Rembulan

Rembulan
Kost-an Rasa Homestay


__ADS_3

Semalaman Bulan dan Anjar berdiskusi tentang peluang dan persentase keuntungan dari pembelian saham dari beberapa perusahaan yang diminati. Rasa lelah hilang begitu saja kalau mendiskusikan hal yang disukai.


“Aku ke kost an kamu aja deh… cape ngomong di telepon” Anjar mengeluh setelah hampir tiga jam mereka berbicara di telepon.


“Hahahaha cape yaah… meep yaah… anggap aja ini ongkos nyanyi tadi di panggung” Bulan cekikikan mendengar suara Anjar yang terdengar lemas.


“Ya udah aku ngalepin kesana aja… biar lu bisa sambil mijitin gw…” kadalnya mulai keluar pikir Bulan.


“Ngomong aja udah typo mau ngapelin jadi ngalepin .. Sekalian aja ngepel... udah sana istirahat aja tidur” Bulan bisa membayangkan ekspresi Anjar yang tiduran di meja seperti kalau di kantor saat ia lelah.


“Ya udah deal… aku investasikan deh.. Aku sisain lima juta di tabungan buat jaga-jaga”


“Tapi bener yah bisa ditarik nanti”


“Itu soalnya duit tabungan buat sekolah ade”


“Yang tabungan berjangka baru bisa ditarik lima tahun lagi baru bisa benefitnya gede” Bulan sibuk menghitung keuntungan.


“Ya udah gw besok pagi-pagi langsung eksekusi… komposisi nya yang tadi yah” Anjar akhirnya mengakhiri diskusi panjang mereka hari itu.


“Besok tapi kita jalan yuks… Anak Umum punya tiket nonton XXI nih empat tiket, barengan sama kamu pas berempat”  ajak Anjar


“Yah... ada ngajak nonton.... pake tiket gretongan luh” Bulan merajuk, selama berteman dengan Anjar selalu mendapatkan jatah gratisan dari perempuan pemuja.


“Pasti yang anak Umumnya cewe kan?” Bulan melengos kesal.


“Ya iyalah masa batangan juga… pokoknya lu temenin, aku takut digerayamin sama mereka kalau cuma bertiga… plis lahhhh” Anjar menirukan gaya Elma.


“Alaaah gak imut kamu pake plis plis kaya gitu…. Ya udah besok aku temenin… jam berapa?” membayangkan Anjar harus mati gaya dengan cewek-cewek Umum yang hobi pake rok minim dan kancing kemeja merekah kasihan juga.


“Bebas katanya… selama ada seat kosong kita bisa masuk” Anjar terdengar bersemangat.


“Wokeey… besok jangan lupa yah” akhirnya perbincangan yang sangat berfaedah ini diakhiri, telinga terasa panas.


Malamnya Bulan merasa kalau dia mengambil langkah yang lumayan berani, tabungan yang ia simpan selama bertahun-tahun diinvestasikan pada tiga jenis produk. Reksadana, Tabungan Investasi Berjangka dan Saham, ia hanya menyisakan uang lima juta rupiah di tabungannya sebagai uang jaga-jaga.


Sebetulnya tidak banyak pengeluarannya setiap bulan, hanya membayar kostan, mengirim uang jajan untuk Benny, belanja bulanan dan biaya makan. Untuk biaya kesehatan semuanya sudah ditanggung oleh perusahaan, dan hingga saat ini ia belum pernah menggunakannya.


Tapi tidak ada investasi yang tidak beresiko, reksadana termasuk aman tapi memang membutuhkan waktu yang lama, tabungan investasi berjangka memiliki nilai lebih dan aman dari hanya sekedar di depositokan sedangkan pembelian saham memberikan keuntungan cepat tapi sedikit beresiko. Setidaknya ia harus mencoba lebih dulu, siapa tahu menguntungkan.


