun dan pergi ke dapur. Ia ingat kalau kemarin Juno meminta untuk dibuatkan sarapan bubur.


“Heran padahal tinggal beli aja kalau bubur sih, lebih simple. Kenapa lagi aku nurut kemauannya dia?, udah bucin aku kayanya!” Bulan bersungut-sungut sambil mengaduk bubur. Ada resep bubur ala korea yang terlihat cantik dalam penataannya. Untung saja kemarin setelah pulang kantor ia sempat belanja keperluan dapur. Sehingga bisa melengkapi standar minimal dari bubur yang diinginkan, bubur ayam ala korea.


Semalam setelah acara smackdown selesai, ia menyiapkan bumbu marinasi untuk ayam supaya pagi-pagi tinggal membuat bubur dan menyatukan dengan ayam goreng bumbu bulgogi.


“Taraaaa… tsaahh cantik begini…” Bulan memandang hasil karyanya. Memakai perangkat makan baru membuat proses plating menjadi lebih mudah dan menjual.


“Cobain dulu ah… bisi gak enak” ucapnya sambil menyuapkan bubur dan ayam bulgogi. Diam sejenak merasakan hasil masakannya, sedikit mengerutkan dahi tapi kemudian mengangguk-angguk sendiri.


“Yah lumayan rasa sih enak… tapi enakan Bubur Ayam Bang Jali yang di kost-an atau Bubur Ayam Kang Memed yang dekat rumah” gumamnya tapi tak urung dihabiskan juga bubur ayam buatannya.


Ia kembali membereskan perangkat dapur setelah selesai memasak, setelah tinggal hampir satu bulan bersama Juno di Ruko, ia menyadari satu hal kalau suaminya sangat perfeksionis dalam penataan barang dan perangkat di rumah. Tidak menyukai kalau barang yang sudah dipakai tidak dikembalikan lagi ke tempatnya dalam kondisi rapi dan bersih.


“Rasa-rasanya Mama Nisa gak sampai sejelimet ini dalam menata rumah, heran A Juno punya sifat kaya gini darimana sih!” gerutunya sambil kembali memasukan pan dan mangkuk bekas pakai ke dalam lemari.


“Kalau masih basah jangan langsung dimasukan! Ditiriskan dulu… ada hal yang harus kita ingat dalam menggunakan furniture itu terutama produk kayu”


“Itu sebabnya aku menyimpan rak untuk meniriskan barang habis pakai” belum juga kering ucapan Bulan yang punya hajat sudah datang dan duduk di meja makan.


“Iyaa… ini kan aku udah lap A, tadi sudah ditiriskan. Kalau dinanti-nanti ngomel lagi kenapa gak dimasukin ke dalam lemari penyimpanan” Bulan menatapnya kesal.


“Ya sudah kalau sudah dilap sampai kering. Bukan apa-apa nanti lemarinya lembab dan berjamur”


“Hadeuuuh Ya Allah meni pengen ngegigit piring da…. Anak siapa sih ini” Bulan hanya bisa menarik nafas panjang menenangkan dirinya.


“Kan sudah berulang kali A Juno ngomong gitu, gak usah diulang-ulang kaya dicuci otak aja akunya!” protes Bulan, Juno hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang masih acak-acakan setelah tidur tadi.


“Kemarin aku pernah liat kamu masukin piring basah ke lemari, makanya aku ngomong lagi sekarang” jawabnya tak mau kalah.


“Itu mah saat aku ngira A Juno gak lihat, ternyata tetap ketahuan. Jadi sekarang aku kapok gak lagi-lagi” jawab Bulan cepat, dengan manusia titisan dewa yang di depannya memang susah untuk menang berdebat ada saja jawabannya.


“Ya jangan sekali-kali lagi melakukan itu. Aku mau sarapan tadi kecium harum sampai ke kamar”


“Kamu gak membuka jendela jadi asapnya masuk ke kamar” Juno membuka semua jendela yang masih belum sempat dibuka Bulan.


