Rembulan

Rembulan
Nik...Nik...


__ADS_3

Bulan tidak tahu kapan ia tertidur, rupanya rasa lelah dan perasaan tertekan membuatnya tanpa sadar tertidur. Ia terbangun saat ada tepukan di kakinya.


“Bulan… kita sudah sampai”


Bulan terlonjak kaget… mereka sudah parkir di halaman depan rumah sakit. Matanya samar melihat tulisan UGD di ujung parkiran. Ia segera beranjak dari mobil, rasanya seperti ingin berlari tapi kakinya terasa lemas, sehingga pada saat ia turun dari mobil, tubuhnya seperti luruh tanpa daya di pelataran parkiran.


“Ehhhh Bulan...... “ Afi berteriak, ia segera beranjak turun.


“Hati-hati kamu...gimana sih” Afi menarik Bulan untuk berdiri, dengan lemas Bulan bersandar di sisi mobil.


“Pelan-pelan sayang jangan terburu-buru…” Mama Nisa turun dari mobil, kemudian meregangkan dulu tubuhnya.


“Bulan duluan Ma..” Bulan berjalan cepat ke arah UGD, otaknya sudah penuh dengan kekhawatiran akan kondisi Bapak. Saat ia tiba di ruang UGD ternyata Bapak sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


“Gimana Bul?” dengan muka ngantuk Afi sudah tiba lebih dulu menahan Bulan yang sudah berjalan ke arah lobby Rumah Sakit.


“Sudah masuk ruang perawatan…” Bulan berjalan cepat, mendatangi bagian informasi untuk mengetahui kamar perawatan Bapak. Ternyata Bapak dirawat di lantai 6, saat akan naik ke lift Mama Nisa, Juno dan Afi sudah menyertainya.


“Teleponnya Benny mati… aku telepon dia ga jawab” ucap Afi saat mereka di lift, mata Bulan terlihat merah dan bengkak, menangis selama perjalanan membuatnya terlihat sembab. Begitu sampai di lantai 6 kaki Bulan terasa seperti melayang. Kalau saja Juno tidak segera menahannya sudah dipastikan ia akan terjatuh kembali.


“Kendalikan diri kamu… kamu harus tenang” ucap Juno pelan, Bulan mengangguk, semua terasa seperti mimpi… seperti melihat layar tv. Hanya dua orang yang diperbolehkan masuk ke dalam ruangan, Mama Nisa yang masuk menemani Bulan.


Perlahan Bulan membuka pintu kamar, ada pasien dalam kamar, perlahan disibaknya tirai ternyata bukan Bapak ada perempuan yang tampak duduk tidur di sofa. Itu berarti Bapak di tempat yang sebelah, saat membuka tirai tampak Benny yang tidur di sofa dengan memakai jaket. Bapaaaakkk….


Bulan menahan tangis, badannya bergetar saat melihat Bapak, ada oksigen, pemantau jantung dan tekanan darah serta infus yang terpasang. Bapak tampak seperti sedang tidur, matanya sedikit terbuka.


“Bapaaakk…… “ bisikan parau Bulan memegang tangan Bapak yang dingin. Bulan menangkup tangan Bapak menciumi tangan yang tampak kurus dan lemah…


“Bapaaakk… maafkan teteh….hwaaaaaa” akhirnya tangisan Bulan pecah, Mama Nisa menepuk Bulan.


“Jangan menangis… kasihan Bapak… kasihan pasien yang sebelah…” Bulan menutup mulutnya dengan erat, semakin ditahan malah semakin terasa sakit… badannya hingga terbungkuk-bungkuk menahan suara tangisan.


Benny yang tengah tidur langsung terbangun, saat mendengar tangisan Bulan.


“Teteh….teteh…..” Benny langsung memeluk Bulan dan ikut menangis, kedua kayak beradik itu menangis hingga tersedu-sedu berdua. Rasa takut ditinggalkan oleh satu-satunya orang tua yang dimiliki membuat mereka merasa merana.


Mama Nisa mencoba menahan air mata, melihat kakak beradik yang menangis dengan pilu, dan kondisi Bapak yang terlihat mengkhawatirkan membuatnya merasa sakit. Tidak tahan akhirnya Mama Nisa memilih keluar, ia takut malah jadi menangis di depan anak-anak.


