Rembulan

Rembulan
Another Man in Her Life


__ADS_3

Suasana di mobil terasa hening tidak ada percakapan, yang sesekali terdengar hanya tarikan nafas panjang Bulan. Setelah acara pengusiran acara main game bareng, Bulan “dipaksa” pulang diantar oleh Juno.


“Kenapa seperti yang terbebani aku antar pulang, pengen pulang sama anak itu” ucapan ketus Juno terucap setelah kembali terdengar tarikan nafas Bulan.


“Ehmm… terbebani kenapa? Engga aku cuma gak enak aja Kak Juno kan baru pulang dari luar kota masih cape kenapa harus mengantar aku pulang”


“Bisa pakai mobil online…. Aku gak enak merepotkan” Bulan menunduk diam dan kembali menarik nafas.


“Aku banyak proyek keluar Jawa sekarang sampai bulan depan” tiba-tiba Juno membahas pekerjaannya.


“Jadi aku gak akan bisa sering-sering ngajak kamu keluar lagi jalan” sambungnya sambil menatap suasana Jakarta di sore hari. Rupanya ingin memberikan alasan kenapa beberapa bulan belakangan tidak mengajaknya keluar


“Gak apa-apa aku juga lagi banyak kerjaan keluar kota juga. Rencana minggu depan harus workshop di Bogor tiga hari dengan beberapa startup yang akan menjadi partner kerja”


“Sekarang sudah merambah ke startup juga rupanya?” Juno merasa ia jarang mendengarkan pekerjaan yang dilakukan oleh Bulan selama ini.


“Iya Pak Kevin kemarin punya ide startup yang potensil diundang untuk presentasi ke pemodal, jadi kita pertemukan mereka dalam satu gathering”


“Nanti investor yang tertarik akan langsung menjalin kerjasama pemodalan, nah kita yang mengawasi kinerja dan perkembangan usahanya”


“Pak Kevin idenya lumayan brilian juga… cuma kadang bikin cape ngejar idenya, kita gak bisa meleng dikit” Bulan mengeluhkan aktivitas kerjanya yang cukup padat.


“Kamu masih ngajarin anaknya mengaji?” giliran Juno sekarang yang menarik nafas panjang.


“Engga… udah beres IQRO nya… sudah masuk baca Al Quran.. Aku minta Pak Kevin untuk mendatangkan guru ngaji yang betulan supaya bisa sekalian ngajarin tajwidnya” jelas Bulan, Juno mengangguk setuju.


“Anaknya pinter jadi cepat menangkap materi” Bulan tersenyum, dia menyukai Elma yang pintar.


“Masih suka datang ke kantor?” Juno terlihat suram saat mengatakannya


“Siapa? Ibunya?” goda Bulan sambil tersenyum, mendengar ucapan itu Juno melirik sinis.


“Maksudnya apa?” suaranya terdengar kesal.


“Heehehehe sensitif banget sih kalau digangguin soal Kak Inne… biasa aja atuh Bang… meni langsung nyolot”


“Gimana udah ketemuan belum? Kalau belum bakalan penasaran terus tuh dia…”


“Ntar tiap ketemuan bakalan… Je...Je….Je-ruk….hehehehe” Bulan menertawakan pikirannya sendiri yang menyambungkan nama panggilan Juno oleh Inne, tapi Juno tampak tidak terpancing.


“Kamu jaga diri baik-baik kalau ada acara keluar dengan klien atau investor”


“Jangan minum alkohol atau minuman yang tidak kamu kenal”


“Selalu ingat memakai baju yang tertutup kalau harus pulang malam”


“Kalau pulang lewat jam sepuluh malam sebaiknya kamu pulang beramai-ramai dengan teman perempuan, lebih baik menginap di rumah mereka jangan pulang sendirian”


Juno menarik nafas panjang.


“Kalau aku ada di Jakarta kamu telepon aku, jangan pulang sendirian”


“Tapi kalau aku gak ada usahakan kamu jangan mengikuti kegiatan yang pulang sampai terlalu malam”


Bulan mengerutkan dahi, kenapa ia merasa seperti diberi jam malam.


