Rembulan

Rembulan
Saya Calon Suami Rembulan


__ADS_3

Bulan masih duduk termenung di bagian keuangan Rumah Sakit.


“Untuk biaya operasi besar kita minta keluarga pasien untuk menyiapkan dana deposit sebesar 80 juta karena tidak hanya biaya operasi yang harus disiapkan, setelah keluar dari kamar operasi nanti pasien akan diobservasi di ruang ICU”.


Penjelasan dari bagian administrasi keuangan itu tidak terhenti sampai di sana.


“Pak Harlan tidak masuk sebagai peserta BPJS Mbak, jadi waktu masuk ke IGD sebagai pasien rawat inap biasa” Bulan terhenyak, ia jadi ingat pesannya kepada Benny agar memakai jalur pasien reguler supaya Bapak tidak menunggu lama.


“Adik saya mungkin panik yah Mas jadi tidak ingat untuk mendaftar sebagai peserta BPJS” Bulan mencoba mencari celah, agar bisa mendapatkan fasilitas kesehatan pemerintah itu.


“Ya bisa saja kami masukan tapi butuh waktu” waktu… adalah kata yang tidak berkompromi dengan dirinya saat ini. Lebih cepat lebih baik.


Bulan berjalan ke arah taman, pikirannya kalut, bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang. Semuanya seperti tidak berpihak padanya.


Memilih bangku taman yang di pinggir sehingga tidak terlalu tampak dari luar, Bulan menarik nafas panjang. Memaknai semua kejadian yang terjadi yang datang bertubi-tubi tidak memberinya kesempatan untuk berpikir. Masalah yang timbul karena kebodohan yang dibuatnya sendiri.


Sekarang bagaimana caranya menyiapkan uang sebesar itu, betapa Allah sangat mudah membolak-balikkan keadaan. Ia terlalu gegabah dalam mengambil keputusan sehingga membuat dirinya dalam keadaan yang tidak berdaya. Telepon di tangannya berbunyi. Anjar.


“Halo assalamualaikum…”


“Njar… gimana saham aku bisa dijual gak?” ada uang dua puluh juta yang diinvestasikan disana.


“Halo gimana Bapak lu?” malah balik nanya pikir Bulan.


“Bapak musti dioperasi Njar… makanya aku butuh uang cash secepatnya.. Aku gak pegang uang sama sekali ini” keluhnya.


“Hmm… masalahnya kalau sekarang kita jual saham, nilainya sedang turun nilai uang tinggal setengahnya” suara Anjar terdengar perlahan.


“Hahhhhh serius kamu? Kok bisa sih? … kan baru kemarin masa nilainya sampai turun segitu gedenya”


“Kamu beli di list perusahaan yang ku hitung kemarin kan?” Bulan mulai curiga kalau Anjar tidak mengikuti perhitungan yang sudah dia buat.


“Hmmm… sorry aku rubah persentase pembeliannya, aku gedein di saham yang low end. Soalnya aku pikir mumpung turun kita perbanyak aja belinya biar nanti selisihnya lebih gede saat mereka naik… biasanya juga gitu” Bulan langsung lemas, Anjar selalu saja tidak bisa diprediksi.


“Kamu tuh gimana sih Njar… aku kan itu sudah dapat menghitung probabilitasnya… aduh gimana dong… aku butuh uang banget…. Gimana dong” mata Bulan berkaca-kaca semuanya tidak berjalan dengan lancar, seperti ini rasanya sudah jatuh tertimpa tangga pula.


“Pinjam … pinjam uang kamu lah… aku janji segera mengembalikan begitu aku punya uang cash… please aku pinjam uang kamu.. ” suara Bulan terdengar begitu menghiba.


“Gw juga sama kemarin duit diinvestasikan.. Emangnya gw mau nipu apa? Make duit elu trus duit sendiri disimpan. Bisa menunggu gak? barang seminggu sampai kondisi grafiknya naik” itulah masalahnya Bapak tidak bisa menunggu, dokter meminta penanganan cepat, Bulan menarik nafas panjang


“Gak bisa… dokternya bilang harus besok atau lusa… gimana dong Njar… aku mesti gimana… aaaaahhhhhh”. Air mata mulai berjatuhan, selama ini Anjar yang selalu bisa memberikan solusi untuknya.


