Rembulan

Rembulan
Syukur dan Sabar


__ADS_3

Juno PoV


Mukanya terlihat kesal saat membaca pesan di hape.


“Ya ampun kok aku sebodoh itu” ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya sambil sesekali memukul kepala.


“Ada apa lagi?” hari ini rasanya sudah banyak drama.


“A… kok aku bodoh banget yaa, mestinya aku harus sudah berpikir cepat kalau investor yang ditangani Kak Cendrik itu investor dari luar negeri, jadi portofolionya seharusnya dalam bahasa Inggris… Ya Allah … stupid mistake, kenapa bisa gak kepikiran yah?” ucapnya sambil merebahkan kepalanya di meja, satu piring steak salmon sudah habis ia lahap. Sehingga waiters tadi langsung membawanya sebelum kemudian membawa pesanan kedua yang ia minta, salad buah.


“Baru sadar kalau kamu itu suka berpikirnya dangkal, cepat tapi hanya dipermukaan… hahaha” menyenangkan juga mengganggunya lagi seperti ini. Mukanya langsung mendelik kesal.


“Kok ngomong gitu sih… mestinya menghibur atuuuh”


“Nggak sayang… kamu tuh pinter, wajar kalau ada salah… manusiawi” jawabnya lagi sambil cemberut.


“Lah kan tadi juga kamu juga bilang kalau aku tuh manusia menyebalkan” jawabku masih kesal dengan jawabannya yang menyebut aku sebagai suami yang menyebalkan.


“Lah emang A Juno suka nyebelin… gak support orangnya tuh sibuk sendiri”


“Untung aku orangnya sabar sama pengertian, beuh kalau ngikutin emosi mah pengen remek remek” sambungnya lagi sambil *******-***** tisu di tangannya. Bisa kubayangkan rasa kesal yang ia rasakan padaku dari gerakan tangannya yang penuh kekesalan.


“Kenapa kalau begitu kamu gak menyesal menikah sama aku”


“Bukannya seharusnya sekarang kamu tuh udah nangis-nangis pengen balik ke Bandung” godaku, semakin kesini sifatnya jadi semakin mandiri dan sulit diatur entah kenapa.


“Trus mau gimana lagi kan jodoh itu takdir dari Allah, masa aku tidak percaya takdir” jawabnya cepat sambil cemberut.


“Terima saja suratan takdir dengan ikhlas”


“Apa susahnya kalau kamu bilang sekarang gak bisa jauh-jauh dari aku jadi gak pengen pulang ke Bandung lagi” ternyata memang jalan keluar berdua seperti ini membuat perasaan lebih menyenangkan.


“Takdir A...takdir… terlepas itu berjodoh dengan Aa itu takdir baik atau takdir buruk buat aku” jawabnya santai. Seenaknya saja menyebut aku sebagai takdir buruk.


“Menikah sama aku itu takdir baik, susah mendapatkan laki-laki seperti ini tuh, masa takdir buruk… kamu beruntung dapat laki-laki yang all in one” jawabku.


“Cakep, berkemampuan, pintar” sambungku


“Iyalah terserah… hidup sama Aa itu bikin keimanan aku menjadi sangat jelas dibagi dua… antara bersyukur dan bersabar” jawabnya lagi.


“Fisik yang bagus, kemampuan finansial yang lebih dari cukup sesuatu yang harus aku syukuri” katanya.


“Tapi seringkali aku diuji kesabaran… Aa mudah marah, tidak peka dan sering seenaknya… bikin aku pengen meledak” dia minum air putih yang banyak seakan ingin meluruhkan semua rasa kesalnya.


“Aku cuma meyakini satu hal saja… apapun itu… terkadang hal yang gak kita senangi sekarang sangat mungkin itu baik di masa depan” ucapannya membuat keningku berkerut.


“Maksud kamu apa?” terkadang berbicara dengan perempuan ini sering berbelit.


“Iyaa… mesti sabar menghadapi sikap Aa yang buruk itu kaya latihan yang akan membawa kebaikan aku dimasa depan”


“Jadinya aku bakalan jadi manusia yang lebih bisa ngendaliin diri, gak gampang kebawa emosi kan itu merupakan buah dari kesabaran” ucapnya seperti yang optimis dan yakin padaku membuat jadi ingin memeluknya.