“Kenapa tiba-tiba membahas hal seperti ini? Memangnya selama ini aku terlihat suka kelayapan” Bulan menatap Juno tajam.


“Kalau aku cermati sikap kamu selalu berpikir naif, tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain, padahal tidak semua orang itu baik”


“Ada beberapa orang yang suka memanfaatkan orang lain, atau bahkan mungkin akan mengambil kesempatan saat kita lengah”


Bulan semakin mengerutkan dahinya,


“Selama ini semua teman-teman kerja aku baik, gak ada yang jahat atau memanfaatkan aku, kita kaya team work”


“Ya aku bersyukur kalau begitu, tapi tetap saja kamu harus lebih berhati-hati dan menjaga diri” suara Juno terdengar suram. Bulan menatapnya lekat mencoba memahami mengapa Juno berbicara seperti itu.


“Iya… insya allah aku akan lebih berhati-hati” jawabnya pelan,


“Jangan pernah iseng mencoba-coba baik minuman ataupun tawaran obat dengan alasan memicu kinerja”


“Banyak acara dengan pihak luar mereka punya budaya yang berbeda dengan kita”


“Minum alkohol itu dianggap seperti minuman untuk bersosialisasi… kalau tidak minum dianggap tidak gaul” suara Juno masih terdengar suram.


“Orang yang tidak terbiasa minum alkohol akan kehilangan akal” ia menarik nafas panjang.


“Ya kita kan orang muslim dilarang minum alkohol haram” jawab Bulan pendek.


“Mendingan disebut gak gaul daripada dosa”


“Ya bagus konsisten seperti itu, tapi kamu harus tetap hati-hati karena mungkin saja kita tidak berniat meminum tapi orang mencampurkan”


Bulan melotot tidak terpikir skenario kejahatan seperti itu.

__ADS_1


“Masa sih… kaya cerita novel online aja dicampur minum perangsang jadi napsu...hahahaha iiiih takut… tiba-tiba horny gitu...heheheheh”


“Kak Junoooooo….. Aku mauuuuu…. Ayoooo doooong” Bulan cekikikan membayangkannya, bergaya terpengaruh obat-obatan memandang dan menggoda Juno dengan tatapan mata syahdu merayu.


“Kamu pikir aku ngomong bercanda” Juno menatap kesal.


“Ahahahaha gak lah masa sampai seperti itu…”


“Aku juga mikir gaul dengan siapa … dari dulu gak pernah keluar malam, sekarang karena kerjaan aja banyak keluar” Bulan menarik nafas panjang, hari masih sore suasana terasa lebih sejuk.


“Hmmm… Kak Juno udah kontak sama Kak Inne?” Bulan tetap penasaran, sudah lama sejak pertemuan mereka dulu di Alam Sutera apakah ada perkembangan lagi.


Juno hanya menggeleng.


“Gak merasa perlu… untuk apa? Kamu bilang sendiri dulu, laki-laki baik akan mendapatkan perempuan yang baik” Juno menjawab tenang. Bulan langsung mengacungkan jempol.


“Pinteeeerrr….”


“Ehhh… ini kemana? Kok belok?” walaupun tidak hapal jalanan di Jakarta tapi ia tahu jalan pulang menuju kost an.


“Kita jalan-jalan dulu… sekarang kan Malam Minggu” dengan santainya Juno membelokkan mobil ke arah Mall.


“Ehhh aku belum mandi badan aku lengket gini, pulang dulu kalau mau keluar” Bulan menarik-narik baju Juno. Dari tadi yang ia bayangkan hanyalah pulang dan mandi.


“Masih keliatan cantik kok…” kilah Juno.


“Gak mau aku mau mandi dulu, gak nyaman… terserah kalau mau ka Juno nanti ke Mall aku pulang sendiri aja dari Mall” mukanya sudah auto cemberut. Ternyata ancamannya lumayan efektif, Juno langsung memutar balik. Bulan mendengus kesal.


