
Kalau ada yang bilang kalau perempuan sebagai makhluk pemaaf, itu terbukti pada Mama Nisa, seperti yang pernah ia katakan sebelumnya pada Bulan kalau selama ini ia telah memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan Papa Bhanu kepadanya, karena selama hampir satu minggu Bhanu menyibukan diri belajar membuat bonsai bersama Pak Teguh di rumah, tidak ada permasalahan berarti yang timbul dalam interaksi keduanya.
Fokus pada satu kesibukan yang sama membuat interaksi keduanya berjalan dengan baik dan seakan melupakan permasalahan yang pernah terjadi dulu. Kesibukan mengelola taman dan mencoba membuat Bonsai sendiri, menjadikan mereka berdua berada pada ritme yang sama. Ternyata pada akhirnya Mama Nisa menyukai tanaman kecil yang terlihat unik itu.
“Mereka berdua dari kemarin seperti ini terus?” tanya Juno sambil melihat dengan cermat interaksi keduanya. Ia baru saja pulang tadi malam dengan pesawat terakhir, memutuskan untuk pulang sehari lebih cepat dari Bali.
“Iya, sibuk bikin Bonsai. Mama kaya punya asisten baru yang penuh dedikasi”
“Butuh media tanam, tinggal bilang sama Papa, trus langsung deh siangnya Pak Murtoyo datang”
“Tuh yang dalam karung kecil-kecil itu yang dibawa sama Pak Murtoyo, gak tanggung-tanggung bawa lima karung langsung… manteb padahal mahal katanya” jawab Bulan sambil menghidangkan kudapan untuk suaminya.
“Nyuruh Papa angkat ini itu langsung eksekusi, aku dilarang ngangkat-ngangkat barang, bahaya katanya lagi hamil”
“Lama-lama aku tersingkir dari percaturan dunia pertamanan… disuruh masak atau bikin minum di dapur, ya sudah aku mundur teratur”
“Ya syukurlah” ucap Juno pendek.
“Besok mobil sudah datang”
“Jadi Senin kamu udah bisa mulai ngantor, kita berangkat sama-sama”
“Aku sudah gak bisa handle urusan keuangan, terlalu banyak yang harus dikerjakan”
“Beberapa pengeluaran belum aku masukan kedalam neraca”
“Trus aku perlu rencana anggaran biaya buat di Bali”
“Si Doni kerjanya mulai gak bener, banyak telponan mulu sama perempuan”
“Lagi pedekate katanya udah pengen nikah”
“Ehhh serius? Alhamdulillah… iya atuh harus disegerakan, udah tua kan Bang Doni tuh seumur sama Aa” Bulan tersenyum senang.
“Tua dari mana? wajar lah laki-laki kalau menikah usia tiga puluhan”sanggah Juno.
“Sama siapa? Perempuan sekantor?” tanya Bulan.
“Engga lah… masa perempuan sekantor dinikahin sama dia kebanyakan dong” jawab Juno sambil tersenyum jahil.
“Ihhh gak lucu… garing tau gak” Bulan menatap suaminya kesal.
“Biar gak garing disiram tuh sama air” balas Juno.
“Kenapa sih sekarang jadi suka ngabodor garing gitu, bodor bapak-bapak banget” gerutu Bulan sambil beranjak berdiri.
“Tuh kan serba salah, kalau aku lurus-lurus aja disebut tidak komunikatif, sekarang mencoba buat bikin jokes receh disebut humor bapak-bapak”
“Dasar perempuan gak jelas maunya gimana” Juno menggelengkan kepala heran. Perhatiannya kemudian kembali teralih kepada kedua orangtuanya, Mama Nisa tampak beberapa kali kesal dan memukul bahu Papanya, entah apa yang mereka bicarakan tapi interaksi keduanya sudah seperti pasangan suami istri lagi.
Grup Chat Keluarga
Juno:
“Tampaknya Mama sudah mulai nyaman dengan Papa”
Bulan:
“Alhamdulillah, tugas saya sudah selesai yah sebagai petugas perbatasan”
Emil”
“Semoga dapat disegerakan (Emot berdoa)”
Afi:
“Disegerakan apa lu Kiting, belum ada lampu hijau juga dari Om Rahmat”
“Mama kemarin curhat sama aku kalau Papa bakalan susah dapat restu dari keluarga Mama soalnya udah banyak kesalahannya”
Bulan:
“Om Rahmat itu kan kakaknya Mama kenapa dipanggil Om? bukannya Uwa Rahmat?”