“Sini peluk dulu” ucapku sambil menarik tubuhnya mendekat dan mencium kepalanya.


“Jadi bakalan sabar aja nih gak akan pulang ke Bandung?” tanyaku


“Mauuu… mau banget A… tapi nanti setelah semua kelengkapan proposal lengkap”


“Ini aku lagi koordinasi dulu sama Kak Cedrik supaya bisa memperbaiki video yang aku bikin untuk ditambah pakai subtitle bahasa inggris dan surat rekomdasi juga diganti dalam Bahasa Inggris… bodoh banget aku tuh” dia memukul mukul kepalanya kesal. Kutahan tangannya supaya berhenti memukulinya seperti itu.


“Dulu kan kamu bisa bikin cerita dalam bahasa Inggris… bikin subtitle bahasa Inggris seperti itu pasti mudah”


“Mudah gimana, masa musti selesai dalam waktu dua hari… bantuin atuh?” ucapnya sambil memelas.


“Aku bantu belikan kamu makanan yang enak saja sekarang, supaya kamu bisa mengerjakan dengan energi penuh” melihat matanya yang melotot kesal membuat ingin tertawa.


“Aku juga banyak kerjaan yang belum selesai… kerjakan semampumu jangan terlalu memaksakan diri” akhirnya dia cuma mengangguk lemah, perempuan ini memang tidak pernah memaksakan kehendaknya.


Hari ini setelah menghabiskan steak salmon dan salad buah, ia masih meminta take away menu makanan pasta, saat kutawari salmon mentai kesukaannya dia langsung menolak dengan alasan merasa tidak berselera, terlalu banyak salmon gak bikin dia langsung pintar alasannya.


“Jangan terlalu memaksakan diri untuk bisa lolos dalam seleksi kompetisi investasi itu” ungkapku melihat mukanya yang terus berkerut memandang handphone.


“Aku yakin kita bisa membayar semua tagihan dengan uang yang ada”


“Tapi A…mungkin kalau secara operasional saat ini kita bisa berjalan, tapi kan urusan keuangan dalam perusahaan bukan hanya soal membayar ongkos produksi” ia masih saja bersikukuh, mungkin karena dia anak keuangan jadi banyak yang ia pertimbangkan.


“Kedepan itu saat kita mendapatkan omset, ada beberapa pos pengeluaran yang harus kita amankan” kembali mulutnya tidak berhenti bicara saat pasta yang rencananya akan takeaway ia habiskan. Rupanya tinggal bersama selama beberapa bulan membuatnya mengadopsi kesukaanku.


“Pertama tentu saja biaya operasional, kemudian modal yang harus kita kembalikan lagi dicicil sedikit demi sedikit, dana riset pengembangan perlu kita kondisikan dari sekarang A”


“Lini perusahaan kita di desain interior jadi harus adaptable dan inovatif dalam menawarkan produk”


“Adaptable dengan kebutuhan pasar dan inovatif melihat kedepan trendnya kaya gimana”


“Butuh modal kan buat bikin riset produk interiornya”


“Gak mungkin Aa merancang suatu produk tapi gak diuji dulu kekuatan dan tampilannya seperti apa”


Perempuan ini baru mengenal dunia desain interior selama menikah dengan aku tapi kenapa sudah berpikir sampai pada pengembangan riset produk, sesuatu yang selama ini menjadi hal yang suka aku lakukan disaat tidak ada proyek yang berjalan.


“Iya aku ngerti, tapi next kita pikirkan itu kalau sudah banyak proyek yang kita kerjakan”


“Sekarang kita bisa berjalan dengan memenuhi biaya produksi dan operasional dulu” kilahku.

__ADS_1


“Belum lagi kita mesti menyisihkan untuk dana darurat sama dana sosial… setelah itu baru bisa berpikir soal penghasilan bersih untuk kita sebagai owner” ternyata urusan hitung menghitung pemasukan masih belum selesai.


“Iya-iya… kamu tuh kalau perut sudah terisi penuh pasti jadi banyak ide dan rencana yang musti dilakukan”


“Sabar semuanya berproses, dana sosial seperti CSR berlaku kalau perusahaan sudah mendapatkan penghasilan dari tahun sebelumnya, lah kita setahun juga belum”


“Iyaaa aku kan cuma ngasih gambaran kedepan, sekarang sih cukup kita ngeluarin zakat saja dari pendapatan kita 2.5% dulu biar bersih” masih saja bersikeras untuk  memotong penghasilan bagi orang lain.


