
Selama menunggu untuk pemeriksaan dokter Bulan akhirnya tertidur di ruang observasi IGD rupanya semalaman ia memang tidak bisa tidur sehingga bisa terlelap dengan mudah.
“Kak… Mama mau telepon ngecek Afi dulu”
“Kamu duduk disini temani Bulan” bisik Mama pada Juno yang berdiri di ujung tempat tidur, yang segera mengikuti perintahnya.
“Iya… tolong bilang sama Afi supaya kirim kerudung sama baju ganti” ucap Juno perlahan, tadi mereka tidak berpikir untuk mengganti pakaian Bulan sama sekali. Sekarang ia terbaring dengan hanya memakai piyama lengan pendeknya yang dipakai semalam. Mama Nisa mengangguk setuju, kemudian beranjak keluar. Ia jadi khawatir memikirkan Afi yang tadi juga terjatuh.
Juno duduk di kursi, perlahan dengan ragu kemudian mencoba meraih tangan Bulan dan menggenggamnya lembut. Bulan yang merasakan tangannya digenggam mengira itu tangan Mama Nisa dan menariknya untuk didekap dengan mendekatkan pada kepala.
“Mamaa..” ucapnya lirih sambil terus memejamkan kepala. Juno tampak kaget tapi berusaha untuk tidak bereaksi, hanya kemudian maju sehingga lebih dekat pada istrinya. Semakin dekat pada Bulan semakin perasaannya terasa sesak. Terbayang saat kemarin ia mengguncangkan tubuh perempuan yang ada di depannya dengan keras.
“Maa…maaf” ucap Juno lirih, air matanya menetes perlahan. Tidak menyangka sampai sejauh ini masalah menjadi semakin melebar.
Mendengar suara laki-laki di dekatnya, mengagetkan Bulan sehingga ia tersentak dan bergerak mendadak.
“Arghhh” perutnya langsung terasa sakit. Juno ikut kaget melihat Bulan yang langsung bergerak menjauh sambil melepaskan tangannya dari genggaman Juno.
“Maaf…maaf aku gak bermaksud membangunkan kamu… maaf” ucap Juno panik berusaha menenangkan Bulan tapi tidak berani menyentuhnya kembali. Bulan hanya menatapnya lekat sambil mengerutkan dahi dan kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya. Ia merasa tidak siap untuk berinteraksi dengan Juno.
“Maafkan aku… aku benar-benar minta maaf” ucap Juno perlahan.
“Aku tahu aku banyak salah sama kamu… aku mohon supaya kamu bisa maafin aku” suara Juno terdengar seperti tercekat, tapi Bulan masih tidak bergeming, hanya diam menatap tirai yang ada di depannya. Keheningan itu terhenti saat perawat tiba-tiba masuk ke bilik perawatan Bulan.
“Ahhhh sudah bangun yah, tadi tidurnya nyenyak sekali”
“Dokternya sudah ada di klinik dan siap menerima pasien”
“Karena Bu Rembulan tadi paling awal daftarnya jadi bisa masuk duluan deh” ucap Perawat dengan ramah. Bulan tersenyum lemah.
“Bi..bisa masuk sekarang?” Juno terdengar kaget, Mama Nisa masih belum kembali.
“Iya.. barang-barangnya dibawa saja Pak.. nanti biar dokter yang memutuskan rawat jalan atau harus rawat inap” Perawat kemudian membantu Bulan untuk duduk.
“Kita jalan-jalan pagi pakai kursi roda sama suster yaaa” dengan cekatan Suster membantu Bulan turun dan duduk di kursi roda. Juno bergegas memakaikan jaket pada istrinya, Bulan hanya memakai piyama lengan pendek. Untunglah dia menyimpan jaket dengan memakai hoodie di mobil.
“Pakai jaket… dingin” kata Juno pendek, Bulan menuruti tanpa menjawab sepatah katapun. Mereka bertiga berjalan beriringan menyusuri lorong rumah sakit.
“Ibu saya nanti menyusul.. Ruangan klinik dokter kandungan sebelah mana sus?” Juno sibuk menelepon Mama Nisa memberitahukan posisi mereka saat ini. Sulit baginya untuk berkomunikasi dengan Bulan dengan kondisinya saat ini, harapannya tinggal dengan Mamanya yang bisa membantu Bulan tanpa adanya penolakan dari istrinya.
Namun begitu tiba di depan ruangan klinik dokter kandungan, tampak Mama Nisa sudah berdiri menunggu
“Hahaha malah Mama duluan yang ada disini” ternyata Mama sudah datang lebih dahulu.