“Kalau mau ngajak keluar itu bilang-bilang… setiap orang punya ritme masing-masing”


“Aku kalau pergi keluar rumah musti jelas tujuannya apa, gak bisa ganti dadakan suka gak siap”


“Kalau gak siap suka gak enjoy” masih dengan muka cemberut.


“Iya..iya ini juga lagi muter balik… kamu tuh gak fleksibel banget sih orangnya” keluh Juno


“Bukan soal fleksibilitas tapi soal kesiapan” Bulan langsung nyolot, Juno mendelik kesal.


“Ya sudah kalau gak mau keluar gak usah marah-marah gitu… ini juga lagi jalan pulang”


“Kamu tuh jadi gampang marah gitu sih” Juno menatap Bulan dengan kesal, yang ditatap tidak mau kalah malah membuang muka.


Dari tadi juga ia tidak mengharapkan untuk diantarkan pulang tapi Mama Nisa memaksanya untuk diantar Juno. Ia tahu kalau Juno baru pulang dari perjalanan luar kota sehingga menolak, tapi sulit untuk menolak orangtua yang memaksa.


“Pamit, terima kasih sudah mengantar pulang, selamat istirahat” usai salim ia membuka pintu mobil dan bergegas keluar tanpa melihat ke belakang. Juno menarik nafas, Bulan yang sekarang berbeda dengan Bulan yang dulu, terus terang ia sebetulnya heran karakter asli Bulan yang mana, yang sekarang atau yang dulu.


Ia diam menarik nafas, menyandarkan punggungnya di kursi, terasa penat dan lelah. Sebetulnya tadi ia ingin tidur, tapi mendengar Bulan akan pulang sendiri ia merasa kasihan dan menuruti saat diminta Mama Nisa mengantarnya. Memejamkan mata di pelataran parkir kost an Bulan hingga tidak terasa ia tertidur.


Tok..tok..tok… ketukan dipintu membangunkan Juno dari tidurnya di mobil. Mencoba mengumpulkan kesadaran, baru ia ingat kalau tertidur di mobil depan kostan Bulan.


Tok..tok…


“Kak Junoooo…. Bangun….” teriakan Bulan menyadarkannya kalau perempuan itu ada di depan pintu mobil.


Dibukanya jendela perlahan, hari ternyata sudah gelap.


“Aku kira Kak Juno tadi pulang, barusan aku dikasih tau sama Pak Daan kalau mobil yang nganterin aku masih nangkring di depan trus supirnya tidur”


“Sengaja nungguin aku atau ketiduran?”


“Gimana sih sampai bisa ketiduran di mobil, kalau keracunan gas Co2 gimana?”


“Cepatan turun…” Bulan menarik-narik handle pintu mobil.


“Sebentar…. Aku ketiduran” Juno agak bingung, rupanya tadi dia benar-benar kelelahan.


“Ayo turun dulu, udah mau jam setengah tujuh pasti belum sholat magrib”


“Tadi aku sampai kostan jam empat lebih artinya Kak Juno tidur dua jam lebih di mobil” Bulan menarik Juno keluar.


“Masuk… aku buatin minum… coba kalau aku gak dikasih tau Pak Daan bisa-bisa sampai besok tidur di mobil”


“Aku bilang juga tadi gak usah nganterin aku”


“Kak Juno tuh udah cape… pake maksain diri nganterin aku… trus ngajak jalan ke Mall”


“Tau gak kalau orang udah cape trus diajak main suka rungsing yang ada”


“Kalau capek itu istirahat bukannya main ke Mall” Bulan terus nyerocos sambil mendorong Juno masuk ke kost annya. Ternyata kost an Bulan adalah model paviliun, ada pintu keluar masuk terpisah dari rumah utama. Pintu itu khusus untuk akses penghuni kost an yang berderet sekitar lima kamar disana.


“Aku gak apa-apa ini masuk?” Juno masih terlihat linglung.


