
Bulan PoV
Setelah selesai memberikan bekal uang untuk masa depan, Bapak masih dengan semangat bercerita, fokus perhatian terpecah antara mendengarkan Bapak berbicara dan tangan Kak Juno tidak berhenti mengusap-usap bagian belakang punggung.
Akhirnya Bapak menyadari saat aku kemudian menggeliat kegelian, aku paling tidak tahan dipegang bagian pinggang belakang. Sudah kucubit berulang kali pahanya tapi tidak juga mengerti.
“Eh Bapak lupa kalian sudah cape, teteh udah gak bisa diem pengen istirahat yah?” ucap Bapak sambil tersenyum. Agak curiga melihat senyuman Bapak soalnya kalau aku pulang dari Jakarta biasanya baru akan tidur lewat tengah malam setelah ngobrol semalaman dengan Bapak dan Benny.
“Ini Pak… A Juno yang mau tidur kayanya, soalnya dari kemarin kurang tidur ngawasin yang kerja” harus dibuat alasan yang masuk akal. Secara Bapak tidak hafal kebiasaan A Juno berbeda dengan aku.
“Ya sudah tidur aja kalian duluan, Bapak masih mau memeriksa laporan dulu, kemarin guru-guru ikut pelatihan harus membuat portofolio tugas dan ditandatangani Bapak” beranjak dari kursi tamu Bapak terlihat lebih ringkih daripada dulu.
“Bapak gak akan berhenti aja gitu dari kepala sekolah?”
“Khawatir jadi nambah beban pikiran Bapak, capek kan Pak?” banyak beban administrasi yang harus dipikirkan kalau punya jabatan struktural itu.
“Cuma tinggal enam bulan lagi teh”
“Lagi pula sekarang Bapak ada yang bantuin, anak honorer bisa Bapak percaya”
“Tunjangan Bapak sebagian dikasih ke dia”
“Lumayan buat nambah-nambah gaji honorer, mangkaning sudah punya bayi kemarin”
“Pasti banyak kebutuhan” sambil beranjak keluar dari ruang tamu Bapak terus saja bercerita. Tiba-tiba Bapak berhenti dan menatapku,
“Rencananya kalian kapan akan punya anak?”
“Langsung aja yah jangan ditunda-tunda, Bapak pengen ngerasain ngasuh cucu, mumpung masih sehat lagi sekarang”.
Langsung kaget mendengar pertanyaan Bapak, aku cuma bisa nyengir. Dalam hati gimana mau punya anak, nyoblos juga belum.
“Ini juga lagi usaha Pak, doakan saja supaya bisa cepat”
“Gak pake ditunda-tunda Pak, sudah cukup umur kok” A Juno kalau menjawab diplomatis paling jagoan.
“Tinggal sebutkan aja Bapak pengen cucu laki-laki atau perempuan nanti Teteh usahakan” nanggung aku harus terdengar optimis biarpun Bapak gak tau kalau sebetulnya aku belum diapa-apain.
“Ah Bapak mah mau laki-laki atau perempuan sama aja, geuningan punya anak perempuan kalau ngedidiknya bisa mah kaya teteh pinter bisa nyari uang sendiri”
“Anak laki-laki juga harus dididik yang bener supaya bisa bertanggung jawab nanti sama keluarga”
“Jaman sekarang mah perempuan atau laki-laki sama kemampuan capaiannya, sama-sama bisa bekerja di kantor, sama bisa kuliah sampai tinggi tapi mesti sama juga bertanggungjawab di rumah. Bisa saling berbagi tanggungjawab, sekarang dapur bukan hanya wilayah kekuasaan perempuan, laki-laki juga banyak yang bisa memasak” jelas Bapak panjang lebar.
“Ah A Juno mah gak suka ke dapur sukanya ke kamar mandi, ngegosok wc” terbayang kamar mandi di rumah Mama Nisa yang mengkilat.
“Saya tidak paham urusan memasak di dapur Pak, tapi kalau membuat dapur yang bagus dan modern saya bisa Pak” kembali manusia diplomatis ini paling jago untuk menjawab.
“Yah bagus juga yah A, kamu membuat dapurnya terus nanti teteh yang memanfaatkan dengan bikin masakan yang enak” Bapak mengacungkan jempol.
“Bapak ke kamar dulu yah, kalian istirahat aja” ucapan Bapak seperti menjadi gong untuk Kak Juno, yang langsung menarikku kembali ke kamar.
“Sabar atuh…” melihat caranya untuk menyeretku ke kamar, pasti ingin melanjutkan aktivitas perkenalan yang tadi tertunda.