“Maaa gimana?” Afi langsung mendekat pada Mama Nisa yang hanya menggeleng kemudian duduk dan menangis menyusut air mata yang terus mengalir. Afi terlihat panik, melihat ekspresi Mamanya ia tahu kondisinya tidak baik.


“Fi.. kamu bawa Mama ke hotel yang di seberang Rumah Sakit, barusan Kaka sudah booking”


“Mama harus istirahat, kalau kurang tidur nanti Mama sakit” Juno mengusap punggung Mama Nisa. Afi mengangguk, melihat kondisi Mama yang terpukul ia jadi khawatir.


“Aku menemani mereka disini, nanti pagi kamu gantian….” Afi mengangguk, diraihnya Mama Nisa untuk berdiri, khawatir malah nanti jadi ikutan sakit.


“Jun… temani mereka yaa… kasian Mama liatnya” Mama Nisa menghapus air mata, sedih membayangkan kalau mereka berdua harus kehilangan orangtua. Juno mengangguk, tanpa disuruh pun ia akan melakukan itu, melihat kondisi Bulan yang tidak stabil dan Benny yang masih belum bisa mengambil alih tanggung jawab.


Selama bertahun-tahun ditinggal oleh Papa Bhanu menjadikan Juno lebih dewasa dalam mengambil alih tanggungjawab sebagai kepala keluarga. Hal itu membuat Juno tidak terlalu bergaul seperti anak muda yang lainnya selepas kuliah ataupun bekerja. Baginya hidup adalah menjalani tanggung jawab dengan baik, dan menghasilkan uang untuk mencapai cita-citanya selama ini.


Saat Juno masuk ke kamar dilihatnya keduanya masih menangis.


“Jangan menangis terus… kasian Bapak sama yang sebelah gak istirahat” bisik Juno kepada mereka berdua, Bulan dan Benny memandang Juno dengan tatapan sedih.


“Ben… keluar yuk, kamu pasti belum makan… muka kamu pucat begitu..nanti sakit lagi”


“Biarin Teteh saja yang menemani Bapak


"… nanti aku belikan kamu makanan” ucapnya sambil memandang Bulan


“Sekarang jam 3 subuh Ka” parau suara Bulan terdengar.


"Memang masih ada yang jualan?"


“Hmm jam seginih banyak kok yang  jualan… ini daerah kampus aku.. Dulu aku suka makan keluar jam segini bareng temen-temen kalau udah ngerjain proyek dosen”


“Ayok Ben… kamu nanti sakit” Juno menepuk bahu Benny yang mengangguk-angguk lemah, dari sore ia belum makan apa-apa hanya sempat minum air mineral.


“Handphone kamu kasihkan ke teteh, hp tetehnya rusak” Bulan menyodorkan tangannya meminta hp Benny,


“Itu lagi di charge… habis batre” pantas saja tadi saat ditelepon Afi tidak bisa dihubungi pikir Bulan.


Dirapihkannya selimut Bapak, saat dipegang punggung Bapak terasa basah karena keringat. Bulan mengerutkan dahinya, bagaimana kalau Bapak masuk angin pikirnya, saat akan memijit tombol bantuan perawat tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah seorang perawat.


“Selamat pagi… maaf suster mau kontrol pasien dulu”


Dua orang perawat yang masih terlihat segar saat dini hari seperti ini.


“Maaf suster ini Ayah saya bajunya basah.. Keringetan kayanya saya takut masuk angin nanti” Bulan menunjukkan punggung Bapak yang basah.

__ADS_1


“Owh iya… suster bawakan baju gantinya yah sekalian di cek tekanan darahnya”


“Teteh kakaknya ade yang tadi menemani yaah?” tanya Perawat sambil membuka baju bapak


“Iya suster saya baru datang dari Jakarta barusan”


“Adiknya dari tadi nangis terus… kasian saya lihatnya.. Bapak masih belum sadar soalnya”


“Tadi adiknya tidak mau tanda tangan untuk tindakan medis.. “


“Besok pagi dr. Samuel yang akan datang kontrol bisa diskusi yah Teh” Bulan mengiyakan saja,


“Tapi jangan khawatir mudah-mudahan Bapak akan kembali pulih, karena kalau penderita stroke kalau segera ditangani sebelum melewati 4.5 jam setelah serangan biasanya akan cepat bisa dipulihkan tidak akan permanen” jelas perawat, Bulan hanya bisa mengangguk-angguk.