“Selama beberapa bulan kedepan kita akan bergantung dari uang modal usaha yang dimiliki sekarang, kamu mesti bersabar”


“Kita akan sangat jarang keluar makan seperti ini” jelasku, sudah lebih dari dua bulan kita berdua tidak pernah makan diluar seperti orang lain tapi sekalinya makan dia makan seperti untuk dua orang.


“Gak masalah, aku orangnya gak terlalu suka jajan juga” tapi satu porsi pasta takeaway sudah ia habiskan, licin tandas.


“Lagipula jalan-jalan keluar berdua kan gak mesti jajan atau makan di restoran”


“Eh...Lagian nonton bioskop juga gak mahal kok… aku masih bisa mengatur pengeluaran setiap bulan gak terlalu besar” rupanya selama ini dia memendam keinginan untuk pergi keluar bersama.


“Terserah kamu lah, toh yang pegang atm aku kan kamu” akhirnya daripada ribut terus lebih baik mengalah pada perempuan ini.


 


 


Author PoV


Selama dua hari Rembulan sibuk menerjemahkan semua dokumen ke dalam bahasa Inggris, ia hanya memiliki waktu yang terbatas, untungnya Doni seperti menjadi tangan kanan yang bisa diandalkan. Untuk perusahaan, pemilik usaha atau rumah tinggal yang di Jakarta bisa dikejar mengganti dokumen yang sudah ditranslate dan tinggal di cap atau tanda tangan, yang paling membutuhkan waktu adalah proses editing untuk video. Upaya mensinkronkan antara gambar dan subtitle ternyata tidak semudah seperti membuat deskripsi dalam Bahasa Indonesia, membuat kalimat yang efektif tapi memberikan gambaran yang jelas tentang isi video membuat Bulan hampir menyerah.


Disaat terakhir, kembali Arvian membuat ulah, Ia tidak mau menandatangani surat rekomendasi dalam bahasa Inggris rasa penasaran tentang Kompetisi Investasi Luar Negeri membuat Doni kesulitan untuk mendapatkan tanda tangan Arvian. Pertanyaan dan keingintahuan Arvian akhirnya membuat Bulan harus pergi menemui mantan bos suaminya kembali. Untung saja dari pagi Juno ada janji temu dengan temannya, sehingga Bulan bisa langsung berangkat ke kantor Arvian.


“Bulan…. Kenapa kamu gak cerita soal kompetisi investasi” muka Arvian terlihat kesal.


“Aku mau ikut kompetisi ini”sambungnya saat Bulan masuk ke ruangannya belum juga duduk sudah langsung ditembak saja.


“Boleh” jawab Bulan langsung, kepalanya sudah pusing karena semalaman hanya tidur dua jam karena menyelesaikan editing video.


“Perusahaan Mas Vian levelnya sudah kelas dewa tinggal menyusun portofolionya saja”


“Buatkan kalau begitu” jawab Arvian langsung.


“Mahal tarifnya… sekarang aku jadi konsultan keuangan independen” jawab Bulan dengan malas, untuk mengerjakan yang perusahaan sendiri saja, sampai pusing kepalanya apalagi perusahaan besar seperti milik Arvian, pasti lebih banyak yang harus dibuat portofolionya.


“AKU BISA BAYAR” jawab Arvian langsung, Bulan tersenyum lemah, pastilah sanggup membayar karena sejak dulu Arvian selalu mendesaknya untuk bekerja disana. Ia kemudian mengangguk sambil duduk.


“Bisa nanti saya buatkan Mas… meni gak sabar”


“Mas Vian perusahaannya sudah stabil untuk level nasional sudah ok”


“Uang masuk itu kan harus jelas rencana pengembangannya untuk apa?”


“Supaya investor bisa dapat gambaran nanti uang investasinya akan kembali dan berkembang sampai sejauh mana”


“Kalau hanya sekedar menambah pemasukan ke perusahaan aku kira omset dari perusahaan Mas Vian sudah stabil”


“Investasi itu sebetulnya hutang… yang harus dibayar dan dikembalikan”


“Mas Vian kaya anak kecil yang takut gak kebagian permen”


“Padahal Mas Vian kan punya pabrik permen” ucap Bulan sambil cemberut, Doni tertawa tertahan mendengar analogi Bulan kepada Arvian.


