
Malam ini adalah malam pertama para penghuni Ruko akan tinggal bersama sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Rembulan sudah melakukan persiapan lahir dan bathin menghadapi hari ini. Tidak mudah menghadapinya, itu sudah pasti, untuk bisa beradaptasi dengan Juno suaminya saja ia membutuhkan proses yang lumayan alot dan masih terus berusaha mengenal dan mengerti karakter masing-masing.
Juno dan Doni yang datang terlebih dahulu, hari ini Bulan membuat nasi kuning berpikir hitung-hitung perayaan kecil-kecilan, merebus ayam, telur dan bumbu kuning. Muncul perasaan sedih saat membuat nasi kuning, ingat diajarin oleh Ema cara membuat nasi kuning.
“Engke bisi Ema maot neng Bulan kedah tos tiasa ngadamel tumpeng, bumbuna apalkeun tong hilap”
”Nanti kalau Ema meninggal neng Bulan sudah harus bisa membuat tumpeng, harus ingat bumbunya”
Belajar memasak diperoleh dari Ema, cara membuat masakan rumahan yang standar karena Ema tidak akan tahu bagaimana cara masak steak atau chicken katsu. Sehingga guru memasak kedua adalah kanal YB yang memberikan ilmu yang cepat dan instan tentang berbagai hal yang terbaru dan dibutuhkan olehnya.
“Harum apa nih?” suara Doni yang selalu penuh semangat kalau datang ke Ruko
“Uwoooh kok gak bilang-bilang mau pesta makan-makan?” begitu sampai ke lantai dua Doni terbelalak melihat hidangan yang sudah tersaji di meja, tadi Bulan memang pulang cepat begitu selesai jam kantor ia langsung melesat pulang.
Juno mengerutkan dahi melihat hidangan di meja, “Kamu beli dimana?”
“Beli?… Bikin dong… aku juga bisa masak nasi kuning, kalau di rumah Bandung, kalau kita ultah suka bikin nasi kuning, ayam, telur sama kentang gini A… hehehe.. Perayaan kecil-kecilan” Bulan tersenyum bangga melihat Juno yang tampak kaget.
“Enak loh A… aku bikin bumbunya tadi malam, sebagian pakai bumbu instan soalnya gak ada ulekan disini” keluh Bulan.
“Yah nanti kita beli”
“Aku mandi dulu, kita tunggu semuanya kumpul, tadi Sarah pulang dulu ngambil kucingnya dari Pet Clinic” muka Juno terlihat lelah. Bulan mengikutinya ke kamar.
“Kenapa keliatan cape banget?” disiapkannya pakaian ganti untuk Juno.
“Minggu depan aku mulai resign”
“Semua pekerjaan harus sudah beres, tapi masih banyak yang belum bisa diakhiri” Juno menarik nafas panjang sambil akhirnya merebahkan diri di tempat tidur.
“Istirahat aja dulu, jangan langsung mandi” ucap Bulan sambil membuka kemeja Juno.
“Mau ngapain kamu?” Juno memandang heran Bulan yang membuka kancing kemejanya,
“Ganti kemejanya biar tidurnya enak, aku lap badannya… emang mau ngapain lagi?” Bulan mengerutkan dahi.
“Kirain mau ngajakin olahraga malam, ada si Doni ntar ribut lagi dia” Juno tersenyum menggoda, Bulan langsung melotot.
“Astagfirullah… aku cuma mau jadi istri berbakti ngelap badan suami… pikirannya mesum melulu!” ucapnya sambil bersungut-sungut menyimpan kemeja kotor ke keranjang baju dan mengambil waslap. Kalau saat seperti ini Bulan merasakan butuh kamar mandi di dalam lebih praktis, tapi mau bagaimana lagi daripada tertekan pikiran setiap Bulan lebih baik dia bersusah payah keluar kamar untuk mengambil air panas merendam handuk kecil supaya bisa membasuh suaminya.
Saat kembali ke kamar, Juno sudah terlihat hampir terlelap.
“Dibasuh dulu mukanya supaya gak kotor” Bulan segera melap muka Juno dengan handuk hangat, sebagian tengkuk dan dada, diakhiri ketiak.
"Kalau begini setiap malam, bersyukur banget punya istri" ucapnya dengan parau, terdengar benar-benar lelah.
