
“Kenapa aku gak bisa ikut sekarang” protes Bulan saat merapihkan pakaian yang akan dibawa pulang Juno.
“Aku di Bali tiga hari disambung ke Surabaya dua hari, jadi seminggu kedepan full di luar kota” jawab Juno sambil masih memusatkan perhatian pada layar di laptop.
“Kalau ke Jakarta kamu harus menginap di rumah Mama, tapi Mama sekarang lagi pelatihan Gardening selama tiga hari di Bogor”
“Afi kan kalau siang dia kerja, jadi kamu di rumah juga sendirian”
“Males ah kalau sendirian”
“Kerjaan kantor gimana? Urusan keuangan dan lain-lain” tanya Bulan bingung, sudah lebih dari seminggu ia tidak mengurus permasalahan keuangan di perusahaan. Juno melarangnya ikut campur sama sekali.
“Aman” hanya itu jawaban Juno.
“Aman…aman tapi sampai jual mobil” gerutu Bulan pelan, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah keputusan Juno sendiri. Juno tidak menanggapi ucapan istrinya, ia sudah terbiasa mendengar Bulan mengomel sendirian.
“Baju buat ke Bali sama Surabaya gimana? Siapa yang nyiapin? Kemejanya kan perlu disetrika” Bulan terlihat bingung, perasaannya menjadi tidak tenang.
“Beres itu sih, nanti aku minta si Bibi di rumah buat nyetrika, kalau habis tinggal laundry aja di hotel… gak usah dibuat ribet” jawab Juno santai, akhirnya Bulan hanya bisa duduk menatap suaminya yang duduk di meja belajarnya, mengetik dengan dahi berkerut.
“Ya sudah kalau begitu” jawab Bulan lemah. Kemudian memilih merebahkan diri di kasur, dua hari ini ia lelah memenuhi keinginan suaminya untuk mencoba semua program take away. Semua menu dimulai dari hidangan pembuka sampai hidangan utama sudah dihabiskan. Yang tersisa hanyalah rasa lelah, berbeda jauh dengan Juno yang malah tampak semakin segar, walaupun seharian ia habiskan untuk membuat kandang ayam.
Tidak terasa satu jam lebih Bulan tertidur, sampai tepukan lembut di pipinya membangunkan dari tidurnya.
“Bangun jangan tidur terlalu lama, sudah mau magrib ini”
“Katanya gak boleh tidur sore-sore”
“Ayo bangun” Juno tersenyum melihat Bulan yang tampak kepayahan untuk membuka mata.
“Ngantuk akunya, abisnya Aa malam meni gak berenti-berenti ihhh” ucapnya kesal.
“Kangen tau… sama istri” ucapnya sambil terus menciumi pipi Bulan.
“Udah ngisi lagi sekarang… pipinya gummy banget”
“Aa… ihhh geli itu kumis sama jenggotnya nusukin pipi” Bulan menahan muka Juno yang terus menelusup. Saat matanya terbuka ia bisa melihat kalau Juno sudah rapi dan siap untuk pergi.
“Mau kemana?” tanyanya dengan dahi berkerut.
“Ke Jakarta lah… aku ambil travel jam 6.15”
“Dianter sama Benny ke pasteur”
‘Aku berangkat yah…cup” ciuman di dahi yang panjang diberikan Juno pada istrinya. Usapan lembut di perut tak lupa ia sematkan sambil diakhiri dengan ciuman lembut.
“Appa kerja dulu yah di Jakarta, baik-baik sama Amma di Bandung, nanti kalau sudah sehat kita sama-sama ke Jakarta” ucapnya sambil mengusap perut Bulan.
Bulan menatap bingung, merasa tidak percaya kalau Juno harus sudah berangkat lagi ke Jakarta. Rasanya baru kemarin ia bertemu dengan Juno, sekarang harus berpisah lagi selama seminggu.
“Lama banget perginya” ucapnya lirih. Juno tersenyum.
“Sabar yah” mengusap rambut Bulan perlahan, seakan ingin menguatkan istrinya agar tidak sedih. Bulan menarik napas panjang dan kemudian memeluk Juno erat, menenggelamkan wajah di perut suaminya.
“Bang… ayo udah jam setengah enam nih… takut macet” teriak Benny dari luar kamar.
__ADS_1
“Anter yuk ke depan, jangan mellow seperti itu, harus ceria supaya aku ingetnya kamu lagi bahagia jadi gak kepikiran kamu terus”
“Jadi gak mau mikirin aku” ucap Bulan kesal.
