Rembulan

Rembulan
CEO Betawi


__ADS_3

Malam itu Juno masih asyik scrolling hp saat mereka berdua di kamar. Bulan hanya menatap suaminya yang tampak masih segar walau sudah jam sepuluh malam.


“Aku mikiran apa yang Mama bilang tadi soal gelas dan air”


“Kedepan aku mesti bisa kaya Mama, menjaga keutuhan keluarga terutama mendidik anak”


“Disaat suami tidak bisa diandalkan untuk menjadi imam, saat gelas butek gak layak dipakai tempat minum. Air mesti tetap jernih” ucap Bulan, matanya menerawang jauh.


“Anak-anak mesti tetap tumbuh dan berkembang dengan baik”


“Sebetulnya kita berdua dibesarkan oleh sama-sama single parents, cuma ibarat kata Bapak itu menjadi air dan gelas buat aku dan Benny”


“Mama menjadi air buat A Juno dan Afi, Papa walaupun gelasnya sempat kotor tapi dia adalah gelas yang kokoh yang tetap bisa membuat air berada pada wadahnya”


“Syukurlah sekarang Papa sudah bisa mulai menjadi gelas yang bersih, kedepan mudah-mudahan akan semakin jernih sehingga keluarga ini semakin bahagia” ucapnya, matanya menerawang menatap langit-langit.


“Mudah-mudahan aku bisa kaya Mama, bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anak aku walaupun dalam kondisi buruk… gelas boleh butek tapi aku harus tetap jadi air jernih”


“Enaknya saja menyebut aku bakalan jadi gelas yang butek” tiba-tiba Juno menyanggah dengan suara yang keras.


“Aduuuh kaget aku… Aa ihhh kalau ngomong tuh jangan langsung nge gas… kaget tau si adenya” Bulan mengusap-usap perutnya, karena ia terhenyak hingga membuat perutnya sakit.


“Habis kamu sih suka ngomong seenaknya, menyebut aku bakal jadi gelas kotor segala, memangnya aku gak belajar dari kejadian Papa sama Mama. Yah aku belajar lah, jangan sampai anak-anak aku mengalami pengalaman buruk ini” ucap Juno kesal. Bulan tersenyum menatap suaminya dan langsung memeluk dengan erat.


“Hehehehe jangan marah atuh… aku kan bicara kaya gini mengingatkan sama diri sendiri ibarat kata meluruskan niat sebagai seorang ibu… harus bisa menjadi air yang jernih untuk anaknya disaat lingkungan tidak baik atau kotor”


“Aku harus bisa memfilter semua hal yang buruk dari luar dan bisa tetap menjadikan anak-anak tumbuh dan berkembang. Walau pasti itu akan membutuhkan energi yang lebih”


“A… masalah dalam rumah tangga itu bukan hanya perselingkuhan saja kan?”


“Ketidakmampuan orang tua dalam melakukan pengasuhan kemudian masalah ekonomi sehingga anak tidak bisa memperoleh hak hidup yang layak”


“Gak cuma suami saja yang mungkin bisa tidak berfungsi, sangat mungkin ibunya kalau tidak berpengetahuan malah membuat anaknya gak cerdas dan gak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, kurang pengetahuan dalam memberikan gizi dan makanan yang sehat buat anak, dan tidak berpengetahuan untuk memberikan stimulasi pendidikan buat anak… waaah banyak pokoknya kalau aku baca” Bulan termenung.


“Kita harus saling mengingatkan yah A supaya bisa maksimal dalam mendidik anak seperti Mama dan Bapak”


“Walaupun hanya sendiri membesarkan anak tapi anak-anaknya bisa tumbuh dengan baik” Bulan mengeratkan pelukannya sambil menarik nafas panjang. Juno menatap istrinya yang menyembunyikan muka di dadanya.


“Kamu tuh kangen sama aku pengen peluk-peluk atau lagi galau nanti mau punya anak?” ucap Juno sambil tersenyum menatap istrinya.


“Dua-duanya” jawab Bulan pelan, menghirup aroma tubuh suaminya.