“Bagi-bagi pekerjaan rumah tangga, jangan mau enak aja duduk dimasakin aja… kalau di kasur aja perempuan disuruh aktif. Pas giliran kerjaan rumah laki-laki juga mesti aktif” gerutu Bulan sambil kembali menyiapkan bubur ayam untuk Juno.


“Apa sih kamu masih aja nyinggung-nyinggung soal aktif di kasur… belum puas semalam heh… masih mau?” sergap Juno dari belakang.


“Aa ihhhh… ini aku lagi ngewadahin bubur bisi tumpah kena ke kaki” Bulan kaget karena Juno tiba-tiba saja menyergap dari belakang.


“Salah kamu sendiri, menyebut mesti aktif di kasur. Aku kan jadi seneng kaya kemarin tuh”


“Apa ini kamu bikin bubur ayam?” Juno terperangah melihat bubur yang tersaji di mangkuk.


“Iya katanya pengen bubur ayam kemarin pas lagi di Surabaya, jadi aku buatin. Pokoknya ini bubur mesti dihabiskan, aku buatnya dari tadi subuh ngucek biar buliran nasinya halus dan gak gosong”


“Bikin bubur tuh gak bisa sedikit A… pasti aja hasilnya setengah panci… emangnya Aa mau ngabisin setengah panci gini sendiri?” Bulan menunjuk panci yang terisi hampir setengah lebih.


“Kalau enak aku habisin jangan khawatir!” Juno menganggukan kepalanya di bahu Bulan, dari tadi tidak mau melepaskan dekapannya dari belakang.


“Aku juga siap ngabis…. Aissshhhhh akhirnya aku bisa melihat kalian lagi asyik-asyikan berdua...huhuyyyyy….jomblooooo naseeeeb” terdengar suara di tangga dan seperti biasa yang selalu datang tanpa suara adalah Doni.


“Lu tuh datang kepagian, gw bilang juga agak siangan… napa sih lu?, gangguin aja!”


“Gw kan baru datang tadi malam.. Kam vret dasar!” gerutu Juno sambil melepaskan pelukan pada Bulan yang hanya tersenyum mendengar gerutuan suaminya.


“Tadi lu jawabnya telat, pas gw udah di jalan… nanggung lah biar bisa sarapan disini”


“Gw juga udah kangen seminggu gak ketemu Neng Bulan” Doni tersenyum manis.


“Iya Bang, aku nginep di Mama soalnya takut juga kalau sendirian di Ruko, tapi tadi malam sih waktu nyobain rasanya aman-aman aja… eh ternyata Bang Toyib pulang lebih cepat jadi aja ada teman”


Semalam Juno sebetulnya langsung pulang ke rumah, tapi begitu tahu ternyata Bulan sudah ada di Ruko ia langsung putar balik. Awalnya ingin membuat surprise pulang lebih cepat, tapi malah dia yang kena prank.


Keduanya langsung asyik berdiskusi soal rencana pembukaan kantor konsultan, sudah hampir satu bulan menepati Ruko tapi masih belum ada persiapan apapun. Setelah mendengar desakan Bulan tentang biaya sewa Ruko yang memang cukup mahal, ia sadar harus segera membuat time table dan target capaian yang jelas yang harus mereka capai dalam waktu dekat.


 


 


Kedatangan Doni membuat Bulan harus menyiapkan dua sarapan sekaligus, akhirnya ia merasa lega, bubur bisa dihabiskan lebih cepat dengan kedatangan pasukan tambahan.


“Ini sarapan dulu Aa sayang sama Abang gantengnya… supaya semangat kerjanya” dihidangkannya dua mangkuk bubur ayam dengan toping ayam bulgogi yang ditaburi wijen. Ditambah teh manis hangat yang masih mengepul.


“Waduuuuh bubur ayam dari mana inih… kok beda bentukannya” Doni terperangah melihat sajian sarapan. Juno yang hanya tersenyum tipis melihat hidangan di meja terlihat puas.

__ADS_1


“Seneng yahhh dibikinin bubur?” Bulan tersenyum sinis melihat senyuman suaminya, ternyata pada akhirnya ia mengalah ingin membuatkan yang istimewa sesuai keinginan suaminya.


