Rembulan

Rembulan
Menyebalkan


__ADS_3

Kenanga duduk di dalam taksi yang membawa dirinya ke rumah Athar, ya dua pekan berpisah dengan pria itu membuat Kenanga sadar kalau Kenanga ternyata sudah bergantung akan perhatian pria itu, bahkan rasa traumanya terhadap Riko seakan perlahan terkikis oleh kehadiran Athar, meski tak bisa di pungkiri Kenanga masih menaruh rasa takut bila bertemu dengan Riko, tapi setidaknya Kenanga bisa mengendalikan rasa takut yang menghantui dirinya, semua berkat Athar. Kenanga menarik kedua sudut bibirnya, senyumannya seakan menjadi pembuktian kalau Riko tak lagi ada dalam hati bahkan hidupnya.


Kenanga kembali menyalakan ponselnya, dan saat ponsel terbuka ternyata belum ada satu panggilan masuk dari Athar, hal tersebut membuat Kenanga berdecak kesal.


"Kemana dia" Kenanga memutar bibirnya tanda dirinya saat ini sedang kesal


"Pak bisakah lebih cepat lagi?" ucap Kenanga pada supir taksi, rasanya dirinya sudah tak sabar ingin segera menjewer daun telinga Athar yang sudah begitu nakal mengacuhkan dirinya seperti ini.


Setelah menempuh perjalanan panjang dan macet, akhirnya taksi yang membawa Kenanga kini sudah berhenti tepat di depan pagar rumah Athar, setelah mengeluarkan beberapa lembar uang kertas untuk membayar taksi, Kenanga dengan segera turun dari taksi.


Langkah kaki jenjang milik Kenanga begitu terlihat semangat, bahkan Kenanga kini sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Athar, dengan tak sabar Kenanga menekan bel rumah berulang kali, karena Kenanga yakin Athar berada di rumah terlihat dari mobil milik pria itu yang masih terparkir di garasi rumahnya.


"Ya.." suara Athar yang serak terdengar menyaut dari dalam rumah, dan benar saja pintu terbuka dan menampakkan wajah Athar yang masih kusut khas bangun tidur.


Seketika mata Athar yang masih enggan terbuka kini malah langsung terlihat membola tak percaya akan siapa yang kini berdiri di hadapannya. Bukankah semalam Kenanga masih belum tahu bisa kembali kapan, lantas mengapa saat ini Kenanga berdiri di hadapannya, sepagi ini pula. Apa ini mimpi? pikir Athar


"Dokter.." ucap Kenanga ketus sembari melipat tangannya di depan dadanya


"Sayang? astaga" Athar tersenyum senang dan langsung merentangkan tangan ingin memeluk Kenanga, namun Kenanga mundur beberapa langkah menghindari Kenanga.


"Kenapa? Kau tak mau ku peluk?" Athar mengerutkan keningnya


"Aku gerah sekali, aku akan mandi" Tanpa permisi Kenanga menerobos masuk melewati tubuh Athar yang berdiri di ambang pintu


Athar menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengikuti Kenanga di balik tubuh mungil wanita itu, ternyata Kenanga langsung masuk ke dalam kamar Athar tanpa permisi membuat Athar keheranan mengapa sekarang Kenanga sangat agresif bila Kenanga seperti ini terus jangan salahkan kalau Athar tak bisa menahan diri lagi. Kenanga meletakkan koper miliknya di sembarang arah dan langsung menuju lemari pakaian milik Athar.


"Sayang kau mau apa?" Tanya Athar dengan menguap, bahkan pria itu kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya yang baru beberapa menit lalu dirinya tinggalkan


"Mencari bolu" seru Kenanga


Athar terkekeh di buatnya "Tidak ada pakaian wanita sayangku. Hanya ada pakaianku saja di sana"


"Pakaianku kotor semua, dan aku ingin mandi jadi biarkan aku memakai pakaian milikmu" Kenanga terlihat memilah pakaian milik Athar yang tertata rapih di dalam lemari tersebut.


"Memangnya kau belum mandi?"


Pertanyaan Athar membuat Kenanga terdiam, sebenarnya Kenanga ingin mandi hanya karena tak ingin bau parfum Riko menempel di tubuhnya, bahkan hidung Kenanga pun mencium aroma parfum Riko yang menempel dengan sempurna di pakaian miliknya. Kenanga mengacuhkan perkataan Athar, dan mengambil sebuah kemeja merah muda milik Athar, hanya warna itu yang menurut Kenanga cocok untuknya, kemudian tanpa permisi Kenanga melenggang masuk ke dalam kamar mandi dan tak lama kemudian terdengar suara gemericik air dari dalam sana.


Athar menggedikkan bahunya akan tingkah Kenanga, kemudian Athar memilih kembali menarik selimut dan memeluk guling kesayangannya. Matanya masih sangat mengantuk efek begadang semalam melihat tayangan sepak bola club kesukaannya.

__ADS_1


Empat puluh lima menit kemudian Kenanga terlihat keluar dari dalam kamar mandi mengenakan kemeja milik Athar yang terlihat kebesaran di tubuhnya, bahkan kemeja itu hampir menyentuh luntutnya, entahlah kemeja milik Athar yang kebesaran atau malah tubuhnya yang terlalu mungil. Kenanga berkacak pinggang saat melihat Athar yang sudah kembali terpejam di atas tempat tidurnya.