“Kemarin kangen banget ditinggalin seminggu juga”


“Terus kepikiran nasihat dari Mama, jadi takut kehilangan suami juga”


“Gak kebayang tujuh tahun bertahan hidup tanpa Aa… merasakan sedih suami sama perempuan lain… membesarkan anak sendiri”


“Ihhh aku sedih, gak mau kehilangan banget ya Allah” mata Bulan sampai berair dan menyusutkan air matanya pada pakaian Juno.


“Aku mau ikut nanti tinggal di Bali… atau kemanapun A Juno pergi”


“Pokoknya gak mau ditinggalin berjauhan” ucapnya sambil tersedu.


“Ahahahahahah… asyik banget punya istri yang tingkat kepasrahannya tinggi seperti ini, gak pakai acara banyak protes dan persyaratan” Juno memeluk gemas istrinya.


“Adduuuh engap jangan terlalu semangat atuh, ini adenya kepencet” keluh Bulan


“Ohohoho maaf-maaf Appanya gemes soalnya…emmmmm…mmmmmmmm” akhirnya jadi mencurahkan semua kegemasan pada istrinya itu.Malam itu mereka berdua merasakan kebahagiaan akan kehadiran fisik dari pasangan, bukan dalam arti kebutuhan pemenuhan batin tapi rasa saling melengkapi satu sama lain.


Hari-hari berikutnya menjadi hari yang penuh kebahagian, adanya mobil baru hadiah dari Papa Bhanu membuat mereka berdua menyukai aktivitas jalan-jalan keluar. Mencoba kenyamanan dari fasilitasi yang diberikan, ternyata setelah perjuangan berdarah-darah demi masa depan yang lebih baik, sedikit demi sedikit mulai bisa bernafas lega menikmati kebebasan finansial.


Sudah dua hari ini Bulan ikut Juno untuk mulai bekerja, kembali membenahi administrasi keuangan dan rancangan anggaran untuk proyek di Bali. Dan kehadiran seorang tamu membuat suasana siang itu terasa berbeda,  mereka dikejutkan kehadiran Doni yang membawa seorang perempuan bersamanya. Yang mengagetkan adalah tampilan perempuan yang ia bawa, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan perempuan yang biasa bersama Doni. Memakai kerudung yang syar’i dan menggunakan rok panjang.


“Waaaaah… kaya mimpi aku ini…akhirnya bisa bertemu dengan Neng Geulis pujaan hati orang lain” teriak Doni saat naik ke lantai dua.


“Arhhhhhh Bang Doniiiiii… kemana aja meni gak pernah nengok iiih”


“Ya allah kenapa jadi mengganteng begini… jadi keliatan bersih dan solehun” sambut Bulan.


“Enak nya aja dari juga emang udah bawaannya ganteng dan solehah mah….wkwkwkwkkw” Doni terbahak sambil sesekali melihat ke arah tangga.


“Ayo naik aja sini… ini ada Teh Bulannya” ucapnya lagi.


“Sama siapa Bang?”


“Ini… hehehe mau ngenalin calon” ucap Doni malu-malu. Bulan langsung berdiri, kaget mendengar kalau Doni ternyata benar sudah memiliki calon istri yang serius.


“Wiiis ciyus ini? alhamdulillah… manaaaa?” ucap Bulan sambil berdiri menyambut ke arah tangga. Hingga akhirnya ia bisa melihat seorang perempuan yang dengan malu-malu menaiki tangga dengan ragu.


“Assalamualaikum” ucap perempuan itu pelan.

__ADS_1


“Waalaikumsalam… ohh Masya Allah” Bulan terhenyak kaget, karena perempuan yang dibawa Doni benar-benar berbeda.


“Halo mangga-mangga silahkan masuk” tanpa sadar saking kagetnya bahasa sundanya langsung keluar.


“Tuh kan dibilangin Teh Bulan itu orang sunda, pasti nanti bakalan ngasih mangga sama teh soalnya itu sering banget ditawarin kalau disini” kembali Doni membuat lelucon yang membuat Bulan langsung melotot.