“Kamu kok kepikir bikin ayam bumbu bulgogi… aku paling suka ayam bumbu seperti ini”


“Minta sumpit!”


“Ayamnya masih ada gak? Aku minta tambah ayamnya".  Bulan terbelalak, ia baru tahu kalau Juno menyukai ayam dengan bumbu Bulgogi.


“Apaan Bulgogi… ini mah bumbu semur Dul!” jawab Doni sambil menyuapkan kembali potongan ayam ke mulutnya, Bulan tertawa lucu mendengar komentar Doni, memang pada akhirnya kuliner asia akan memiliki irisan. Kalau di Indonesia bumbu yang menggunakan kecap adalah bumbu semur.


“Baru gw makan bubur, ayamnya disemur kaya gini, tapi enak sih…” jawab Doni sambil terus memakan bubur bagiannya.


Juno tidak banyak berbicara dan berkomentar hanya asyik makan bubur bagiannya, Bulan hanya tersenyum, hatinya senang suaminya tampak lahap dan menghabiskan daging ayam bumbu tambahan yang dibawakannya.


“Enak A?” tanyanya, Juno hanya mengangkat alis. Bagi Bulan itu sudah cukup, untuk ukuran orang yang senang mengkomplain segala sesuatunya, tidak memberikan celaan berarti sesuai dengan standar minimal. Lumayanlah untuk percobaan masakan asing pertama yang dibuatnya.


“Enak Neng… kalau kaya begini Abang jadi pengen pindah ke sini aja, kapan lagi makan makanan enak tiap hari” malah Doni yang menjawab.


“Hahahahaha.. Hari biasa aku gak pernah masak Bang.. males ribet, sering kesiangan bangun” ucap Bulan sambil mengambil bekas makan Juno.


“Enak… Makasih. Gak sia-sia aku cuci otak kamu” ucap Juno sambil tersenyum.


“Cuci otak apaan?” jawab Bulan sambil mengerutkan dahi.


“Nggak… maksud aku mengingatkan kamu untuk membuatkan bubur” jawabnya sambil kembali tersenyum tipis.


“Ohh iya, nanti aku buatin lagi makanan kesukaan A Juno kalau lagi santai” salah satu hobinya sekarang ada mencoba resep baru. Ternyata perangkat masak baru memang membuat semangat memasaknya semakin tinggi.


Jam hampir menunjukkan sepuluh pagi saat terdengar bunyi bel di lantai satu.


“Tuh dia sudah datang” ucap Juno.


“Siapa?” Doni tampak heran, rasanya mereka tidak menunggu siapapun sekarang.


“Sarah… dia mau gabung… kita butuh tambahan orang supaya bisa jalan cepat”


“Nanggung dia sudah tahu soal rencana kantor konsultan ini, trus dia punya banyak link yang bisa kita pakai”


“Seriusan lu mau ngajak dia?” Doni memandang ke arah kamar, saat tadi terakhir Bulan masuk ke kamar.


“Bagus malah biar dia liat sendiri, kalau gak gitu bakalan terus berhalusinasi”


“Udah lu bukain pintu sana!” Juno menunjuk ke arah pintu di lantai bawah yang terlihat dari atas, meja makan memang menempel di sisi dinding balkon lantai dua yang bisa melihat aktivitas di lantai satu.


Terdengar suara gaduh di lantai satu dan kemudian tak lama Sarah dan Doni muncul di tangga.


“Sialan lu… ternyata udah jadi kantornya? Kiraian gw baru nyewa Rukonya doang, kenapa gak ngomong sama gw dari kemarin”.


“Tau gitu kan gw bisa bantu beres-beres” Sarah duduk sambil cemberut di meja makan, Juno tersenyum tipis.


“Asalnya gw gak akan ngomong apa-apa sama elu, tapi setelah gw pikir-pikir bener juga gw butuh tambahan pasukan buat memperkuat jejaring keluar”


“Kemungkinan gw cuma sebulan kedepan kerja di kantor, next month gw udah hengkang” jelas Juno.