Ketidaktenangan hati ternyata berpengaruh pada kualitas tidur, beberapa kali ia terbangun, mimpi buruk masuk pada pusaran air dan sulit untuk keluar sampai akhirnya ia terbangun dengan keringat di sekujur tubuhnya. Sudah lama ia tidak pernah bermimpi buruk, waktu menunjukkan jam 2.30. Tiba-tiba teringat kalau ia belum menanyakan kondisi Bapak tapi kalau dini hari seperti ini khawatir malah mengganggu istirahat Bapak akhirnya Bulan memutuskan untuk melanjutkan tidur.


Tidur menjelang pagi membuatnya terlambat bangun shalat subuh, sampai akhirnya ia terbangun saat Matahari akan terbit, dengan lemas dan malas mencoba memaksa diri untuk bangun. Ini masih hari Minggu pikirnya, setelah shalat subuh bisa tidur lagi, tapi itu hanyalah sebatas keinginan karena pada akhirnya setelah shalat kondisinya menjadi segar. Ternyata memang setan mengganggu dengan rasa ngantuk agar ia tidak bangun untuk shalat.


Mengumpulkan baju kotor yang harus dicuci, dan akhirnya memutuskan untuk mencuci selimut yang sudah berminggu-minggu tidak sempat dicuci, membersihkan lemari pendingin yang sudah penuh dengan kerak minuman dan makanan, sampai ia mendengar ketukan di pintu.


"Tok...tok....tok..."


Bulan menoleh, tumben pagi-pagi begini ada yang bertamu, apakah itu Mbak Astrid tetangga kamar yang suaminya tinggal di luar kota. Ia selalu mencarinya kalau membutuhkan bumbu dapur.


“Siapaaa?” teriak Bulan… tapi tidak ada jawaban. Malah kemudian terdengar lagi ketukan.


"Tok...tok...."


Perlahan membuka pintu tapi tidak ada orang di depan pintu dan akhirnya membuka pintu lebar malah ada tangan yang mengetuk keningnya.


“Astagfirullah…” teriak Bulan, sambil memegang keningnya yang terpukul tangan, rupanya ada laki-laki yang bersender di pinggir pintu sambil menunduk, dia langsung menyembunyikan dirinya ke dalam kamar sambil melongok ke arah laki-laki itu.


“Kak Juno….” ia langsung berteriak saat bisa mengenali laki-laki berjaket hitam yang menundukan kepala.


“Ehhh kenapa… ada apa datang pagi-pagi” Bulan hampir saja keluar dari kamar, tapi kemudian ia menyadari kalau saat ini dia memakai piyama pendek. Segera ditutupnya pintu dan dikunci, berganti memakai celana panjang katun dan baju hangat untuk menutupi lengan bajunya yang pendek. Kemudian ia segera membuka pintu kembali.


“Kamu gimana sih… bukannya disuruh masuk” Juno sudah berdiri di depan pintu saat ia membuka pintu. Mukanya terlihat kusut, matanya seperti sudah setengah terpejam. Tanpa menunggu undangan masuk ke kamar dia mendorong pintu dan langsung masuk ke kamar.


“Ehhhhh…. Main masuk aja… ada apa datang pagi-pagi” Bulan hanya bisa bengong melihat Juno yang ngeloyor masuk ke dalam kamar. Duduk di Bean Bag kesayangannya, membuka sepatu dan jaket yang disimpannya sembarangan di atas meja.


“Aku numpang tidur… semalaman aku gak tidur sama sekali, trus tadi nganterin si Kuda ke Bintaro, hampir aja celaka di Jalan Tol… mata udah gak bisa dibuka” tanpa ba bu.. Juno langsung menjatuhkan dirinya ke tempat tidur yang belum dirapihkan. Ia baru saja mengganti bantal dan guling tapi belum sempat mengganti seprei.

__ADS_1


“Eh…. gimana inih… malah tidur disini” Bulan langsung panik, ia celingak celinguk melihat ke arah pintu. Bagaimana kalau ada tetangga kamar melihat Juno masuk ke kamarnya, trus sekarang tidur pula. Bulan mendekat perlahan, ternyata memang laki-laki ini betul-betul mengantuk pikirnya, matanya langsung terpejam dan nafasnya sudah mulai teratur.


