Rembulan

Rembulan
Tak Tutuk ...


__ADS_3

Dipagi hari kesibukan Bulan adalah meyakinkan Mama Nisa agar bisa mengikuti seleksi Proposal.


“Mama khawatir” ucap Mama dengan muka berkerut.


Setelah subuh Bulan menceritakan tentang rencana kegiatan hari ini.


“Insya allah Bulan kuat Maa… udah gak pusing dan stabil kok kondisinya”


“A Juno juga tadi malam kasih izin”


“Please Ma… soalnya aku udah nyiapin ini sejak dua bulan kebelakang”


“Buat bisa lolos dalam seleksi ini miracle banget, soalnya kita kan kategori perusahaan baru”


“Sayang atuh Maaa kalau gak diikuti” Bulan memohon dengan muka memelas, Mama Nisa menarik nafas panjang diliriknya menantunya yang duduk di sebrang meja makan.


“Apa saja kegiatannya disana?” tanyanya pendek.


“Cuma mendengarkan pengarahan kemudian presentasi proposal, tanya jawab… udah deh pulang” jawab Bulan dengan penuh semangat. Naga-naganya ia akan diizinkan untuk pergi.


“Sama siapa kesananya? Ada yang menemani?” mata Mama Nisa menatap Bulan tajam.


“Sama Bang Doni!”


“Kalau ada A Juno di Jakarta, Bulan juga gak akan ikut Ma… masalahnya kan A Juno lagi di Surabaya sedangkan Bang Doni gak bisa bicara bahasa Inggris”


“Kan ada teman Juno yang perempuan itu… siapa sih namanya yang kurus-kurus itu” kening Mama Nisa masih berkerut tanda tidak setuju.


“Mbak Sarah?”


“Dia juga menolak katanya gak menguasai bahan”


“Dia orangnya paling susah buat diajak kerjasama kecuali kalau dia memang mau” keluh Bulan.


“Gimana sih… kerja bareng tapi gak mau bantuin… pecat aja orang seperti itu” ucap Mama Nisa kesal.


“Afi… kamu kan bisa bahasa inggris.. Kamu saja yang presentasinya” Mama Nisa menoleh pada Afi yang asyik sarapan sambil scrolling hp.


“Laaah kok gw!”


“Aku juga gak ngerti ngomongin apa?” Afi menggelengkan kepala dengan cepat


“Lagian aku hari ini udah ada janji rapat sama direktur divisi yang lain”


“Masa iya aku yang mengundang trus aku batalkan”


“Mentang-mentang direktur anak bos… pasti gitu mereka ngomongnya” gerutu Afi dengan kesal. Ia sering mendengar desas desus seperti itu dibelakangnya.


“Yahhh biarkan saja memang kamu anak Bos… mau apa memang!. Bilang siapa yang ngomong seperti itu Mama tutuk dia” Mama Nisa berbicara dengan penuh emosi, sesuatu yang jarang terjadi pada Mama Nisa.

__ADS_1


“Wiiidih Mama sekarang serem… gitu dong Ma… coba dari dulu Mama berotot pasti Papa gak bakalan berani macem-macem” goda Afi melihat ekspresi Mama yang masam.


“Kalau berurusan sama diri sendiri Mama masih bisa sabar… tapi kalau udah mulai ganggu anak Mama jangan kira Mama akan diam-diam saja” Mama terlihat cemberut kesal. Afi dan Bulan berpandangan sambil tersenyum.


Beberapa hari kebelakang rumah memang seperti diteror oleh telepon yang tidak jelas. Ada orang yang suka menelepon dan memaki-maki di telepon dan menyebut Mama sebagai perempuan perampas suami orang. Terkadang laki-laki tapi sering juga perempuan, ucapan-ucapan kasar harus mereka dengarkan saat mereka baru mengangkat telepon. Mereka sudah bisa memperkirakan kalau pelakunya siapa lagi kalau bukan Janet Kudasai.