“Gw pinjemin sama Pak Kevin aja gimana? Gw yang ngomong deh…”


“Ahhhh jangan… aku gak mau… malu kalau sampai pinjem uang sama Pak Kevin… mendingan gw pinjem ke Bank aja…” tiba-tiba Bulan terpikir untuk meminjam uang ke Bank. Mungkin ini adalah solusi yang paling cepat, menggadaikan rumah dan meminjam uang ke Bank. Cuma permasalahannya peminjaman ke Bank akan memakan waktu.


“Aku bingung Njar, masalahnya gak cuma itu… Bapak nyuruh aku nikah… setiap sadar pasti minta aku nikah sama Kak Juno… aku bingung… kamu tau kan perasaan aku gimana sama dia… ambigu”


“Yaelah si Bapak bukannya mikirin cepat sembuh malah nyuruh lu kawin lagi… emang bisa enak-enak sambil mikirin orang tua sakit? ”


“Enak-enak gimana?” Bulan bingung apa hubungannya enak-enak dengan sakitnya Bapak.


“Yah enak-enak… apalagi kalau nikah kan ujungnya bisa enak-enak berdua” jawab Anjar santai, mendengar jawabannya antara kesal dan ingin tertawa. Berbicara dengan Anjar selalu bisa menghiburnya.


“Nikah sama kamu kayanya bikin hidup santuy… Eh gimana kalau kamu mau gak nikah sama aku? Jangan khawatir kamu gak usah mikirin mas kawinnya. Cukup datang ngomong mau nikahin aku aja, biar Bapak tenang gitu” tiba-tiba saja ide gila muncul di pikiran Bulan.


“Iyaaa benar Njar… supaya Bapak tenang. Njar.. kamu datang ke Bandung bisa gak? Bilang kalau kamu mau nikahin aku… biar Bapak gak kepikiran soal aku…” Bulan berdiri dengan penuh semangat, tiba-tiba satu solusi bisa terpecahkan.


“Maksudnya gimana? Cuma ngomong aja? Gak ngawinin beneran?” Anjar terdengar bingung.


“Gak asyik dong… cuma ngomong doang gw gak bisa ngoles atau enak-enak” Bulan langsung mencelos mendengar jawaban sahabatnya, omongan macam in apa ini ngoles? emang nya roti.


“Otak kamu tuh mesum, kamu cuma bilang kalau kamu pengen nikahin aku ke Bapak, biar Bapak aku tenang pikirannya. Selama ini Bapak khawatir kalau aku ikut pergaulan bebas”.


“Yahhh….mau yah Njar…. Kamu nikahin aku… “ suara Bulan terdengar memelas.


“Gak tau malu kamu sampai meminta-minta seperti itu?” tiba-tiba suara bentakan dibelakangnya membuat Bulan memalingkan wajah,… Juno…


“Kak Juno…” Bulan tersentak. Juno meraih hp yang dipegang Bulan dan mematikannya.


“Apa aku terlalu buruk sampai kamu meminta laki-laki lain untuk menikahi kamu?” kalau saja bisa mengikuti kata hati ingin rasanya Juno membanting handphone yang ada di tangannya itu.


“Bu...bukan... bukan begitu…” Bulan tergagap.

__ADS_1


“Lalu apa? Sudah jelas kalau Bapak salah paham melihat foto kamu dan aku di kamar, kenapa kamu malah meminta orang lain untuk menikah sama kamu?” muka Juno terlihat sangat kesal.


“Aku cuma… cuma…” Bulan bingung memikirkan alasan yang tepat, ia cuma ingin terlepas dari masalah Bapa menginginkannya menikah.


“Cuma apa? Cuma mau cari masalah lagi?” kemarahan Juno seperti tidak terbendung. Mendengar ucapan Juno yang mengatakannya mencari masalah lagi membuat Bulan menangis.


“Kak Juno yang salah…. Kenapa datang ke kost-an aku… kenapa gak pulang aja….hwaaaaa” Bulan akhirnya terduduk kembali di bangku taman, ditatap lekat oleh Juno.


