
Akhirnya setelah melewati diskusi perdebatan yang panjang tentang tempat menginap hari itu, Juno akhirnya mengalah untuk kembali ke kost-an Bulan.
“Masuk A” ucap Bulan sambil merapikan sepatu yang ada di depan pintu.
Juno membawa koper miliknya dan milik Bulan ke dalam kamar, Ia sudah dua kali menginap di kamar ini sebelumnya, tapi entah mengapa seperti merasa canggung, Ia memandang ke sekeliling kamar.
“Aku kira kita bisa mencari apartemen yang terdekat dengan kantor” ucapnya lagi, dahinya berkerut, rupanya kalau harus tinggal dalam waktu yang lama dia merasa berkeberatan.
“Aku tahu kosan ini tidak memadai, tapi paling tidak untuk sementara waktu, sampai kita bisa memilih tempat tinggal di mana nanti kedepan”
“Fasilitas di sini lumayan lengkap kok”
“Ada dapur di luar, kamar mandi pun kita punya di dalam”
“Hanya memang tidak sebagus kamar mandi di kamar Aa”
“Jangan khawatir nanti aku bersihkan”. Bulan tersenyum diplomatis, mencoba membuat Juno nyaman
Dirapikan kamarnya, dengan menggeser beberapa barang supaya lebih nyaman untuk ditempati berdua.
“Bukan soal kamar mandi” jawab Juno
“Tapi aku perlu membawa meja gambar dan beberapa kelengkapan lainnya”
“Tidak memadai kalau untuk masuk kamar ini”
“Oke... paling tidak untuk hari ini kita istirahat dulu” jawab Bulan.
“Aa kan belum istirahat semenjak pulang dari Surabaya”
“Maaf tidak bisa memasukkan pakaian ke dalam lemari”
“Lemari akunya kecil”
“Tidak masalah, hanya untuk sementara waktu bisa tetap disimpan di koper” Juno duduk di tempat tidur sambil memandang Bulan, akhirnya ia merebahkan dirinya di tempat tidur, pertikaian dengan Pak Bhanu lumayan menguras energi. tadi malam dia hanya tidur 3 jam, harus menyelesaikan laporan review Project untuk kemudian didiskusikan dengan tim lapangan di Surabaya.
Awalnya dia akan mengambil flight nanti malam, tapi ternyata laporan bisa diselesaikan kemarin, diskusi dengan tim project yang biasanya dilaksanakan setelah laporan disusun untuk disepakati hasilnya, Ia ganti dengan pola yang baru. Mereka mendiskusikan berbagai temuan dan permasalahan proyek sehingga dicapai kesepakatan untuk solusinya.
Proyek di Surabaya adalah proyek baru yang belum pernah ditangani oleh konsultan desain di kantor. Proyek ini melakukan perancangan dan pembangunan Cafe serta One Stop Office di daerah strategis di Surabaya. Yang menarik, Cafe yang dibangun memiliki keunikan dalam rancangan eksterior yang berbeda dengan eksterior Cafe pada umumnya.
Penataan lampu bagian luar dan dalam Cafe dengan berbagai ukuran dan warna menjadikan Cafe berbeda. Hal yang menyulitkan adalah keinginan dari klien untuk memunculkan suasana taman di dalam Cafe dengan memanfaatkan tanaman dan pohon yang telah ada sebelumnya.
Proses pengerjaan yang harus melibatkan peralatan berat menjadikan beberapa tanaman mengalami kerusakan sehingga harus segera diganti atau disehatkan kembali. Nilai proyek yang tidak terlalu besar menjadikan Project di Surabaya ini menjadi prioritas untuk atasan di Jakarta. namun bagi Juno pengalaman dalam rancang Cafe yang memiliki tema Indoor Garden menjadi pengalaman yang menarik dan akan menjadi portofolio yang baik bagi dirinya.
Begitu kegiatan selesai Juno memutuskan untuk mengambil flight yang terdekat, dan ternyata ada kursi masih kosong yang bisa diambil sehingga bisa pulang langsung ke Jakarta. ia tidak pernah menduga saat masuk ke dalam rumah yang terdengar adalah teriakan Papa Bhanu. Sempat menunggu beberapa saat untuk bisa memahami apa yang terjadi di didalam rumah, namun akhirnya Ia memutuskan untuk masuk setelah mendengar ucapan yang tidak pantas dari Papa kepada istrinya.
“Aa istirahat saja” terdengar suara Bulan di antara ambang batas kesadarannya untuk tertidur.
