
“Hmmm iya makasih...:” Bulan menggumam sambil tidur, tapi perlahan ia merasakan tempat tidur seperti bergetar. Perlahan ia membuka mata, dahinya langsung berkerut melihatJuno yang sedang tertawa dengan senang di depannya kenapa mereka tidur sekamar berdua, mata langsung membulat terlihat kaget.
“Sudah tidur lagi katanya masih mengantuk” Juno menahan pundak Bulan yang sudah terangkat untuk segera bangun dari tidurnya. Muka Juno pun mulai terlihat mengantuk, tampak tersenyum melihatnya.
“Kenapa Aa tadi ketawa?” Bulan seketika memundurkan tubuhnya merapat ke dinding di belakangnya. Juno masih tersenyum melihatnya.
“Aku tidurnya mangap yah?” muka Bulan terlihat panik, merasa malu karena tadi sore ia terlalu mengantuk untuk bisa mengatur skenario agar tampil tidur dengan cantik.
“Hmmm iya dikit” jawab Juno sambil menahan senyum, Bulan bisa melihat kalau Juno menahan senyum dibalik muka datarnya.
“Kenapa senyum senyum??… “ ia langsung merasa segar, ia curiga kalau terjadi sesuatu saat ia tidur.
“Gak kenapa-napa lucu aja liat kamu tidur, udah tidur lagi baru jam sepuluh” Juno mengusap kepala Bulan tapi malah menyentuh perban di pelipis.
“Aduuuh … hati-hati A” Bulan meringis, Juno langsung berhenti mengusap dan menatap perban di dahi Bulan.
“Masih sakit banget yah?” mata Juno membulat melihatnya.
“Nanti kalau perbannya dibuka rambut aku pitak sebagian A.. kebayang jeleknya, aku gak bisa diikat rambutnya keliatan pitaknya” keluh Bulan, rasa sakit tidak sebanding dengan bayangan sebagian rambutnya terlihat pitak.
“Nanti juga tumbuh lagi kalau rambut” jawab Juno sambil memejamkan mata,
“Aku juga punya luka di pelipis, waktu SMP jatuh dari sepeda dan harus dijahit”
“Ini pegang” Juno menarik tangan Bulan untuk menyentuh pelipis kirinya.
“Eh iya… ini yang ngejendol ini bekas luka jatuh?” Bulan bangun dan melihat dari dekat luka di pelipis Juno.
“Kok ngejendol sih? Nanti aku juga ngejendol dong!” Bulan meringis takut.
“Eyy… pas bagian jahitannya ga ada rambutnya”
“Aku juga nanti gak ada rambutnya?” suaranya terdengar cemas
“Gak apa-apa pitak juga, sekarang kan lagi musim model rambut undercut bawahnya pitak atasnya lebat” mulut Juno tersenyum lebar tapi matanya tertutup.
“Kenapa senyam senyum terus sih dari tadi?” Bulan memandang kesal, Juno membuka matanya dan tersenyum.
“Gak ada apa-apa, pengen senyum aja.. Senyum adalah ibadah” jawab Juno asal. Bulan menghela napas kesal. Sekarang ia merasa segar karena tidur cukup lama.
“Mau kemana kamu?” Juno membuka mata, saat merasakan pergerakan di kasur saat Bulan turun dari tempat tidur.
“Aku belum sholat maghrib sama isya, trus belum mandi juga”
“Ka Juno gak akan pulang?” menatap laki-laki yang tengah bergulung di tempat tidurnya.
“Gak, nanggung, kamu tadi tidurnya kelamaan, sekarang aku ngantuk mau tidur aja”
“Mandi sana biar gak bau!”
Bulan merengut kesal, melihat kaos yang dipakai Juno adalah kaos miliknya, artinya tadi laki-laki itu melihat isi lemarinya, segera ia melihat isi lemarinya, Bulan langsung menepuk dahinya keras, pakaian dalamnya berjejer dengan indah tanpa tema yang jelas. Selama ini ia tidak pernah membeli pakaian dalam yang memiliki tampilan yang cantik, ia lebih mengutamakan kenyaman sehingga hampir semua pakaian dalamnya dengan tema sport.