“Tadi Mama ke kafetaria nyari sarapan buat kalian, tuh di bawah ada kafetaria besar. Afi juga disini periksa kehamilannya jadi Mama sudah hafal” ucap Mama dengan semangat, melihatnya Bulan jadi tersenyum lebar.
“Ini lihat Mama beli sandwich aja biar gampang makannya”
“Ada menu nasi tapi ribet makannya”
“Makan dulu teh! Mama udah beli susu juga”
Sambil menunggu dipanggil masuk, Mama langsung menyiapkan makanan dan minuman. Juno tersenyum melihat kesigapan Mama dalam segala hal, tidak terpikir olehnya untuk membeli sarapan, pikirannya malah dipenuhi oleh kekhawatiran oleh kondisi istrinya. Baru tiga gigitan dimakan oleh Bulan, terdengar panggilan oleh suster.
“Ibu Rembulan” Suster memandang ke arah mereka, Juno yang langsung berdiri.
“Lagi makan dulu Sus!” ia memandang istrinya dengan muka prihatin.
“Gak apa-apa sudah cukup.. Nanti saja diterusin” ucap Bulan cepat, ia ingin segera mengetahui kondisi kehamilannya saat ini. Mama mengangguk memberikan persetujuan.
“Minum dulu susunya, supaya berenergi” Mama Nisa langsung menyodorkan susu yang sudah siap minum, Bulan mengerutkan dahi kemudian mencoba meminum susu tapi baru beberapa tegukan sudah berhenti dengan muka merah.
“Gak kuat Ma… mual.. Bulan gak suka susu plain” ucapnya lemas. Mama mengangguk penuh pengertian.
“Ya gpp.. Nanti kita beli susu rasa cokelat atau strawberry” ucapnya sambil membantu membereskan Bulan.
“Ayo kita masuk sekarang, tolong di dorong kursinya Kak” Mama memberikan isyarat pada Juno untuk segera membawa istrinya masuk.
Dokter yang memeriksa tampak sudah menunggu, perempuan separuh baya yang tampak ramah.
“Waah Ibu sudah mengantarkan lagi hadiah yang kedua ini” rupanya ia langsung mengenali Mama Nisa yang kerap menemani Afi untuk periksa kehamilan.
“Iya dokter… alhamdulillah ini menantu saya tadi malam dicek ternyata positif, ehhh tadi pagi malah pingsan… saya jadi panik”
“Selama ini gak tahu sedang hamil… saya tanya sudah berapa bulan gak haid… malah lupa”
“Anak sekarang kalau sudah sibuk sampai gak ingat kesehatan dok” Mama Nisa mengusap punggung Bulan dengan muka khawatir. Bulan hanya tersenyum lemah, sebetulnya ia sadar tapi mencoba tidak memikirkannya karena terlalu banyak yang ia pertimbangkan.
“Gak apa-apa… banyak kok yang seperti ini Bu”
“Ayo kita periksa dulu… kita lihat sudah berapa lama nih baby nya ada di perut Mama Rembulan”
“Pindah ke bed dulu yaa” mendengar instruksi dokter, Juno segera memegang Bulan supaya bisa berjalan, Mama Nisa tersenyum ditahan melihat kesigapan Juno, ia bisa melihat kalau anaknya terlihat khawatir.
“Waah sudah latihan menjadi suami siaga yah?” dokter tersenyum melihat kesigapan Juno, yang ditanggapi dengan muka datar oleh Bulan.
Agak lama setelah jelly dioleskan dan dokter melihat posisi bayi di kandungan Bulan, menggeser ke kiri dan ke kanan sambil mengerutkan dahi. Juno tampak tegang melihat ekspresi dokter.
“Bagaimana dok… apakah kondisi janinnya sehat?” ucapnya cemas.
Dokter tersenyum mendengarnya
“Waah ayahnya sudah tidak sabar”
“Coba tebak sudah berapa minggu ini anaknya ada di perut Mama” tanya dokter. Juno tampak termenung dahinya terlihat berkerut.
“Saya gak tahu dok… 2 minggu” jawabnya ragu, dokter langsung tertawa terbahak.
__ADS_1
“Ahahhahaha terlalu sering sampai tidak tahu yang mana yang sukses jadi anak” ucapnya sambil menggelengkan kepala. Juno tersenyum tertahan sambil sesekali melirik Bulan yang tampak datar melihat ke layar di depannya.
“Sudah 9 minggu”
“Sudah terbentuk masih sebesar hmmmm buah ceri, itu organnya sudah mulai terbentuk”
“Se…sembilan minggu” Juno tergagap
“Sudah berapa lama menikah?”