“Yaa… lalu kenapa kamu malah meminta laki-laki lain untuk bertanggungjawab?” jawab Juno dingin.


“Aku cuma minta Anjar bilang ke Bapak kalau dia mau berniat menikah sama aku… bukan mau nikah sama aku beneran… supaya Bapak tenang gak kepikiran aku supaya menikah terus… hwaaaa….” semua yang dilakukannya selalu salah.


“Kamu harus belajar bertanggung jawab atas apa yang dilakukan Jangan menyelesaikan masalah dengan membuat masalah baru”. Juno duduk di bangku taman sebelah Bulan. Matanya menatap lurus melihat hilir mudik pengunjung rumah sakit. Tadali ia melihat Bulan yang sedang duduk sendiri sambil telepon. Amarahnya muncul mendengar Bulan yang memohon-mohon kepada Anjar untuk menikah dengannya.


“Bapak harus dioperasi secepatnya… hwaaa.. Sedangkan setiap Bapak diajak bicara yang selalu diucapkannya aku harus menikah… aku kan bingung… boro-boro mikirin nikah… mikirin Bapak harus dioperasi aja aku bingung.. ” Bulan menangkup mukanya.


“Ya sudah kita selesaikan saja dulu satu-satu… bangun kamu!” Juno menepuk pundak Bulan.


“Gak bisa selesai cuma dengan menangis saja…” beranjak pergi meninggalkan Bulan di taman, yang kemudian mengikutinya.


“Teh kemana aja meni lama?” muka Benny tampak kusut. Dikamar sudah ada Mama Nisa dan Afi yang tampak segar karena sudah pulang dulu ke hotel untuk sholat dan istirahat.


“Kamu belum makan yah.. Sana makan dulu” Bulan mengambil dompet di tasnya.


“Ini Mama udah beli makanan buat Bulan sama Benny sana makan dulu… dari tadi Benny gak mau makan katanya mau nunggu Teteh… pemalu banget ini adiknya teteh” Mama Nisa mencubit tangan Benny dengan gemas.


“Aduuh.. Mama meni repot-repot membelikan aku makanan padahal nanti gampang ke kafetaria”. Bulan membuka bingkisan makanan, ada banyak makanan dan perlengkapan disana. Tisu kering, tisu basah, minyak kayu putih dan handuk kecil.


“Ini semua buat disini?” Bulan memandang bingung, ada dua kantong besar.


“Iya… nanti kamu akan butuh ini untuk mengurus Bapak” Mama mengeluarkan semua barang-barang dari kantong plastik.


“Benn.. kamu makan duluan aja, tadi teteh udah makan sambil nunggu Bapak di MRI” Bulan membuka kotak makanan.


“Wah apa ini Ma?” tercium harum


“Bebek goreng.. Tadi Mama, Juno sama Afi sudah makan disana, sekalian beliin buat Bulan sama Benny” Bulan mengangguk-angguk kalau dilihat dari kotaknya Bebek Goreng ini memang terkenal di Bandung.


“Juno sama Afi sudah pada makan tadi… ini buat Bulan sama Benny” Mama menawarkan kotak makanan pada Benny.


“Sekarang Benny mesti makan, kan masih ujian jadi harus banyak makan biar sehat” Benny terlihat ragu-ragu menerimanya.


“Makan dulu Ben.. ada ruang bersama di ujung ruangan” Benny mengangguk cepat sebetulnya dari tadi ia sudah lapar tapi malu kalau langsung setuju saat ditawari Mama Nisa makan siang. Apalagi sekarang sudah jam dua lewat, di sekolah, tadi pagi ia sempat makan nasi goreng yang diberikan Bulan.


“Gimana ada perkembangan baru?” Mama Nisa memandang Bulan lekat. Bulan menunduk sambil menarik nafas, dilihatnya Bapak tidur dengan nyenyak. Mungkin lelah setelah menjalani proses pemeriksaan MRI.