Walaupun belum bisa membayangkan adegan romantis bersama Juno tapi paling tidak ia ingin memberikan image yang positif dan indah, tapi rasanya semuanya sia-sia. Dimulai dari ia sudah ketahuan tidur mangap dan kumpulan pakaian dalam yang tidak bertema. Padahal dulu ia membayangkan tampil dengan memakai pakaian dalam versi Victoria Secret sebagai tampilan idaman seorang perempuan.
Dipandangnya laki-laki yang tidur bergulung di tempat tidurnya, berarti ini menjadi kali kedua mereka berada dalam ruangan yang sama seperti dulu, yang pada akhirnya menciptakan kesalahpahaman yang membawa mereka berdua ke dalam takdir yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Bulan mendekat ke arah tempat tidur, dilihatnya Juno tidur dengan damai, dipandangnya pakaian yang dikenakan laki-laki itu. Kaos berwarna pink tipis yang lengannya pendek tapi memiliki ukuran badan yang besar. Kalau ia memakai kaos itu mencapai pan tat tapi di badan lelaki itu pas dibawah pinggang. Celana training yang jarang dipakainya karena kebesaran ternyata muat di laki-laki ini hanya terlihat ngatung saja di bagian kaki. Laki-laki itu tanpa sungkan mengambil semua baju itu sendiri seakan mengambil pakaiannya sendiri.
Terkadang hidup menggariskan takdir yang tidak ia mengerti, saat perasaannya begitu menggebu pada Juno, seperti sangat sulit untuk mencapainya sehingga ia memutuskan untuk melepaskan. Tapi saat ia sudah melepaskan dan menikmati kesendiriannya tiba-tiba saja seperti diperangkap untuk bersama tanpa ada pilihan untuk bisa menolak.
Bulan memandang Juno dengan lekat, muka laki-laki itu terlihat bahagia, ujung bibirnya terangkat ke atas, Bulan tersenyum sinis apa yang menjadikan dia begitu bahagia. Apakah karena bisa memaksanya menerima semua pemberian dia, apakah laki-laki ini tahu bahwa semua pemberiannya itu membuatnya semakin merasa terbebani.
Selama hidupnya ia tidak pernah berhutang begitu besar pada seseorang, semakin kesini hutang itu bukannya semakin berkurang tapi malah bertambah besar. Perangkap itu bukannya semakin terurai tapi semakin membelitnya dengan kuat.
Ia tidak pernah membenci laki-laki ini, tidak sama sekali. Ia sangat menghormatinya, laki-laki yang ada pada saat yang terburuk yang pernah ia alami, bisa mengambil keputusan saat ia tidak berdaya dan berkemampuan untuk mengambil keputusan.Namun saat semua tekanan dan permasalahan itu semua mereda, ia dihadapkan pada kenyataan. Takdir yang memaksanya untuk menerima kenyataan bahwa ia telah terikat pada seorang laki-laki yang pernah ia ragukan perasaannya.
Bulan menarik nafas panjang, ia sama sekali tidak memiliki bayangan seperti apa kehidupannya kelak. Kalau dulu saat bertunangan dengan Juno ia sering berimaginasi tinggal di rumah bersama dengan laki-laki impiannya itu, menjadi seorang istri yang selalu tersenyum menyambut kehadiran suami yang pulang bekerja, dengan anak-anak di kanan dan kirinya sebagai hasil buah karya mereka berdua.
Namun setelah menjalani masa pertunangan yang penuh air mata dan kekecewaan semua impian dan bayangan indah itu sirna. Dan perlahan ia menerima kalau itu semua hanya halusinasi semata dari impian seorang perempuan yang membayangkan ksatria berkuda putih.
Pada akhirnya Juno memang menjadi ksatria berkuda putih baginya, hanya saja sikap satria itu tidak seperti pangeran dalam dongeng Cinderella atau Putri Salju yang tersenyum dan memberikan ciuman yang membuatnya bangun dari mimpi panjang.