“Bukan begitu”
“Kamu tuh mikirnya negatif thinking terus… kalau dibolehin sih aku pengen bawa kamu, trus dimasukin saku … bisa gak dilipet-lipet? Kalau udah ada waktu kosong tinggal keluarin dari saku terus diciumin kaya gini” ucapnya sambil menciumi Bulan dengan penuh semangat.
“Bang… udah jam setengah enam lebih niiih” teriak Benny kembali.
“Iihhhh ini anak bebek, biasanya juga nganterin aku ke pasteur nunggu dipepetin lima belas menit” ucap Bulan kesal. Juno tertawa terbahak melihat kemarahan istrinya, sambil membuka pintu kamar langsung komplain pada adik iparnya.
“Teteh kamu ngambek tuh… gak mau ditinggalin” ucapnya sambil mengambil jaket di kursi makan. Bapak tampak menunggu duduk di sofa depan.
“Pamit Pak… aku titip Bulan lagi yah Pak… mau ke Bali sama Surabaya minggu ini”
“Minggu depan dari Surabaya saya langsung ke Bandung Pak”
Bapak mengangguk setuju, langsung berdiri dan menepuk pundak Juno.
“Bapak doakan lancar dan diberikan kemudahan dalam bekerja”
“Jangan khawatirkan Bulan, dia gak pernah kemana-mana. Kalau kamu gak ada hobinya di kamar aja… duduk belajar terus depan laptop” jelas Bapak.
Bulan hanya bisa menatap Juno yang pergi dibonceng motor oleh Benny, ternyata kalau ditinggalkan terasa lebih berat. Entah kenapa perasaannya seperti tidak rela ditinggalkan suaminya sekarang. Bapak melihat Bulan yang tampak menunduk sedih.
“Jangan sedih… doakan saja semoga diberikan kelancaran dalam mencari rejeki”
“Diberikan kesehatan, jangan berpikir yang buruk, supaya hati suamimu tenang”
“Terkadang perasaan jadi gak tenang, kepikir begini begitu dia disana lagi sama siapa sedang apa…padahal aku tuh gak pengen bucin sama A Juno… tapi kenapa jadi gini yah sejak hamil”
“Waktu kemarin itu bekas pacarnya ngirim pesan sama Teteh jadi langsung kepikiran… padahal mah dulu gak berpikir macam-macam… suka kesel kok punya mantan pacar kaya gitu… kadang kalau kesel suka mikir jadi aneh-aneh.. Coba kalau menikah sama yang gak punya pacar dulunya, hidup teteh akan lebih tenang” keluhnya. Bulan merengut bingung. Sejak kemarin bawaannya jadi uring-uringan. Baru merasa tenang setelah berdekatan dengan suami, padahal dulu saat sebelum hamil, ia sering memilih untuk tidur sendiri terkadang.
“Yah di perut teteh ada anaknya si Aa, pasti jadi bucin atuh sama Ayahnya”
“Bapak jadi inget pepatah Sunan Kalijaga yang kemarin dibilangin sama Mas Imam. Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan dan ojo aleman”
“Artinya?” ucap Bulan sambil tersenyum, Bapak sekarang jadi suka berbicara pakai bahasa jawa sejak banyak bergaul dengan staf guru yang berasal dari Jogja Mas Imam .
“Artinya hmmmm… ojo gumunan itu jangan cepat senang dan kagum pada sesuatu karena yang berlebihan itu tidak baik, bucin itu adalah gumunan. Karena kalau kita terlalu suka nanti akan gampang cemburu… kalau bahasa anak muda sekarang posesif… yah?” ucap Bapak sambil tersenyum. Bulan mengangguk-angguk setuju.
“Heheheh iya bener Pak… capek ih perasaan cemburu itu… terusin Pak kalau ojo getunan apa?”
“Ojo getunan itu jangan suka menyesali hal yang sudah lewat, yang sudah terjadi”
“Apa yang terjadi di masa lalu itu adalah ketetapannya Allah, harus ridho”
“A Juno pernah punya pacar… yah biarkan saja memang ketetapannya Allah seperti itu… pernah punya pacar, mungkin karena dengan dia punya pacar jadi bisa membandingkan kepribadian perempuan mana yang baik yang menjadi istrinya”
“Geningan sama Teteh mah Si Aa gak pake lama langsung ngajak nikah padahal sama Teteh sudah diputusin. Kenapa karena dia tahu teteh itu kepribadiannya baik dibandingkan dengan perempuan lain yang pernah dia kenal.
“Widiiiih Bapak teh kalau udah ceramah pinterrrr pisan. Bikin teteh senang dengernya” Bulan tertawa senang.
“Terusin Pak… kalau ojo kagetan apa Pak?”