“Aku mau belanja dulu bahan makanan ke toko sebelah”
“Itu bajunya tidak akan diganti?”
“Hmmmmm... aku lupa bawa baju ganti untuk di rumah” jawab Juno malas,
“Aku malah masukin baju untuk kerja saja”
“Ya sudah pakai bajuku saja” Bulan mengeluarkan beberapa kaos dan celana olahraga yang dirasa besar.
“Aa pilih saja mana yang cukup”
“Sekarang istirahat, nanti kalau sudah selesai masak makanan aku bangunkan”
Siang itu mereka habiskan berdua, makan siang tanpa banyak bicara. Juno pun lebih banyak diam, Bulan tidak berani untuk bertanya, Ia tahu kalau ada banyak hal yang membebani pikiran Juno saat ini.
Mereka berdua seperti anak kost yang tinggal bersama, ada kecanggungan yang tiba-tiba saja muncul, saat mereka hanya berada berdua di kost-an. Entah apa yang membuat mereka menjadi lebih canggung dari sebelumnya.
Akhirnya cara yang paling mudah adalah kembali menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Juno duduk di karpet sambil selonjoran, sedangkan Bulan duduk di tempat tidur sibuk menyusun laporan yang seharusnya ia selesaikan kemarin.
Tok.. Tok.. Tok terdengar suara pintu diketuk perlahan dari luar.
__ADS_1
“Eeeh Pak Daan... Ada apa Pak?” Bulan bingung tidak biasanya Pak Daan datang ke kamarnya.
“Non Bulan dipanggil oleh ibu… katanya mau bicara cara soal suaminya”
Bulan memandang Juno, Pasti mereka menanyakan soal kehadiran Jono di kost-annya.
“A... aku tidak bawa buku nikah, bagaimana caranya ngasih tahu ibu kost?”
“Hmmm… Bilang saja minggu depan kita kasih buku nikah” hanya itu jawaban Juno tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Bulan menggelengkan kepala, mana bisa itu jadi bukti. kost-an ini lumayan ketat dalam aturan norma penghuni. Tidak boleh ada tamu lawan jenis yang menginap tanpa izin dari ibu kost atau penjaga.
Akhirnya Bulan memutuskan untuk bertemu dengan ibu kost terlebih dahulu, paling tidak menunjukkan keberanian untuk menjelaskan kalau dirinya sudah menikah. Ternyata mudah saja, Ia melakukan panggilan telepon pada Bapak. Untung lah Bapak tidak sedang tidur dengan terbata-bata tapi suara yang cukup jelas Bapak menjelaskan kalau Bulan sudah menikah di Bandung. Pernikahan yang dilaksanakan kan secara mendadak karena Bapak harus dioperasi dan ingin melihat anaknya menikah terlebih dahulu karena khawatir terjadi komplikasi selama masa operasi.
Saat Bulan kembali ke kamar ia melihat Juno berada di luar sibuk berbicara menggunakan handphone. Awalnya ia ingin langsung mendekat tapi terhenti saat mendengar percakapan Juno.
“Gw perlu secepatnya menempati tempat baru”
“Lu pastikan kalau tempatnya nyaman sebagai kantor tapi juga ada kamar yang bisa gw dan istri tempati!”
Terdengar percakapan diantara cara mereka, tapi yang paling menarik adalah ucapan Juno
“Masalahnya gw sekarang gak bisa bayar buat beli ruko paling kita sewa dulu untuk 1 tahun”
“Tempat yang kemarin gw suka”
“Lu atur gimana caranya supaya dalam Minggu ini gw bisa pindah ke sana!”
“Perkara perlengkapan buat isi kamar atau kantor, kita duluin buat kamar dulu”
“Nanti kita cari pinjaman buat beli perlengkapan kantor”
“Kalau kita tidak mulai sekarang, yang gw khawatir bakalan mundur terus”
“Gw udah gerah sama kebijakan si Bos untuk project-project kedepan”
“Dia cuma nyari aman aja, gak mau nyoba project yang menantang”
“Oke.. Lu kontak yang punya ruko soal sewa rukonya kalau bisa perbulan bagus”
Bulan termangu, ia tidak menyangka kalau Juno sudah memiliki rencana kedepan dan sekarang ia mengalami kesulitan terkait keuangan. Kesulitan ini sudah dipastikan karena sebagian uang Juno ia pinjam untuk membayar biaya operasi Bapak.