“Gak apa-apa… ini kost an keluarga, tadi aku udah bilang yang ketiduran di mobil itu kakak aku” Bulan membuka pintu kost an dan mendahului masuk.


“Duduk Kak… aku buatkan teh hangat” ada BeanBag di tengah kamar depannya ada meja kecil, tampaknya itu menjadi meja tempat Bulan bekerja. Juno mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar.

__ADS_1


"Aku ikut sholat Magrib dulu"


"Boleh ikut ke toilet" Bulan mengangguk dan menunjuk pintu kamar mandi. Tapi belum sempat Juno membuka pintu kamar mandi, Bulan berteriak;


"Ehhhh lupa... jangan masuk dulu bentar" ia berlari masuk dan kemudian keluar sambil membawa pakaian yang digulung.


"Hehehe kelupaan tadi habis mandi" Juno hanya mengangguk, mengambil wudhu dan langsung sholat magrib. Setelah sholat dilihatnya Bulan sudah selesai membuat teh.


“Aku kemarin dikasih Teh Lecy… enak banget, cobain deh Kak” Bulan membawa Poci Teh Kecil dengan cangkir cantik ala Jepang.


“Mau pasta gak?”


“Aku kmarin bikin dengan white sauce.. Enak loh gurih, aku angetin yah” Bulan terus berbicara tanpa memberikan kesempatan Juno menjawab, ia hanya mengangguk, rohnya belum berkumpul penuh.


“Minum dulu teh nya…. Jangan bengong terus” rupanya Bulan melihat ekspresi Juno yang masih belum sadar sepenuhnya.


“Kamar kamu komplit juga” hanya itu komentar Juno setelah beberapa saat ia melihat suasana kamar Bulan.


“Aku paling suka kost an disini, agak mahal dikit tapi serba ada”


“Kalau mau masak ada dapur bersama, semuanya lengkap” dia mengeluarkan wadah dari dalam kulkas kecil di pojok kamar.


“Bentar aku angetin dulu yah pastanya.. Microwavenya di dapur” Bulan membawa wadah berisi pasta keluar. Kamar ini kecil tapi lengkap, tempat tidur ukuran 120x200 cukup luas untuk satu orang, lemari baju tiga pintu, kamar mandi dengan shower dan closet duduk. Juno mengintari kamar ukuran 4x5 itu. Ada rak buku dengan tumpukan dokumen-dokumen, tampaknya ini adalah pekerjaan yang menjadi sampingan Bulan pikir Juno. Meja rias dengan beberapa peralatan make up, tidak sebanyak makeup Mama Nisa pikir Juno.


Disisi tempat tidur ada meja kecil dengan beberapa barang di atasnya, foto keluarga Bulan ada dua foto berdampingan, yang satu Bulan dengan Bapak dan Ibu, dan satu lagi Bulan, Bapak dan Benny. Juno tersenyum sedih, rupanya Bulan sangat mirip dengan ibunya, semuanya seperti ibunya, hanya senyumnya saja yang mirip dengan Bapak lebar dan terlihat semua giginya, karena Ibunya Bulan hanya tersenyum dengan lembut.


Di rak dibawah meja, ada tumpukan foto yang tampaknya sedang diatur ulang. Juno mengerutkan dahi, ini adalah foto-foto saat Bulan dan Afi masih kuliah, ada banyak foto-foto Afi dengan Bulan, adiknya betul-betul menempel pada anak itu pikirnya.


Ada satu foto yang menarik perhatiannya, Bulan berfoto dengan seorang laki-laki mereka berdua memakai jas almamater kampus, yang menarik bahasa tubuh keduanya saling condong satu sama lain tapi tidak bersentuhan. Ekspresi Bulan yang tampak malu terimbangi dengan muka anak laki-laki yang tampak percaya diri dan seperti melindungi.