“Enam bulan lebih dok” jawab Mama Nisa cepat.
“Waahhh nanti cucu saya hanya beda satu bulan usianya” Mama Nisa tampak berseri.
“Tapi kondisinya sehat kan dok… ini menantu saja kondisi fisiknya sedang tidak sehat jadi kami khawatir Mama dan ade bayinya bagaimana?”
“Kondisi janin baik… ini sudah terbentuk, tangan dan kakinya sudah terlihat, organnya sudah terbentuk… nah ini plasentanya sudah terbentuk jadi sudah bisa memberikan nutrisi pada bayinya”
“Sekarang Mamanya bagaimana kondisinya?”
“Terlihat lemas…selera makannya bagaimana? Baik?”
“Berat badannya masih normal sebetulnya… sebelumnya berapa kilogram?”
“55 kg dok” jawab Bulan
“Hmm turun tiga kilogram, tapi kondisi janinnya bagus karena tubuh Mamanya sehat yaa… Mama yang kuat yaaa… punya banyak persediaan lemak” dokter menggoda Bulan yang tersenyum lemah.
“Harus istirahat yaa… karena sudah dihabiskan cadangan makannya oleh adek bayi Mamanya bikin cadangan lagi di tubuh supaya lebih kuat nanti selama masa kehamilan”
“Makannya harus untuk berdua yah dok” sambung Mama.
“Ahhh tidak juga… makan makanan yang bergizi dan minuman yang sehat lengkap protein dan karbohidrat”
“Salah kalau ibu hamil harus makan dua porsi karena untuk ibu dan anak jadinya nanti berlebihan”
“Yang terpenting adalah gizi yang seimbang, karbohidrat, protein, lemak dan makanan yang mengandung vitamin dan mineral yang ada dalam makanan yang fresh lebih baik”
“Walaupun Mamanya tidak mau makan karena mual tapi harus memaksakan diri makan supaya bayinya sehat”
“Saya tidak tahu sedang hamil dok… tapi saya merasa kurg berselera saja untuk makan”
“Kalau tahu saya hamil tentu saja saya akan memaksakan makan” jawab Bulan.
“Bagus… makan yang baik.. Tapi kurangi kafein yaah kalau perempuan bekerja biasanya senang minum kopi karena nanti memicu tekanan darah dan detak jantung juga. Yah maksimal 2 cangkir sehari”
“Saya paling hanya minum 1 cangkir dok karena khawatir darah tinggi juga … kemudian..” Bulan terlihat ragu untuk bicara, kemudian melihat Mama seakan meminta bantuan untuk bicara. Mama mengangguk dan tersenyum seakan mengerti kegalauan Bulan.
“Ini Dok… putri saya ini agak khawatir dengan kehamilan karena ibu meninggal saat melahirkan adiknya”
“Hmmmm kalau disini tekanannya cenderung rendah”
“Tidurnya teratur?” tanya dokter. Bulan menunduk kemudian menggeleng.
“Tiga minggu terakhir ini saya sering terlambat tidur Dok”
“Seminggu kebelakang bahkan hanya tidur beberapa jam” jawabnya sambil mengingat-ingat aktivitasnya seminggu kebelakang.
“Pekerjaan saya banyak” jawabnya sambil menarik nafas.
“Perut saya juga terkadang terasa sakit” keluh Bulan
“Apa yang kamu kerjakan sampai Bulan kurang tidur” Mama Nisa memukul tangan Juno dengan keras, mukanya terlihat kesal.
“Kamu jangan mengerjakan semuanya sendiri… biarkan suami kamu bekerja” Mama masih melotot kesal. Juno hanya meringis sambil mengusap-usap lengannya yang dipukul Mama.
“Butuh kerjasama suami dalam membantu istri yang hamil”
“Perubahan hormon yang dialami oleh ibu hamil nanti akan sangat berpengaruh pada emosi jadi suami harus memberikan perhatian yang lebih, kesabaran yang lebih baik juga sehingga nanti bisa membantu istri mengatasi keluhan yang dialami selama kehamilan”
“Perut yang sakit itu akibat dari kontraksi rahim, dia dalam proses penyesuaian karena sudah ada janin yang tumbuh dan menempel”
“Diberi kompres hangat kalau perutnya terasa sakit supaya rileks”
Juno mengangguk-angguk selama dokter memberikan petunjuk mengenai kehamilan.