Ciuman… tiba-tiba Bulan memegang bibirnya, sesaat tadi waktu ia tidur merasakan kehangatan menyentuh bibirnya, tapi rasa ngantuk yang amat sangat membuatnya sulit untuk membuka mata. Terakhir samar ia mendengar kalau Juno berkata sudah mengambil sesuatu, mengambil apa tidak jelas juga, mungkin handphone yang tadi dibelikan.
Handphone barunya itu sudah dibuka dari kotaknya sedang dalam posisi di isi baterai. Bulan membuka, ada handphonenya yang lama tergeletak di sebelahnya. Saat barang lama tergeletak dan bersanding dengan handphone yang lama terlihat betapa sudah lusuh dan tidak menarik tampilannya, padahal sebelumnya tampak seperti biasa-biasa saja.
Bulan menyentuh handphone barunya, ia tersenyum. Ternyata Juno sudah menginstal beberapa aplikasi yang ia butuhkan. Yang menarik adalah wallpaper dari handphonenya itu, adalah foto saat dirinya hadir di pertunangan Afi, yang duduk berdua dengan Juno. Ekspresinya saat itu terlihat bebas dan penuh keceriaan. Ia ingat saat itu Juno memaksanya untuk berfoto berdua, dengan alasan saat dulu bertunangan mereka berdua tidak memiliki foto berdua.
Mungkin memang sudah nasib mereka berdua, karena saat pernikahan pun ia tidak memiliki dokumentasi apapun. Jangankan memikirkan foto, untuk bisa melalui hari itu saja rasanya sudah luar biasa. Kembali Bulan memandang Juno yang tengah terbaring dengan lelapnya, sampai saat ini laki-laki itu tidak pernah meminta haknya sebagai suami, tidak pernah ada pembicaraan apapun yang mengarah kesana. Mungkin ia juga merasakan hal yang sama dengannya, kegamangan karena suratan takdir yang terasa tiba-tiba.
*********************
“Hei… Bulan… Bulan” samar terdengar suara laki-laki masuk ke telinganya.
“Banguunn… sudah jam lima!” Juno mengguncang tubuh Bulan yang tertidur di atas sajadah.
“Heuuh…. “ Bulan terbangun dengan kaget, semalam ia membereskan kostan yang lama ia tinggal, sampai jam 1 malam kemudian ia tidur kembali setelah menunaikan shalat tahajud.
“Aduuh udah jam lima” Bulan meloncat dan bergegas membuka mukena untuk mengambil wudhu. Tidak menghiraukan Juno yang sudah berjongkok lama di dekatnya, ia baru menyadari kehadiran Juno saat kembali untuk menjalankan shalat.
“Ehhh Aa udah sholat?” sambil bergegas memakai mukena.
__ADS_1
“Belum nunggu kamu” jawab Juno pendek, menatap Bulan lekat seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi ditahan.
“Kenapa?” tanya Bulan mencari sajadah di lemari.
“Gak… Kamu sunat dulu saja” ia tampak diam memandang ke arah sajadah, Bulan merasa ada sesuatu berbeda tapi tidak berani untuk bertanya lebih lanjut.
Seusai sholat Bulan masih belum berani untuk berbicara, Juno masih terpekur membelakanginya, sikapnya terasa berbeda dibanding saat akan tidur tadi malam. Hingga saat ini sulit baginya untuk bisa menyelami sifat Juno.
“A.. salim” akhirnya ia menepuk lengan Juno dari belakang, yang hanya menoleh sedikit dan menjulurkan tangannya dengan enggan. Bulan mengerutkan dahinya kenapa seperti marah, apakah karena ia tidak mau membayar cicilan yang ia janjikan. Ya sudahlah sekarang saja ia bayar, apalah artinya ciuman pipi daripada harus ditagih untuk malam pertama yang bukan pertama kali.
“Cium tangan… muachh… cicilan satu” ucap Bulan, Juno tersentak. Ia menoleh ke arah Bulan, bibirnya tersenyum sinis.