Begitu pintu tertutup A Juno langsung mengunci dan menekanku ke pintu.
“Heuuh otakku udah gak bisa konek lagi” wajahnya menelusuri pipi sampai ke leher.
“A.. ini mau nyimpen uang Bapak dulu” khawatir kedengaran dari luar pintu, malu kan. Eh… malah diambil kantong uangnya dan dilempar ke meja belajar. Braaakk…. Pas mendarat sempurna… kok bisa.
“A.. jangan dipintu nanti kedengaran dari luar” ini baju udah blingsatan kemana-mana.
‘A.. sholat isya dulu… nanti kalau belum sholat aku males mandi malam-malam”
“Disini gak ada water heater” terbayang mesti mandi malam-malam… brrrrrrr dingin.
“Euhmmmm….” tangannya udah kenalan sama hana dan dul.
“A.. aku mau sholat dulu… sholat dulu udah gitu sholat sunat dua rakaat… hehehe kan kali pertama… trus baca doa dulu katanya” kemarin aku membaca adab kalau suami istri pertama kali melakukan hubungan intim. A Juno menarik nafas, dan mengecup perlahan.
“Kamu banyak ritual banget sih, apa gak bisa lah on the show aja” mukanya langsung berkerut kesal, pastilah kesal karena dari tadi tertunda terus.
__ADS_1
“Bukan ritual tapi supaya lebih baik aja, kan ini pertama kalinya buat kita” berusaha menenangkan yang sudah diubun-ubun supaya bisa turun dulu hasratnya.
“Yahh… boleh yah… solat isya dulu terus solat sunat” bujukku
“Nanti berdoa supaya diberikan anak yang sholeh dan sholehah” musti dibujuk ini mah pake ciuman supaya gak pundung dan hmmmppp…. Niatnya ciuman bujukan malah semakin menjadi-jadi sampai gak bisa nafas, tapi akhirnya dia bisa mengendalikan diri.
“Ayo kita sholat!” ucapnya sambil menarik nafas panjang. Akhirnya yessss…
Seusai sholat isya, A Juno menatapku, mukanya tampak tenang, tiba-tiba muncul perasaan sangat bersyukur mendapatkan pasangan yang mau diajak untuk berkompromi.
“Sholat sunnah niatnya apa?” tanyanya bingung.
“Hmm aku juga gak tau, niatin aja mau menjalankan ibadah sunah” aku cuma bisa nyengir
"Allah mah Maha Tahu, kita niatkan saja shalat sunnah mau ehm-ehm supaya diberkahi dalam hubungan kita kedepan bisa menghasilkan anak yang soleh dan solehah"
"Masa niatnya nyebut ehm-ehm...malu aku nyebutnya juga" jawabnya antara menggerutu tapi tersenyum, langsung aku sabit cubitan di perutnya, udah nanya tapi kalau dijawab protes mulu.
“Ibadah suami istri itu wajib itu bukan sunah” ucapnya sambil menggerutu.
“Wajib mah solat dan puasa ramadhan atuh A” ini mau solat sunnah tapi berdebat melulu hadeuuh
“Istri wajib patuh sama suami” sambungnya lagi, masih gak mau ngalah
“Iya atuh wajib lah boleh wajib ayo cepetan mau ngomel atau mau buruan naik ke kasur ini” mesti segera di stop ngomelnya. Akhirnya shalat sunnah berjamaah dilakukan, mungkin saja saat di kost-an tidak sampai kejadian karena belum membaca doa dulu. A Juno tampak khusyu berdoa, membaca dari hp karena tidak sempat mencari di buku doa.
Bingung juga nanti harus memulai bagaimana, akhirnya kuputuskan untuk merapikan alat sholat lebih dahulu dan membungkus diri di dalam selimut. Kulirik dari balik selimut, ia masih melihat hp tampak seperti menghafalkan, syukurlah ada keinginan untuk menghafalkan doa hubungan suami istri agar dilindungi dari gangguan setan.
“Kok udah digulung sama selimut” hadeuuuh udah ngedeketin… ya allah degdeg-an amat.
“Ehhehehehe malu A, takut disuruh buka baju” mimpi apa coba ngeliatin badan di depan orang lain.
“Pilih mana lampu dimatiin tapi gak pake baju atau lampu dihidupkan tapi ga pake baju” ngasih pilihan gak ada untungnya.
“Dimatiin” dan lampu kamar langsung gelap.
“Udah dibuka belum bajunya? Mau aku bukain?” ya ampun ini kaya tawar menawar di pasar perbudakan.