Afi:
“Gak tau, Om kan panggilan buat yang tua maupun yang muda, kaya uncle gitu Mbul”
Bulan:
“Oh I C”
Afi:
“Mungkin karena Om Rahmat belum menikah jadi lebih enak dipanggil Om”
Bulan:
“Ciyus belum nikah? aku cuma ketemu sekali pas waktu nikahan dulu di rumah sakit, mukanya agak-agak galak gitu… gak banyak ngomong cuma ngeliat doang”
“Mukanya ganteng banget padahal yah kok belum nikah”
Emil:
“Ganteng-ganteng Serigala”
__ADS_1
“Semakin ganteng semakin mahal”
Afi:
“Kiting mahal atau murah?”
Emil:
“Limited edition aku sih.. cuma buat elu doang (emot love)”
Bulan:
“Hadeuh mulai deh… kesimpulan Papa bakalan mentok sama keluarga Mama yah”
Juno:
“Step by step saja, jangan dipaksakan semuanya sekarang tergantung Mama mau maju atau tetap di zona netral”
Emil:
“Siap Komandan”
Dan ternyata pasukan kembali harus bersiaga hari itu karena tiba-tiba saja Papa meminta ijin untuk pulang saat menerima telepon dari pengacara keluarga.
Masih di Grup Chat
Afi:
“Baru aja tenang, ehhh datang masalah baru”
“Si Jamet bikin ulah, sertifikat tanah milik Papa dia jual, untung aja belum ada transaksi soalnya notarisnya barusan ngontak gw”
Bulan:
“Hah… serem amat, tanah dimana Fi? Luas emang?”
Afi:
“Cibubur… lumayan lah satu hektar lebih”
“By the way ini ada tagihan mobil baru BMW atas nama elu Ka?”
“Sejak kapan lu beli mobil tagihannya masuk ke rekening Papa?”
Juno:
“Minggu kemarin Papa nyuruh beli mobil, aku gak mau tapi Papanya maksa”
Afi:
Juno:
“Dibilangin Papa yang maksa… lu emang gak dikasih mobil tapi perusahaan itu dikasih buat kamu Dek… kerja yang bener jangan banyak salah ngitung ntar rugi lagi… perusahaan lu sendiri”
Afi:
“Ada apa ini memang Papa mau is dead pake bagi-bagi waris segala, cuma kena stroke ringan aja pake bagi-bagi warisan”
Juno:
“Gak usah ribut ikuti saja, doakan aja umur panjang. Urus perusahaan yang bener ntar jangan lupa kirim profit buat gw yah…hahahhaha”
Afi:
“Sialan gw yang kerja ntar Kakak dapat profitnya.. gw potong setiap bulan buat nyicil mobil yah”
Juno:
“Terserah kamu… atur aja sama Bu Bos”
Emil:
“Madam CEO (emot love) gaji dari level staf kaya paksu gak bakalan kepake dong”
Afi:
“Tergantung Kiting mau jadi suami atau gigo… kalau cuma ngasih bathin lu jadi gigo gw, tapi kalau disebut suami gaji tiap bulan mesti disetor gak pake kurang”
Emil:
“Ashiaaap”
Ternyata ada upaya Janet untuk menggelapkan aset tanah perusahaan menjadikan Bhanu harus bertemu dengan pihak pengacara. Tak lama setelah pembicaraan dalam grup Chat, Bhanu dijemput oleh Pak Murtoyo. Mama Nisa yang tidak tahu permasalahan sebenarnya tampak heran dengan perubahan sikap Papa Bhanu yang kembali pada sifat aslinya. Keras dan tidak banyak bicara.
Ia baru mengetahui permasalahan yang dihadapi Bhanu dengan lengkap keesokan harinya saat bersama dengan Bulan dan Afi di Taman. Mama Nisa tampak termenung, saat Afi menceritakan permasalahan yang dihadapi oleh Bhanu. Ia tidak menyangka kalau masalah Janet ternyata masih saja belum selesai. Pantas saja kalau Papa Bhanu tidak berani bicara banyak pada Mama Nisa, mungkin merasa sungkan karena masalah yang dihadapinya sekarang karena kesalahan yang diperbuatnya dulu.
“Mama mau bicara serius dengan kalian, mohon jangan potong ucapan Mama” saat itu Juno duduk bergabung bersama mereka di teras depan rumah.
