
Sepulang dari ruko saat mereka makan malam pun Juno lebih banyak berdiskusi dengan Doni soal teknis mengisi kantor. Ternyata Juno ingin segera pindah di esok hari untuk mengisi ruko, ia meminta Doni untuk mengambil cuti di hari Jumat agar bisa menyelesaikan pengisian ruko hingga weekend. Mendengar diskusi para lelaki tanpa melibatkan dirinya, membuat Bulan memilih untuk asyik menghabiskan makanan saja tanpa ikut berbicara. Ia sudah mulai mengenai karakter Juno kalau sedang senggol bacok lebih baik tidak diajak berbicara dulu.
“Bulan… barusan Mbak Lyfa minta nomor hp kamu, katanya dia kalau butuh bantuan buat bikin laporan keuangan bisa minta tolong kamu gak?” Doni menatap layar hp nya, rupanya saat ngobrol di rooftop tadi Mbak Lyfa menyimak kalau Bulan sering membantu usaha kecil menengah membuat laporan untuk pihak ketiga.
Bulan mengacungkan tangan tanda setuju. Mulutnya penuh dengan sushi yang sudah diberi wasabi sehingga sengatannya langsung terasa di mulut.
“Ahahahahhaha… jangan kebanyakan wasabi nya Bul…. hahahahha matanya sampai merah seperti itu” Doni tertawa puas melihat ekspresi Bulan yang terlihat kepayahan saat memakan sushi.
Juno menoleh dan menatap ekspresi Bulan yang tampak syok dengan sengatan wasabi.
“Kamu kaya yang gak pernah makan sushi saja, jangan berlebihan makannya!” matanya menatap lekat. Bulan mendengus kesal mana ia tahu kalau wasabi yang ia makan levelnya diatas dari yang ia suka beli. Rupanya ini bukan wasabi abal-abal, ucapan Juno yang seperti merendahkannya tidak ia pedulikan. Malas rasanya ribut di depan orang hanya soal kecil.
“Biasa aja kali Jun.. galak amat lu sama Bini!” ucap Doni yang rupanya merasa tidak nyaman dengan sikap Juno.
“Biasa Bang… aku memang muka rakyat jelata. Jadi gak biasa dikasih makanan mahal” jawab Bulan dengan tenang, tanpa mempedulikan muka Juno yang semakin kesal. Suasana makan malam tidak terasa nyaman karena aura kemarahan yang terasa semakin menekan.
“Pantesan lu susah nelan sushi Bul… gw juga ceket” balas Doni yang tampak malas-malas memakan hidangan di depannya, Juno kembali melengos kesal.
“Kalian berdua gak bersyukur banget, udah diajak makan di restoran mahal masih banyak omong!” ucapnya. Mulut Bulan ingin membalas ucapan Juno tapi ia tahu kalau suasana akan semakin tidak nyaman. Akhirnya hanya bisa menelan makanan dengan cepat supaya bisa segera keluar dari restoran untuk menghirup udara segar. Sering orang merasa iri melihat yang sedang makan di restoran mahal. Ternyata kenikmatan suatu hidangan bukan terletak dari mahalnya harga, eksklusif nya tempat makan tapi dengan kesenangan hati dan rasa syukur yang sedang menikmati hidangannya.
Hingga akhirnya mereka diantarkan pulang ke kost-an pun tidak banyak pembicaraan diantara mereka bertiga. Selain karena sudah merasa lelah, masing-masing sibuk menahan diri supaya tidak terjadi ledakan. Saat Bulan turun dari mobil hanya satu ucapan Doni yang membuat Bulan tertawa.
“Sabar yaa Bul… gw dari SMA udah sering diasemin kayak gini!” teriak Doni pada Bulan yang turun lebih dulu.
“Maksud lu apaan? Pake teriak sabar-sabar segala emangnya lu diapain sama gw yang ada gw mesti sabar sama elu?!” ucap Juno kesal.
“Udah lu turun sana, dari tadi emosi mulu, masih mending gak gw turunin tadi di jalan!” Doni mendorong Juno turun, kalau saja Juno bukan sahabat yang sering membantunya ingin rasanya ikut emosi.
Sebetulnya Bulan belum bermaksud pulang ke kost-an, sudah lebih dari dua hari ia tinggal di rumah Afi, ia baru akan pulang besok sesuai dengan jadwal kepulangan Juno. Ternyata yang dinanti malah pulang lebih cepat sehingga ia bisa pulang lebih cepat ke kost-an.
“Aku belum beresin kamar, kirain Aa pulangna Sabtu” jelas Bulan sambil membereskan beberapa pakaian yang menumpuk sembarang. Juno hanya menatap ke arah Bulan tanpa mengucap sepatah katapun. Hanya menyimpan koper dan kemudian masuk ke kamar mandi. Bulan menghela nafas panjang, ini seperti berhadapan dengan Juno lama yang sulit ditebak sikapnya.