“Tadi dokter syarafnya datang Ma, dari hasil MRI terlihat ada pembengkakan pembuluh darah di otak ”


“Katanya kalau tidak segera dioperasi akan pecah dan kalau membeku akan menyumbat aliran darah ke otak” lirih Bulan memejamkan matanya, kekhawatiran yang paling besar adalah itu.


“Bulan mau nunggu dulu konsul sama dr. Samuel Ma… gimana pertimbangan beliau”


Baru saja Bulan berkata, pintu kamar terbuka bersamaan dengan dr. Samuel yang masuk bersama perawat.


“Wah dokter panjang umurnya baru saja disebut sama Bulan” Mama Nisa tersenyum lebar melihat dokter yang simpatik itu.


“Wah saya musti ulang tahun dong kalau panjang umur” dokter Samuel tersenyum memandang Bulan.


“Kenapa Non mukanya ditekuk seperti itu? Sudah ada hasil diagnosis yah dari dr. Dini? Tadi dia ngasih tau saya” ia membuka laporan hasil pemeriksaan MRI dan catatan dari dokter Dini.


“Ok… mari kita berdiskusi sekarang” Ia menarik kursi dari tempat tidur yang sebelah.


“Kondisi Bapak agak urgent untuk melakukan operasi, untungnya posisi sumbatan bukan di daerah otak yang rawan sehingga secara resiko tidak terlalu berbahaya”


“Tapi akan berbahaya kalau penyumbatannya membengkak dan menyumbat pembuluh darah dan paling parah adalah pecah” dr. Samuel menarik nafas panjang.


“Jadi saran saya, sekarang kita siapkan Harlan untuk menjalani operasi besok atau lusa” tatap dr Samuel kepada Bulan dan Mama Nisa secara bergantian.


“Dok… ada masalah..” Bulan menghela nafas.


“Kemarin Benny mendaftarkan Bapak bukan sebagai peserta BPJS” ucapnya sambil menunduk.


“Tadi aku sudah cek ke bagian keuangan kalau untuk non BPJS harus menyiapkan uang minimal 80 juta katanya” Bulan meringis, bayangan uang delapan puluh juta rasanya berat walaupun bisa dipenuhi kalau seluruh uang investasi dan tabungan ia cairkan semuanya.

__ADS_1


“Huffft agak panjang juga urusannya. Bisa diurus tapi butuh waktu, masalahnya waktu yang tidak kita miliki sekarang”


“Mulll….” tiba-tiba Bapak bersuara dan memandang dr. Samuel.


“Sudah bangun kamu Lan… wah bagus kamu ingat nama panggilan aku..” dr Samuel berdiri dan tersenyum memandang sahabatnya.


“Dia suka manggil saya Emul… katanya tidak cocok tinggal di Bandung tapi nama Samuel lebih cocok Emul”


“Bapak kamu sahabat saya dulu… teman hidup susah, yang ngajarin makan gorengan 5 ngaku 3...hahahahahah” dr. Samuel menepuk-nepuk tangan Bapak dengan hangat, muka Bapak tampak meringis.


“Jangan khawatir sudah saya bayar hutang gorengannya sama Bu Asih… kemarin pas Reuni SMA, aku sengaja nemuin beliau … ngamplop khusus bayar gorengan selama 3 tahun sekolah” ia kembali tertawa.


“Lan… kamu besok dioperasi yah… biar bisa bicara lancar lagi… ini kamu ada yang bengkak di kepala jadi menekan sama otak”


“Mulll… teth..teteeeh nikaaa” Bapak kembali membicarakan Bulan, yang disebut namanya oleh Bapak langsung menunduk sudah ingin menangis lagi.


“Iyaaa nanti setelah kamu operasi yahhh…” ucap dokter Samuel sambil mengusap-usap tangan Bapak, tapi Bapak menggelengkan kepalanya kuat… ini adalah gerakan pertama Bapak yang ekstrem.


“Gaaaaa…. Muuull …. Teteeeeh niiiikaaah” susah payah Bapak berusaha memberikan penekanan pada setiap ucapannya, akibatnya mesin yang monitoring detak jantung, tekanan darah, dan kadar oksigen pada diri Bapak bergerak cepat.