Bukankan Afi pernah bilang kalau Bulan tidak pernah punya pacar, tapi kenapa ia menyimpan khusus foto itu dan sepertinya disimpan di bagian teratas dari kumpulan foto-foto yang lain. Juno kemudian mencari lagi laki-laki itu diantara semua foto-foto Bulan. Benar saja, ada laki-laki itu pada hampir semua foto yang adiknya Afi tidak ada. Artinya Afi tidak tahu karena itu tidak ikut dalam kegiatan bersama Bulan dan laki-laki itu. Siapa dia, kenapa selalu berdiri dekat dengan Bulan.


“Ini dia Pastanya….” Bulan membawa pasta yang sudah mengepul panas mengeluarkan asap.


“Siapa ini?” tanya Juno sambil mengacungkan foto Bulan dan laki-laki berjas almamater.


“Eh… siapa” Bulan seperti bingung.


“Laki-laki yang berfoto dengan kamu ini siapa?” tanya Juno dingin.


“Owhhh…. Kak Cendrik… Kakak kelas di BEM” jawab Bulan pendek, sambil mengeluarkan piring kecil dari lemari.


“Kamu pacaran sama dia?” tanya Juno lagi.


‘Ehmm… enggak bisa…”


“Pengen nya sih… hehehhe” Bulan cuma bisa cengar cengir gak jelas.


“Maksudnya?” Juno menatap lekat.


“Beda agama… dia Non Muslim… kalau saja dia muslim aku gak akan berhalusinasi sama Kak Juno selama bertahun-tahun...hehehe” dengan santainya Bulan memindahkan pasta ke dua piring di meja.


“Artinya selama ini aku jadi pelarian dong” Juno mendengus kesal. Bulan termenung dan kemudian tersenyum.


“Hehehhehe iya yah gak kepikir...kirain selama ini aku yang jadi pelarian Kak Juno….


“Ternyata Kak Juno aku jadikan pelarian dari Kak Cedrik… heheheh Yessss… ternyata satu sama” Bulan tertawa puas.


Juno memandang kesal..


“Terlalu banyak laki-laki dalam hidup kamu sebenarnya…” dengusnya kesal.


“Banyak tapi selewatan… Kak Juno satu tapi dalam…. Mendingan mana?” jawab Bulan sambil mencibir. Juno hanya diam, daripada berdebat lebih baik makan pasta.


Iya betul juga pikirnya…. Mendingan mana banyak tapi cuma selewatan? atau satu tapi mendalam? Kalian aliran mana gurlz?


 


**************************************


Maafkan selama hampir dua hari gak update.. Hari senin saya divaksinasi yang ke-2, ternyata efeknya lebih mantap dari yang ke-1 yang dirasa hampir tidak berefek. Kemarin badan terasa greges dan gagal fokus trus… gak tau apakah ini efek pemalesan atau efek vaksin...heheheh. Tangan yang divaksin pegal untuk dipakai mengetik karena jarum suntik yang lebih panjang jadi terasa banget.


Tapi jangan takut untuk di vaksin yah gurlz … ikhtiar dulu baru tawakal. Berupaya supaya bisa sehat terus dan bisa terus berkarya.


Terima kasih atas vote nya yang luar biasa banak-banak kata Mola Koala. Ternyata kalian semua aliran keroncongan… Tungguin yah nanti Anjar mau nyanyi dangdut koplo.. Emang dia mah gak ada urat malu banget… dikawinan nyanyi lagu dangdut koplo … hadeuuh #ehspoiler


Tetap sehat semuanya, jangan lupa tetap jaga protokol kesehatan meskipun sudah divaksin, apalagi kalau belum. Ambil hikmahnya dengan covid ini, kita gak usah pakai lipstik dan kalau kepepet gak gosok gigi juga gak ketauan hahahahha… asal kuat aja nyium bau mulut sendiri.


Udah ah jadi kemana-mana. Makasih yaaa… Lope-lope buat kalian semua… Gak bisa sekebon soalnya udah dipetikin… sevas bunga aja.. Big Hug


 


 


ShanTi

__ADS_1


__ADS_2