Rembulan

Rembulan
Nikah udah Kawin Belum


__ADS_3

Juno PoV


Perempuan ini tidur menggulung di atas sajadah, masih memakai mukena. Dari sudut-sudut matanya masih terlihat genangan air, saat shalat malam memang kudengar dia menangis tapi ditahan. Melihatnya tidur seperti ini tidak terlihat ekspresi keras kepala dan tidak mau kalah yang selalu terpancar dari wajahnya.


Aku jadi inget pesan Mama saat akan pergi ke Jakarta.


“Kakak sekarang sudah jadi suami, harus bisa membimbing istri supaya rumah tangga kalian bisa terus langgeng hingga akhir”


“Jadikan pengalaman Mama sama Papa sebagai cerminan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama”


“Mama hafal sifat Kakak yang keras dan mudah marah, persis seperti Papa. Walaupun kamu membenci Papa kamu, tapi Mama melihat kalau banyak sifat kalian yang sama, pekerja keras, pemarah dan keras kepala”.


“Mama merasakan sendiri sulitnya berkomunikasi dengan Papa kamu karena sifatnya yang keras, tidak mau kalah dan maunya menang sendiri” Mama menarik nafas panjang seperti mengingat masa lalu.


“Mama liat Bulan juga punya sifat yang keras dan berani. Mungkin karena dia anak kesatu yang harus mengasuh adik karena ditinggalkan ibunya disaat masih kecil”


“Tapi sebetulnya dia itu rapuh di dalam hanya berusaha terlihat kuat supaya terlihat normal dan baik-baik saja”


“Berikan rasa aman, sayangi dia walaupun pernikahan kalian seperti dipaksakan tapi Mama percaya kalau jodoh itu takdir Tuhan”.


“Untuk perempuan perhatian dan penghargaan lebih besar maknanya daripada materi”


“Perlakukan istri dengan baik, maka kebahagian hidup akan bersama Kakak”


“Bicara yang baik dan lembut, perempuan itu jiwanya halus walaupun dari luar terlihat tegar dan kuat”


Dan kini aku kembali membuat perempuan ini menangis. Terbaring di lantai dengan memakai handuk hotel sebagai sajadah, bagaimana dia besok mandi coba, memakai handuk yang sudah menempel ke lantai?. Samar terdengar suara adzan subuh, entah jam berapa dia tidur.


Tadi malam saat masuk ke kamar hotel, dia hanya berdiri mematung saja seperti bingung harus bagaimana. Aku khawatir dia lari ke rumah sakit dan tidur di ruang tunggu ICU, sampai harus diancam, baru dia diam tidak banyak tingkah. Saat aku tinggal mandi dia cuma duduk di sofa, seperti tamu yang menunggu disuguhi oleh tuan rumah.


“Ngapain kamu bengong disitu” dia cuma diam saja sambil menunduk.


“Mandi sana, seharian pasti keringatan, aku gak suka berdekatan dengan perempuan bau keringat” dia cuma cemberut dan tidak berbicara apa-apa.


Ah sudahlah terserah dia saja, aku tidak mau ambil pusing, kemarin malam sudah kurang tidur menyelesaikan review project yang kemarin sudah dibuat. Sarah memang tidak bisa membuat detail project yang skala besar seperti Home Renovation yang lebih mementingkan desain interior type basic, dia lebih suka menangani project yang skala kecil dan detail sehingga ia akan bermain dengan desain interior tipe klasik. Sehingga banyak kesalahan dalam pemilihan material, ia masih saja memilih material dari kayu pinus yang memang terlihat indah dan klasik tapi akan meningkatkan nilai project dan itu tidak sesuai dengan estimasi awal yang dinegosiasikan dengan customer.


Aku tidur lebih dulu, lelah memang setelah hampir 4 hari kurang tidur, aku terbangun jam tiga pagi, saat samar kudengar suara tangisan perempuan. Aku sempat kaget saat mendengar suara itu, khawatir suara mahluk halus, tapi setelah sadar aku tidur di hotel dan kulihat dia memakai mukena, rupanya sedang berdoa sampai menangis. Air matanya kenapa tidak habis-habis, dari semalam menangis saja, besok matanya pasti bengkak.


“Apa dibangunkan saja ya?” pikirku, sudah jam 5 lebih 5 menit tapi dia masih terlihat tidur dengan lelap.


“Bulan.. Bangun shalat subuh dulu” kegoyangkan bahunya,tapi dia malah tidur lagi menelungkup.


“Bulaan… heeh… bangun. Shalat subuh dulu baru nanti kalau tidur lagi boleh” kuguncangkan tubuhnya lebih keras, dan sekarang ia seperti tersadar.


