Rembulan

Rembulan
Inikah Balasanmu?


__ADS_3

"Kemari sayang, mengapa hanya diam di sana?" Athar tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Kenanga yang masih berdiri mematung di posisinya.


Kenanga dan Riko masih terlihat beradu pandang, Riko tersenyum ke arah Kenanga dan Kenanga hanya diam tak meresponnya. Kenanga berulang kali menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya saat ini. Kenanga benar-benar tak menyangka kalau akan bertemu dengan Riko di tempat ini.


Dengan langkah kaki yang ragu, Kenanga berjalan menghampiri Athar yang menyambut kedatangannya dengan senyuman manisnya.


"Ini untukmu.." Athar menyerahkan bunga sebouquet bunga lili kepada Kenanga, kemudian Athar juga mendaratkan satu kecupan manis di puncak kepala Kenanga.


Tak ada respon apapun dari Kenanga, gadis itu terdiam seribu bahasa saat kini dirinya berhadapan tepat dengan Riko yang juga sedang menatap ke arahnya dan Athar dengan tatapan tak suka.


"Tuan Riko, perkenalkan ini..."


"Kenanga Adimukti" Riko langsung menyela perkataan Athar.


Athar mengeryitkan keningnya saat Riko mengetahui nama lengkap dari Kenanga, bahkan segudang pertanyaan kini memenuhi kepala Athar saat itu.


"Kalian saling mengenal?" tanya Athar sambil menatap ke arah Kenanga dan Riko secara bergantian.


"Tentu saja, bahkan lebih dari sekedar mengenal. Kami sangat dekat" ucap Riko tak melepaskan pandangan matanya dari Kenanga yang terlihat meremas bouquet bunga yang di pegang olehnya.


Tanpa di beri pertanyaan oleh Athar, Riko menjelaskan segalanya, termasuk masa lalunya bersama Kenanga, tak hanya itu pertemuannya dengan Kenanga di bandara juga Riko jelaskan termasuk mereka berpelukan di bandara tak luput Riko katakan pada Athar. Tak hanya itu, ternyata Athar juga harus mendengar satu kenyataan bahwa beberapa kali ternyata Kenanga masih bertemu dengan Riko tanpa memberi tahu dirinya. Sungguh Athar tidak menyangka sama sekali. Bahkan saat Riko terus berkata, Kenanga hanya diam tak merespon apapun. Gadis itu sepertinya meng-iya-kan semua perkataan yang di ucapkan oleh Riko.


"Dua minggu yang lalu bahkan kami sempat bertemu" Riko mengakhiri ceritanya dan tersenyum sinis ke arah Athar yang sepertinya diam seribu bahasa


"Apa Kenanga sama sekali tidak pernah menceritakan kalau kami memiliki masa lalu yang indah bahkan hingga saat ini kami masih sering bertemu?" imbuh Riko semakin membuat suasana panas


"Sepertinya Tuan salah. Calon istriku selalu mengatakan apapun tentang kehidupannya, bahkan segala aktifitasnya aku pun tau termasuk menemui tuan itu semua atas izin dari saya" Athar dengan tenang menjawab pertanyaan dari Riko,bahkan senyuman manis tersaji di bibir manis Athar


"Iya kan sayang?" Athar mendaratkan satu kecupan di pipi Kenanga, meski gadis itu diam saja tak meresponnya.


Riko mengepalkan tangannya saat Athar kembali menyentuh Kenanga, rasanya ingin sekali Riko menghancurkan bibir Athar menggunakan tangannya sendiri, tapi itu tidak mungkin di lakukan di sini di tempat umum seperti ini.

__ADS_1


Setelah obrolan yang menurut Athar sama sekali tidak penting, akhirnya Riko memilih salah satu meja makan yang terletak tidak jauh dari meja Kenanga dan juga Athar. Kedua mata Riko terus mengawasi semua gerak-gerik Athar dan Kenanga, tidak ada yang berubah dari sikap Athar, pria itu tetap bersikap manis bahkan terkesan sangat romantis terhadap Kenanga, seakan semua perkataan Riko tidaklah mempan untuk Athar. Meski Athar bersikap sangat manis tapi Riko bisa melihat kalau Kenanga saat ini pasti sedang bimbang, karena gadis itu diam saja tak seceria biasanya.