Memandang laki-laki itu dari belakang membuatnya merasa terharu, terlihat lucu tapi tetap saja keren karena tubuhnya yang tinggi dan kulitnya yang bersih. Bulan tersenyum melihat pakaian yang dipilih Juno, sambil merokok duduk membelakanginya, memakai kaos berwarna hijau tipis, dan celana training warna merah bergaris biru. Semuanya warna feminim tapi ia tetap terlihat mempesona.
“Dipanggil sama ibu Kost yah Dek” suara dari arah dapur mengalihkan pandangan Bulan dari Juno yang masih asyik melakukan panggilan telepon.
“Eh Mas Arif, lagi santai Mas?” suami Mbak Yanti tetangga kamar kost yang paling lama tinggal di kost-an ini.
“Santai lah Hari Minggu sore mau ngapain lagi coba dek” ternyata Mas Arif sedang memasak.
"Kemarin aku ditanya-tanya sama Ibu Kost soal laki-laki yang nginep di kamar kamu"
Bulan mengangguk, pasti Pak Daan yang lapor pada ibu kost.
“Bikin apa Mas kayaknya sibuk banget, Mbak Yanti kemana?”
“Mbakmu lagi tiduran tuh dikamar, pusing katanya, pusing tapi pengen dibikinin bubur ketan item coba!” pantas saja dari tadi sibuk ngaduk-ngaduk.
“Enak kayaknya Mas…” Bulan memandang ke arah panci yang asyik diaduk.
“Itu suamimu Dek?” Mas Arif menunjuk dengan kepalanya ke arah Juno yang tampak menghabiskan rokoknya sambil melamun.
“Iya Mas..”
“Kok gak ngasih tau ke kita kamu mau nikah?”
“Kamu ini?” Mas Arif memperagakan perut yang membuncit menandakan hamil.
“Astagfirullah Mas… piye? Masa aku hamil sih… di DP juga belum” Bulan melotot kesal, dengan Mas Arif ia memang cukup akrab daripada dengan penghuni yang lain.
“Bapakku sakit Mas, terus mesti dioperasi jadi khawatir komplikasi maka Bapak minta aku nikah sebelum Bapak dioperasi. Maklum Bapakku adalah orang tua tinggal satu-satunya, ibuku kan udah meninggal sejak aku kecil”
__ADS_1
“Oh Ya Allah dek… maaf aku nda tahu. Gimana Bapaknya sekarang?” Mas Arif tampak mewadahi buburnya, Bulan memandang penuh dengan harap.
“Alhamdulillah Mas, sudah di rumah dan kondisinya sehat, sehari dua kali aku telepon Bapak”
“Alhamdulillah syukur kalau begitu. Nih aku kasih hadiah pernikahannya, bubur ketan dua mangkuk, anggap aja hidangan khusus buat pasangan pengantin biar makin lengket kaya bubur” Mas Arif memberikan dua mangkuk bubur lengkap.
“Yaaaa Mas Arif hadiahnya kurang banyak atuh”. Bulan terlihat sumringah terutama karena mendapatkan dua mangkuk sehingga bisa berbagi dengan Juno.
“Kamu tuh dikasih tangan minta lengan” Mas Arif melotot kesal.
“Whahahhaha salah Mas… dikasih bubur minta makan malam tepatnya, nanti kalau Mas Arif masak malam aku minta jatah lagi ….wkwkwkwkwk”
“Makasih yo Mas…. Mbak Yantiiiii… buburnya aku minta dua mangkok, tapi gak banyak kok. Mas Arifnya peliiiit” teriak Bulan ke arah kamar Mbak Yanti dan Mas Arif.
“Iyaaaa…. Minta lagi aja kalau kurang sama Mas-nya!” terdengar jawaban dari dalam kamar.
“Aku cuma pengen icip-icip aja kok Dek… masih terasa mual inih” Mbak Yanti melongok keluar dari kamar, mukanya terlihat pucat.
“Mbak… hamil?” mata Bulan membulat, pasangan ini sudah lebih dari dua tahun menunggu kabar baik kehamilan.
“Mudah-mudahan aja Dek… Mbak udah telat seminggu, liat Mas-mu kok kaya liat Buto Ireng gitu loh”
“Whaahahahahha…. Ireng darimana Mbak… Mas Arif mukanya kaya pupuran gitu” Bulan terkekeh mendengarnya, Mas Arif karena anak IT sama sekali jarang terkena matahari.
