
Kenanga mendorong tubuh Athar perlahan, mencoba menjauhkan tubuh pria itu supaya tak lagi memeluknya, dan dengan sadar pula Athar perlahan melepaskan pelukannya, meski sebenernya dirinya tak rela melapaskan Kenanga, tapi apalah daya, Athar tahu betul wanita yang baru saja di peluk olehnya ada wanita milik orang lain, istri orang.
"Sorry" Athar mundur beberapa langkah menjaga jarak antara dirinya dan Kenanga. Athar tidak mau Kenanga di pandang wanita gampangan, terlebih lagi mereka saat ini berada di area komplek rumah Kenanga.
Kenanga tersenyum getir, mencoba menghapus air matanya yang mengalir tak bisa di tahan. Bibirnya ingin mengucapkan sesuatu tapi sayangnya begitu berat untuk terbuka. Hatinya saat ini benar-benar gelisah tak tahu harus bersikap bagaimana kepada Athar.
"Kenanga, aku hanya ingin bertanya bagaimana kondisimu? Mengapa sekarang kau mengidap gagal ginjal akut? lantas kemana suamimu? mengapa yang menjadi penanggung jawabmu adalah ayahmu?" Athar tak kuasa lagi menahan bibirnya untuk tak bertanya.
__ADS_1
Bagaimanapun juga Athar begitu penasaran. Mengapa bukan Riko? mengapa harus ayahnya. Sementara seharusnya yang menjadi penanggung jawab atas Kenanga harusnya sudah beralih kepada Riko, suaminya. Kedua mata Athar menatap Kenanga dengan seksama. Memperhatikan perubahan mimik wajah Kenanga yang terlihat bingung. Wanita itu terdiam bahkan terlihat menggigit bibir bawahnya.
"Oke. Kalau kau tak mau menjawab, tak apa Kenanga. Aku bisa mencari tahunya sendiri. Bila aku sudah dapatkan jawaban. Dan ternyata jawabannya sama dengan apa yang aku pikirkan. Aku tidak akan pernah mau mengalah untuk yang kedua kalinya" Suara Athar terdengar pasti. Wajahnya menunjukkan keseriusan.
Kenanga merasa bila terus disini, akan tidak baik. Athar orang yang pandai dalam membaca gerak-gerik seseorang.
Kenanga memutar badannya dan berlalu dari hadapan Athar tanpa meengucapkan sepatah katapun. Sementara Athar hanya menatap tajam punggung Kenanga yang perlahan menjauh dari hadapannya. Sementara Kenanga melangkahkan kakinya perlahan, kepalanya terasa sedikit pusing, perutnya juga terasa mual. Kenanga terus berjalan, tapi kepalanya semakin pusing, pandangan matanya semakin tidak jelas. Kakinya terasa lemas, hingga tak kuat lagi menahan berat badannya dan membuat Kenanga jatuh pingsan. Kedua mata Athar terbelalak saat melihat Kenanga pingsan tak jauh darinya. Dengan cepat Athar menghampiri Kenanga yang sudah jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
Athar dengan cepat mengangkat tubuh Kenanga yang kurus dan ringan. Dengan setengah berlari Athar kembali ke mobilnya. Setelah sampai mobil, Athar meletakkan tubuh Kenanga di dalam mobilnya, lantas Athar mengambil alat periksa di bangku belakang mobilnya, dengan gerakan cepat Athar mulai memeriksa tubuh Kenanga, sayangnya keadaan Kenanga sepertinya tidak baik-baik saja. Hingga Athar tanpa pikir panjang membawa Kenanga menuju rumah sakit.
Mobil yang Athar kemudikan melaju dengan kecepatan maksimal. Saat ini prioritas Athar adalah segera sampai di rumah sakit supaya Kenanga mendapatkan pertolongan medis yang memedai. Keadaan Kenanga sepertinya memburuk, mungkin karena setres berlebih atau kelelahan.
"Apa ini terjadi atas kesalahanku? yang terlalu menekan dia?" Athar melirik ke arah Kenanga yang masih setia memejamkan mata.
"Bodoh !! Bodoh kau Athar" Athar memukul kemudi mobilnya, merutuki segala kebodohannya, kecerobahannya karena terlalu memaksa Kenanga berbicara dengannya.
__ADS_1
"Kenanga maafkan aku" sebelah tangan Athar meraih tangan Kenanga dan menggenggamnya dengan erat. Berharap sesuatu yang buruk tidak akan menimpa Kenanga.
Bila sesuatu yang buruk menimpa Kenanga, tentu saja Athar tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.