
...Hatiku meragu saat kau hadir dalam mimpiku.....
...Kubayangkan kembali saat pertama bertemu......
...Meski rasa tak lagi sama, dan cinta pun telah usai.....
...Tapi aku tau, kenangan itu seakan mengikatku...
...Mengikatku untuk tetap mengingatmu...
...Meski ku tau itu sungguh menyulitkan hariku...
...Membuatku sesak saat kau terus hadir dalam mimpiku...
...Memaksaku untuk berjuang kembali menghilangkan bayangmu...
...Sampai kapan kau akan menjadi bunga mimpiku??...
...Menghiasi mimpi dalam setiap malamku??...
...Andaikan aku di beri pilihan, tentu saja aku enggan berjumpa.......
...Enggan berjumpa meski hanya dalam mimpi.....
...Lekaslah pergi, karena aku tau, kau sudah bahagia.....
__ADS_1
...Bahagia dengan jalanmu, hidupmu serta pendampingmu......
...Biarkan kenangan tersimpan tanpa perlu di ingat......
..._Srayu...
Athar membanting tubuhnya ke atas ranjang tempat tidurnya. Kedua matanya terpejam, dirinya saat ini sedang merasa bingung dan bimbang harus bersikap bagaimana. Setelah obrolannya bersama Karina beberapa jam lalu pikiran Athar benar-benar kalut. Dirinya tak tau harus berbuat apa, apakah harus kembali memperjuangkan Kenanga, ataukah dirinya tetap menjauh seperti apa yang Kenanga inginkan? Mungkin memang apa yang Karina ceritakan benar adanya, tapi pertanyaan terbesar Athar saat ini adalah, apakah Kenanga masih memiliki perasaan yang sama dengan dirinya? ataukah Kenanga saat ini sudah mengubur semua kenangan, perasaan dan rasa yang pernah mereka ciptakan bersama?. Athar menghela nafasnya panjang, dirinya sungguh merasa begitu pening saat ini. Dengan langkah yang tak bersemangat Athar keluar dari kamarnya menuju mini bar di dalam rumahnya. Ya, kehidupan Athar saat ini memang sudah berubah, dulu Athar tak suka menyentuh alkohol, tapi semenjak kegagalan hubungannya dengan Kenanga, Athar jadi sering meminumnya saat kepalanya merasa pening, saat dirinya butuh ketenangan, walaupun begitu jika tidak terlalu berat beban masalahnya Athar masih berusaha untuk tidak meminumnya.
Athar membuka pintu lemari mini, mengambil sebotol minuman lantas menuangkannya ke dalam gelas kosong. Athar menghirup aroma Wine yang begitu harum, namun sayangnya belum sempat Athar meminumnya ponsel miliknya berdering begitu nyaring, membuat Athar meletakkan kembali gelas berisi Wine tersebut. Satu panggilan dari rumah sakit tertera di layar ponselnya. Athar menghela nafasnya panjang, mengapa panggilan seperti ini harus muncul saat pikirannya sedang tidak karuan.
"Halo..." suara Athar begitu tak bersemangat
"Halo dokter Athar, pasien dokter atas nama Kenanga Adimukti saat ini dalam keadaan kritis dan masuk ICU. Bisakah dokter segera datang kemari?" suara perawat dari balik ponsel milik Athar begitu menyentak daun telinganya.
"Saya segera kesana" jawab Athar dengan cepat dan lantas mematikan ponsel miliknya.
"Sayang mau kemana?" Sapa mama Vina
"Kenanga ma, Kenanga kritis" ucap Athar dengan nafas yang terengah-engah.
"Athar akan kesana sekarang" Athar lantas masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan mama Vina yang kebingungan.
Mama Vina mencoba mencerna apa yang putra bungsunya katakan, apakah yang di maksud Kenanga adalah Kenanga yang sama ? Kenanga yang pernah putranya cintai dan malah memilih menikah dengan pria lain. Rasa penasaran begitu mendera mama Vina hingga dirinya pun dengan segera masuk ke dalam mobil untuk menyusul putra bungsunya yang sudah lebih dulu meninggalkan dirinya. Mama Vina memacu mobilnya untuk mengejar putra bungsunya. Membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan, Dan benar saja mobil putra bungsunya memasuki area rumah sakit tempat dimana putra bungsunya bekerja, terlihat Athar dengan begitu tergesa-gesa turun dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Mama Vina juga segera mencari tempat parkir dan setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Mami Vina dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit, tapi sayangnya putra bungsunya sudah tak terlihat.