Dilihatnya pakaian Juno ternyata memang masih memakai baju yang kemarin saat mengantarnya pulang, artinya dia tidak sempat pulang ke rumah tapi langsung ke tempat workshopnya itu. Tapi ini musti bagaimana, ada laki-laki yang bukan keluarga tidur di kamarnya. Mau diusir kasihan, memang masih jauh kalau pulang rumahnya, sekitar 15 km dari tempat kost an.


Perlahan Bulan melihat ke sekeliling kamarnya, kamar kost an lain masih sepi, baru jam 7 pagi di hari Minggu pasti orang banyak yang memilih untuk tidur kembali. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di luar kamarnya, jadi aman tidak ada yang tahu kalau Juno masuk ke kamar. Tapi ia tidak mungkin menutup pintu kamar, terasa sangat berdosa dan seperti bersekutu dengan setan…. Iiiihhhh....akhirnya Bulan memilih untuk membuka sedikit pintu kamarnya sejengkalan tangan dan ditahan oleh buku supaya tidak terbuka lebar.


Untungnya posisi tempat tidurnya tidak berhadapan langsung dengan pintu, jadi orang yang lewat tidak akan melihat ada laki-laki terbaring di kasurnya. Perlahan terdengar dengkuran halus Juno, Bulan jadi tersenyum sendiri mimpi apa dia tiba-tiba ada pengunjung laki-laki numpang tidur di kamarnya. Seperti kamar homestay saja, numpang tidur untuk beristirahat sejenak.


Daripada terganggu oleh kehadiran laki-laki yang sedang bermimpi ke langit ke tujuh, Bulan memutuskan untuk melanjutkan acara bersih-bersih diri. Membersihkan lemari pendingin ternyata masih ada banyak bahan makanan yang belum sempat diolah. Merendam selimut supaya kembali kinclong, ia paling suka selimut dengan warna putih, tidak ada warna lain simple tapi elegan hanya saja jadi mudah kotor dan harus sering dicuci.


Dua setengah jam membereskan semua hutang domestik membuatnya lapar, Bulan baru sadar ia belum sarapan dari tadi. Masih ada tuna kalengan di lemari pendingan dan sayur bayam organik, satu buah alpukat dan roti tawar. Hmmm mungkin membuat sandwich lebih mudah dan cepat, malas juga menunggu nasi matang. Ditatapnya Juno yang masih tidur dengan posisi yang sama, kalau manusia es itu bangun pasti lapar juga. Akhirnya ia memutuskan membuat sandwich tuna with avocado… hm tapi ini sayang bayamnya kalau tidak dimasak akan semakin layu. Ok kita oseng bersama tuna kalengan, Bulan merebus bayam supaya lebih cepat matang sebelum kemudian mengoseng tuna dengan mentega dan bayam…. Hmmm harum.


Menumpukkan tuna bayam dan irisan alpukat dan kemudian sedikit membakar rotinya agar kres-kres… hmmmm tampak lezat dengan warna kuning kecoklatan, seperti menu sarapan di cafe-cafe yang ia datangi kalau meeting dengan klien.


Dua tangkup besar roti ia bawa ke kamar, minum teh manis hangat menjadi pilihan yang tepat walaupun udara Jakarta mulai terasa panas. Masuk ke kamar menghidupkan kipas angin supaya terasa lebih sejuk. Kalau tidak panas-panas amat Bulan malas menghidupkan AC, ia jadi mudah masuk angin, mungkin karena sebagai orang Bandung ia tidak terbiasa dengan udara kalengan.


Waktu sudah menunjukkan jam 10.15 saat ia menyadari kalau hari ini ia punya janji dengan Anjar untuk menemaninya nonton bersama anak Umum. Tapi pengunjung homestay belum ada tanda-tanda akan bangun. Hmmm Bulan ingat pesan Bapak… kalau obat yang paling mujarab kalau kita sakit adalah tidur yang cukup, untuk itu Bapak paling tidak suka kalau sedang tidur diganggu. Eh…. mengingat Bapak ia jadi teringat belum menanyakan kabar Bapak di Bandung, tapi kembali ia teralihkan perhatian melihat gaya tidur Juno yang seperti bayi Bulan jadi ingin tertawa sendiri, apa pikiran Afi kalau ia melihat Kakaknya numpang tidur di kamarnya.