Setelah selesai makan malam bersama yang menurut Kenanga terasa panjang dan tak nyaman, akhirnya kini Kenanga dan Athar memutuskan untuk kembali ke kamar. Keduanya memasuki lift yang akan membawa mereka menuju kamar mereka. Riko yang merasa penasaran juga mengikuti mereka, Kali ini Riko di buat semakin marah saat mengetahui ternyata Athar dan Kenanga tidur dalam satu kamar, bahkan kedua mata Riko bisa melihat dengan jelas Athar dan Kenanga masuk ke dalam kamar tersebut dan tak keluar kembali.


Saat tiba di kamar dan pintu sudah tertutup, seketika wajah Athar yang awalnya sangat manis, kini berubah menjadi seperti monster menakutkan. Bahkan Athar langsung mendorong Kenanga hingga kini Kenanga terhimpit dinding dan tubuhnya. Athar benar-benar hilang kendali atas dirinya sendiri, saat ini Athar sedang di kuasai oleh amarahnya sendiri.


"Katakan Kenanga, katakan yang sebenarnya" Bentak Athar, kedua tangan Athar memegang pundak Kenanga dengan kasar.


Kenanga begitu takut, tubuhnya bergetar hebat. Ini untuk kali pertama dirinya melihat Athar marah terhadap dirinya. Memang semuanya salah Kenanga yang tidak jujur terhadap Athar kalau beberapa waktu lalu memang Kenanga sempat bertemu dengan Riko tanpa sepengetahuan Athar, tapi itu semua Kenanga lakukan supaya Riko berhenti menganggu dirinya.


"Apa selama ini di belakangku kau diam-diam menemui pria itu?" Suara Athar kembali menggelegar di telinga Kenanga


"Inikah balasanmu Kenanga? Atas perasaanku terhadapmu? inikah balasanmu hah?" Athar semakin mengguncangkan bahu Kenanga


"Kenapa kau hanya diam saja? jadi itu semua benar?" Athar semakin tak sabar dan mencecar Kenanga dengan pertanyaannya.


"A-ak-aku. .." Kenanga tak kuasa melanjutkan kata-katanya, dirinya benar-benar takut saat melihat Athar untuk kali pertama semarah ini padanya


"Athar, aku bisa menjelaskan semuanya.." Kenanga kali ini sekuat tenaga mengumpulkan keberaniannya


"Aku memang beberapa kali bertemu dengannya, tapi..." ucapan Kenanga terhenti saat Athar malah tertawa, tertawa putus asa


Athar menggelengkan kepalanya, bahkan beberapa tetes air mata terlihat jatuh di pipi pria itu. Athar benar-benar merasa sakit, sakit atas kebohongan dari Kenanga. Andaikan saja Kenanga mengatakan yang sejujurnya kalau bertemu dengan mantan Kekasihnya, tentu saja Athar tidak akan sekecewa seperti saat ini. Athar tak ingin melanjutkan pertengkarannya dengan Kenanga. Pria itu memilih pergi meninggalkan Kenanga di dalam kamar.


Kenanga hanya bisa menyesal dan jatuh terduduk di lantai saat melihat Athar keluar dari kamar. Kenanga tak bermaksud membohongi Athar sama sekali, Kenanga bertemu dengan Riko tak lebih hanya untuk memberikan penegasan kalau Kenanga sudah memiliki pilihan hidupnya sendiri.