“Kemarin gw dipanggil sama Bos Besar kena ultimatum, benar apa yang lu bilang kalau semua kerjaan portofolio gw gak bisa dipakai disini karena waktu tandatangan kontrak gw udah setuju soal hak cipta desain jadi milik mereka”


“Salah gw gak kepikiran sampai sejauh ini”.


“But no problem makanya kita ngumpul sekarang supaya bisa lebih cepat berprogres”


“Kita akan mulai bagi-bagi tugas supaya dalam satu bulan kedepan, kita akan mulai resmi menerima proyek” akhirnya ketiganya mulai asyik membicarakan persiapan dan kegiatan yang harus dilakukan, sampai tidak menyadari kehadiran Bulan yang membawa setumpuk pakaian kotor milik Juno.


‘Eh ada tamu lagi? Sudah sarapan belum?” tanya Bulan ramah.


Sarah menoleh dan mengerutkan dahi menatap Bulan.


“Siapa Jun… asisten rumah tangga lu?” ucapnya sambil tersenyum sinis.


“Ohahahaha… iya mbakyu.. Asisten rumah tangga plus plus” jawab Bulan sambil menggelengkan kepala heran. Ada orang yang bicara tapi gak di filter seperti perempuan di depannya. Doni langsung menahan tawa sambil menunduk, seperti sudah ia duga kalau Sarah akan langsung melakukan serangan pada Bulan.


“Istri gw Bulan, kan gw udah bilang kalau gw udah nikah” jawab Juno santai. Sarah seketika mengerutkan dahinya dan terus menatap Bulan yang akhirnya pergi melewati mereka.


“Ah silahkan lanjut aja rapatnya…” ucapnya sambil melengos, ia baru ingat kalau Sarah adalah teman Juno yang dulu waktu di kantor juga mengabaikannya.


“Ngapain juga gw ngasih makanan sama Sadako…” gerutu Bulan sambil membawa cucian ke kamar mandi disamping dapur tempat Juno menyimpan mesin cuci.


“Selera lu ternyata modelan kaya gitu?” Sarah mendengus kesal.

__ADS_1


“Modelan kaya gitu gimana Sar?” tanya Doni heran.


“Itu udah TOP BGT tau gak, bumper depan belakang ok, masak ok, beresin rumah ok, masih kerja juga nyari duit sendiri… All in one you know” sanggah Doni.


“Bang sadh lu, gw udah bilang jangan ngomongin fisik istri gw!” Juno langsung melotot kesal. Doni tersenyum miris ia lupa kalau Juno paling kesal kalau ia memuji fisik Bulan.


“Kalian laki-laki cuma ngeliat bumper melulu, cari perempuan tuh yang ada otaknya”


“Tahu gak kecerdasan anak itu menurun dari Ibunya bukan dari Bapaknya”


“Makanya kalau kalian nyari istri jangan liat bumpernya tapi liat otaknya” jelas Sarah berapi-api.


“Eh denger lu Sar… buat bisa bikin anak yang bagus, laki-laki butuh bumper yang bagus juga, kalau gak ada bumper kaya elu, anak gak bakalan jadi soalnya gak ada pegangan hidup” jawab Doni kesal.


“Lagian si Bulan tuh punya otak juga, gak bakalan mungkin dia jadi auditor kalau gak pinter”


“Emangnya yang pinter tuh cuma anak MIPA aja… anak IPS juga pinter...“ Doni berbicara dengan berapi-api seakan-akan serangan diarahkan pada dirinya.


“A… ini mesin cuci ngejalaninnya gimana? Kok beda sama yang punya di kost-an” selama dua minggu di Ruko, Bulan memang belum pernah mengoperasikan mesin cuci, mereka memilih memasukan pakaian ke laundry, tapi karena hari ini dia santai Bulan ingin mencoba untuk mencuci sendiri terutama bed cover yang sudah mulai kotor.


“Tuh kan gw bilang juga oon, mesin cuci aja gak bisa makenya, makanannya masuk ke bemper bukan ke otak” dengus Sarah, mendengar permintaan tolong Bulan pada Juno.