Begitu perawat keluar dari ruangan ia kemudian mengambil air wudhu, lebih baik shalat dan berdoa supaya bapak diberikan kekuatan dan bisa kembali sehat. Selepas sholat tahajud, waktu sudah menunjukkan 4.15 tapi Juno dan Benny masih belum kembali, kemana mereka. Dihidupkannya handphone Benny untuk mencoba menghubungi Juno, ahhhh aku lupa pikir Bulan tidak ada nomor Juno disini, tapi kemudian ada notifikasi pesan yang masuk.


“Kita sudah selesai makan, aku bawa Benny shalat di Mesjid dekat kampus supaya bisa istirahat dulu sambil menunggu subuh”


Bulan tersenyum lemah, untung saja ada Juno yang menemani mereka, ada orang yang bisa mendampingi mereka disaat ada musibah seperti ini. Bulan akhirnya melanjutkan dengan mengaji sambil memegang tangan Bapak… lirih terdengar sambil sesekali parau karena air mata yang terus mengalir. Didekatnya bacaan al quran di kepala Bapak, besar harapan Bulan agar Bapak bisa mendengarnya.


Selepas mengaji saat akan melepaskan genggaman tangan, Bulan merasa kaget, tangan Bapak menggenggam dengan erat tangannya.


“Bapak…..” ia hampir saja berteriak.. Ternyata Bapak sudah membuka mata.


“Bapaaaaaaaak” Bulan memeluk Bapak dengan erat, tampak air mata juga mengalir di pelupuk mata Bapak.


Tirai dari sebelah tersibak seorang perempuan yang juga menunggu pasien di sebelah mendekat.


“Gimana teh… Bapaknya sudah sadar?” tampak perempuan setengah baya, usianya mungkin sekitar 50an.


“Iya ibu… ini Bapak sudah membuka mata, tangannya megang tangan saya kuat banget”


“Alhamdulillah…. Saya senang dengernya… mudah-mudahan membaik terus… mungkin karena tadi tetehnya ngaji terus saya dengar”


“Owhh iya maaf bu… tadi kalau saya mengganggu istirahat ibu.. Dari semalam saya berisik terus” Bulan menunduk malu, ia menyadari kalau dari semalam ia dan Benny terus saja beraktivitas disaat yang lain tengah istirahat.


“Ahh gak apa-apa… bagus malah ikut tenang denger yang ngaji”


“Kenalkan bu saya Bulan.. Adik saya tadi namanya Benny”


“Saya Marlina… ini suami saya… sakit ada batu ginjal… kemarin sudah dioperasi, kata dokter musti diobservasi dulu sekitar tiga harian”


“Bapaaak… bisa dengar suara teteh?” Bulan memandang Bapak lekat, tampak Bapak berusaha menggerakan kepalanya pelan.


“Alhamdulillah… ada yang kerasa gak Pak… teteh mau panggil perawat sekarang” Bulan segera memijit bel.


“Te… niiiihh…” samar terdengar suara Bapak…


“Apa kenapa? Bapak mau minum?” Bulan mengambil air di gelas, ada sendok tergeletak, bisa dipakai untuk memberi minum Bapak.


“Ada yang memanggil Ners?….”


“Ehhh bapak sudah bangun… alhamdulillah” seorang perawat yang datang menghampiri Bapak.


“Bapak bagaimana ada yang terasa tidak nyaman?” Suster kemudian mengecek denyut nadi Bapak, kemudian melihat kelompok mata Bapak.


“Bagus yaah detak jantungnya, matanya juga terlihat normal bisa mengikuti cahaya”


“Nanti saya cek lagi tekanan darahnya bersama dengan Suster Kepala sambil menunggu dokter Samuel yaa”


“Obatnya sudah dimasukkan ke dalam infusan tadi malam… nanti setelah sarapan ada beberapa obat yang harus dimakan”


“Bapak nanti sebentar lagi makan yaaah… terus minum obat”


Bapak tampak mengangguk lemah. Bulan tersenyum, harapannya Bapak bisa kembali sembuh terasa sangat besar.


