
Sudah tiga jam berlalu semenjak Bapak masuk ke ruang operasi, waktu sudah menunjukkan jam dua lebih dua puluh menit tapi masih belum ada tanda-tanda bawah operasi telah selesai. Juno kembali disibukan dengan pekerjaannya, beberapa kali ia seperti terganggu dengan hilir mudik orang dan suara anak-anak di ruangan tunggu.
“Kak…” ucap Bulan, Juno diam tidak merespon.
“Kaaaak…” ucapnya lagi tapi masih saja tidak ada respon.
“Hei kenapa sih dipanggil-panggil diam aja” akhirnya Bulan kesal, menepuk paha Juno sambil duduk di sebelahnya.
“Aku bilang ganti panggilannya… kamu bukan temannya si Afi lagi kamu udah jadi istri” ucapnya pendek, Bulan menarik nafas, awalnya ia menyangka kalau permintaan merubah nama panggilan hanya sekedar bermain-main tapi ternyata betulan.
“Iya atuh… Abaang..” lirih suara Bulan memanggil Juno, yang dipanggil cuma melirik.
“Apa!” jawabnya pendek tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
“Kerjanya di hotel aja jangan disini, gak akan konsen Kak Junonya”
“Eh gak akan konsen Bang Juno-nya”
“Aasa aneh manggil Bang Juno” Bulan menggerutu kecil, ia belum terbiasa memanggil dengan sebutan itu.
“Ya nanti setelah ada kabar dari ruang operasi.” keningnya kembali berkerut mendengar suara teriakan anak-anak.
“Kamu coba suruh diam itu anak-anak. Gimana sih kok ke ruangan tunggu, ada anak kecil, mestinya mereka tidak boleh masuk ke rumah sakit” mukanya terlihat kesal, Bulan terhenyak, muka penuh senyum tadi saat makan siang sudah menguap entah kemana. Suaminya sudah kembali ke bawaan asal pendiam dan ketus.
Akhirnya Bulan memilih menemui satpam, menjelaskan kalau ruangan tunggu sesuai aturan dipakai bagi keluarga pasien yang sedang dioperasi dan butuh ketenangan sehingga anak kecil seharusnya tidak berada di ruangan itu. Setelah komplain ia langsung melipir ke toilet supaya satpam bisa langsung beraksi.
Saat ia kembali Juno memberikan tanda OK, mukanya tidak keruh seperti tadi.
“Keluarga Bapak Harlan” terdengar panggilan dari perawat laki-laki dari depan ruang operasi. Bulan membangunkan Benny yang tertidur di sofa.
“Kak… eh Abang” ia menatap cemas pada Juno, seakan memberikan pesan ia butuh untuk ditemani.
“Dokter menunggu di dalam” ucap perawat laki-laki sambil membukakan pintu menuju ruang operasi. Ternyata ada ruangan antara di dalamnya, disana dokter Dinny sudah menunggu.
“Dokter... gimana Bapak?” Bulan bergegas mendekat dokter Dinny yang terlihat lelah. Juno menarik tangan Bulan mencoba untuk menenangkan.
“Alhamdulillah operasinya berhasil, tadi agak lama karena walaupun volume pendarahan tidak banyak tapi ada beberapa bekuan darah pada beberapa titik, tapi kondisi pasien sekarang sudah stabil”
“Kita berdoa saja semoga bisa melewati malam ini dengan baik” dokter mengangguk dan kemudian menepuk pundak Benny.
“Jangan khawatir kondisinya baik,... berdoa yah minta diberikan yang terbaik” kemudian dokter pamit bersama para perawat yang menyertai.
Lutut Bulan rasanya lemas, sulit untuk menyangga tubuhnya, penantian selama berjam-jam terbayar sudah. Operasi yang harus dilalui Bapak seperti menjadi puncak dari semua permasalahan yang dihadapinya kemarin. Ia memeluk Benny yang masih terlihat terguncang.
“Alhamdulillah de, mudah-mudahan kita masih diberikan kesempatan untuk bersama Bapak” memeluk Benny dengan erat, pelan terdengar isak tangis Benny, rupanya anak itu merasa sangat tertekan.
“Udah gak apa-apa jangan khawatir. Ini jadi peringatan dari Allah supaya kita sadar jangan sampai abai pada orangtua”
“Benny suka marah dan melawan sama Bapak, gening kalau ditinggalin sama Bapak mah gak mau” Bulan tersenyum.