Juno hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Sarah, ia sudah malas berargumentasi dengan perempuan di depannya. Kalau tidak karena kecerdasannya membuat desain malas rasanya mengajaknya bekerja sama.


“Sudah kalian fokus sama bikin planning time table, aku bantuin Bulan dulu” ucapnya sambil beranjak ke kamar mandi. Terdengar percakapan Bulan dan Juno, tapi lama-lama malah jeritan Bulan yang kerap terdengar.


“Aa ihhhh…. Aa…. diem!” teriakan kecil Bulan masih terdengar dari kamar mandi.


“Braaaak”... suara pintu kamar mandi terdengar di tutup. Doni dan Sarah langsung menatap kearah kamar mandi.


“Seeetaaan malah asyik-asyikan disana…” teriak Doni.


“Woooooi… keluar... “ teriak Doni sambil melemparkan sandal yang dipakainya kearah pintu…


“Praak” tapi yang di dalam seperti tidak bergeming, malah sepi dan tidak ada suara teriakan Bulan lagi.


Sarah mendengus kesal, diarahkanya pandangan ke sekelilingnya, ada tiga kamar rupanya di lantai dua ini pikirnya. Ia kemudian berdiri dan melihat kamar-kamar yang ada. Satu persatu dibukanya, dan masuk melihat ke dalam termasuk ke kamar Juno dan Bulan, tanpa merasa sungkan ia masuk dan melihat ke dalamnya. Doni hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya. Semua orang yang ia temui hari ini membuat kepalanya pusing.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Juno keluar dengan tenang dengan wajah tidak berdosa.


“Lain kali lu kalau mau esek-esek nungguin gw pulang… lu gak kasian emang sama gw?”


“Nggak!” jawab Juno pendek


“Mana si Sarah?”


"Tuh ke kamar lu… gak tau tuh anak, gak ada sopan santunnya, semua kamar dia liatin” ucap Doni sambil menatap kesal pada Sarah yang baru keluar dari kamar Juno.


“Bayar berapa lu setiap bulan buat sewa disini?” Sarah menatap Juno dengan lekat.


“Kenapa emang?”


“Wasting money.. Masih ada dua kamar kosong, bisa disewakan supaya beban pengeluaran berkurang” ucap Sarah.


“Eitss jangan salah kamar yang kiri itu kamar gw, yang depannya ruang kerja si Juno” jawab Doni cepat.


“Ngapain juga pake kamar kerja, seisi Ruko kan udah jadi milik pribadi” balas Sarah.


“Gw sewa satu kamar sepuluh juta, jadi kalau gw pindah kesini gw menghemat transport”


“Lagian gw udah bosen tinggal di apartemen”


Juno terbelalak ia tidak menyangka kalau Sarah berani mengambil keputusan secepat itu.


“Tapi gw mau kamar yang ujung yang lu tempatin… gw butuh privacy ada kamar mandi di dalam” sambungnya lagi, lagi-lagi Juno melotot kaget mendengarnya, beraninya Sarah memilih kamar tidur utama dan menggeser pemilik.


“Enaknya aja itu gw udah sengaja tata supaya bisa tinggal disana berdua sama istri gw” tolak Juno kesal.


“Lu kalau mau nyewa kamar yang satu lagi, toh ukurannya sama” sambungnya.


“Gak… lu butuh duit kan buat bayar Ruko… paling gak kalau gw tambah bantu bayar sepuluh juta beban lu berkurang” ucapan Sarah langsung telak menyasar kelemahan Juno sekarang.


“Boleh kalau mau kamar itu.. Tapi sewanya lima belas juta… take it or leave it” ucap Bulan yang keluar dari kamar mandi sambil membawa keranjang kosong. Juno melotot kesal, tiba-tiba saja Bulan ikut campur dalam urusannya.


“Bulaaaan….” ucapnya kesal. Bulan hanya nyengir mendengar teriakan Juno dan tatapan kesalnya yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.


Main take it or leave it aja si Mbak… udah tahu itu kamar hasil mencurahkan jiwa raga kang mas buat kamar manten… ini malah disewakan lagi….hehehehehe.

__ADS_1


__ADS_2