“Bapak… Bapak ada yang kerasa sakit gaa?” kemudian Bapak terlihat menggelengkan kepala lemah.


“Tee… niiiikhhh” sama suara Bapak terdengar putus-putus, mulut Bapak seperti sulit untuk bicara. Bulan mengerutkan dahi, rupanya Bapak betul telah terkena serangan stroke, mulutnya seperti sulit untuk berbicara, lidahnya seperti kelu.


“Iyaaa gak apa-apa jangan bicara dulu… teteh gak akan kemana-mana”


“Minum lagi yaaah…” Bapak mengangguk, hanya beberapa sendok bisa masuk ke dalam mulutnya dan kemudian Bapak menolak.


“Teteh mau telepon Bebey ngasih tau kalau Bapak udah bangun dari kemarin Bebey nangis terus” Bapak terlihat berkerut dahinya.


Untung saja tadi Juno mengirimkan pesan sehingga ia bisa memberitahu Benny.


“Kak … tolong kasih tau Benny kalau Bapak udah bangun.. Alhamdulillah cuma agak susah bicara tapi bisa gerakin tangan dikit-dikit”

__ADS_1


“Kalau udah shalat subuh Benny langsung suruh ke rumah sakit”


“Makasih yah Kak bantuannya…”


Bulan sangat berterimakasih, muncul harapan besar dengan bangunnya Bapak dan terlihat tidak menderita.


“Pak … teteh shalat dulu yahh mumpung punya wudhu… nanti Bapak teteh bantu shalat kalau udah beres” Bapak terlihat berusaha mengangguk.


Setelah selesai shalat subuh, Bulan kemudian membasuh muka Bapak dengan waslap yang tersedia di meja, ia harus segera membeli keperluan Bapak, tampaknya Benny tadi tidak membawa apapun saat membawa Bapak ke rumah sakit.


“Tayamum aja ya Pak… sini teteh bantu” kemudian Bulan membantu Bapak untuk tayamum, setelah itu memposisikan duduk Bapak untuk lebih tegak dan merapihkan tangan serta pakaian Bapak.


“Isyarat dalam hati saja yaa Pak…” Bulan merapihkan rambut Bapak agar lebih nyaman. Bapak hanya mengangguk perlahan.


Saat Bapak shalat, Bulan membereskan perlengkapan yang dipakai tadi untuk membantu Bapak, melihat Bulan sedang sibuk sendiri Bu Marlina datang mendekat.


“Ibunya masih di rumah teh?” tanya nya dengan hati-hati.


“Ibu saya sudah meninggal Bu waktu kami masih kecil… waktu melahirkan adik saya yang tadi nangis terus itu...heheheh makanya cengeng dia Bu” Bulan tersenyum membayangkan Benny yang terus menangis tanpa malu dilihat orang lain.


“Ohh Ya Allah… alhamdulillah anak-anaknya pada shaleh dan shalehah, anak ibu dari kemarin kalau disuruh nungguin Bapaknya meni banyak alasan…” Bu Marlina terlihat sedih. Bulan mengusap pundaknya.


“Mungkin anak-anaknya sibuk Bu banyak tugas sekolah dan pekerjaan, diambil hikmahnya aja Bu… dengan sibuk mengurus Bapak… Ibu jadi sehat karena pikirannya fokus terus… apalagi nilai ibadah… jadi ladang amal yah Bu mengurus Bapak” Bulan berusaha menghibur Bu Marlina.


“Ehhh… iya ya neng… suka jadi mikir jeleknya aja… fokus aja ke hikmahnya… ambil yang positifnya…” Bu Marlina tersenyum malu.


“Iya Bu.. segala sesuatu harus dibawa bahagia .. hehehe kalau kitanya lagi waras yah Bu mikir begini.. Kalau lagi cape mah tetep weh suka kesel” Bulan mentertawakan dirinya sendiri, memang gampang kalau menasehati orang, lebih susah menasehati diri sendiri.


“Hehehe iya neng betul… gak apa-apa harus saling mengingatkan” Bu Marlina kemudian ikut membereskan perlengkapan di kamarnya.