“Teteh juga suka jarang pulang ke Bandung, lupa kalau Bapak masih pengen ketemu dan kangen sama teteh, kadang telepon juga suka lupa”
“Sekarang diingetin sama Allah supaya jangan lupa untuk pulang ke Bandung, Bapak udah semakin tua, butuh perhatian dari kita”
Juno memperhatikan kedua kakak beradik yang saling menguatkan, menarik nafas panjang, merasa lega semua masalah bisa dilalui dengan baik. Bulan mendengar tarikan nafas nya yang keras, lupa kalau ada laki-laki baru yang sudah membantunya melewati semua kesulitan ini.
“Makasih yah Kak….” melepaskan pelukan pada Benny dan memeluk Juno tanpa ragu-ragu, Juno yang kaget karena tiba-tiba saja Bulan memeluknya dengan sepenuh hati. Ini adalah kali pertama Bulan memeluk Juno tanpa ragu dan malu, rupanya rasa terima kasih yang dirasakan menepis kekakuan yang selama ini ada diantara mereka.
“Makasih Bang…” Benny menyusul Bulan memeluk Buno dengan erat, Juno hanya bisa menggelengkan kepala, kenapa ia merasa seperti jadi kakak untuk dua anak yang manja dan cengeng ini.
“Ya sudah… sekarang kita tunggu Bapak keluar dari ruang operasi” dipeluk oleh dua orang seperti ini membuatnya seperti orangtua.
“Aku mau istirahat di hotel sambil mengerjakan pekerjaan kantor,”
“Kalau ada apa-apa kabari langsung. Kita pakai voucher hadiah dari direktur rumah sakit” meninggalkan kantor selama lebih dari tiga hari membuat pekerjaan Juno menumpuk, tapi ia belum bisa pulang sebelum kondisi stabil.
“Iya Ka… istirahat dulu dan kerjakan di hotel aja, tadi kan Ka… Abang tidurnya cuma sebentar” Bulan masih belum terbiasa memanggil dengan sebutan baru, masih kaku. Juno hanya tersenyum mendengarnya, Bulan memang masih terlihat malu untuk berinteraksi intim dengannya. Semalam ia memang baru tidur menjelang dini hari, artinya perempuan itu memperhatikan keberadaannya.
“Nanti aku kabari nomor kamarnya, kamu nyusul aja” ucapnya sambil beranjak meninggalkan kedua kakak beradik, Bulan langsung pucat kata-kata nyusul saja seperti langkah awal untuk menyerahkan kepemilikan diri kepada pemilik yang baru.
Setelah menjalani operasi ternyata Bapak kembali masuk ruang ICU. Dokter Dinny tadi sudah menjelaskan kalau malam pertama menjadi sangat penting dan kritis dalam menentukan kesembuhan Bapak.
“Ben kamu pulang aja, dari kemarin kamu pasti gak tidur bener” mata Benny terlihat merah, tadi saat menunggupun ia terlihat beberapa kali tidur terlelap di sofa.
“Ade agak pusing sebenernya sekarang” Benny memijat-mijat kepalanya, rupanya setelah kabar operasi Bapak yang sukses semua rasa sakit dan kelelahan baru terasa oleh semua orang.
“Ya itu dari kurang tidur, sudah dua hari kamu gak sekolah. Besok kamu harus sekolah, jadi harus sehat apalagi sebentar lagi akan ujian” Bulan mencoba membantu memijat pundak dan bahu Benny.
“Nihh bahu kamu keras dan merah begini kalau dipijat, indikator kamu masuk angin.”
“Sudah sana pulang minta dikerok sama Ema, trus minum air jahe trus tidur.”
“Tapi jangan lupa sholat dulu” ditepuk-tepuknya punggung Benny supaya aliran darah mengalir dengan lancar.
“Teteh gak apa-apa sendiri disini?” tanya Benny pelan.
__ADS_1
“Gak apa-apa. Lagipula abang kamu kan ada di hotel depan rumah sakit, kalau ada apa-apa gampang nanti manggilnya” Benny mengangguk setuju. Besok ada jadwal uji coba ujian dengan menggunakan komputer, semua murid wajib datang.
Sore di rumah sakit terasa sangat tenang, tidak ada hiruk pikuk dalam pikiran sehingga semua aktivitas yang terjadi di lingkungan sekitar rumah sakit tidak mengganggunya sama sekali. Menghabiskan waktu yang lama di mushola dari magrib sampai isya karena tidak ada panggilan apapun dari perawat yang menjaga di ICU.
Bulan tidak bisa masuk ke dalam untuk menjenguk Bapak, untuk menjaga ketenangan dan keselamatan pasien selama 24 jam diminta untuk disterialisasi, ia hanya bisa melihat dari jendela yang ada di ruang ICU kalau Bapak masih terpasang pada alat-alat yang memonitor kondisinya.