“Lan… kamu musti tenang….” dr Samuel langsung memegang dada Bapak untuk menahannya bergerak dan memaksakan duduk.


“Kamu pengen Bulan menikah sekarang?” tanyanya lagi, Bapak mengangguk lemah.


“Iya aku bilang sama anakmu… tapi kamu musti tenang…. Kalau kamu gak tenang seperti ini,


Kamu gak akan bisa melihat anakmu nikah atau gak bisa dioperasi juga… ingat Lan.. kalau stroke itu bisa terjadi kapanpun dan bisa terjadi berdekatan”.


“Kamu mesti mengendalikan diri” Suara dr Samuel terdengar keras.


“Mull… nikaaaahh” ucap Bapak lagi.


“Iya..iya...kamu tuh sendirinya susah disuruh nikah lagi… giliran anaknya aja maksa musti cepat-cepat.” dr Samuel menyuntikkan obat yang ia minta kepada suster saat Bapak terlihat gelisah.


“Bulan.. Yah… Rembulan.. Dari SMA bapak kamu tuh udah bilang kalau punya anak pengen namanya yang berhubungan dengan benda-benda di langit” ia tersenyum mengenang masa lalunya bersama Bapak. Benny yang masuk setelah makan, tampak bingung melihat dr. Samuel terlihat santai akrab bersama kakaknya.


“Nahhh si Benny ini sebetulnya mau dikasih nama Langit tapi karena pas lahiran Ibu kamu meninggal dan proses operasinya dibantu sama dokter Benjamin makanya namanya diganti jadi Benny Taufik” Benny tampak bengong, ia baru tahu kalau awalnya akan diberi nama Langit.


“Kamu tahu artinya Taufik Ben?” tanya dokter Samuel.


“Iya dok.. Artinya berharap apa dilakukan itu sesuai dengan kehendak dan keputusan Allah” jawab Benny, dr Samuel mengangguk-angguk.


“Ya Bapak kamu memang orangnya baik, menerima semua takdir yang terjadi pada keluarga kalian”.


“Ok… Bulan.. Bapak kamu mau dioperasi asal Bulan sudah menikah… gitu Lan?” ia kembali menatap Bapak yang tampak mulai melemah karena efek obat. Bapak hanya mengangguk.


“Gak bisa nunggu nanti setelah kamu operasi aja Lan… biar kamu bisa berdiri salam-salaman sama orang gitu… kalau sekarang kan kamunya tidur dan gak bisa ngundang siapa-siapa” ucap dr. Samuel kembali mencoba membujuk


Bapak menggeleng lemah, ternyata Bapak walaupun diam karena sakit tetap berpikir keras, tapi karena sulit berbicara Bapak tidak bisa bicara banyak. Dokter Samuel menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kamu tuh lagi sakit tapi keras kepalanya gak hilang-hilang” dokter Samuel terdengar menggerutu. Ia menatap Bulan kembali.


“Masalah BPJS bisa saya bantu nanti, biasanya harus ada dana talangan dulu, baru kemudian nanti dikembalikan”


“Masalah yang sekarang adalah Bapak kamu tidak mau dioperasi kalau kamu belum menikah”


“Artinya kalau Harlan mau dioperasi besok atau lusa, Rembulan harus menikah sebelum operasi dilakukan."


“Nikah besok?” Bulan tampak kaget..


“Iya kalau tidak besok maka operasi akan ditunda” jawab dr. Samuel tegas.


“Tapi… tapi kan saya gak punya calon suami dok….” suara Bulan terdengar memelas, dokter Samuel lebih kaget lagi. Kalau anaknya belum punya calon kenapa Harlan memaksa minta anaknya untuk menikah.


“Bisa dok… bisa menikah besok… Saya calon suami Rembulan” jawab Juno tegas.


Semua orang tampak kaget dan langsung menengok ke arah Juno, terutama Bulan.


“Kak Juno….” ucapnya lirih.


“Dokter bisa menyiapkan operasi untuk Bapak besok atau lusa… besok kami akan menikah sebelum Bapak dioperasi…”


Bang Juno tuh yaaa….bikin emak meleleh.

__ADS_1


__ADS_2