Awalnya Mama bersikap tenang tapi lama-lama Mama kesal dan mengambil tindakan. Berbekal pertemanan dengan Om Teguh yang memiliki background militer, membuat rencana pembalasan berjalan dengan sempurna. Memasang alat penyadap dan merekam semua percakapan dan kemudian melacak asal telepon membuat mereka bisa mengetahui siapa pelakunya.


Mama tidak mau terlibat keributan dengan Janet secara langsung, memberikan bukti teror kepada Papa Bhanu di kantor dengan ditemani Om Teguh, dan ini membuat Papa Bhanu seperti terbakar cemburu.


“Abang yang punya hubungan dengan perempuan itu… maka Abang tolong urus istri Abang sendiri” ucap Mama Nisa saat bertemu dengan Papa Bhanu di kantor.


“Bilang sama dia kalau kita berdua sudah bercerai dan yang menjadi perusak rumah tangga orang bukan aku tapi dia”


“Kalau sampai besok… AKU RALAT… kalau sampai nanti aku  pulang ternyata masih ada telepon yang meneror ke rumah”


“Mas Teguh akan langsung membuat pengaduan ke kantor polisi”


“Beliau sudah punya banyak barang bukti dan kemarin sudah bicara dengan temannya dari kepolisian”


“Katanya sudah cukup bukti untuk dijadikan pengaduan karena melanggar ranah hukum”


Pak Teguh yang duduk di sebelah Mama Nisa hanya mengangguk-angguk dengan penuh bijak sambil tersenyum. Papa Bhanu yang hanya diam dengan mukanya yang dingin dan kesal. Saat Mama Nisa datang ke kantor dengan Pak Teguh, mukanya sudah langsung berubah masam.


Ternyata gertakan Mama Nisa langsung berhasil, entah apa yang dilakukan oleh Papa Bhanu, tapi sejak saat itu tidak pernah ada lagi telepon teror ke rumah. Tapi ternyata  ada teror baru untuk Mama Nisa yaitu kedatangan Papa Bhanu kembali ke rumah setelah hampir beberapa minggu tidak pernah ke rumah entah karena alasan apa.


Seperti pagi ini Papa Bhanu datang saat sarapan pagi saat Bulan sedang membujuk Mama Nisa.


“Euuh ini jailangkung datang lagi” keluh Mama sambil cemberut. Afi dan Bulan langsung tertawa tertahan.


“Agamanya masih Islam kan?” tanya Mama sambil cemberut memandang Papa Bhanu yang mendekat ke meja makan.


“Iya… memangnya kenapa?” Papa Bhanu terlihat bingung.


“Kalau orang islam itu masuk ke ruangan ngasih salam pakai assalamualaikum… mendoakan yang punya rumah”


“Makanya bergaul sama yang soleh dan sholehah bukan sama dedemit”


“Memangnya kalau selamat pagi kenapa… kan itu juga sopan” bantah Papa Bhanu tidak mau kalah. Ternyata Mama sedang dalam mode tempur pagi ini, matanya langsung mendelik kesal.


“Yang diselamatkan pagi nya bukan orang yang ada di jumpai”


“Tahu tidak artinya assalamualaikum?” tanya Mama kesal, Papa Bhanu hanya diam saja.


“Artinya itu semoga keselamatan diberikan kepadamu”


“Mendoakan itu tuh!”


“Apalagi kalau lengkap assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh artinya semoga keselamatan diberikan kepadamu, diberikan rahmat dan keberkahan dari Allah”

__ADS_1


“Lain kali kalau mau datang kesini hafalkan dulu itu… biar gak lupa… kebanyakan gaul sama dedemit makanya lupa sama adab agama sendiri” Mama Nisa meninggalkan meja makan sambil mengomel kesal.


Papa Bhanu hanya diam dan tersenyum kecut kemudian memandang Afi dengan penuh rasa ingin tahu.