Saat sedang mengaji sambil menunggu waktu sholat isya, terdengar handphone berbunyi, Juno.
“Kamu dimana?” pendek tanpa salam, Bulan menarik nafas.
“Lagi dimushola, nungguin Isya”
“Kenapa?” menjauh sedikit ke pojok agar tidak menggganggu orang lain yang sedang shalat
“Aku cari kamu di ruang tunggu ICU tapi gak ada. Benny mana?” kalau mendengar nada suara seperti ini, orang akan menyangka kalau suara ini dimiliki laki-laki yang penampilannya seperti preman.
“Benny pulang soalnya besok ada ujicoba CBT di sekolahnya”
“Aku mau sholat Isya dulu baru nanti ke ruang tunggu” sambung Bulan, lima menit lagi masuk waktu Isya, kalau dinanti-nanti suka jadi malas dan malah diakhirkan.
“Aku kesana!” langsung saja sambungan telepon mati.
“Waalaikum salam” tatap Bulan sambil melotot ke layar hpnya ingin marah tapi tidak bisa. Yang dipelototi langsung mati layarnya, selama empat hari di rumah sakit, handphone tidak pernah berfungsi sempurna karena lubang charger hp yang sudah rusak.
“Bulan!” panggilan tegas di pintu masuk Mushola mengalihkan pandangan Bulan dari Al Quran pada laki-laki yang berdiri di dekat pintu masuk untuk perempuan, terlihat tampan dengan memakai kemeja flanel kotak-kotak.
“Dari tadi kamu sendiri?” dahinya berkerut tanda tidak suka.
“Iya tadi Benny aku suruh pulang gak lama setelah Kak Juno ke hotel”
“Kasian dia sakit kepala, kurang tidur dari semalam” Bulan memberikan alasan, khawatir Juno marah karena Benny meninggalkanya sendirian.
“Gimana kondisi Bapak, kenapa hp kamu gak bisa dihubungi dari tadi” mukanya masih saja terlihat kesal.
“Kan tahu hp aku rusak, barusan bisa nyala sebentar karena aku charge sambil pegangin, nanti musti di servis dulu” Bulan mengacungkan hp untuk menunjukkan dalam kondisi mati.
“Nanti setelah sholat isya kita keluar, beli yang baru!” sambil beranjak pergi meninggalkan Bulan dan duduk di bagian mushola laki-laki.
“Gak usah, masih bagus kok. Cuma tinggal di servis aja” Bulan agak mengeraskan suaranya agar terdengar, tapi apa daya hanya tatapan kesal yang ia dapatkan karena melawan keinginan Pangeran Mahkota.
“Bisanya cuma melotot, mendelik, serem banget beud punya suami” gerutu Bulan sambil kembali ke tempat dulu asal.
Seusai shalat Isya, Bulan bergegas menemui Juno yang berdiri di luar Mushola.
“Nanti kalau ada apa-apa sama Bapak gimana?” Bulan berdiri mematung, enggan meninggalkan rumah sakit.
“Kamu tadi gak tanya sama perawat jaga memangnya?”
“Kalau selama 24 jam pasien tidak boleh ada yang menjenguk dan menemani, harus steril”
“Mau kamu nungging atau terlentang dimanapun mereka tidak akan ambil peduli selama kamu tidak mengganggu ketenangan pasien”
Bulan menunduk sambil cemberut, ia sebenarnya sudah tahu, tapi tetap saja rasanya was-was kalau meninggalkan rumah sakit saat Bapak tidak ada yang menunggui.
“Aku gak mau beli hp baru, uangku cuma tinggal tiga juta lagi, masih lama ke gajian”
“Ini masih bagus hp-nya, cuma rusak lubang chargernya aja”
“Besok dititip sama Benny buat di servis”
“Kalau Abang mau telepon ke nomor Bapak aja, aku pakai hp Bapak dulu sekarang”
Juno menarik nafas, kalau perempuan lain mau diajak belanja akan langsung senang. Ini malah memilih untuk diperbaiki, coba kalau ia tawarkan hal seperti ini pada adiknya dijamin langsung nyamber dan minta model yang terbaru dan tercanggih.
“Terserah kamu aja deh… aku cape berdebat”
“Sekarang kita makan malam saja, aku malas makan di kafetaria terus.” ia berjalan cepat ke jalan keluar dari Rumah Sakit, Bulan langsung mengejar di belakang, seperti biasa langkah laki-laki yang ada di depannya berjalan dengan cepat. Untung kondisinya sudah lebih baik, jadi bis…. Bruuuuuk, Bulan menabrak punggung Juno yang berhenti tiba-tiba.