“Hmmm… cium pipi kiri… “ Bulan mendekat dengan ragu ke arah Juno,sejenak tertegun seperti khawatir akan reaksi laki-laki yang ada di depannya, tapi kemudian meneruskan usahanya dengan mencium pipi kiri Juno”
“Muaaah… cicilan kedua” ucap Bulan sambil menunduk, menunggu reaksi Juno yang masih diam hanya menatapnya.
“Hadeuhh meni masih manyun atuh pagi-pagi ginih… ya udah aku bayar lunas aja janji aku kemarin… sini mana pipi kanannya” Bulan berpindah ke sebelah kanan, Juno masih diam membiarkan Bulan bergerak sambil bertumpu pada pundaknya.
“Kalau udah cicilan ketiga beres jangan manyun lagi yaah..” ucap Bulan sambil bergerak mencium pipi Juno. Satu hal yang tidak pernah Bulan ketahui kalau Juno adalah laki-laki berpengalaman yang langsung bergerak menoleh ke arah kanan sehingga saat Bulan bermaksud mencium pipinya yang ia dapatkan adalah bibir Juno yang sudah siap untuk menyambutnya.
“Hmmmppppp…” ternyata ada bibir yang langsung menyambut dengan penuh semangat saat ada yang membayar cicilannya.
“Aa… ihhh” Bulan akhirnya berhasil melepaskan diri, setelah beberapa lama dibawah sergapan Juno.
“Gimana siih.. Bikin kaget...:” Bulan mengusap-usap bibirnya, hidungnya kembang kempis setelah beberapa saat ia tadi tidak bisa bernafas.
“Kalau mau kissing kissing itu bilang-bilang… aku kan musti siap-siap”
“Bikin kaget!” tangannya mengusap dada sambil menatap Juno dengan cemberut.
“A Juno sudah sering ciuman sama Kak Inne.. kalau aku baru pertama kali!”
“Jangan disamain sama yang udah biasa dong!” Bulan menatap Juno dengan kesal.
“Siapa bilang kamu baru pertama kali ciuman?” Juno menatap Bulan sambil tersenyum licik.
“Ehhh enak nya aja nuduh! Aku cewek gampangan apa?” Bulan langsung melotot kesal, niat baiknya untuk menghibur Juno yang terlihat kesal malah bubar jalan. Sekarang dia yang merasa kesal karena merasa dicuri start.
“Yah tau dong…” Juno tersenyum puas, mukanya terlihat kembali cerah.
“Tau dari mana? Aku gak pernah melakukan kontak fisik sama lelaki manapun!” Bulan mendorong bahu Juno dengan kesal. Tuduhan kalau dia pernah berciuman sebelumnya dengan laki-laki membuatnya kesal.
“Tau karena aku merasakannya sendiri” jawab Juno cepat, tatapannya tajam menghujam dengan senyuman sinis sekarang.
“Enaknya aja jangan samain kelakuan sendiri sama orang lain. Kak Juno memang sering ngelakuin sama Kak Inne makanya sudah berpengalaman tapi jangan samakan dia sama aku… halusinasi!” Bulan menatap Juno dengan melotot, tapi ia langsung mengkerut saat tiba-tiba Juno menatapnya marah.
“Kamu tuh dari tadi aku dengar kenapa sih senang menyebut-nyebut perempuan itu terus… aku gak suka ngedengernya!” ucap Juno keras. Mendengar Juno bersuara keras, yang awalnya mengkerut jadi merasa dipojokkan, semua niatan baiknya agar Juno tidak marah hilang sudah.
“Yang nyamain kamu sama orang lain siapa? Kamu tuh suka sensitif banget jadi orang!” akhirnya Juno mengurangi tekanan suaranya melihat Bulan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tadi… tadi Kak Juno bilang aku udah pernah ciuman sama orang karena udah ngerasain sendiri maksudnya apa? Dianggap aku udah berpengalaman kan… aku...aku kan gak pernah ngelakuin yang gitu-gituan…. Arghhh…..hwaaaaaaa” Bulan akhirnya menangis karena kesal. Menutup mukanya dengan mukena yang masih dikenakannya.