“Mama kamu kenapa kok Papa datang tiba-tiba aja dimarahi?” tanyanya bingung. Afi langsung tertawa dengan lepas.


“Hahahahah Papa datang di saat yang tepat soalnya… Mama lagi butuh samsak buat dipukuli” Afi tampak puas melihat Papa yang terlihat bingung.


“Papa kesini kan mau jemput kamu, hari ini kita rapat sama Direktur yang lain… salah Papa apa?” tanyanya bingung.


“Banyaklah salah Papa, pake nanya segala…coba tanya sama Mama salah Papa apa? Dijamin nanti dilempar sama panci…hahahhahaha” Afi kembali tertawa lepas. Papa Bhanu tersenyum kecut kemudian melirik Bulan yang duduk diam sambil menahan senyum sambil sarapan.


“Kamu mau kemana? Pagi-pagi sudah pakai baju rapi… bukannya masih harus bedrest” rupanya Papa Bhanu mendengar soal Bulan yang selama ini tinggal bersama Mama.


“Ada seleksi proposal investasi Pa… hari ini Bulan akan wawancara… investornya dari luar” jawab Bulan pendek, ia masih khawatir karena belum ada persetujuan dari Mama Nisa untuk bisa pergi. Dahi Papa Bhanu kembali berkerut.


“Juno mana? Kenapa bukan dia yang pergi?”


“A Juno sedang ke Surabaya… siang baru pulang Pa” jawab Bulan pelan.


“Kamu kesana sama siapa?” terdengar nada khawatir pada suara Papa Bhanu


“Sama Bang Doni Pa… nanti katanya mau jemput kesini” jawab Bulan pelan, ia semakin khawatir tidak diizinkan. Selama sarapan ia sibuk mengirim pesan pada Juno agar bisa membujuk Mama Nisa supaya mengizinkannya pergi.


“Hmmm kalau Papa tidak ada agenda rapat dengan Afi sebetulnya bisa ditemani Papa saja” jawab Papa dengan muka berkerut.


“Gak apa-apa kok Pa… kemarin Bulan udah minta izin sama A Juno juga… boleh katanya asal jangan terlalu lama dan capek”


“Bulan juga kalau sekiranya nanti terasa pusing dan gak stabil akan pulang”


Papa Bhanu mengangguk tanda memberikan persetujuan.


“Mudah-mudahan kalau nanti A Juno sudah datang dan acaranya masih berjalan bisa ikut bergabung” sambung Bulan, Juno menjanjikan kalau sekiranya hari ini perjalanan pulang dari Surabaya lancar, ia akan langsung menemani Bulan.


“Ya sudah kalau sudah mendapat izin dari suami” tiba-tiba saja Mama Nisa langsung menimpali


“Sebetulnya kalau acara biasa Mama ingin menemani, tapi ini kan acara formal. Kalau Mama ikut menemani kamu nanti malah kaya anak kecil ditemani ke pesta ulangtahun teman… aneh kelihatannya”


“Disangka perusahaan yang gak profesional juga nantinya” Mama Nisa rupanya menyimak percakapan mereka dari dapur.


“Mama nemenin aku ikutan rapat aja di kantor gimana?” tanya Afi sambil tersenyum.


“Katanya tadi kalau ada yang berani macam-macam sama aku bakalan ditutuk”


“Kan udah ada Papa kamu yang mengawal… tinggal nutuk Papa kamu aja nanti kalau kamu sampai diganggu macam-macam” ucap Mama sambil melotot pada Papa Bhanu.


“Duuh mimpi apa ini tadi malam Papa… sarapan belum tapi malah dapat omelan terus” keluh Papa sambil mengusap-usap rambutnya.


“Sabar ya Pa… perjuangan Papa sekarang… Afi jamin akan lebih berat daripada dulu”

__ADS_1


“Hahahahhahahaha”


Entah kenapa yang tertawa bukan cuma Afi… :)


__ADS_2