“Aduh… kenapa sih? Udah mah jalannya cepat suka berhenti tiba-tiba” keluh Bulan sambil mengusap-usap hidungnya yang terbentur lengan bahu Juno.
“Obat kamu sudah dimakan belum? Kan harus satu jam sebelum makan” rupanya tiba-tiba Juno teringat pada obat maag yang harus dimakan teratur selama beberapa hari.
“Nanti di tempat makan aja, biar ada minum” Bulan mengangguk-angguk sambil mendorong Juno agar kembali berjalan, hanya saja bonusnya sekarang tangannya tiba-tiba diraih Juno. Membuatnya sempat termenung tapi langsung kembali berjalan cepat ditarik oleh bulldozer dengan kekuatan penuh.
“Jalan kaki?” ucap Bulan sambil agak tersenggal.
“Ada restaurant All You Can Eat diatas, Mama paling suka makan disana”
“Dekat jadi mendingan jalan kaki saja, ngambil mobil ke hotel jauh nanti musti berputar lagi” suasana malam di Bandung memang nyaman dan sejuk, apalagi di daerah Dago. Terasa romantis dengan trotoar yang lebih humanis dan lampu-lampu hias yang cantik.
“Jangan terlalu cepat jalannya, aku masih suka agak sesak kalau jalan cepat” keluh Bulan ia hampir tidak bisa menarik nafas dengan tenang.
“Eh… kenapa kamu” Juno tampak kaget melihatnya, Bulan terlihat pucat.
“Kak Juno jalannya cepet banget, aku jadi susah narik nafas panjang” Bulan kemudian memilih duduk di bangku pinggir jalan.
__ADS_1
“Maaf… aku gak sadar, sebentar aku belikan minum” ia melihat ada toko mart di seberang jalan, setengah berlari menyebrang dan masuk. Kurang dari lima menit sudah keluar dengan membawa air mineral.
“Kenapa kamu gak bilang kamu sesak, tau gitu aku tadi bawa mobil aja” keluhnya sambil menyodorkan air mineral yang sudah dibuka.
“Gak apa-apa jalan kaki, tapi Kak Juno jalannya cepat, aku jadi kaya setengah lari.”
“Masalahnya maag aku lagi kambuh jadi suka sesak gitu… agak parah kambuh yang sekarang emang… sesaknya agak lama” ucapnya sambil menunduk, mengambil obat di dalam tas dan segera meminumnya. Juno memandang perempuan yang tampak lelah di depannya, akhirnya ia memutuskan untuk duduk juga di bangku pinggir jalan itu.
Lama mereka terdiam menikmati ketenangan suasana melihat lalu lintas kendaraan yang tidak terlalu penuh karena malam hari.
“Kenapa kamu masih suka manggil aku Kakak… gak suka dengan panggilan Abang” tanya Juno tiba-tiba.
“Eh.. gak apa-apa. Cuma agak aneh aja belum terbiasa mungkin”
“Hmmm iya sih agak aneh juga… kaya manggil tukang bubur yang suka mangkal depan kost an”
“Bang… Buburnya satu komplit….hehehhe” Bulan nyengir sendiri membayangkannya. Juno melengos kesal.
“Ya sudah terserah kamu, mau manggil apa asal jangan Kakak, supaya beda dengan Afi.”
“Dipanggil kakak terus jadi kaya terintimidasi punya istri adek-adek” keluhnya, Bulan jadi tertawa sendiri mendengarnya.
“Kebanyakan dengar lagi Gimana Le itu sih… "Sudah gede suka sama dek adek” ledek Bulan yang langsung menunduk sambil nyengir saat melihat pelototan Juno.
“Aku baru tau kalau nama Kak Juno itu panjang, kirain namanya cuma Juno Aditya aja”
“Sama aku juga baru tahu kalau nama kamu panjang banget, aku kira nama kamu cuma Rembulan aja” balas Juno.
“Kenapa Bhranta nya gak pernah dipakai?”
“Kenapa nama panggilannya malah Juno, middle name nya bukan first name, bagus lagi namanya… Bhrrrrranta…. Bhhhrrranta… suseh juga yah tapi emang” Bulan menggaruk-garuk kepalanya sendiri.
“Artinya apa?” dari tadi pertanyaan tidak mendapatkan respon.