“Mbak-mu ini Dek.. aku udah seminggu dimarahin terus. Mau punya orok kok jadi galak sama bojo… bukannya disayang-sayang!”
“Mas-nya nanti kalau bikin bayi nya jangan gelap-gelapan… iki loh Mbak-nya gak suka liat yang putih bawaannya pengen liat yang gelap terus” Mas Arif menyapa Juno yang bengong mendengar percakapan mereka.
“Ahahahhaha…. Mas kasian bojoku nanti bingung. Iki kenalin dulu Mas… Mbak… Aa-ku Mas Juno” akhirnya Bulan bisa memperkenalkan Juno pada Yanti dan Arif.
“Sueger lakimu itu dek… kalau liat yang bening ginih, Mbak gak apa-apa” Mbak Yanti tersenyum lebar pada Juno yang hanya tersenyum samar.
“A dikasih bubur ketan hitam sama Mas Arif, lagi ngidam Mbak Yanti-nya senang liat yang hitam-hitam. Untung Aa gak hitam…hehehehhe” Bulan tertawa geli. Juno hanya ikut tersenyum berbasa-basi.
“Mau tinggal disini juga Dek?” tanya Mas Arif sambil menyuap sesendok besar bubur..
“Waaah ohaaaohaaaa…. Puanas iki…. “ ia sampai lupa kalau buburnya masih panas.
“Mas… piye toh sampeyan yang masak sendiri sampai ndak tahu buburnya panas” Mbak Yanti menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya itu. Bulan tertawa-tawa geli melihat pasangan itu, salah satu alasan dia betah tinggal disini adalah karena mereka.
“Engga mas, sementara saja sebelum tempat yang baru siap ditempati” dengan tenang Juno menjawab. Bulan hanya diam mendengar jawaban Juno, sebetulnya ia ingin menanyakan lebih jauh tapi harus menunggu nanti mereka berdua.
“Terima kasih Mas buburnya, saya permisi masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan” Juno mengangguk dan masuk ke dalam kamar.
“Suamimu ganteng dek… cuma serius banget orangnya yah?” Mbak Yanti memandang penuh rasa ingin tahu.
“Kamu tuh kalau lihat yang guanteng, mata gak bisa dikondisikan, dihapenya itu yah Dek.. Penuh sama foto halusinasi dia sama artis. Untung punya suami sabar ndak suka cemburu’”
“Kalau kamu nikah sama si Pranoto mantanmu itu dek… huabiss kamu dimarahi… orangnya cemburuan begitu… aku guyoni kamu aja dulu dia muaraahnya minta ampun” Mas Arif tampak butuh teman curhat.
“Ya jelas muarah Mas… lah wong, dulu waktu aku masih pacaran sama mantanku yah Dek… Mas-nya malah bilang jangan nikah sama anak marketing… nanti dijual… mendingan nikah sama anak IT … komputer aja disayang-sayang apalagi perempuan...nyatanya boong … nyesel aku kemakan gombalan kamu!”
“Lah kurang sayang gimana aku sama kamu Dek… ini bubur aku buatin!”
“Tapi tiap hari yang Mas elus-elus cuma laptop aja… aku cuma dielusnya malem” Mbak Yanti sudah ngambek lagi. Kali ini Mas Arif yang menggelengkan kepala pusing.
“Ahahahahah ya sudah, sana mas Mbak Yantinya dielus-elus biar gak halusinasi berfoto terus sama artis!” Bulan tertawa sambil membawa masuk dua mangkuk bubur ketan hitam, sore ini mereka memiliki kudapan gratis gara-gara orang ngidam.
###############
Kerja Rodi Part 1
Sebagai informasi dalam 2 hari ini saya akan mencoba melakukan kerja rodi... menulis hingga bisa mencapai 60.000 kata... wagileseeh 🙈🙈🙈
Kalau dalam kasus mengerjakan tugas... nyang kaya gini disebut sks yaitu story kebut semalam. untuk itu saya mohon dukungan pembaca menemani saya menulis, dengan membantu menulis komen yaaaaaang panjaaaang biar saya semangat ada teman. Komennya kaya story wkwkwkwk. Jangan lupa bawa kopi masing-masing jangan minta saya suguhin. Komen yang bagus bakal saya mention.. kalau beruntung nanti dicarikan hadiah... minimal doa hadiahnya 🤭.
bilangin you are not alone... 😂💪
Big Hug
__ADS_1
ShAnti
Relawan Kerja Rodi