__ADS_1
“Nya itu mah gampang atuh jangan mudah kaget”
“Kaya kemarin kuatka langsung kaget teteh jadi pingsan dikirim pesan sama mantan si Aa… kalem aja teh… tenang… dalam hidup itu semua bisa terjadi”
“Biasa saja… jangan mudah kaget karena sifat orang itu gak sama… gak semua perempuan itu tahu diri, ada yang suka sama tantangan… semakin keliatan sulit ditaklukan semakin ingin didekati”
“Teteh jangan kaget kalau di jalan banyak perempuan melirik sama Junaedi… biasa saja”
“Maklumi… salah teteh sendiri nikah sama ganteng… coba nikah sama yang mukanya kaya Bapak… pasti lebih banyak yang suka lagi…hihihi” Bapak tertawa sendiri. Bulan langsung mencibir sambil tertawa juga, Bapak itu memang suka kagum sama muka gantengnya.. Muka ngademin kata orang mah.
“Iyalah nanti teteh bakalan cool kaya kul-kas gak gampang kaget kalau ada perempuan suka sama A Juno. Kata Bapak juga kan selama A Junonya gak suka sama dia dan gak ngeladenin kita tenang aja”
“Sip Pak setuju teteh nanti akan ojo kagetan… terakhir nih Pak… ojo aleman”
“Itu mah sifat teteh sekarang… jangan suka manja” kata Bapak sambil mencibir dan tertawa.
“Ihhh siapa yang manja… teteh gak manja juga” Bulan cemberut kesal.
“Iya kaya tadi suami mau pergi itu berikan muka yang berseri dan senyuman supaya semangat jangan manyun seperti tutut” bibir Bapak langsung menirukan bibir Bulan yang cemberut. Bulan jadi tertawa terbahak melihatnya.
“Bapak iiih jelek” ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak, menyadari kalau tadi ia cemberut karena tidak rela ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
“Bapak gegara gaul terus sama Mas Imam jadi jagoan Bahasa Jawa nya, nanti atuh cari menantu perempuannya orang Jawa aja Pak… biar makin lancar bahasanya” goda Bulan.
“Bapak juga sudah kepikir seperti itu. Menantu laki-laki Junaedi orang Palembang, mestinya mah kalau pulang teh bawa mpek-mpek”
“Kalau punya menantu orang Jogja nanti kalau nengok Bapak bakalan bawa gudeg… kan seneng banyak makanan beda macamnya”
“Kalau punya menantu orang Sunda lagi mah… datang kerumah bikinin sayur asem, karedok… ah itu si Ema juga bisa gak ada variasi” ucap Bapak sambil tersenyum.
“Ahahahahha ada-ada aja Bapak mah… orang lain pengen menantu itu sesuku ini malah pengen beda”
“A Juno mah lahir dan besar di Jakarta Pak… jadi gak akan suka mpek-mpek” jelas Bulan.
“Ya udah kalau begitu kalau pulang ke Bandung mestinya bawa kerak telor” sambung Bapak, Bulan kembali tertawa terbahak.
“Dia mah sukanya pasta Pak… spaghetti, fettucini” jelas Bulan.
“Ganti kitu makanannya… da bukan orang Italia.. Banyak gaya pake makan pasta segala.. Biasakan aja makan kerak telor.. Ketoprak.. Nasi uduk” jelas Bapak.
“Ketoprak bukannya dari Cirebon Pak?” tanya Bulan heran.
“Ahh gak tahu dari mana, cuma kalau Bapak ke Jakarta dimana-mana ada ketoprak…hahahhaha” Bapak menyudahi acara menyiram tanaman, langit sudah gelap dan waktu sholat magrib sudah tiba.
“Ayo ah kita solat dulu”
“Karena setelah shalat kita Ojo Lali” jelas Bapak
“Nah ini mah Bulan juga bisa gak usah ditranslate… jangan lupa sholat karena itu kewajiban… yah Pak” ucap Bulan sambil mengikuti Bapak di belakang.
“Bukaaaan… memang betul jangan melupakan sholat, tapi maksud Bapak setelah kita sholat magrib… kita makan Bakso Ojo Lali yang diujung jalan itu teh” jelas Bapak sambil tertawa sendiri. Bulan langsung mendelik kesal sambil menahan tawa.
Kebanyakan ojo jadi bikin pengen berfilsafat terus. Padahal ngajak ngebakso.
############################
__ADS_1
Ingat yaaah Deterjen semua...Ojo lali pake masker (covid lagi naik).... ojo lali cuci tangan (supaya gak ada bakteri), dan yang paling penting ojo lali bahagia (supaya tetap waras) dan bisa ojo lali nulis story.... nanti Gembulers -nya Ojo lali nge vote, ojo lali komen, ojo lali like, ojo lali poin… hahahhahahahaha