“Ksatria” jawab Juno pendek
“Kalau Juno itu kependekan dari Arjuno?... Ksatria yang banyak pacarnya disukai sama cewe-cewe” Bulan jadi tersenyum sendiri, dalam tokoh wayang Arjuna adalah laki-laki yang terkenal tampan dan disukai oleh banyak perempuan.
“Enaknya saja Juno itu artinya pembimbing, karena aku anak paling besar makanya aku diharapkan bisa menjadi pembimbing di keluarga” jelas Juno sambil mendelik kesal, disebut playboy dia merasa tidak terima, karena hingga ia menikah hanya memiliki satu mantan.
“Ehmmm kalau aditya apa?” tanya Bulan lagi.
“Googling aja, nanya melulu” jawabnya ketus, menghidupkan rokok dan menikmati udara malam di luar, ternyata menyenangkan juga. Bulan mendelik kesal, apa susahnya sih menjawab pikirnya, tapi tak urung dia membuka hp Bapak dan mencari jawabannya.
“Owhhhh…. Aditya itu artinya orang yang pandai dan bijaksana...jadi kalau disatukan Bhranta Juno Adiyta itu Ksatria yang suka membimbing dan pandai serta bijaksana”
“Keren-keren… cuma sayang yah”
“Sayang kenapa?” Juno mengerutkan dahinya.
“Membimbingnya pake acara esmosi, marah dan melotot jadi bikin kesel. Mustinya ditambah kata Fadil… itu nama teman aku katanya artinya orang yang ramah, dan dia beneran ramah baik banget orangnya” Bulan mulai nyerocos, tanpa memperhatikan apakah Juno peduli atau tidak.
“Jadi nama Kak Juno mustinya Bhrata Fadil Juno Aditya” jelas Bulan lengkap, tapi tiba-tiba ia tertawa sendiri…
“Wkkwkwkwk kalau dipikir-pikir itu nama empat orang disatukan semua… kebayang semuanya bersatu dalam satu kelas. Waktu gurunya ngabsen Aditya….. Hadir Bu…. Bhrata…. Hadir Bu… Juno…. Hadir Bu, terakhir Fadil…. Hadir Bu…”
“Kemudian semuanya bersatu menjadi satu orang seperti Naruto dengan jurus seribu bayangan menjadi seorang Bhrata Juno Aditya” Bulan terkekeh sendiri, yang ditertawakan tidak ada tanda-tanda ikut menikmati humor yang dibuat Bulan.
“Nama kamu artinya apa?” tanya Juno pendek, tidak memperdulikan humor receh Bulan.
“Hmm keren yah nama aku, Rembulan Danurdara Maheswari….ckkkk keren banget Bapak emang jago kalau bikin nama” Bulan menggelengkan kepala mengagumi namanya sendiri.
“Rembulan… yah you know lah artinya Bulan” tanpa menunggu komentar Juno ia langsung menerangkan
“Danurdara artinya adalah kaya akan ilmu” Bulan kembali mengangguk anggukan kepalanya.
“Itu sebabnya aku pinter, di sekolah selalu ranking 1 minimal 3 besar lah dari SD soalnya kaya ilmu” jelasnya sombong
“Sedangkan Maheswari artinya adalah bidadari, yang walaupun muka aku gak cantik-cantik amat, lumayanlah bikin lelaki bisa berpaling...hihihihi” Bulan tertawa sendiri
“Jadi Rembulan Danurdara Maheswari artinya bulan yang pinternya cuma jadi bidadari gitu? Cewe penghibur dong” ejek Juno sambil menahan senyum. Bulan langsung melotot kesal.
“Gak gitu juga kali…. Kata Bapak pas aku lahir itu lagi full moon, bulan purnama makanya dikasih nama rembulan.”
“Itu artinya Bidadari Bulan yang Kaya dengan Ilmu” Bulan berdiri kesal, seenaknya saja menyebut dia sebagai perempuan penghibur. Juno tertawa dengan puas, setelah seenaknya tadi mencoba mengganti dan menambah namanya. Ternyata kalau diganti nama dia langsung kesal.
“Gitu aja kamu marah… tadi kamu ngeganti nama aku, aku biasa aja gak marah” Juno menyusulnya sambil merangkul bahu Bulan, yang dirangkul mencoba melepaskan tapi tangan itu tidak bergeming akhirnya ia biarkan saja.
“Jadi mau manggil apa sama aku?” tanya Juno lagi
“Tauk…” jawab Bulan masih kesal.
“Hmmm terserah kamu lah yang penting jangan manggil Kakak lagi” ucapnya, Bulan hanya diam, terlihat berpikir keras, hingga dahinya berkerut.
Manggil apa yaaah? Ada ide?
__ADS_1