“Aku suka permen yang rasanya beda” jawab Vian cepat, suaranya tetap seperti orang yang tidak mau kalah. Bulan jadi tersenyum mendengarnya, ternyata orang yang maju dan berkembang itu adalah orang yang tidak cepat puas seperti laki-laki di depannya.


“Permen punya orang selalu tampak lebih enak daripada permen yang dipegang punya sendiri yah Mas”


“Gimana nanti kalau permen punya sendiri jatuh tapi orang lain gak mau ngasih… kan jadinya zero”


“Atau permen punya sendiri dimakan yang punya orang juga diminta trus dimakan nanti kan sakit gigi akhirnya bukannya bikin bahagia tapi malah jadi membuat menderita”


“Nambah investasi dari luar, sedangkan yang dana di dalam saja belum maksimal dimanfaatkan, atau bahkan uang terlalu banyak sampai akhirnya jadi mubazir ada yang menggelapkan atau jadi dana yang tidak terserap” sambung Bulan, Arvian mendengus kesal sambil cemberut.


“Kamu malah ceramin aku bukannya ngebantuin” protes Arvian.


“Aku bukan ceramah cuma ngasih gambaran… Soalnya kan perusahaan Mas Vian sudah besar jadi mesti betul-betul terencana pengembangannya gak kaya perusahaan yang A Juno yang baru berjalan” jelas Bulan berusaha untuk bersabar. Arvian hanya diam.


“Aku yakin Mas Vian udah ngerti gak aku jelaskan juga”


“Ya sudah, aku butuh teman diskusi buat pengembangan perusahaan kedepan” jawab Arvian cepat.


“Ayooo… aku sih senang aja kalau diskusi, tapi jangan sekarang mesti baca bahan dulu”


“Aku kan gak tahu perusahaannya Mas Vian, belum pernah aku audit” kilah Bulan. Usaha ingin minta tanda tangan malah jadi beralih menjadi auditor.


“Dont worry… bahan hasil audit ada lengkap”


“IRNAAAA…. BAWA HASIL AUDIT TIGA TAHUN KEBELAKANG” teriak Arvian.


“Masss… jangan teriak-teriak atuh… itu ada telepon pakai telepon” Bulan menghela nafas panjang. Ini sih alamat jadi panjang lebar kalau sudah membawa hasil audit perusahaan. Arvian tersenyum lebar mendengar keluhan Bulan.


‘Sorry aku kalau lagi semangat jadi suka lupa” ternyata Arvian memang tipe yang sangat antusias dengan hal-hal yang baru. Akhirnya selama hampir dua jam dihabiskan untuk menganalisa rencana pengembangan perusahaan kedepan. Banyak hal yang masih belum dipahami oleh Bulan terkait investasi luar negeri, sehingga ia rekomendasi untuk langsung bertemu Cedrik, berhasil menghentikan diskusi panjang itu.


“Besok!… suratnya besok aku siapkan, tapi kamu harus buatkan dulu janji temu dengan temanmu itu konsultan investor” kembali laki-laki itu membuat tawar menawar. Bulan langsung merengut kesal, energinya sudah hampir habis tadi ia belum sempat makan siang karena telepon Doni memintanya untuk cepat datang.


“Aku gak bisa janji besok, Kak Cedrik agendanya penuh dan aku gak tau dia besok bisa atau tidak bertemu dengan Mas Vian”

__ADS_1


“Yah kalau gitu suratnya gak bisa aku kasih besok nanti saja kalau sudah ada kepastian” jawab Arvian sambil tersenyum licik.


“Yah sudah gak apa-apa. Aku gak maksa… kalau memang Mas Vian merasa berkeberatan” jawab Bulan kesal sambil berdiri dan beranjak dari kursinya. Doni melongo mendengarnya, perjuangan selama dua jam lebih malah ditinggalkan begitu saja.