Perlahan ia mendekat ke tempat tidur, gaya tidur Juno yang miring sambil memeluk guling seperti takut ada yang mengambilnya. Jekrek….. Jekrekkk…. Jekrekkkk…. Bulan berusaha menahan senyum, ada beberapa posisi yang diambilnya jarak jauh dan jarak dekat yang memperlihatkan ekspresi muka Juno yang tidur dengan sedikit mangap.


Ia kemudian mengirimkan pesan kepada Afi..


“Ada yang numpang tidur gegara takut ngedengar adiknya mendesah di malam pertama :)” Bulan cekikikan sendiri membayangkan ekspresi Afi melihat foto Kakaknya sedang tidur. Tadi malam adalah malam pengantin Afi dijamin otak mesum nya selama ini sudah berhasil mendapatkan pelampiasan…. Tapi apa daya ternyata Kakaknya juga tidak mau kalah… hahaaha…. pasti pikiran Afi akan traveling kemana-mana. Bulan tidak tahan membayangkan tanggapan Afi akhirnya dia memutuskan keluar dari kamar supaya bebas untuk telepon. Sudah dapat dipastikan dalam hitungan menit sahabatnya akan langsung membalas.


Begitu ia mengirimkan pesan bergambar… Bulan langsung menghitung waktu…. Satu menit… belum ada tanggapan… dua menit… masih belum juga…. Lima menit… masih belum juga… sepuluh menit… ok fiks tadi malam pasti dia olahraga jumpalitan sama si Nico sampai belum bangun pikirnya. Sandwich di tangan sudah habis lebih baik ia mandi dan bersiap untuk pergi,


Tuluit ….tuluit…. Tuluit…… ternyata umpan ada yang makan, Bulan langsung tersenyum jail, ditunggunya hingga lima kali panggilan sebelum diangkat.


“Dimana lu….” Afi langsung nge gas.


“Ueoohoommm … “ Bulan membuat suara menguap bohongan, aselinya dia sudah pengen cekikikan, terbayang saat Afi membuka mata melihat kakaknya tidur di kostannya.


“Di kost an lah dimana lagi… baru bangun lu Fi… berapa ronde?” suaranya mencoba dibuat serak.


‘Ehhh serius lu… itu Kakak gw di kost an lu… gilak lu yah… kmarin lu nyanyi-nyanyi sama si komodo itu sekarang lu main gila sama kakak gw” Bulan menahan ketawa sambil cekikikan sendiri. Ternyata orang yang selalu mendukungnya bersama Juno tapi kalau dikasih foto kaya gitu mrepet juga.


“Aku ngambil cara cepet aja deh… Cinta Satu Malam” Bulan menutup mulutnya menahan suara tertawa keluar.


“Buset deh…. Kalau mau ngelawak jangan kelebihan Bul… lu kwalat lagi entar beneran” suara Afi terdengar kesal.


“Ahahahahahhaha….. Siapa bilang ngelawak… tadi malam berapa ronde Fi… sampe baru bangun… gw udah beres ronde ke dua mau ketiga nih…” Bulan memegang perut menahan sakit karena tertawa.


“Sialan lu ngetawain gw… si Nico malah teler tidur duluan… gw semaleman di asinin… dia stress malam kemarin gak bisa tidur ngapalin ijab kabul” suara Afi terdengar kesal, Bulan semakin tertawa terkikik kikik.


“Lu ngapain sama Kakak gw… emang lu beneran Bul… seriusan cinta satu malam… berapa ronde?” suara Afi terdengar seperti bingung.


“Ahahahahahah…. Aku cuma kuat 2 ronde Fi… pedes… soalnya ini wedang ronde… langsung KO…. whahahahahhaah” Bulan akhirnya tidak tahan dan tertawa terbahak-bahak, membayangkan Afi yang sudah siap on stage tapi diasinin oleh Niko membuatnya sangat terhibur.