“Waktu Papa kalian ada seminggu disini kemarin Mama banyak berpikir soal masa lalu”
“Dulu Mama tidak mau ikut campur sama masalah Papa kamu, Mama kemudian menyadari kalau sebagai istri dulu Mama kurang membantu urusan Papa di kantor”
“Papa kamu berjuang sendiri mengembangkan perusahaan sampai bisa sekarang ini”
“Mama merasa nyaman saja dengan semua fasilitas yang diberikan oleh Papa kalian”
__ADS_1
“Melihat Bulan sekarang yang membantu Juno dalam mengembangkan usaha, Mama jadi merasa bersalah juga. Tidak akan mungkin perempuan itu masuk kalau tidak ada celah”
“Bukan membela kesalahan yang dibuat oleh Papa kalian, tapi masalah dalam rumah tangga memang harus disikapi dengan bijak. Permasalahan yang timbul harus diatasi bersama”
“Mama tidak menyadari beratnya beban Papa kalian, dan Papa kalian memilih mencari orang yang bisa memberikan solusi cepat”
Mama Nisa menarik nafas panjang, mereka berempat akhirnya duduk di taman menikmati suasana.
“Beberapa hari kebelakang Mama melihat kalau Papa kalian bertambah tua, tidak terlihat lagi Bhanu Senggala yang sombong dan penuh dengan energi kehidupan”
“Dia seperti laki-laki yang sudah mulai lelah dengan beban di dunia”
“Sepanjang hidup dia memang berjuang, sekolah harus membiayai hidupnya sendiri sampai kuliah. Kemudian bekerja merintis perusahaan demi membuktikan kalau dia bisa pantas bisa menikahi Mama dan diterima oleh keluarga di Bandung”
“Terus terang sekarang Mama jadi sedih kalau membayangkan Papa kalian pulang kerja kemudian tinggal di rumah kosong yang hanya ada pembantu”
“Bagaimana kalau tiba-tiba saja dia jatuh sakit seperti kemarin? apa kita tega membiarkan dia sendiri”
“Dia adalah bapak yang bertanggung jawab untuk anak-anaknya, kalian tidak pernah mengalami kekurangan sedikitpun”
“Selama sembilan belas tahun pernikahan kami dulu dia juga memenuhi kebutuhan Mama tanpa kurang suatu apapun”
“Yah walaupun tahun-tahun terakhir Mama disakiti dan tidak bahagia tapi mungkin adalah cobaan dari Allah untuk kesabaran Mama”
“Mama mau nikah lagi sama Papa” pertanyaan Afi langsung telak pada pertanyaan inti yang membuat Mama Nisa kembali termenung. Sudah dua hari Papa Bhanu tidak tinggal lagi di rumah, kemarin pamit karena ada pekerjaan tanpa penjelasan apapun pada Mama Nisa.
“Tadi malam Mama berpikir panjang dan berdoa untuk diberikan ketetapan hati”
“Berpikir baik dan buruk kalau Mama menikah atau tidak menikah lagi dengan Papamu”
“Kalau Mama memutuskan untuk tidak menikah dengan Papamu maka ada dua kemungkinannya”
“Mama tidak menikah dengan siapapun atau Mama menikah lagi dengan orang lain”
“Kalau Mama menikah dengan orang lain rasanya akan aneh. Papamu pasti akan selalu datang, dengan alasan menengok cucu atau ingin bertemu dengan anak-anak. Pasti akan membuat suasana tidak nyaman untuk semuanya. Dan Mama juga tidak bisa membayangkan untuk menikah dengan laki-laki lain saat ini”
“Tapi kalau Mama tidak menikah, sudah dapat dipastikan kalau Papa kalian akan sering datang dan menginap. Dan itu tidak baik baik secara agama maupun norma sosial”
“Kami berdua sudah bercerai… seminggu kebelakang Mama menerima Papa tinggal di rumah karena khawatir kondisinya masih belum stabil dari sakit. Mama pikir alasan kemanusiaan lebih penting dari pertimbangan lainnya… Allah Maha Tahu… dan Mama bersyukur ternyata kondisinya membaik dan sekarang sudah bisa bekerja kembali”
“Akhirnya Mama sudah putuskan semalam”
“Mama akan menerima keinginan Papa kalian untuk menikah lagi, kalau kalian menyetujuinya” ucapnya setelah menarik nafas panjang. Bulan langsung memeluk Mama Nisa bersama dengan Afi.