“Tidak ada cara khusus untuk mencegah preeklampsia, yang bisa kita lakukan adalah dengan menurunkan resiko terjadinya preeklampsia dengan rajin kontrol, menjaga tekanan darah dan gula darah selama kehamilan, menjalani pola hidup yang sehat dengan makan dan olahraga teratur serta tidur yang cukup”
“Jangan stress itu penting, karena overthinking akan membuat kita sulit tidur dan meningkatkan asam lambung juga… kalau asam lambung naik nanti akan mual sehingga kita tidak berselera atau sulit untuk makan”
“Nahh suami membantu istrinya supaya tidak stress yah… sering dibelai dan dipijat kakinya karena nanti semakin besar kandungannya akan sering bengkak”
Kembali Juno mengangguk-angguk patuh.
“Tampaknya Papanya sudah siap menjadi suami siaga” dokter tersenyum melihat sikap Juno yang patuh. Mama Nisa hanya melirik tanpa mengomentari apapun.
“Apakah harus dirawat dok?” tanya Juno dengan hati-hati.
“Hmm saya kira bisa pulang… kondisi ibu baik, janinnya sehat”
“Tapi harus istirahat yang cukup… satu minggu bed rest yaah sambil minum vitamin dan makan yang baik supaya berat badannya kembali seperti sedia kala”
“Jangan banyak pikiran, mulai kurangi pekerjaan yang berat”
Bulan mengangguk lemah, ia pun tidak ingin untuk dirawat di rumah sakit. Kondisinya terasa lebih stabil sekarang karena perasaannya lebih baik setelah berkonsultasi dengan dokter. Apalagi mendengar kalau janin dalam kandungannya dalam kondisi sehat.
“Saya mau pulang istirahat di rumah saja dok… istirahatnya di rumah” ucap Bulan, dokter mengangguk memberikan persetujuan.
__ADS_1
“Konsultasi lagi nanti dua minggu kedepan yah”
“Kita sudah bisa mendengar detak jantung bayi nanti”
“Waaah secepat itu” Mama tampak senang mendengarnya. Diwaktu bersamaan akan mendapatkan dua orang cucu.
Hanya tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan untuk mengambil resep vitamin dan obat untuk Bulan. Mama menemani Bulan sambil makan dan minum saat Juno mengambil resep di apotek rumah sakit.
Sesampainya di rumah, Bulan memilih langsung ke kamar untuk tidur, tanpa banyak bicara masuk ke kamar Juno dengan ditemani Mama saat Juno masih memarkir mobil di garasi.
“Gimana?” tanya Afi dengan penuh semangat. Mama langsung memberi isyarat pada Afi untuk menemani Bulan di kamar. Sementara Mama menunggu Juno di ruang keluarga. Begitu Juno masuk Mama langsung memberi isyarat untuk duduk bersamanya di sofa. Tanpa banyak bicara Juno mendekat dan duduk di depan Mama Nisa.
“Kakak” Mama Nisa menatap Juno erat.
“Mari kita menjaga yang masih bisa kita miliki saat ini”
“Mama minta Kakak untuk mengikuti nasehat Mama”
“Tadi pagi Kakak kembali memaksakan keinginan Kakak dan akibatnya seperti sekarang”
“Untung kondisi janinnya baik sehingga semuanya sehat walafiat”
“Entah apa jadinya kalau tadi Bulan sampai …. “ Mama Nisa berhenti dan menarik nafas panjang, ia tidak sanggup membayangkan hal-hal yang buruk.
“Alhamdulillah semuanya baik-baik saja”
“Seperti yang disampaikan dokter tadi, Bulan akan bedrest selama seminggu”
“Dan Mama akan memastikan itu disini… Bulan akan tinggal dirumah sampai kondisinya stabil dan sehat”
“Nanti kalau sudah sehat dan baik… Mama serahkan pada kalian berdua”
“Apa akan kembali ke Ruko atau tetap tinggal bersama Mama disini”
“Biarkan Bulan memulihkan fisik dan psikisnya”
“Berikan ketenangan pada istrimu… jangan bertemu dulu sampai dia yang mencari kamu”
“Aku gak bisa kalau tidak bertemu dia” jawab Juno pendek, kepalanya menunduk menyembunyikan kegelisahan di mukanya.
“Aku tahu aku salah”
“Tadi aku mencoba minta maaf sama dia… tapi dia masih… dia masih marah”
“Aku gak akan mengganggu dia”
“Tapi aku harus melihat dia setiap hari”
“Aku titipkan dia sama Mama”
“Aku akan tinggal di Ruko selama dia disini, nanti aku minta ditemani Doni supaya ada teman selama di Ruko” suaranya terdengar seperti tersekat.
“Aku akan datang setiap hari kesini, jangan larang aku… aku gak akan tenang kalau tidak melihat dia” matanya berkaca-kaca.