Juno yang melihatnya menangis jadi kebingungan sendiri, niat awalnya hanya mengganggu dan menggoda Bulan yang sudah mulai berani untuk dekat dengannya malah jadi blunder, berbalik membuatnya seperti memfitnah orang lain.
“Jangan nangis dong.. Kamu tuh gampang banget nangis sih..” Juno menggumam bingung, mencoba menyentuh pundak Bulan tapi malah dikibas dan membalikkan badannya, sambil terus meraung perlahan.
“Aku kan gak bilang kamu perempuan berpengalaman ciuman sama orang”
“Itu asumsi kamu aja..” ucap Juno perlahan.
“Terus tadi bilang pernah ngerasain sendiri APA?” Bulan menatap Juno dengan nanar, matanya merah penuh dengan air mata kekesalan.
“Euh… iya aku pernah ngerasainnya sebelumnya” ucap Juno sambil menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum kecut.
“Ngerasain apa? Sama Kak Inne kali… jangan suka nyama-nyamain aku… enaknya aja!”
“Yang bilang aku nyamain kamu sama Inge siapa.. kamu kalau bicara harus dijaga… AKU GAK SUKA NGOMONGIN DIA!!” kali ini balik Juno yang bersuara keras. Keduanya seperti singa betina dan singa jantan yang saling mengumbar kekuatan.
Tapi melihat tatapan Bulan yang masih terlihat sakit hati dan muka yang penuh air mata membuat Juno akhirnya menarik nafas panjang.
“Ya sudah maaf kalau kamu jadi salah mengerti” ucap Juno perlahan, Bulan menyusut air matanya dengan mukena di tangannya.
“Maksud aku nyebut pernah ngerasain bukan membandingkan sama yang lain” sambungnya lagi sambil melirik Bulan.
“Soalnya aku yang udah pernah ngerasain bibir kamu sebelumnya” sambungnya sambil tersenyum malu menatap Bulan.
“Maksudnya?” Bulan menatap Juno lekat, yang ditatap hanya bisa menggaruk-garuk kepala.
“Sebenarnya...hehe… waktu kamu tidur tadi malam aku sudah duluan ngambil jatah cicilan...heee” Juno tersenyum diplomatis.
“Tapi aku ijin dulu ke kamu… aku bilang kok kalau aku mau ngambil cicilan” buru-buru Juno menambahkan. Mata Bulan membulat, ia berusaha mengingat-ingat tapi tidak ada dalam memorinya.
“Aku gak ingat Aa bilang mau ngambil cicilan….” tungkas Bulan. Juno kembali tersenyum.
“Iya kamu masih tidur… tapi kamu jawab kok hmmmm gitu” jawabnya sambil kembali tersenyum mengingat tadi malam.
“Mana bisa nanya sama orang tidur… aku jawab hmmm soalnya aku memang suka ngomong kalau tidur…” jawab Bulan cepat, keningnya berkerut, kemudian tiba-tiba ia ingat ada yang berbeda saat tadi malam.
“Waktu itu kamu malah jawab “iyaa makasih…hehehehheh” Juno tertawa lucu mengingat tadi malam.
“Yang aku jawab iya makasih itu Aa habis nyium aku?” Bulan melotot, ia ingat berkata itu, tapi dalam pikirannya ia menjawab hal yang lain.
__ADS_1
“Kamu ternyata diam-diam menikmati ciuman dari aku sampai bilang makasih ….hehehehe” Juno tertawa senang, ia merasa kembali di atas angin.
“Terus kalau sudah ngambil cicilan tadi malam kenapa waktu tadi aku cium tangan, pipi sama yang lainnya … Aa nerima aja… mustinya Aa bilang kalau tadi malam udah” Bulan menatap kesal.
“Hehehehe aku kan gak minta, itu kamu yang mau sendiri…” Juno tersenyum licik.