“Euuuuuuuhmm… jam berapa ini?” matanya masih tertutup walau sudah terbangun.

__ADS_1


“Jam lima lebih sepuluh menit… 20 menit lagi waktu terbit, ayo kita shalat dulu” ku dorong supaya dia bergerak dan akhirnya ia langsung membuka mukena dan berdiri ehhh….


My Lord !!! dia cuma pakai atasan tank top ketat, dan celana selutut. Rupanya dia tertidur dengan memakai dalaman saja.


Apa dia gak sadar kalau saat ini dia tidak memakai baju.  Tak lama terdengar teriakan di kamar mandi… “Arghhhhhhhhh…..” aku langsung tertawa mendengarnya rupanya dia baru sadar setelah melihat kaca. Lumayan pagi-pagi lihat dada perempuan membusung putih, badannya seksi beneyyy.


“Kak Junoooo”


“Mukena aku kesiniin” teriakan dari kamar mandi itu terdengar lucu.


“Gak boleh pake mukena ke kamar mandi, alat sholat gak boleh dipakai ke kamar mandi” entah fatwa dari mana yang penting terdengar meyakinkan. Semua handuk sudah dipakai jadi dijamin dia tidak bisa memakai apapun.


“Aku mau masuk ke dalam… AWAS JANGAN NGELIAT” hanya kepala yang keluar dari kamar mandi.


“Tutup matanyaa…” teriaknya lagi, aku langsung menutup mata supaya dia segera keluar, kalau tidak waktu matahari terbit akan datang.


“Jangan buka mata duluuu” saat aku membuka mata dia ternyata ada sedang mengambil mukena yang tergeletak di lantai, dua bukit kembar terlihat menggantung dengan indahnya, “adek kecil” yang di bawah langsung bangun dari tidurnya.


“Arrrghhh dibilangin jangan buka mataaa” dia memasukan mukenanya sembarangan demi menutupi dadanya yang terekspos kemana-mana.


“Kamu tuh teriak-teriak kaya mau dijual jadi budak aja, sama suami sendiri berisik” pusing juga mendengar teriakannya, sepuluh menit lagi terbit subuh. Aku langsung qomat, sambil menunggunya bersiap. Ini adalah shalat berjamaah kami yang pertama setelah menjadi suami istri. Setelah mengucap salam, kemudian membaca doa dan berzikir keheningan masih menyelimuti kami.


“A..” tepukan ke lenganku, aku menoleh rupanya dia mau memberikan salim.


“Maafkan atas segala kesalahan Bulan, aku masih belajar jadi seorang istri. Jadi kalau masih banyak salah aku minta maaf” dia menunduk tidak berani menatap aku. Tapi nada suaranya terdengar tulus, rupanya dia berani meminta maaf kalau punya salah.


“Aku juga minta maaf kalau suka ngebentak” sebetulnya aku sendiri kemarin kaget melihat mukanya yang pucat saat ku bentak.


Ada perasaan hangat saat dia mencium tangan dan meletakan punggung tanganku di dahinya. Tanpa sadar kuraih mukanya dan menatapnya, dia kaget dan langsung mau mundur tapi aku bertahan. Kucium dahinya perlahan dan memeluknya perlahan, badannya masih terasa kaku belum terbiasa oleh sentuhanku.


“Pagi ini aku harus pulang dulu ke Jakarta, nanti Sabtu aku kembali lagi ke Bandung”


“Kamu bisa handle sendiri kan sekarang?” tanyaku perlahan. Kemarin malam bos sudah mewanti-wanti agar aku harus ikut rapat dengan developer untuk penentuan interior rumah pada Cluster yang baru dibangun di Jakarta Utara.


“Gak apa-apa aku bisa handle, insya allah Bapak akan baik-baik aja. Kak Juno tenang aja” dia mengangguk-anggukan kepalanya di bahuku, tanganku menelusup masuk ke dalam mukena untuk mengeratkan pelukan. Badannya hangat.


“Kalau ada apa-apa kamu telepon aja, nanti aku usahakan langsung pulang kalau urgen” ia kembali mengangguk.


“Selama aku pergi manfaatkan kamar hotel ini, masih ada jatah dua malam, nanti aku minta ganti kamar yang double bed jadi Benny bisa tidur di sini juga tidak usah bulak-balik ke rumah”


“Gak apa-apa disini juga, aku udah biasa tidur sama Benny dari kecil, dia badannya aja yang ged…” perempuan ini, benar-benar sudah diatur


“Kamu sudah menikah dan kalian sudah besar, sudah tidak pantas tidur di tempat yang sama, nanti aku pesankan double bed”  ucapku, tiba-tiba dia menggeliat kaget saat menyadari kalau tanganku ada di pinggangnya.