Disiapkan pakaian ganti untuk Juno di tempat tidur, belum sempat ia menyimpan pakaian, terdengar pintu kamar mandi yang terbuka dengan kasar dan ditutup dengan kasar pula.
:Braaak” Bulan terlonjak mendengarnya. Ia memandang Juno dengan lekat.
“Ada apa sih A… kenapa harus kasar seperti itu sama pintu?, dia mah gak salah!” ucap Bulan berusaha menekan nadanya supaya tidak terdengar keras dan mengecam.
“Yang salah itu selalu aku… pulang lebih cepat cuma diasinin di kantor“ jawab Juno kasar.
“Ini kenapa pulang dari Surabaya malah marah-marah terus dari sejak ketemu” tanya Bulan bingung.
“Aku kan udah bilang tadi aku gak bawa hape karena lagi di charge trus aku harus rapat”
“Mesti jelasin gimana lagi? ”
__ADS_1
Juno hanya diam duduk di bean bag dan mengambil remote dan menghidupkan tv tanpa merespon ucapan Bulan.
“Aa kan yang bilang aku mesti jujur bilangin apa yang aku rasakan jangan ditutup-tutupi, tapi sekarang malah Aa yang gak mau ngomong”.
“Aku kan gak bisa membaca pikiran orang”.
Juno kemudian menatap Bulan dengan kesal.
“Aku gak suka kamu dekat sama si Kevin itu!, kenapa sampai seakrab itu saling membawakan tas?” ucapnya ketus, Bulan mengerutkan dahi, saling membawakan tas pikirnya, tadi ia hanya membawa tas laptop dan tas dokumen.
“Membawakan tas gimana? Aku tadi bawa tas dokumen sama tas laptop”.
“Pas tau aku mau sholat ke mushola, Pak Kevin membantu membawakan tas dokumen”.
“Memangnya salah? Aku sih sangat berterima kasih jadi gak repot membawanya, lagi pula itu bukan tas pribadi aku tapi tas dokumen… tas dokumen perusahaan” Bulan menggelengkan kepala ia tidak habis pikir dengan pola pikir Juno yang dirasanya sempit.
“Kalau banyak masalah di kantor jangan dicampur adukkan dengan urusan rumah”. Mereka berdua baru sebulan lebih berumah tangga wajar kalau sulit mengatur ritme dalam berkomunikasi.
“Kamu juga tadi ikut campur dengan urusan kantor aku, kenapa menawarkan tenagaku untuk merancang gambar di ruko mereka?, seharusnya kamu meminta izin dulu padaku!” balas Juno tidak mau kalah. Bulan menatapnya Juno dengan tatapan tidak mengerti, kenapa laki-laki ini menjadi sangat egois dan seperti tidak berpikir dengan logika.
“Aku kan cuma sekedar membantu mencarikan solusi untuk Aa supaya tidak terlalu terbebani dalam membuka kantor” jelas Bulan.
“Kamu mestinya tanya dulu sama aku. Disana kita cuma menyewa selama beberapa tahun, kalau bikin desain untuk interior disana akan makan waktu lagi minimal satu bulan. Aku pengen pindah besok kesana. Banyak furniture yang bisa dipakai di workshop yang gak terpakai” jelas Juno kesal.
“Ya sudah tidak usah kalau begitu…. Besok aku telepon Mbak Lyfa nya kalau Aa gak mungkin menunggu sampai satu bulan untuk interior jadi mau pakai yang instan saja yang ada”
“Cape tau gak ngeliatnya juga…” ucap Bulan akhirnya kesal.
“Soal Pak Kevin selalu diungkit-ungkit saja, serba salah banget sih aku”.
“Jelas-jelas tadi aku berdua sama dia urusan rapat”
“Aku aja gak mempermasalahkan soal Aa kirim-kiriman pesan sama Kak Inne”
“Dia malah minta izin untuk bicara sama Aa… entah soal apa… mungkin soal cinta yang belum usai… SILAKAN…”
“Kenapa kamu membolehkan dia untuk bicara lagi sama aku, mestinya kamu melarang dia untuk mengirimkan pesan-pesan lagi sama aku”
“Aku jadi pusing membaca pesan-pesannya dia” ucap Juno kesal.
“Mana sini liat aku baca … pesan apa sih yang pengen dia bilang sama Aa… jadi penasaran aku” Bulan mengambil handphone Juno yang tergeletak di meja rias.
“Sudah aku hapus” jelas Juno pendek.
“Ngapain di hapus?.... Ohhh takut ketahuan yah isi balasannya sama aku? Keren banget. Cerdas beudd… dihapus langsung!” Bulan melemparkan handphone Juno kembali ke meja.
__ADS_1
“Brakkk” Juno melotot kesal.