“Gak bisa seperti itu dong… “ jawab Bulan kesal.
“Yah sudahlah anggap saja bunga cicilan… susah amat… masih mending udah dikasih pinjam juga” jawab Juno santai, melihat Bulan yang sudah berhenti menangis membuatnya lebih percaya diri.
“Aa sama istri sendiri itungan banget” Bulan beranjak dari duduknya di sajadah sambil cemberut. Waktu sudah menunjukkan jam enam lebih, sebentar lagi suaminya harus berangkat bekerja. Hari ini ia tidak akan masuk kantor karena sudah mendapatkan izin untuk tidak masuk karena sakit.
“Mau sarapan apa?” tanya Bulan sambil cemberut
“Kita sarapan di jalan aja, aku siang harus ke Surabaya, langsung ke Bandara gak ke kantor dulu”
“Siapakan pakaian kamu paling tidak untuk seminggu kedepan” melihat ekspresi Bulan yang sudah tenang, ia menjadi lebih percaya diri untuk memberikan instruksi.
“Udah siap kok tinggal berangkat” Bulan menunjuk koper di sudut kamar, mukanya masih murung terlihat kesal.
Diperjalanan mereka berdua lebih banyak diam, Juno melirik diam-diam istrinya setelah tadi sarapan bubur ayam langganan Bulan yang ada di depan kost-an, perempuan itu lebih banyak diam tidak berbicara.
“Masih marah?” tanya Juno perlahan, Bulan hanya melengos melihat keluar.
“Ya maaf kalau begitu… lain kali aku kalau minta ijin nunggu kamunya sadar dulu deh” ucapnya sambil mencoba tersenyum tulus.
“Jangan marah terus dong, nanti siang kan aku ke Surabaya, masa ditinggalin sama suami yang teringetnya muka cemberut”
“Segitu juga aku masih baik gak minta yang lain-lain” sambung Juno. Bulan hanya melirik tapi tidak memberikan komentar.
“Untuk saat ini aku gak akan memaksa kamu memenuhi kewajiban sebagai istri”
“Kita berdua perlu waktu untuk mengenal lebih dekat lagi… anggap aja pacaran tapi halal”
“Boleh dong cium-cium, peluk-peluk kali aja nanti kamu khilaf minta lebih…. Hehehe” Juno tertawa atas idenya sendiri.
“Kemarin waktu aku tidur Kak Juno ngapain aja?” tanya Bulan tatapannya masih terlihat kesal, iamerasa kecolongan.
“Hmm ya itulah minta cicilan tiga kali ciuman” Juno kembali tersenyum
“Dimana aja?”
“Dahi, pipi ehmmm sama bibir itu juga karena kamu tidurnya miring jadi aku terpaksa cium bibir kamu soalnya kan gak mungkin aku ngebalikin posisi tidur kamu. Jadi terpaksa deh nyium yang keliatan aja” hatinya merasa senang mengingat kejadian tadi malam. Sudah lama perasaannya tidak bahagia seperti sekarang. Apalagi ditambah diberikan bonus cicilan tadi pagi oleh Bulan.
“Gak cium yang lain?” tanya Bulan, matanya menatap lekat.
“Hmmm enggak… memangnya kamu pengen dicium dimana lagi? Dada?” tanya Juno jahil..mukanya terlihat menyebalkan.
“Aa ihhh… tadi malam pegang-pegang yah?” mata Bulan membulat dengan tatapan menuduh.
“Engga… lupa gak kepikir… nyesel juga kalau inget sekarang...hahahhaha” Juno tertawa bahagia, kalau tadi malam dia mampir ke daerah dada dijamin tidak bisa berhenti.
“Aa…. ” Bulan langsung membalikkan badannya sambil berbaring, perasaannya campur aduk antara malu, gugup dan bingung harus bersikap apa. Ia tahu kalau sudah menikah hubungan intim adalah hal yang wajar dilakukan. Tapi masalahnya mereka berdua masih merasa canggung.