“Ehhehehehhehe… langsung ngambek aja si mpok… mana si Dul.. gw udah janji mau ngenalin calon bini… Duuull” Doni langsung menuju kamar tamu yang kemudian dijadikan ruang kerja Juno.


“Perkenalkan saya Rembulan, tapi suka dipanggil Bulan”


“Saya Nurhayani… tapi kalau dirumah dipanggil Nur saja Teh… kalau Teteh terserah mau manggil apa” ucapnya sambil tersenyum manis, ternyata senyumannya maut karena ada lesung pipit yang membuat mata yang memandang sulit melepaskan tatapan.


“Aduuuh itu lesung pipitnya kaya sumur heheheh dalam… cantik banget Nur… ah kurang dapat feelnya… duh aku panggil apa yaa Hani aja deh, kalau di luar negeri kan jadi Honey… sayang… hehehhehe” Bulan tergelak sendiri.


“Bisa aja teteh, biasanya sih dipanggil Nur atau Yani… belum pernah ada yang manggil Hani”


“Gimana teteh aja deh aku sih” Nurhayani langsung tersipu malu.


“Yang… ini nih yang aku ceritain temen aku yang udah mudah jadi Bos… bantuin Abang dari sejak SMA dulu.. sampai bisa sukses kaya sekarang semuanya bantuan dia” Doni menyeret Juno keluar.


“Juno” ucap Juno sambil tersenyum.


“Nur…eh Hani kata teh Bulan” ucap Hani sambil menganggukan kepala sopan.


“Eh darimana jadi rubah nama gini… siapa yang ngijinin jadi rubah nama” Doni langsung protes.


“Mulai…mulaiiiiii ini posesip gak jelas belum juga nikah… Hani itu dari nama NurHayaNi dipanggil Hani… Honey atau Manisku… Sayangku… Maduku” ucap Bulan sambil mencibir menggoda Doni.


“Gak boleh… yang bisa nyebut kamu sayang cuma aku” sanggah Doni sambil menggelengkan kepala ke arah Nurhayani.


“Deuilah si Abang… cuma gw Bang yang manggil dia Hani… yang lain mah Nur aje deh Nur” jawab Bulan tidak mau kalah.


“Waah parah nih… salah gw kenalin sama elu… ntar dia banyak protes lagi ngikutin elu” keluh Doni sambil menggaruk-garuk kepala bingung. Nurhayani tersenyum tertahan melihat keributan antara Doni dan Bulan.


“Ya Allah… aku mah protes bukan untuk keburukan tapi kebaikan. Coba aja tanyain kalau Guru senang muridnya aktif atau diem aja, pasti senang yang aktif lah banyak nanya”


“Yang gak boleh itu banyak gaya Bang… bukan banyak nanya”


“Malu bertanya sesat di jalan… Banyak nge ngegaya ngabisin tabungan” jawab Bulan lagi.


“Ya udah deh terserah… gw emang bawa dia supaya bisa belajar sama elu Bul belajar keuangan gitu”


“Jadi gini nih…. duh gimana yah ngomongnya … duduk dulu deh Dul… biar elu gak kaget” Doni menarik Juno ke sofa untuk duduk. Kemudian membawa dua kursi makan agar bisa membuat mereka berempat berkumpul.


“Neng Honey Sayangku Maduku disebelah Abang disini” menarik lembut calon istrinya untuk duduk di kursi makan yang menghadap mereka berdua.


Sebelum memulai pembicaraan Doni menarik nafas kemudian menegakkan badannya seperti mencari penguatan diri. Nurhayani mengulurkan tangannya seakan memberikan energi pada Doni, yang langsung disambut dengan genggaman erat. Bulan langsung melengos sambil tersenyum pada Juno.


“Hadeuh bucin… awal-awal pacaran .. dimana terasi terasa seperti cokelat, pegangan tangan aja udah nyetrum… lepas Bang… belum jadi muhrim” ucap Bulan.


“Alah elu kaya satpam aja, megang tangan doang juga, gak gw apa-apain” ucapnya kesal. Bulan dan Juno langsung tersenyum, selevel Doni yang suka banyak rayuan pada perempuan, bisa menahan diri dengan hanya berpegangan tangan patut diacungi jempol.