“Ihhhh geli…” dia mendorongku sambil cemberut.

__ADS_1


“Baru dipegang segitu aja udah geli, gimana kalau dipegang yang lain” pikiranku jadi traveling membayangkan gundukan dibalik tanktop tadi, kalau saja tidak ada jadwal rapat siang ini, aku berpikir untuk mencicil malam pertama yang tertunda itu. Tapi yang bisa kulakukan sekarang cuma menggerutu.


“Temani aku sarapan dulu baru ke rumah sakit” dia mengangguk patuh, rupanya setelah shalat malam sifatnya jadi lebih melunak.


**********


Untung saja tadi memaksakan pergi ke Jakarta kalau tidak bisa gagal proyek yang proposalnya ia buat selama berhari-hari. Arvian si Bos terkadang terlalu ambisius tanpa perhitungan, hampir saja mereka rugi besar kalau menerima penawaran dari developer itu. Sekarang kepalanya terasa berat, ternyata kurang tidur selama berhari-hari membutuhkan balas dendam yang tidak sebentar.


“Kemana aja lu cuti lama banget?” Sarah tiba-tiba saja sudah masuk ke dalam ruangan. Membawa kotak kue dan kopi di tangannya.


“Mau?... Aku dikasih Cinnamon Rolls dari Bu Stefani, dia puas sama hasil kerjaku”dia memang paling suka kue manis.


“Sar...Lain kali kalau untuk perumahan yang jenis townhouse kamu gak usah bikin design yang terlalu mendetail, mereka lebih cocok dikasih design yang industrial saja aku pikir. Lagipula budget yang mereka anggaran untuk interior tidak terlalu besar” dia sudah diingatkan beberapa kali, tapi masih saja melakukan kesalahan yang sama.


“Beda sama apartemen, mereka pasti udah punya budget khusus buat interior jadi kalau dikasih model yang klasik juga bisa”. Gara-gara Sarah terlalu asyik bereksperimen, review design jadi banyak memakan waktuku.


“Aku gak suka design dengan tipe industrial terlalu kaku. Rumah itu mesti punya keunikan dan ciri khas sehingga bisa berbeda dari yang lain” perempuan ini memang keras kepala, padahal jelas-jelas hasil desainnya ditolak si Bos gara-gara terlalu mahal.


“Lu buang waktu jadinya, buang waktu lu sendiri, buang waktu gw juga buat nge-review and nge-revisi”


“Gw jadi gak bisa bulan madu” percuma juga nikah, sampai sekarang cuma bisa cium kening doang.


“Weeeitsss siapa yang gak bisa bulan madu? Emang lu udah kawin” Si Doni main nyambar aja,


“Udehh” sahutku sambil balik lagi ke meja. Butuh kopi yang pekat untuk menghilangkan rasa mengantuk ini. Ehh kopi si Sarah kayanya enak, mumpung yang punyanya lagi asyik main hape. Kuteguk, hmmm ice americano nya pas banget.


“Serius luh!” kulihat Doni melotot, dia lumayan percaya soalnya belum pernah aku ngambil cuti sampai 4 hari.


“Seriuslah ngapain boong..” masih ada sepotong cinammon cake di dalam kantung kertas.


“Sama siapa lu kawin?” Doni tampak makin bersemangat,


“Lu udah pernah liat kan, ngapain nanya” jawabku santai, Sarah menoleh memusatkan pandangan ke arahku, tapi kemudian dia tertawa sinis.


“Hahahaha, lu ngehamilin anak orang emang tiba-tiba kawin” Sarah malah tersenyum sinis, Doni langsung melotot


“Beneran lu… ngehamilin anak itu? Cocok sih kalau lu napsu juga, anaknya bohay” aku langsung mendelik kesal, menyebalkan juga kalau ada laki-laki menyebut istriku bohay.


“Bac*t nyebut istri gw bohay trus gw ngehamilin duluan, emang lu suka tebar-tebar benih” si Doni emang ganteng makanya banyak bagian FO suka sama dia.


“Ehhh serius lu udah kawin?” dia masih gak percaya aja, akhirnya aku acungkan foto saat akad nikah sama si Doni, dia langsung berteriak.


“Bangsaa**t lu kawin gak bilang-bilang… berengsek lu yaaa” si Doni langsung menghajar, Sarah merebut hape dari tangan Doni dan kemudian melihat ke arahku.


“Lu beneran ini kawin?” mukanya terlihat pucat, kasian juga sebenernya, tapi yah dia musti tahu kalau sekarang aku sudah menikah.

__ADS_1


“Nikah sih udah, kalau kawinnya belum… belum sempat” aku cuma bisa nyengir, gimana mau kawin baru dipegang pinggang aja udah menjauh geli.


__ADS_2