“Ganti pakai kaos tidur biar nyaman” Juno sudah memejamkan mata dan hanya mengikuti keinginan Bulan.
“Sekarang tidur!” ucap Bulan pendek.
“Satu lagi belum… kiss dan peluk” tangan Juno terentang, Bulan tersenyum melihatnya, menyimpan mangkuk berisi handuk basah dan kemudian menghampiri suaminya.
“Muach… puk ..puk… sok tidur dulu nanti kalau udah segar bisa makan malam” ciuman singkat dan pelukan mengantarkan sang pangeran yang sudah kelelahan ke alam mimpi.
__ADS_1
“Mana laki lu? Gw udah laper nih!” Bang Doni memandang Bulan yang baru keluar dari kamar.
“Tidur Bang, cape katanya”
Doni langsung merengut kesal. “Gimana sih katanya mau ngomongin kerjaan malah tidur dia… aah payah!”
“Makan aja deh Bang, nanti masuk angin” supaya tidak semakin kesal, harus dikasih makanan biar gak emosi.
Doni mengangguk dan menghampiri meja makan, dari tadi ia sudah ingin makan tapi menahan diri menunggu Juno yang menghilang ke kamar.
“Tuh si Sarah datang…” Doni menunjuk lampu mobil yang berpijar di depan Ruko. Ternyata benar Sarah yang datang.
“Jadi ada teman Bang makannya” sambung Bulan.
“Hilang selera makan kalau bareng dia mah” sambung Doni dengan cemberut.
“Ehh meni gitu sama teman sekantor” Bulan menggelengkan kepala heran.
“Kalau nanti aku kerja full disini bakalan kehilangan cewek-cewek anak FO dong, ahhh males… garing banget” Doni mengeluh kesal, ia sebetulnya sudah tidak nyaman bekerja di kantor lama, tapi kalau pindah kantor artinya kehilangan hiburan dia satu-satunya bersama para penggemar setia di kantor lama.
Sarah datang dengan memakai ransel, mukanya seperti biasa terlihat cemberut kalau bertatapan dengan Bulan.
“Mbak Sarah makan, aku buat nasi kuning merayakan kita semua berkumpul hari ini” berusaha tersenyum manis pada makhluk kurang pelukan di depannya.
“Hmmm… aku mau nyimpan Samson dulu” ucapnya sambil melewati Bulan, yang melirik pada ransel di pundak Sarah.
“Ohhhh…. Yaa ampun lucu banget… ahhhh kucingnya mau pegang dong Mbak Sarah, ihhh ya ampun gede banget” Bulan mengikuti Sarah yang berjalan ke kamarnya,
“Jangan berisik… nanti dia takut!” bentak Sarah, Bulan langsung diam dan jongkok di depan Sarah yang mengeluarkan kucingnya dari dalam ransel.
“Heloo Samson… welcome… perkenalkan ini Onti Bulan… meoooow” Bulan mengeong sambil mengusap-usap kepala kucing berwarna abu-abu.
“Jangan sok akrab, dia galak sama orang baru!” ucap Sarah tegas, diusapnya kucing kesayangannya dengan perlahan, sedangkan Samson sang kucing menatap penuh curiga tempat barunya.
“Miaaw… miaow….meoooongggg….miaaauuww” Bulan tidak berhenti bersuara, dan langsung memeluk dengan penuh semangat, anehnya Samson diam dan hanya mencium-cium saja.
“Ughhhh kamu berat gini… pantesan di panggil Samson soalnya badannya gede… udah pernah ketemu sama Delilah belum?...hmmmm” sambil berjalan keluar kamar Bulan membawa Samson dalam pelukannya.
“Heeeh… main bawa aja…” Sarah langsung protes.
“Mbak Sarah-nya makan, kucingnya aku yang pegang” jawab Bulan…
“Miaw….miawww…. Hhhhhherrrrrr….meeeeooooong mekong miaaaw mikung” tidak berhenti memeluk kucing sambil duduk di Sofa.
“Ehhh bukannya nemenin gw makan malah melukin kucing” protes Doni.
“Sar makan… enak nih nasi kuningnya masih anget, gurih banget… segurih yang bikinnya” ucap Doni sambil tertawa-tawa yang disambut oleh pelototan Bulan.
“Bilangin sama A Juno loh nyebut aku gurih…” Bulan mendelik kesal, Doni menjulurkan lidahnya sambil tertawa-tawa. Hari Jumat ini terasa semarak karena mereka berkumpul seperti anak kost-kost-an.