“Jangan khawatir aku tidak akan memaksa Bulan untuk menerima permintaan maafku” Juno menarik nafas panjang.
“Kalau ada yang ingin dia makan atau beli tolong Mama bilang sama aku, nanti aku belikan” jawabnya sambil berdiri. Muka Juno terlihat lelah dan risau.
“Aku pulang dulu”
“Aku mau lihat dia dulu sebentar sebelum pulang” ucapnya sambil beranjak ke kamar. Ia berpapasan dengan Afi.
“Dia tidur!” Afi menahan kakaknya di pintu.
“Aku gak akan bicara… aku cuma mau lihat dia” suaranya terdengar memelas, bukan suara keras yang biasanya diucapkan saat bicara dengan Afi.
Mendengar kakaknya terdengar sedih dan putus asa, akhirnya Afi mengalah. Dibiarkannya Juno masuk dan melihat Bulan yang sudah bergulung dalam selimut dan tampak tertidur dengan lelap.
Mendekat dengan perlahan Juno khawatir membangunkan istrinya, tiba-tiba terbayang pertengkaran mereka kemarin. Muka penuh amarah yang ditunjukkan Bulan padanya, bahkan mendorongnya dengan keras sehingga membuatnya kaget dan kesal. Ternyata kehamilan memang membuat istrinya lebih berani untuk mengungkapkan perasaannya.
“Maafkan aku Muuney” ucapnya pelan hampir tidak terdengar. Menatap Bulan yang membelakanginya
“Aku tahu banyak kesalahan yang sudah aku perbuat”
“Mungkin tidak layak kamu maafkan… tapi aku gak bisa hidup tanpa kamu” Juno menarik nafas panjang seakan berusaha memberikan jantungnya untuk memompa darah lebih banyak sehingga ia bisa hidup.
“Kamu harus terus hidup… bukan hanya Bapak dan Benny membutuhkan kehadiran kamu”
“Aku juga tidak akan bisa hidup tanpa kamu” suara Juno terdengar tersendat.
“Sekarang kamu tidur istirahat yang baik”
“Makan yang baik supaya kamu sehat”
“Besok aku akan kesini… aku janji tidak akan mengganggumu” suara Juno semakin serak sampai akhirnya dia melangkah cepat keluar. Bergegas pergi setelah keluar dari kamar, tanpa mengindahkan Mama dan Afi yang melihatnya keluar dari kamar dengan cepat. Menyusut air mata yang mengalir di mukanya.
Perceraian Mama Nisa dan Papa Bhanu tidak pernah memicu perasaan sedih yang mendalam. Selama ini ia memang tidak pernah dekat dengan Papanya sehingga proses perceraian tidak mempengaruhinya.
Perpisahan dengan Inneke lebih memicu pada rasa marah, kesal dan emosi yang kemudian ia pendam selama bertahun-tahun. Perasaan merasa dikhianati terus membuatnya merasakan amarah yang kemudian menyamaratakan pemikirannya pada semua perempuan. Termasuk pada Bulan saat awal-awal hubungan mereka.
Sikap Bulan yang periang tapi terkadang pemalu saat bersama membuatnya ingin tertawa. Semangat dan antusiasme Bulan pada hal-hal baru membuatnya yakin untuk memulai melangkah mengambil keputusan memulai perusahaan baru. Ternyata kehadiran Bulan telah merubah semua sifat kakunya menjadi hal tidak menyenangkan untuk dipertahankan.
Bulan membuka mata yang ia pejamkan saat mendengar suara Juno di pintu. Berusaha pura-pura tidur dengan mengatur nafasnya setenang mungkin, sampai ia mendengar semua ucapan suaminya. Kalau saja Juno ada di hadapannya maka ia akan bisa melihat air mata yang mengalir membasahi bantal. Berusaha untuk tidak terisak sambil menahan sesak yang terus mendera sampai akhirnya Juno beranjak keluar sehingga Bulan bisa menarik nafas lega. Perutnya terasa kencang sehingga menyadarkan Bulan untuk menarik nafas panjang.
“Maaf sayang… maafkan ibumu yang sudah menangis” Bulan menarik nafas panjang.
“Kita berdua harus kuat… ada banyak orang yang menyayangi kita… jangan cengeng” Bulan mengusap lembut perutnya dan menarik nafas panjang hingga perasaan tegang di perutnya mulai mereda. Aroma bantal yang ia tiduri sekarang membuatnya merasa tenang, ia bisa mencium harum laki-laki yang selalu bersamanya selama enam bulan kebelakang.
__ADS_1