^


Selepas pertengkaran antara dirinya dan Athar, Kenanga merasa benar-benar bingung, Kenang berusaha menghubungi nomor ponsel Athar tapi sayangnya pria itu tak mau menjawabnya sama sekali. Hingga dua jam menunggu, Athar tak kunjung kembali ke kamarnya. Kenanga yang merasa frustasi kini memilih duduk di bar mini, kebetulan hotel tempatnya menginap terdapat bar mini. Kenanga sudah menghabiskan setengah botol vodka, rasanya pikirannya sedikit tenang. Karena Kenanga sudah terbiasa minum saat tinggal di Surabaya, maka setengah botol Vodka tak membuatnya mabuk sama sekali.


"Kau di sini.." suara pria yang menurut Kenanga tidak asing kini duduk di kursi tepat di samping Kenanga

__ADS_1


"Pria sialan" sembur Kenanga saat melihat Riko duduk di sampingnya


Tak menghiraukan Riko sama sekali, Kenanga kembali menuangkan minuman ke dalam cawan miliknya kemudian menenggaknya dengan kasar, dan Kenanga melakukannya berulang kali hingga sebotol minuman di hadapannya tandas tak tersisa. Kepala Kenanga mulai terasa pusing, namun Kenanga masih sadar.


"Biar ku antar ke kamarmu" Riko hendak memapah tubuh Kenanga namun dengan cepat Kenanga menepis kasar tangan Riko


"Jauhkan tanganmu dariku" bentak Kenanga


"Apa kalian bertengkar? hingga kau mabuk seperti ini?"


"Bukan urusanmu ! Minggir " Kenanga mendorong tubuh Riko yang di rasa menghalangi tubuhnya.


Dengan langkah sedikit sempoyongan Kenanga berjalan memasuki lift, dan Riko pun mengikuti Kenanga masuk ke dalan lift. Kebetulan Riko juga memesan kamar tak jauh dari kamar yang Athar dan Kenanga tempati saat itu. Setelah lift terbuka, Kenanga bergegas keluar dari dalam lift tersebut begitupula dengan Riko.


Tapi siapa sangka ternyata Riko menyimpan rencananya sendiri. Saat Kenanga melewati kamar yang di tempati oleh Riko. Riko dengan cepat menarik tubuh Kenanga masuk ke dalam kamar tersebut lantas menutup pintu kamar hotel dengan rapat dan menguncinya.


"Kau mau apa??" Kenanga memlototkan matanya dengan kesal saat di tarik masuk ke dalam sebuah kamar yang asing


"Kenanga, bisakah kau memberiku kesempatan? aku ingin kita menikah" bujuk Riko dengan suara yang lembut


"Kau sudah gila? Minggu depan aku akan menikah dengan Athar. Aku mencintainya" bentak Kenanga


"Aku tak sudi menikah dengan pria sepertimu" imbuh Kenanga


"Minggirlah" Kenanga hendak menerobos tubuh Riko namun sayangnya Riko mAlah mendorong tubuh Kenanga hingga terjatuh ke kasur


"Kau yang memaksaku melakukan ini Kenanga" Kini Riko menindih tubuh Kenanga


"Kau tidak waras" Kenanga berusaha meronta, namun sayangnya kungkungan tubuh Riko jauh lebih bertenaga di bandingkan dirinya.


"Aku tak mau kehilanganmu. Jika cara ini jalan terbaik, maka aku akan melakukannya" Riko kali ini mencium bibir Kenanga dengan paksa, bahkan tangannya mulai melepaskan pakaian Kenanga dengan paksa.

__ADS_1


Kenanga berusaha meronta tapi sayangnya Riko tak menghiraukannya sama sekali, tangan kokohnya terus saja meremas dada Kenanga dengan begitu kasar, bulir air mata menetes di pelupuk mata Kenanga, bayangan wajah Athar yang tersenyum manis terhadapnya kini mengisi otak Kenanga. Dunia Kenanga terasa runtuh saat pakaian bagian atasnya kini sudah di lepas paksa oleh Riko. Namun Kenanga tak menyerah begitu saja, Kenanga terus saja meronta dan mencoba melawan, berteriak meminta tolong namun rasanya percuma karena ini hotel terbaik di ibukota yang sudah pasti setiap kamarnya akan kedap suara.


__ADS_2