“Tenang aja aku gak akan main hantam… aku tipe pemain yang mesti sama-sama suka, jadi kita mengalir saja… jangan khawatir” ucap Juno melirik Bulan yang duduk menghindar untuk bertatapan dengannya.
“Karena kemarin Aa udah ngambil DP tanpa izin jadi hutang beli hp dianggap LUNAS!” tiba-tiba Bulan berbalik dan menatap Juno dengan lekat.
“Eiish mana bisa itu…” juno tampak kaget mendengarnya.
“Terserah pokoknya lunas!”
“Yah tau gini nyesel juga tadi malam gak gerilya” ucapnya pelan.
“Aku dengar itu!” teriak Bulan sambil berbalik kesal. Keningnya berkerut seperti berpikir panjang.
“Ahahahahahhahaha….” benar ternyata menikah itu membawa kebahagiaan, walaupun sampai saat ini dia baru mengambil bunga dari pinjaman yang diberikan.
#####################
Halowww.. apa kabar semuanye, maap-maap nih agak panjang liburan ane nulis story, soalnye hayati lelah...hehehe. Buat nulis itu ternyate butuh jiwa yang bahagie. Ibarat kate buat bisa ngecharge baterei orang kitenya musti tenaganye pull dulu... nah kebetulan ane kehabisan tenage jadi musti diem dulu barang sekejap dua kejap biar bisa kedip kedip lagi...hehehehe.. Makasih yeh udah pada ngirim-ngirim kopi, kembang (romantis amat lu) sama makanan empat sehat lima ngenyangin... alhamdulilleh banget... makasih banget yeh. Komentar sama like nya juga bikin ane ngerasa kaya michael jackson gituh... you are not alone heheheheh. Oh iye vote nya juga makasih, pada merudul semua itu vote kaya tiket taimjon aje.
Oh iye... mau ngasih tau aje sama yang mau masuk GC, kali aja kepo di gc pada ngapain biasanya kita cuma lomba karaoke, pantun sama kelakuan emak emak gabut lainnye. Cuma mohon maap aja nih yeh... ada syarat-syaratnye biar keliatan gc nya agak eklusip gituuh.
Lu pade jangan suka nulis komentar yang ngeselin sama orang lain bahasa kerennya tuh hate speech gituh. Bukan sama aye aja tapi juga sama penulis lain. Bukan ape-ape biasanya kalau biasa ngomong jahad dijamin mukanye juge antagonis pasti gak akan mirip dian sastro lah... itu tuh artis yang ngomong "Deterjen komentar yang kamu tulis itu jahad..."
Lu pade musti orang yang suka baca nopel.. alias lepel pembacanya minimal udah 7. Gimana caranya kalau lepelnya masih cetek alias 2-3-4 atau malahan 0. Itu berarti lu itu tuyul alias mahluk goib. Biar gak goib lu musti banyak baca biar pinter yeeeh. (Pesan sponsor dari NT ini sih wkwkwkwk)
Lu musti nge pollow othor alias si cantik dan baik ShAnti (wkwkwkkwkwkw muji sendiri gak ape-ape daripada minder) trus jangan lupa pollow juga admin galak tapi pintey dan asoy Jio Jerami eh Zio Zeremy... jangan khawatir dia emang galak kalau belum kenal tapi kalau udah kenal mah ... tetep aja galak wkwkwkkwwk.... engga atuh.. ntar ane dimarahin lagi. Pollow admin yang berusaha ngasih yang terbaik supaya dunia halusinasi kite bisa berjalan.
4.Buat temen-temen semue yang pengen tanya-tanya lebih jauh soal di atas bisa tanya di wag aje yeeh. Link wag nya ada di IG asha_shanti_ig
Kalau lu pada nanya kenape setory ini ane ngomong kaya ginih, berhubung ane lagi ngungsi di jakarte. Nemenin si Om biar gak kesepian... trus fyi ternyate pembaca terbanyak dari novel ane dari jakarte...wkwkwkw.. makasih yeee...
ShAnti
(Asli mah Bandung, Jakarte cuma numpang nyari nafkah)
__ADS_1