"Dokter Athar, bangun" seru Kenanga, namun Athar sama sekali tak bergeming akan posisinya saat ini.


"Astaga" Kenanga menghela nafasnya kemudian duduk di tepi ranjang Athar.


"Dokter Athar.." suara Kenanga lembut, bahkan kali ini tangannya memberikan usapan di pipi Athar


"Ya sayang.." jawab Athar masih dengan mata terpejam dan memeluk gulingnya


"Dokter tidak bekerja hari ini?"


"Hari ini jadwalku praktek kosong, memangnya kau lupa?" Kali ini Athar membuka kedua matanya


"Oh..." Kenanga membulatkan bibirnya


"Aku merindukanmu" ucap Athar bahkan tangan pria itu terlihat menarik tangan Kenanga namun dengan cepat Kenanga menghindarinya


"Bau !!! Mandilah baru bisa memelukku" ledek Kenanga sambil menutup lubang hidungnya


"Ayolah sayang" rengek Athar merentangkan kedua tangannya ke arah Kenanga


"Aku akan membuatkan makanan" Kenanga melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas pagi


"Menyebalkan" Athar menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya.


^


Satu Jam Kemudian...


"Kenapa kau tidak memberiku kabar kalau kau pulang hari ini?" Athar memeluk Kenanga dari belakang hingga wanita itu sulit untuk bergerak


"Aku sudah ribuan kali menghubungi ponselmu, tapi ponselmu tidak aktif, mungkin kau sedang sibuk bersama wanita lain di belakangku"


"Mana bisa aku berbuat seperti itu kalau setiap hari aku mabuk kepayang olehmu" Athar memberikan kecupan di tengkuk leher Kenanga, membuat Kenanga meremang tak karuan


"Kau terlalu lama meninggalkanku di sini!! Taukah aku hampir gila setiap hari memikirkan dirimu, tak bisa memelukmu seperti ini" Athar semakin mengeratkan pelukannya, membuat Kenanga terpaksa mematikan kompor


"Athar, lepaskan aku. Masakanku akan gosong" Kenanga mencoba menjauhkan tangan Athar, namun sayang sekali pria itu malah semakin memberikan ciuman intens di pipi Kenanga

__ADS_1


"Aku tak akan pernah melepaskanmu"


"Menyebalkan" sembur Kenanga


"Benarkah?" Athar memutar tubuh Kenanga dan langsung menyambar bibir tipis wanita itu


Kenanga terkejut, bukankah awalnya dirinya ingin menghukum Athar dengan menggodanya, lalu mengapa saat ini malah Athar yang berkuasa akan dirinya, bahkan ciuman Athar menuntut dan semakin panas. Gigitan-gigitan kecil dari Athar membuat desahan yang Kenanga tahan kini lolos begitu saja.


"Kau selalu nakal dan membuatku menunggu lama" Athar sejenak melepaskan ciumannya.


Athar menatap kedua manik mata Kenanga, ibu jarinya bergerak mengusap bibir Kenanga yang basah akan sisa air liurnya yang menempel di sana, sungguh bibir Kenanga serasa seperti narkoba yang membuat penikmatnya menjadi kecanduan tak karuan.


"Kau membiarkan aku di peluk pria lain saat kau tak menjemputku di bandara"


Athar mengerutkan keningnya dalam, merasa tak suka dengan apa yang baru saja dirinya dengar, bukankah Kenanga hanya miliknya dan tidak boleh di sentuh oleh siapapun, lantas pria mana yang sudah berani menyentuh kekasihnya?


"Aku bertemu dengan mantan kekasihku, bahkan dia memelukku dengan eratnya"


Api cemburu seketika membakar hati Athar, bahkan rasa egois kini menguasai pria itu, membuat Athar gelap mata dan langsung kembali menyambar bibir Kenanga, kali ini ciuman Athar cukup kasar tapi tidak menyakiti Kenanga, ciuman Athar seakan menjadi pelampiasan rasa cemburunya. Tak puas hanya mencium, Athar mengangkat tubuh Kenanga dan mendudukkannya di atas meja makan, Kenanga yang paham kalau tunangannya saat ini sedang di bakar api cemburu hanya bisa pasrah dan menikmati ciuman Athar.


"Kau hanya milikku" Athar melepaskan ciumannya sebentar, pandangan matanya melihat ke arah belahan dada milik Kenanga yang terlihat sangat jelas di matanya kemudian melanjutkan kembali ciuman panasnya.


Tak hanya bibir Athar yang haus, tapi tangan Athar kini sudah berada di paha Kenanga, tangan kokohnya mulai mengusap perlahan paha mulus milik Kenanga, membuat Kenanga memejamkan matanya, sensasi yang sungguh tak bisa Kenanga gambarkan, desahan pun lolos tak terkendali di sela-sela ciuman keduanya yang semakin memanas.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


HAPPY IED MUBARAK 1442H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN SEMUAHHH🙏😘


__ADS_2