“Saya baru tahu kalau untuk maju itu harus begini cara kerjanya” ungkap Bulan pendek sambil menarik nafas panjang. Ada banyak kata-kata umpatan yang ingin ia luapkan tapi tidak mungkin. Sama saja dengan membuatnya seperti orang picik yang ada di depannya. Arvian terdiam mendengar jawaban Bulan, awalnya ia mengharapkan perdebatan atau usaha memelas dari perempuan itu tapi ternyata malah menyerah pergi.


“Saya pamit Mas… terima kasih atas waktunya” Bulan hanya menganggukan kepala dan kemudian beranjak pergi.


“Ehhh Bul…” Doni langsung berdiri dan menyusulnya.


“Ahhh si Bos tuh gimana sih? Ngasih surat gini aja dibikin susah” keluh Doni sambil pergi dan menatap Arvian dengan kesal.


Bulan berjalan cepat, ia hanya ingin segera pulang dan tidur. Ternyata rencana tidak berjalan mulus, terlalu banyak masalah yang sulit dikendalikan karena diluar kemampuannya.


“Bang… aku mau pulang aja deh… kepala aku pusing jadinya”


“Biarin aja gak pakai surat yang bahasa Inggris juga, kita lampirkan surat yang bahasa Indonesianya aja yang pakai cap tapi di belakangnya pake translate b inggris biarin gak pakai cap dan tanda tangan juga, yang penting ada yang bahasa indonesia udah pakai cap perusahaan sama tanda tangannya asli” kalau tahu endingnya Arvian jadi banyak permintaan, mungkin sejak awal Bulan sudah memilih cara ini.


“Ya udah gw anterin lu balik. Muka lu pucet gitu” ucap Doni dengan muka khawatir.


“Lu duluan tungguin di lobby ntar gw bawa tas dulu gak lama kok”


Sepanjang perjalanan pulang Bulan memandang pemandangan di luar mobil, ia sudah tidak ingin bicara lagi. Mungkin ini saatnya ia harus menerima kondisi kalau semuanya tidak bisa kita paksakan, ia harus ikhlas menerima kalau semua persyaratan yang diminta tidak bisa mereka penuhi.


“Udahlah gak usah sedih, yang penting kita udah berusaha… kali aja nanti Arvian mikir dan ngasih surat, dia juga kaya yang kaget ngeliat kamu akhirnya pergi”


“Ngeselin dia emang orangnya tuh… tapi mungkin kalau mau jadi orang maju mesti ngeselin orang lain yah hehehehhehe…. Gw sih mau jadi orang sukses tapi pengen tetap bisa nyenengin hahahaha” Doni berusaha menghibur, tapi Bulan sudah malas untuk bicara hanya tersenyum tipis.


Keheningan sepanjang perjalanan pulang kemudian terputus saat tiba-tiba saja saat Doni berteriak.


“Ehhh bangsaddd kita usaha nyari duit dia malah beli mobil” teriak Doni sambil melihat ke handphone saat lampu merah berhenti.


“Siapa Bang?” tanya Bulan kaget, ia sempat akan tertidur tapi tersentak mendengar teriakan Doni.


“Ini laki luu… malaah beli mobil samaa….” tiba-tiba Doni berhenti bicara dan menarik tangannya yang sudah terjulur ke arah Bulan, belum sempat ia menarik tangan, Bulan sudah lebih cepat mengambil handphone Doni.


Doni tampak panik, berusaha kembali mengambil kembali handphone yang sudah ada di tangan Bulan, tapi tentu saja sulit karena dihalangi oleh seat belt dan lampu hijau sudah menyala.


“Bul… siniin Bul… bukan…bukan apa-apa” suara Doni terdengar panik, tangannya berusaha menggapai-gapai ke arah Bulan sambil melihat ke depan karena menyetir mobil. Tanpa mengindahkan ucapan Doni, Bulan langsung membuka handphonenya, betul saja ada gambar Juno dengan dua orang perempuan tengah berdiri di depan sebuah mobil putih. Mereka berfoto di depan sebuah showroom karena tampak banyak mobil berderet di belakangnya.


Dari dua perempuan itu hanya satu orang yang Bulan kenali sosoknya… Inneke.


Bulan melihat pesan yang ada dalam handphone itu, rupanya gambar itu diupload dari pesan grup SMA. Ada banyak pesan di sana, tapi yang membuatnya kaget adalah komentar-komentar tentang foto itu.