“Beli dari mana ini?” tanya Sarah sambil melirik Bulan tajam
“Bikin mbak bikin… murah meriah, menu rumahan” jawab Bulan cepat, di dalam pelukannya Samson mendengkur tidur.
__ADS_1
"Aku dulu di rumah gak pernah makan nasi kuning, siapa bilang nasi kuning menu rumahan" muka Sarah terlihat murung saat mengucapkannya.
“Ini kucing main nemplok aja tidur…. Dasar kamu pantesan gendut hobinya tidur… tapi kamu berotot begini ihhhh….gemeeees pengen gigit” Bulan menguyel-uyel Samson yang ada dipelukannya, sang kucing seperti tidak terganggu yang terganggu malah pemiliknya.
“Jangan dipeluk terlalu erat, dia baru divaksin” seru Sarah melihat kelakuan Bulan pada kucing kesayangannya.
“Gak apa-apa kok dia tidur aja enak malah diuyel-uyel gini… kucing paling suka… tuh dia mendengkur” Bulan memandang Samson yang malah tidur semakin lelap.
“Sudah… sini aku bawa ke kamar saja!” membawa Samson dari pelukan Bulan dan menyimpannya di kamar langsung ditutup pintunya. Bulan hanya bisa menggelengkan kepala.
“Ckckckkc…. Posesif banget sama kucingnya…. Kebayang Mbak Sarah kalau punya suami, bakalan posesif banget kayanya” ucap Bulan.
“Siapa yang posesif?” Juno keluar dari kamar dengan muka bangun tidurnya, rambutnya terlihat acak-acakan.
"Eh kok udah bangun?"
“Itu Mbak Sarah sama kucingnya meni posesif… aku gak boleh gendong” adu Bulan sambil cemberut.
“Kalau aku digendong sama orang boleh?” tanya Juno balik
“Maksudnya?” Bulan mengerutkan dahi.
“Kalau aku ada yang gendong memangnya kamu ngebolehin?” tanya Juno lagi sambil tersenyum mengambil kerupuk di meja dan duduk di sofa. Bulan langsung melotot kesal.
“Kucing kok disamakan sama manusia, lagian siapa juga yang mau ngegendong A Juno badannya segede gitu ih… paling A Juno yang ngegendong kali” jawab Bulan cepat.
“Awas aja kalau berani-berani gendong-gendongan sama orang!” Bulan cemberut.
“Yah jadi wajar kalau Sarah ngelarang kamu nge gendong kucingnya… kamu juga kan gak mau aku ngegendong orang lain” jelas Juno sambil tersenyum.
“Ya udah aku garuk-garuk A Juno aja kaya sama ke kucing” Bulan menggaruk kepala Juno dari belakang, rambutnya yang berantakan membumbul ke atas, ditarik dengan jari Bulan membuat mata Juno merem melek.
Sarah yang lewat di depan mereka hanya melirik dingin tanpa ekspresi.
“Mbak Sarah, ternyata laki-laki dengan kucing itu sama” jelas Bulan, Sarah hanya melirik sambil duduk di meja makan di depan Doni.
“Sama apanya?” tanya Juno dengan mata merem melek saking enaknya.
“Seneng digarukin kepala bagian atas kaya gini… persis mirip sama kucing...hihihihi” Bulan tertawa melihat ekspresi Juno yang teler saking enaknya.
“Kepala atas digarukin… kepala bawah diusapin… itu impian laki-laki” sambung Doni dengan santai.
“Uhuuuuuuk…..” Sarah tersedak mendengar ucapan Doni yang menatapnya heran
“Kenapa lu Sar… kaya yang ngerti aja….” tanya Doni dengan tatapan sinis.
Iya kenapa sih Mpok Sarah… saya aja yang nulis gak ngerti.
###########
Jangan marah-marah terus sama Sarah... ih meni emosian kalian mah, Mbul aja santuy. Sikap Sarah seperti itu karena ada alasannya, jadi sabar jangan pada emosi terus kasian banyak doa buruk bertaburan di komentar hahahahhahaha..... Doakan yah Ceuceu mau bayar hutang tulisan nih belum mencapai target...
Ayo Shanti kamu bissaaaaaaa..... cemungudhhhhh....
__ADS_1