“Jadi gini… Nur ini… eh Hani ini tetangga di kampung gw, kembang desa.. anaknya Haji Sueb yang punya kampung” jelas Doni sombong.


“Woww… kirain nama Haji Sueb cuma ada di sinetron aja… beneran ada di dunia nyata”


“Diem bentar bisa gak sih Bul” ucap Doni kesal. Bulan langsung mengangguk sambil tersenyum.


“Alhamdulillah, Nur..Hani udah lulus kemarin sekolahnya, enam tahun hampir tujuh tahun kemarin mesantren dia tuh… ngajinya beuuuh mauts.. merdu banget… gw udah kenal ama Kakaknya udah lama, pas dua bulan kemarin gw ke rumahnya ketemu sama Kakaknya malah ketemu sama nih anak… Buset deh gw setelah itu gak bisa tidur Dul… kepikiran terus kebayang terus… susah mikir” Doni menggeleng-gelengkan kepalanya seperti pusing. Bulan jadi tertawa ingat ucapan Juno kalau Doni yang kerja tidak bisa konsentrasi.


“Akhirnya daripada gw jadi sakit gw mesti mastiin kalo emang nih cewek emang jodoh gw. Langsung aja deh gw tanya sama Babehnya kalau si Nur udah ada calonnya gak”


“Ehhh Babeh malah langsung nantang kalau gw suka dia bilang langsung kawin aja gak pake pacar-pacaran segala”


“Ehhh bentar-bentar… Hani tuh baru lulus sekolah MA maksudnya?” Bulan terdengar kaget.


“Iya teh… baru lulus” jawab Nurhayani dengan tenang.


“Ya Allah… beda sepuluh tahun dong” sambung Bulan.


“Ya emang kenapa? muka gw kan kaya baru dua lima” jawab Doni tenang, Bulan langsung mencibir.


“Diem jangan motong lagi lu Bul”


“Jadi kemarin Babeh Sueb bilang, kalau gw boleh nikah sama Nur asal bikin kerjaan buat masyarakat di kampung, maklum sekampung sodara semua kerjanya minta bantuan ini itu sama Pak Haji… bikin gerah kan lama-lama”


“Dia tuh punya tanah sama modal tapi gak ada yang bisa bikin usaha yang bisa menyerap tenaga kerja disana”


“Kalau gw bisa bikin usaha yang bisa menyerap tenaga kerja di sana baru gw boleh nikah sama Nur”


“Pas gw pikir-pikir kenapa yah gw mau kawin aja mesti bikin proposal dulu”

__ADS_1


“Kaya mau ngelamar kerja” keluh Doni. Bulan langsung tertawa terbahak, Juno pun tersenyum ditahan.


“Ahahahahaha abang sih dulu banyak bikin janji manis, jadi sekarang kena karma… gak terima janji tapi terima barang produksi… ahahahhaha” Bulan tertawa puas.


Doni kembali menggaruk-garuk kepalanya.


“Jadi gini Dul.. pengetahuan gw kan cuma soal interior, kerja di Arvian atau sama elu juga bidang yang gw kerjain sama… bikin furniture”


“Kemarin gw bilang sama Babeh Sueb kalau gw bikin pabrik furniture gimana? kan bisa menyerap tenaga kerja tuh…. sodara-sodaranya si Nur yang selama ini bergantung sama Babehnya bisa dilatih buat kerja”


“Kebetulan di kampung gw tuh banyak tukang kayu yang suka bikin furniture gitu tapi yah modelnya biasanya aja, mereka bisa kayaknya diajak jadi pegawai terus ngelatih yang belum bisa”


“Trus gw juga bisa jadi CEO gak cuman elu aja yang jadi CEO tapi gw juga bisa”


“Cuman masalahnya gw butuh orderan barang”


“Lu kan tau kalau usaha baru mana ada orang percaya buat ngasih proyek, jadi gw bakalan minta proyek dari elu buat awal-awal usaha gw”


“Gimana?” tanya Doni dengan penuh harap. Juno langsung tersenyum kecut.