“Heeeeh… jangan tertawa seperti itu….” kepala Bulan ada yang menoyor dari belakang, ia langsung kaget.


“Eh … Kak Juno udah bangun…” Bulan lupa kalau ia tadi tidak menutup pintu, kaget diingatkan oleh Juno sehingga lupa sedang berbicara dengan Afi.


“Buset… beneran Kakak gw ada di kost an lu Bul… Debaaak…. Gw bilangin sama Mama” Afi langsung mematikan hp.


“Kamu berisik banget sih... “ Juno kembali ke kamar dan duduk di Bean Bag.


“Ini roti siapa?” melihat roti di meja yang masih hangat dan harum.


“Buat Kak Juno… mau minum teh manis?” tawar Bulan yang disambut anggukan Juno. Mukanya masih terlihat mengantuk tapi lebih segar.


Dalam waktu sekejap sandwich buatan Bulan habis, saat ia membawa teh manis Juno sedang menjilati tangannya.


“Masih ada gak rotinya? Aku tadi malam gak sempat makan nasi cuma biskuit dan kopi” mengambil teh manis dari tangan Bulan sambil memandangnya penuh harap.


“Masih ada bahannya, aku buatin” ekspresi anak kelaparan ternyata bisa muncul di muka pria dewasa, ternyata anak Mama Nisa memiliki kemampuan memamah biak yang hebat, tidak hanya Afi ternyata Juno pun sama.


Bulan ke dapur dan membuat kembali roti isi, untung saja tadi masih ada bahan isiannya, walaupun tanpa alpukat tapi tuna dan bayam cukup memberikan rasa yang berbeda pada roti isi itu.

__ADS_1


Tidak sampai lima menit, Bulan sudah menyodorkan sandwich isi tuna bayam kepada Juno yang langsung melahap sambil menatap hp.


“Gak tidur semalaman?” Juno hanya mengangguk tanpa menjawab, matanya masih sibuk scrolling di layar hp.


“Gak pusing emang?” tanya Bulan lagi… Juno hanya mengangguk lagi


“Hmmm…” Bulan menghela nafas, kalau sudah mode hmmm mendingan jangan ditanya deh pikirnya,


“Aku ada janji nonton siang ini… Kak Juno udah cukup kan istirahatnya? Aku mau mandi dulu nanti terlambat” Bulan mengambil perlengkapan mandi… ada laki-laki di kamar, ia memilih mandi di luar saja, dibawanya baju ganti agar bisa langsung bersiap.


Saat ia kembali ke kamar, tampak Juno sudah menunggu, ia terlihat sudah kembali dari mobil dan membawa tas perlengkapannya.


“Pinjam handuk… badan gerah dari kemarin belum mandi” tangan Juno terulur mencoba mengambil handuknya


“Heeh… gak akan mandi di rumah aja…” Bulan bingung, kenapa ini jadi homestay betulan pakai acara menumpang mandi segala.


“Gak akan keburu, kamu kan mau langsung jalan. Lama lagi kalau pulang ke rumah dulu… pinjam handuknya” kembali mengulurkan tangannya bermaksud mengambil handuk Bulan.


“Ehhh kok jadi betah di kamar aku… gimana sih” Bulan melengos kesal.


“Kalau ada yang lain ada laki-laki di kamar bakalan kena introgasi sama Bapak Kost aku” ia beranjak ke lemari pakaian mencari handuk cadangan yang disimpannya.


“Tadi aku udah bilang sama penjaga kost an … kalau aku calon suami kamu… si bapaknya ngedenger sepotong kayanya.. Cuma denger suami … eh malah ngedumel… nikah gak bilang-bilang” Juno tersenyum mengingat saat ia datang tadi, karena sudah mengantuk ia malas untuk menjelaskan lebih jauh.


“Ehhhh ngaku-ngaku lagi… nih cepetan mandinya… aku nanti telat .. kalau gak buruan aku kunci dari luar tau rasa” Bulan mendorong handuk ke tangan Juno dengan kesal. Dari kemarin laki-laki ini selalu saja memaksa. Dulu bersikap tidak peduli sedangkan sekarang seperti memaksa untuk bersamanya.