“Kamu mau sembunyi di dalam selimut sampai kapan?” muka A Juno tiba-tiba sudah ada di depan mata.
“Hadeuuh kaget…” melihat ada tubuh laki-laki tanpa pakaian yang merapat erat langsung membuatku mengeluarkan kepala.
“Kenapa? Panik lagi?” suaranya kenapa jadi beda begini terdengar seperti suara laki-laki dewasa yang penuh pengertian. Hanya terlihat bayangan hitam pada awalnya tapi lama-lama aku bisa melihat A Juno yang menatapku dengan lekat.
“Tadi aku udah kenalan sama Hana.. Dul...Set” ucapnya lagi sambil mengusap lembut rambut, memainkannya dan mengusap tengkuk dan bahu perlahan, membuatku menjadi meremang.
“Mau kenalan sama punyaku?” suaranya seperti sedang tersenyum dan betul saja dia tersenyum menggoda.
“Nggak…” jawabku, bayangan kemarin di kost-an sudah membuatku panik.
“Tak kenal maka tak sayang” ucapnya lagi, sambil meraih dan memberikan salam perkenalan.
“Perkenalkan ini Bu…” ucapnya sambil merapatkan tubuh, terasa langsung si Bu menekan tubuh.
“Dia punya otak sendiri yang sulit dikendalikan”
“Punya sikap pemalas, biasanya kalau otak atas sedang bekerja keras banyak yang harus dikerjakan dia malas untuk berpikir”
“Tapi kalau sedang santai dan kemudian cukup tidur dia akan aktif dan menuntut untuk bisa bekerja” penjelasannya sangat ilmiah.
“Seriusan? .hehehehe aku baru denger kalau ceritanya kaya gitu”
“Kemarin kata Mas Arif bisa hidup dan menyembur...hihihi kaya gunung berapi aja” badan A Juno terasa menempel erat, tanganku masih digenggamnya untuk bisa berkenalan dengan Bu.
“Ya, memang betul, coba kamu pegang. Dia sangat sensitif terhadap sentuhan”
“Itu sebabnya kenapa laki-laki itu cenderung bersikap dingin dan tidak peka seperti perempuan, karena pada saat disentuh seperti ini dia akan langsung hidup dan bersemangat” ohhh… ya ampun betul yang dibilang oleh A Juno terasa ada tanda-tanda kehidupan.
“Coba kalau semua laki-laki bersifat hangat dan peka terhadap sentuhan, bisa dibayangkan betapa repotnya kita karena dua kepala sama-sama hidup dan bersemangat untuk bekerja”.
“Ahahahaha… alasan yang masuk akal” lucu juga penjelasannya
Tiba-tiba saja A Juno memasukan kepalanya ke dalam selimut dan menghidupkan lampu dari HP di dalam selimut.
__ADS_1
“Kamu tahu Muneey, dari dulu aku suka kemping, tapi ternyata ini adalah kemping favorit aku” kembali panggilan Muneey keluar, kata yang menjadikan aku merasa jadi perempuan istimewa di matanya.
Aku hanya bisa menahan nafas semua sentuhannya membuatku merasa tercekat, pantas saja ada ungkapan jangan mendekati zinah karena sentuhan yang dilakukan oleh lawan jenis itu ternyata berbeda. Membuatku sulit untuk berpikir dan merasa hilang kendali pada tubuh dan otak, hanya membiarkannya mengeksplorasi semua bagian tubuh yang ingin disentuh dan dikenalnya. Menahan rasa jangan sampai keluar suara, terlalu memalukan... ahhhhh...
Muneey… muneey dan muneey hanya itu yang terdengar di telingaku sampai kemudian ia mengeluarkan diri dari selimut dengan nafas tersenggal, menangkup wajahku dengan tangannya memberikan sentuhan yang memabukan pada bibir dan kemudian berkata.
“Aku mau set… bu mau set.. Kamu siapkan?” aku hanya mengangguk apalagi yang harus kutolak ini adalah di ultimate relation dari pasangan suami istri. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku kenapa namanya Bu… Bu mau Set… BuSet? ...ahahahhahahahaha
“Aa… kenapah Bu ….arghhhh” terasa sengatan di bagian inti saat aku ingin bertanya tentang nama yang diberikan, menatap wajahnya yang sudah membaur diliputi gairah membuatku lupa akan pertanyaan hanya bisa menyiapkan diri, mengingat rasa sakit yang kuingat dulu saat di kost-an.
“Arghhh….hmmmppp” mulutku langsung ditahan saat terdengar ketukan di pintu.
“Teeehhh… ade mau beli nasi goreng seafood kesukaan teteh… mau gak?”