“Kenapa takut rusak? Kalau rusak tuh ambil sana handphone punya aku… jangan khawatir gak ada pesan yang dihapus kalau di hape aku” dengus Bulan kesal sambil beranjak ke kamar mandi.
Bayangan bertemu dengan suami kemudian mencurahkan rasa rindu langsung bubar dengan sikap Juno yang mudah tersulut.
“Dasar sumbu pendek” gerutu Bulan di dalam kamar mandi. Menarik nafas panjang berusaha menenangkan perasaan. Membingungkan saat sudah menjadi suami istri dan bertengkar seperti ini, ia tidak memiliki tempat untuk bersembunyi supaya tidak usah bertatapan kalau kesal. Masa ia harus diam di kamar mandi sampai Juno tidur, karena terus terang Bulan sudah tidak ingin berbicara lagi.
Hampir setengah jam ia diam di kamar mandi. Akhirnya menggosok kamar mandi dan melakukan pembersihan yang bisa ia lakukan. Selama membersihkan kamar mandi ia memikirkan kamar mandi Juno yang tampak mewah dan berkelas. Laki-laki itu meninggalkan kenyamanan di rumah demi mempertahankan dirinya di depan Papa Bhanu, kemudian mau tinggal di kost-an yang sempit.
Wajar sebetulnya kalau ia ingin segera pindah ke Ruko agar bisa mendapatkan tempat yang luas dan bisa menyimpan meja gambar dan semua perlengkapan yang dimilikinya. Saat ini adalah saat yang tepat baginya untuk memberikan dukungan, setelah sekian banyak dukungan finansial yang diberikan suaminya tanpa meminta penggantian. Bulan menarik nafas panjang, harus waras...harus waras ucapnya dalam hati.
Akhirnya setelah puas membersihkan kamar mandi, Bulan memutuskan mandi dan membersihkan diri. Mudah-mudahan saja Juno sudah tidur sehingga ia tidak usah berbicara lagi pikirnya.
Perlahan Bulan membuka kamar mandi dan melihat ke dalam ternyata benar Juno sudah tidur, yesss…. Pikirnya diambilnya piyama dalam lemari… hehehe bisa ganti baju di kamar saja toh dia sudah tidur, dengan tenang Bulan mengganti kemeja dan rok yang dipakainya. Kamar sudah remang-remang karena dimatikan lampunya hanya ada sinar yang masuk dari lampu di luar melalui jendela.
Juno sudah menarik kasur bagian bawah dan tidur dengan posisi meringkuk ke arah luar, perlahan Bulan naik ke atas kasur, berusaha jangan sampai membangunkan naga yang sudah tertidur.
“Wraaaap” Tiba-tiba saja kakinya ada yang menahan…
“Aaahhhhhh” Bulan menjerit kaget, ini seperti adegan ditarik oleh mahluk halus dari dalam tanah. Kakinya ditarik kebawah, tapi ia mencoba bertahan dengan memegang ujung kasur. Ternyata yang tidak puas sampai kaki, ia bisa merasakan ada tangan yang menarik tubuhnya ke bawah.
“Aaaaahhhh….. Ampuuuun” Bulan menjerit… tapi mulutnya langsung dibekap.
“Diem kamu… teriak-teriak kedengaran sama Mas Arif nanti disangka diapain” ucap Juno kesal. Bulan menganggukan kepala, dia memegang dadanya tanda merasa kaget.
“Aku kira aa udah tidur… kenapa diam aja”
“Kalau aku gak diem-diem nanti gak bisa liat pertunjukan striptease tadi dong...hahahaha” Juno tertawa senang.
“Hahhhh… tadi Aa liat pas aku ganti baju?” Bulan melotot kaget.
“Iya keliatan jelas remang-remang makin asyik...hahahaha” Juno langsung mengungkung tubuh Bulan.
“A… memangnya Aa mau sekarang?” tanya Bulan pelan.
Juno tidak menjawab hanya menatap wajah Bulan dengan lekat.
“Yakin gitu ngambil keperawanannya aku? Memangnya pikiran dan perasaan Aa sudah full gitu sama aku?” tanya Bulan.
“Ini adalah pusaka yang aku jaga dengan baik untuk laki-laki yang mau menjadi imam aku dunia dan akhirat”
“Bukan hanya sekedar untuk kesenangan nafsu saja… “
“Punya konsekuensi dan tanggung jawab kedepannya”
__ADS_1
“Mengambil keperawanan aku artinya udah yakin memilih aku bukan orang lain, soalnya aku gak akan ngasih kalau Aa masih berpikir pada orang lain”
Juno terdiam, ucapan Bulan terasa menohoknya. Selama ini orang berpikir hubungan intim laki-laki dan perempuan adalah hal yang wajar dilakukan karena sudah disahkan dimata agama. Ia tidak berpikir bahwa bagi perempuan menyerahkan kesucian seperti menyerahkan takdir kehidupannya pada satu orang laki-laki.