“Hari ini gw ketemu couple legend… masih pada kenal gak?” pesan dari seorang perempuan yang bernama Bianca. Ada gambar lain lagi rupanya, foto Juno dan Inneke yang sedang duduk berdekatan. Inneke yang tersenyum lebar dan Juno yang seperti biasa dengan senyumnya yang dingin hanya satu sudut bibirnya yang terangkat. Hati Bulan langsung merasa sakit.


“Bul… Bul… aduuuh siniin handphone gw Bul” suara Doni terdengar jauh di telinganya, seperti berbeda dimensi padahal mereka duduk bersebelahan. Bulan terus melihat pesan di bawahnya.


“Ternyata masih cucok meong walaupun udah pada married… gak nyangka banget bisa ngeliat mereka berdua lagi” perempuan bernama Bianca itu masih menuliskan pesan.


“Mobil jualan gw laku satu nih… dibeli sama Bos Juno… beda kalau punya mantan jadi Kepala Cabang di Bank langsung di kasih acc buat nyicil” foto Juno dan dua perempuan di depan mobil berwarna putih, kedua perempuan itu berdiri mengapit Juno yang berada di tengah dengan senyuman tipis minim ekspresi.


“Gw mau dooong digandeng Inge sama Bia… Menang banyak lu Jun” komentar dari teman-teman SMA langsung bersahutan.


“Huaaaaww Ngeeuu gw juga mau dong dikasih kredit buat nyicil mobil… jangan mantan ajaa yang dikasih”


“Ketemu mantan pacar dapat kredit mobil… lanjut minta kredit dana usaha buat kawin lagi hahahahhaaha”


“Ini sih CLBK” tulis satu orang


“Apa tuhhhh?”


“Cinta Lama Belum Kelar…. Hahahahahaha” puluhan emoji dan stiker langsung berserakan.


Air mata Bulan sudah menggenang membacanya, tiba-tiba saja handphonenya diambil paksa oleh Doni, rupanya Doni menghentikan kendaraan supaya bisa mengambil handphonenya kembali.


“Itu… itu Bianca sobatnya si Inge emang. Lu jangan mikir macam-macam mereka emang masih suka ngumpul”


“Eh… maksud gw si Inge sama si Bia yang suka ngumpul Juno sih udah gak pernah ketemuan” jelas Doni cepat.


“Bianca emang punya showroom mobil, bokapnya kaya punya showroom trus dia kawin sama pengusaha showroom mobil juga”


“Kayanya Juno ketemuan sama Bianca deh… gak mungkin ketemuan sama Inge” Doni tampak seperti panik berusaha menjelaskan pada Bulan.


“A Juno katanya beli mobil Bang… uangnya dari mana yah” ucap Bulan pelan, saat ini mereka tidak memiliki uang tunai diatas seratus juta karena harus membayar uang muka interior ke workshop. Uang tunai yang tersisa untuk biaya operasional sehari-hari dan gaji mereka sendiri untuk bulan depan.


“Ehhh… gak tau juga, mungkin… mungkin si Bia ngasih diskonan” jawab Doni cepat.


“Tadi katanya dikasih kredit pinjaman” jawab Bulan lemah, untuk membayar biaya operasional saja sudah menipis apalagi sekarang harus ditambah kredit pinjaman. Bulan merasa bingung, Juno tidak pernah membicarakan ingin membeli mobil.


“Udah jangan dipikirin… mendingan nanti kita tanya aja belum tentu benar… kamu istirahat deh. Dari kemarin ngurusin buat proposal”


“Besok gw nemuin lagi Arvin, jadi jangan dimasukin dulu sekarang dokumennya, kali aja besok bisa lengkap” ucap Doni, Bulan hanya mengangguk lemah, semakin kesini pikirannya semakin bingung.


Samar terdengar umpatan Doni, entah mengumpat kepada siapa karena pikirannya sudah melayang tak tentu arah.


##########


Maafkan agak lama updatenya, persiapan untuk rollercoaster butuh berpikir dalam dan menarik nafas panjang... Adinda gembulers mohon bersabar dan banyak bersyukur supaya kuat menghadapi kenyataan... tarik nafas yaaa mau nanjak nih...hehehe... terima kasih atas semua dukungan dan komentarnya. Tetap semangat untuk menyelesaikan tahun 2021 dengan gemilang


 


 

__ADS_1


__ADS_2