“Afi senang kalau Mama menikah lagi sama Papa, setelah Afi menikah, Afi mengerti kalau hidup sendiri itu rasanya gak lengkap tanpa pasangan. Afi gak bisa hidup tanpa Emil, apalagi sejak Bulan nikah sama Kakak. Dia sekarang gak pernah merhatiin aku lagi” ucapan Afi berakhir dengan gigitan gemas oleh Bulan pada tangan sahabatnya.
“Awwwww… Mama tuh Bulan gigitin aku” teriaknya.
“Kamu tuh… aku udah nikahin kakak kamu aja masih diprotes, apalagi kalau aku nikah sama orang lain kayaknya bakalan dikutuk tiap hari sama kamu” ucap Bulan kesal.
“Aku senang Mama memutuskan menikah lagi sama Papa. Aku kira ini keputusan yang terbaik untuk kita semua” ucap Juno
“Papa sudah banyak berubah, Mama juga sudah banyak berubah sekarang. Aku yakin Papa yang sekarang tidak akan berani macam-macam lagi sama Mama” ucap Juno sambil tersenyum, kemudian bangkit dan memeluk Mama Nisa.
“Ada apa ini saling berpelukan? aku ketinggalan berita apa?” Emil yang baru bangun tidur bergabung ke taman.
“Mama setuju buat nikah lagi sama Papa… makanya kalau tidur jangan kelamaan… sini peluk aku… baby sama bundanya butuh pelukan” Afi merentangkan tangan menyambut kehadiran suaminya, berita bahagia orangtuanya membuatnya bersyukur dengan kehadiran suaminya itu.
“Terima kasih dukungan kalian, Mama harap kalian semua bisa mengambil pelajaran dari rumah tangga Mama dan Papa”
“Kita jadikan perpisahan Mama dan Papa tujuh tahun ke belakang sebagai pelajaran yang berharga, untuk lebih saling mengenal lagi pasangan dan selalu mengkomunikasikan semua masalah dengan baik ”
“Kalau ada kekurangan dari pasangan itu jangan kemudian ditinggalkan, tapi tugas kalian sebagai suami untuk membantu agar kekurangan itu bisa jadi lebih baik”
“Bulan dan Afi juga sebagai istri harus bersabar dan bisa menerima kekurangan suami”
“Ibarat kata gelas dan air. Suami itu adalah gelasnya dan istri adalah airnya”
“Gelas tanpa air itu tidak akan punya arti dan berfungsi sebagai tempat minum kalau tidak ada air di dalamnya”
“Istri sebagai air walaupun tanpa gelas bisa tetap menghilangkan dahaga, namun dengan adanya gelas bisa terlihat dan bermakna”
“Sebagai seorang istri kita yang menjadikan rumah tangga itu baik atau buruk kedepannya”
“Gelas hanya menyediakan tempat, air yang menjadikan gelas itu memiliki warna, mau hitam seperti kopi, coklat seperti teh ataupun jernih seperti warna air yang sehat”
“Namun kalau gelas kotor, orang akan tidak mau minum di gelas itu”
“Air yang di dalam gelas juga harus pas, kalau mau jadi kopi jangan terlalu pahit jangan terlalu manis, kalau dia air teh harus pas juga takarannya, air tawar pun harus jernih tidak berbau dan tidak berasa”
“Intinya gelas dan air harus bersih dan segar agar orang mau minum dari gelas dan merasa dahaganya terpuaskan”
“Suami dan istri harus seiring dan sejalan agar tujuan rumah tangga sakinah mawadah warohmah tercapai”
Keempat anak Mama Nisa diam dan tersenyum mendengar nasihat pernikahan. Afi menatap suaminya.
“Mil lu sebagai gelas gw harus rajin-rajin dicuci, soalnya gw sadar kalau gw airnya agak butek” ucap Afi sambil memandang Emil dengan serius.
“Jangan khawatir ntar kita pake pemutih aja, air sama gelas bisa langsung jernih”
“Kita putihin dosa kita pas ntar puasa, banyakin amalan biar ngurangin dosa, trus udah gitu kita berangkat umroh dulu minta ampun”
“Cerdas banget punya laki kiting nih… Puasa Ramadan ini lu yang rajin yah, gw kan lagi hamil jadi gak bisa puasa”
“Siap Madam”
__ADS_1
Kiting sama Kitong emang sejalan, butek juga bisa samaan.