Ternyata ancamannya lumayan efektif, tidak sampai lima belas menit, pintu kamar mandi sudah terbuka dan Juno keluar dengan bertelanjang dada.


“Astagfirullahalaziem… kenapa gak pake baju” Bulan menutup matanya, ia sedang berdandan saat Juno keluar dari kamar mandi.


“Kaosnya udah bau.. Aku pinjam kaos kamu ada gak yang besar…” sambil mengeringkan rambut melangkah dengan santai ke Bean Bag dan duduk sambil minum menghabiskan teh manis.


Bulan buru-buru ke lemari pakaian, pantas saja tadi malam ia mimpi buruk rupanya sudah memberikan tanda kalau ia akan mengalami nasib sial dikejar laki-laki tidak tahu malu.


Ia ingat dulu dia pernah diberi kaos polo untuk jalan sehat dalam rangka ulang tahun perusahaan. Belum sempat ia bawa untuk diberikan pada Benny, kaosnya masih terbungkus plastik karena ia tidak mengikuti kegiatan itu. Dan benar kaosnya masih ada di dalam lemari.


“Ini cepetan pakai… jangan sampai keliatan sama orang… porno” Bulan menyerahkan kaos sambil membuang muka.


“Yang kaya gini porno… aurat laki-laki dari pusar sampai lutut… kalau badan bukan aurat” Juno mengerutu sambil membuka bungkusan pelastik. Untung saja sudah sempat dilaundry sebelum disimpan jadi tidak bau apek.


“Ini kaos kapan? Gak pernah kamu pakai?… enak bahannya… buat aku aja, kegedean kalau dipakai kamu” Juno mematut dirinya di depan kaca. Bulan memandang kesal.


“Udah sekarang Kak Juno pulang… aku mau bersiap ada janji main sama teman-teman” Bulan mendorong Juno keluar.


“Ehhh ngapain pulang… aku mandi supaya bisa nemenin kamu keluar… mau nonton kan?” Juno menahan dirinya di pintu. Mata Bulan langsung membulat.


“Siapa yang ngajak Kak Juno ikut? Aku mau pergi sama teman-teman bukan sama Kak Juno”


“Lahhh kita kan sedang menuju taaruf… kenapa kamu malah jalan sama teman-teman kamu…”


“Siapa yang taaruf…. Aku gak pernah bilang iyaaa kemarin”


“Kamu udah bilang oke kemarin… kamu bilang yang penting kamu butuh laki-laki yang bisa berkomunikasi dan mendorong kamu maju… ok aku setuju makanya kita deal kan” Juno berusaha mengingatkan.


“Yang menyebut deal itu Kak Juno bukan aku…. Aarrghhh udah keluar” Bulan mendorong Juno keluar dari kamarnya dan menutup pintu.


Bulan menarik nafas panjang…. Ini sepertinya butuh perjuangan panjang kedepan.


*****************************************


Terima kasih dukungannya di hari Senin ini: Vote, Like dan Hadiahnya sampai laris manis tanjung kimpul… Jadi aja aku feeling guilty kalau gak up story…. Yaaah mudah-mudahan senang yaa membacanya…. Tenang roller coaster lagi pemanasan dulu…. Siap-siap yaaaa


Untuk yang akan masuk GC minggu ini sedang persiapan pembukaan pintu, mohon bersabar yaaa. Bagi yang sudah masuk dan kemudian tertendang keluar kalau masih berminat silahkan ketok lagi pintunya, tapi mohon untuk mengikuti aturan masuk GC yang tertera dalam episode pengumuman. Hanya untuk yang berminat, bagi yang tidak berminat gak apa-apa… kita masih bisa sapa tanya di kolom komentar, IG dan WAG..


Sekali lagi terima kasih atas dukungan teman-teman Deterjen  semua. Semoga selalu sehat dan bahagia.. Stay productive yaa… berikan yang terbaik untuk orang sekitar. Big Hug


ShAnti

__ADS_1


__ADS_2