“Selamat pagi Bapak… Assalamualaikum… semangat yaa Bapak… sebentar lagi pasti pulang… nanti bisa jalan-jalan lagi sama Ibu” Bulan melongok ke tempat suami Bu Marlina dirawat. Seorang laki-laki dengan badan yang kurus dan sudah berambut putih, tampak duduk di tempat tidur yang telah ditegakkan.


“Aamiin yra… terima kasih neng” jawabnya lemah, tangannya terus memegang tasbih tampak habis berdoa. Bulan kembali ke tempat tidur Bapak, tampaknya Bapak sudah selesai shalat. Bersamaan dengan itu terdengar pintu terbuka, ternyata Benny yang datang bersama Juno.


“Bapaaaak……” Benny kembali berteriak melihat Bapak yang sudah dalam posisi duduk.


“Ehhh ade kebiasaan suka teriak-teriak, nanti Bapak kaget, disebelah juga ada yang dirawat nanti kaget juga Bapaknya” Bulan mencubit Benny dengan gemas, tapi Benny seperti tidak memperdulikan.


“Bapak udah bangun… gimana Bapak ada yang kerasa sakit?”


“Bapak masih kerasa pusing gak?”


“Mau minum Pak…?”


“Hahhhh Bapak mau apa?”


Bulan mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Benny.


“Bapaknya agak susah ngomong Bey…”


“Lagian kalau Bapak bisa ngomong jelas juga bakalan susah ngejawab pertanyaan kamu banyak gitu” Bulan tersenyum memandang adiknya yang terlihat cemas sambil memegang Bapak.


“Gak apa-apa Bapak jangan banyak ngomong dulu… Benny janji gak akan ngeselin Bapak jadi Bapak gak perlu ngomel-ngomel lagi sekarang… Bapak diem aja Benny gak janji gak akan nongkrong keluar kok” Benny memeluk Bapak dengan erat, Bulan berusaha menahan senyum antara terharu dengan ingin tertawa mendengar ucapan Benny.


“Rugi kata Bapak tuh… kalau bisa ngomong habis dipakai buat marahin kamu”


“Mendingan di cubitin aja Pak si Bebey mah...nih Pak cubitin aja… “ Bulan mengarahkan tangan Bapak untuk mencubit badan Benny. Bapak tampak tersenyum walau terlihat susah menggerakkan mulutnya. Benny yang sedang memeluk Bapak tampak berusaha menghindari cubitan Bapak yang dibuat Bulan.


“Alhamdulillah sudah terlihat segar Bapak” suara Juno di sisi tempat tidur mengalihkan perhatian mereka bertiga.


Bapak tampak menegakkan badan, kemudian tangannya meremas kuat tangan Bulan, terasa sangat kuat sehingga Bulan meringis sakit.


“Teee…. Nikhh...nikkhh” Bapak tampak berusaha berbicara mukanya terlihat mengeras.


“Aaahh Bapak kenapa….” mesin yang memonitor  detak jantung dan tekanan darah Bapak tampak bergerak dan berbunyi.


“Tee...teee.. Nik..hhh….nik...hh” Bulan mencoba mendengar dengan  ucapan Bapak, sudah dipastikah Bapak berbicara padanya tapi apa… nik...nikk…


Beberapa perawat masuk ke ruangan…


“Mohon menunggu di luar yaaa…. Bapaknya jadi tidak stabil…” Bulan dan Benny tampak kaget, seperti terjadi sesuatu pada Bapak.


“Ayo kita keluar dulu…” ucap Juno sambil merangkul keduanya.


“Tapi kenapa Bapak…. tadi gak kenapa-napa” Benny tampak bingung dan tidak ingin meninggalkan kamar.


“Gak apa-apa Bapaknya… nanti kalau sudah stabil bisa ditemani lagi… tapi jangan terlalu banyak” perawat kemudian membawa alat untuk mengukur tekanan darah.


Bulan mengerutkan dahi sambil berjalan keluar, kenapa dari tadi Bapak terus bicara kepadanyanya… Nik...nik...apaa itu Nik… ingin bertemu temannya Bu Guru Niknik atau ingin Dodol Piknik kesukaan Bapak.

__ADS_1


__ADS_2