Beny…..
“Arghhh……”
“Tehhh… belum tidur? Mau gaa?” Benny please… teteh gak bisa ngomong sakit…. Dan hentakan terakhir terasa menyengat seakan membelah tubuh… ya allah sakit bangeeet.
“Argghhhh…. “ jeritan yang terakhir tidak bisa tertahan,
“Teteh kenapaaa? Ada cucunguk (kecoa)?” Benny tahu kalau aku paling takut sama kecoa, pasti dipikirnya, karena terlalu lama kamar sudah lama aku tinggalkan.
“Tehhh… kan ada Aa bangunin aja…” teriakan Benny dipintu membuat A Juno menggelengkan kepala kesal.
“Uuu….udah Ben..uddah dibunuh kecoanya” dia masih bisa ngomong, sedangkan aku cuma bisa menahan sakit sambil mencengkramnya.
“Saaakiit” bisikku, cuma itu yang bisa aku ucapkan sambil menatapnya.
“Iya gak apa-apa katanya memang sakit ditahan aja” bisiknya lagi ditelinga, waktu terasa berjalan melambat
“Teehh jadi mau gak nasi gorengnya?” Ya Allah Benny…. Boro-boro mikirin nasi goreng, teteh cuma pengen segera udahan ini.
“Ya...ya...belikan saja” kembali A Juno menjawab dengan kesal.
“Aa jangan gerak-gerak…” semakin bergerak terasa semakin menyakitkan.
“Teh kalau cucunguk masih gerak itu masih suka hidup lagi… pukul sekali lagi” beneran Ben… teteh cuma pengen mukul orang yang gerak-gerak terus di atas teteh.
“Iiyaaa...udah mati” cuma itu akhirnya yang keluar dari mulut A Juno,
“Tahan yaa lama-lama juga gak sakit” gak sakit dari Hongkong kenapa di cerita film yang ada adegan gak keliatan seperti ini mereka terlihat bahagia. Kalau acara bikin anak seperti ini adanya, kenapa ada banyak orang yang punya anak sampai lebih dari dua. Tapi usapan dan sentuhan lembutnya memang memabukkan membuatku melupakan perasaan sakit yang mendera.
“Ben… udah jangan ganggu teteh lagi istirahat, belikan saja” suara Bapak dari ruang tengah menyelesaikan masalah, disaat yang bersamaan tubuh sudah menyerah menerima semua perlakuannya.
Tatapan matanya semakin lekat dan tersenyum samar seiring dengan pusaran gairah yang semakin membuatnya menggebu dan memacu… Muneey...oh...muneey seperti putaran cd rusak yang mengulang-ulang kata yang sama sampai akhirnya berhenti berputar.
Demi apa… sekarang aku bisa mengerti cerita Afi waktu itu, ternyata memang fungsi reproduksi tidak semudah seperti cerita di buku Biologi yang mengenalkan alat tubuh manusia. Pantas saja guru Biologi memilih untuk tidak meneruskan pembahasan akan fungsi alat tubuh. Ternyata saat alat tubuh itu berfungsi dengan baik dia bisa mengobrak-abrik warisan nenek moyang yang selama dua puluh lima tahun aku jaga baik-baik.
“Muneey….” ucapnya sambil memeluk dan mencium kepalaku setelah badai usai.
“Masih sakit?” tanyanya lembut, aku hanya bisa mengangguk lemah.
“Adik kamu itu hadeuuh… untung saja ada Bapak” nafasnya masih tersenggal.
“Hmm…” cuma bisa ngomong itu, badan rasanya lengket oleh keringat dan lemas tapi A Juno malah nempel kaya perangko.
“A...gerah” berusaha sedikit menjauh
“Hmmm…” sekarang dia yang menggumam tapi tidak melepaskan dekapan, menyentuh dan menghirup seperti tidak ada habisnya.
“A… udah atuh lepas” keringat ini mengucur tapi mau membuka selimut tapi tidak ada yang menghalangi.
“Love you Muneey… love you to the moon and back '' matanya menatapku dalam. Tatapan yang sama saat ia mencurahkan hasrat dan gairah yang menggelora tadi.
Terdiam kaget mendengar ungkapannya, untuk pertama kalinya dalam hidup mendengar ungkapan cinta yang sederhana tapi terasa dalam.
“I Love you” ucapnya lagi sambil kembali menyentuh bibir mengalirkan energi listrik yang terasa sengatannya dari ujung kepala sampai ujung kaki….
“Teteeeeeh ini nasi gorengg…..” teriakan di balik pintu kembali terdengar.
Benny……………………………..
__ADS_1