“Emang lu bisa bikin barang bagus?”


“Lu kan tau sendiri selera gw barang yang dibikin kualitasnya kaya gimana” tanya Juno sambil tersenyum sinis.


“Deuilah Dul… masa elu sama gw tega sih… yah lu bantu dong, kasih tau standarnya sama tukang-tukang gw nanti. Kalau bukan sama elu sama siapa lagi gw minta bantuan. Selama ini teman yang ngertiin gw cuma elu doang”


“Nih yah gw kasih win win solution deh… gw sama elu gak akan nyari untung… gw mah nyari ilmu”


“Cuma minta penggantian ongkos barang sama tukang aja”


“Buat hidup gw bakalan ngandelin dari selisih penjualan barang aja”


“Gimana?”


“Gak tau Don… buat ngelatih tukang kaya gitu kan butuh waktu… gw sekarang sibuk banyak proyeknya.. lu kan tau sendiri” ucap Juno sambil mengerutkan dahi bingung. Dia ingin membantu tapi sulit baginya membagi waktu.


“Jadi gimana dong? masa gw gak bisa kawin tahun ini?”


“Ntar si Nur ada yang ngelamar duluan… bisa-bisa gw jadi bujangan lapuk ini patah hati” ucap Doni sedih.


“A.. dicoba dulu aja, jangan judgment gak bisa dulu… mungkin saja tukangnya sdh mahir tapi gak update” ucap Bulan menyemangati.


“Iya Dul plis lah plis bantuin aku… aku pengen buka usaha memang dari dulu”


“Alhamdulillah dikasih kesempatan sama Babeh Sueb sekarang, terus yang penting gw bisa nikah sama Enur juga”


Lama Juno terdiam dan akhirnya mengangguk.


“Ya udah kita coba aja, nanti produksi barang-barang yang minor dalam interior, jadi gak terlalu berat, kalau hasilnya bagus baru lanjut ke barang major tapi gak di ruangan utama kaya di area kitchen” jelas Juno


“Gw mah ikutan aja gimana elu, udah dikasih kesempatan aja udah syukur” ucap Doni.


“Duh kebayang deh bisa nikah sama perempuan solehah kaya Nur, terus punya usaha sendiri juga…. kaya mimpi yang jadi kenyataan” sambung Doni.


“Trus satu lagi nih…Neng Bulan, gw punya permintaan sama lu”


“Banyak banget permintaannya, tadi sama gw sekarang sama Bini gw” gerutu Juno kesal.


“Diem lu… itungan banget sih jadi orang”


“Ini loh Bul… tolong ajarin Nur Haniku gimana caranya bikin administrasi keuangan”


“Jadi ntar dia bisa kaya elu gitu loh, trus nanti ajarin juga bikin bikin website, bikin laporan keuangan, trus bikin proposal juga buat bisnis” pinta Doni dengan wajah memelas.


“Widiiih banyak amat yang mesti dipelajari Hani… terus ntar lu ngapain dong Bang?” tanya Bulan.


“Lah kan gw mah CEO bagian ngawasin doang… orang lain yang kerjanya mah” jelas Doni.


“Bang… kayanya gak akan bisa kaya gitu deh… kan udah tau Babeh Sueb banyak maunya terus suka minta ini itu buat kita kerjain”


“Yang suka ngawasin kita pasti Babeh” ucap Nur sambil tersenyum


“Iye yeh bener juga, Babeh lu tuh hobinya nyuruh-nyuruh aja”


“Nah itu kan sudah jelas, kalau ntar yang jadi CEO nya gak mungkin elu Don… tapi Babeh lu” ucap Juno sambil menahan senyum


“Yaaah… gak jadi deh CEO nya… Babeh Sueb yang jadi CEO”


“Gw mah jadi manager lagi kalau gini sih”


“Gak apa-apa deh… yang penting bisa nikah sama Nur aja… udah cukup buat gw” ucap Doni sambil menatap Nurhayani dengan tatapan lekat.

__ADS_1


“Ihhh abang bisa aja”


Minggir semua minggir… ada yang udah pengen prikitiw…


__ADS_2