"Kemana anak itu" Mama Vina melihat ke sekeliling rumah sakit namun tetap saja tak melihat keberadaan putra bungsunya. Namun kedua matanya melihat Evan yang baru saja masuk ke dalam rumah sakit.
__ADS_1
"Evan.." Sapa mama Vina. Evan adalah mantan asisten Athar sebelum Evan pindah tugas menjadi asisten dokter bedah di rumah sakit ini.
"Tante Vina. Ada keperluan apa?" Tanya Evan ramah, karena Evan cukup dekat dengan keluarga Athar, bahkan beberapa kali Athar sering mengajak Evan mengunjungi kedua orang tuanya.
"Kau tau tidak pasien Athar atas nama Kenanga"
"Oh, nona Kenanga. Saya tau tante, kebetulan saat ini saya juga mendapat panggilan mendadak untuk operasinya. Dokter Athar yang akan menjadi pendonornya" jawab Evan
"Pendonor? Pendonor apa maksudnya?" kening Mama Vina terlihat berkerut
"Dokter Athar akan mendonorkan sebelah ginjalnya untuk nona Kenanga tante, memangnga Dokter Athar tidak memberitahu tante sebelumnya???"
"Memangnya siapa pasiennya ini hingga Athar rela mendonorkan sebelah ginjalnya??"
"Ah sudahlah, lebih baik saya tanya langsung pada Athar. Dimana Athar sekarang?" Sambung mama Vina tak sabar.
Kemudian Evan dengan segera mengantarkan mama Vina mengarah ke ruang ICU tempat dimana saat ini Kenanga sedang di rawat. Dengan langkah yang tergesa-gesa mama Vina tak sabar ingin bertemu dengan putranya. Apakah putranya itu sudah tidak bisa berfikir jernih hingga mau mendonorkan sebelah ginjalnya pada orang lain. Kehidupan dengan sebelah ginjal tentunya tidak akan mudah, harusnya putranya paham akan hal itu, mengapa dengan bodohnya mau mengambil resiko sebesar itu. Mama Vina menggelengkan kepalanya tak mengerti pemikiran putra bungsunya yang di rasa begitu gegabah.
Langkah kaki mama Viba terhenti di ujung lorong saat melihat putranya duduk di samping wanita paruh baya, Vina mengenal betul wanita itu, wanita itu adalah calon besannya yang gagal. Vina benar-benar tak menyangka Kenanga kembali ke dalam kehidupan putra bungsunya. Atau Kenanga dengan sengaja memanfaatkan putra bungsunya karena hingga saat ini putra bungsunya belum bisa melupakan gadis itu??? Kedua tangan Vina mengepal, dirinya benar-benar tak rela ketulusan putra bungsunya malah di manfaatkan begitu saja oleh Kenanga. Vina juga tak menyangka Kenanga yang di pikirnya baik, tulus serta polos bisa melakukan hal semacam ini kepada putranya. Setelah membuat putranya patah hati kini gadis itu hadir kembali mencari simpati putranya demi mendapatkan donor ginjal?? Sungguh picik !! pikir mama Vina. Kedua tangannya mengepal sempurna, hatinya begitu merasa emosi saat ini. Tak lama kemudian Mama Vina juga melihat papa dari Kenanga datang dengan membawa map di tangannya.
"Operasinya akan segera di laksanakan, menunggu kondisi tekanan darah Kenanga stabil. Karena saat ini kondisi tekanan darah kenanga sedang tidak stabil. Dan ini..." Papa Adam menatap map yang di pegangnya.
"Surat pernyataan persetujuan donor ginjal nak Athar terhadap putri saya..."
Tangan Athar hendak meraih map tersebut namun belum sempat mengambilnya, suara seseorang membuat Athar mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Athar tunggu..."