
Sesalku tak ku tulis..
Amarahku dengan diam..
Sedihku dalam luka...
Rasaku menghilang tanpa tanya..
Andaikan matamu bisa melihat hatiku..
Tak terhitung tusukan luka darimu
Namun aku masih berdiri, bukan karena tak mampu pergi..
Tapi masih mencari, alasan diriku untuk pergi..
Bila sesalmu tak terbendung lagi...
__ADS_1
Doronglah aku hingga aku terjatuh dan tak berdiri lagi...
Hingga aku tersadar bahwa dirimu tak lagi bisa dipertahankan...
_Srayu
Kenanga membuka kedua matanya, namun sinar lampu beserta cat putih bersih membuat matanya silau, Kenanga mencoba mengingat apa yang sudah menimpa dirinya. Dan mencoba mengingat perkataan Athar dalam alam mimpinya.
"Kau sudah siuman nak" Mama Anesa beranjak dari sofa panjang mendekat ke arah Kenanga. telapak tangannya mengusap puncak kepala putri semata wayangnya.
"Kemarin nak Athar yang membawamu kemari, dan juga nak Athar kini yang menjadi doktermu nak. Mama tidak menyangka kalau Athar mengambil spesialis urologi, entah sebuah kebetulan atau takdir Tuhan yang kembali mengirimkan Athar untuk menyembuhkan putri mama"
"Nak, sepertinya perasaan nak Athar masih tak berubah, masih sama. Mama bisa melihat ketulusan dan kasih yang dalam dari sorot matanya. Apakah kau tak berniat menjelaskan kejadian beberapa taun silam terhadap Athar??"
"Ma...." Kenanga menjawab dengan suara lirih sembari menggelengkan kepala.
"Tapi itu tidak adil untuk Athar nak, dia pasti menderita sendirian. Mama tau kalian berdua sama-sama menderita, tapi menurut mama lebih baik kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelum dan sesudah acara pernikahan itu berlangsung. Entah Athar mau menerima ataupun menolak kenyataan, itu hak dia."
__ADS_1
"Ma, sudahlah. Yang sudah berlalu biarkan saja berlalu. Kenanga tak mau mengingatnya. Lagi pula untuk apa Kenanga bicarakan pada Athar, tidak akan merubah apapun. Lagi pula kondisi Kenanga seperti ini, Kenanga tidak mau membebani Athar ma"
"Nak, asalkan kau tau, Athar saat ini sedang melalukan tes kecocokan ginjal, bila cocok dirinya akan mendonorkan ginjalnya untukmu. Apa kau tidak merasa iba dengan segala pengorbanan Athar selama ini??? Dirinya kau lukai, tapi perasaan cintanya tak pernah berkurang sedikitpun. Pikirkanlah nak semua perkataan mama" Anesa mengusap pundak putrinya dan berlalu kembali duduk di sofa.
Kenanga terdiam mendengar kejelasan dari mamanya, dirinya tak menyangka kalau. Athar bisa bertindak sejauh itu untuk dirinya setelah semua yang telah terjadi di antara mereka berdua. Apakah Kenanga harus menceritakan kejadian beberapa taun silam?? tapi rasanya berat untuk Kenanga, terlebih dengan kondisinya saat ini.
Andaikan dirinya menceritakan semua kebenaran yang terjadi apakah itu tidak akan membuat Athar menjadi sulit???
"Selamat pagi" Suara yang familiar terdengar oleh Kenanga, terlihat Athar masuk ke dalam ruangan mengenakan kemeja maroon berlapiskan jas berwarna putih, tak luput kacamata berbingkai emas yang menambah kesan maskulin, serta di ikuti oleh beberapa perawat yang membawa catatan di tangannya.
"Selamat pagi nona Kenanga, bagaimana kondisinya saat ini?? apakah ada keluhan?" tanya Athar begitu formal
Namun Kenanga malah terdiam, mengunci mulutnya rapat-rapat. Kedua manik matanya mencoba tak mau menatap ke arah Athar.
"Putri saya baru siuman dok. Mungkin efek obat pereda nyeri yang di berikan untuk putri saya sehingga dia istirahat dengan begitu tenang sedari kemarin"
"Baik, saya periksa ya" Athar tersenyum ramah sembari menempelkan stetoskop ke dada milik Kenanga, dengan seksama Athar memeriksa kondisi Kenanga dan meminta perawat untuk mencatatnya. Setelah melakukan pemeriksaan, Athar berpamitan untuk pergi memeriksa pasien lain.
__ADS_1
Kenanga menatap punggung Athar yang kini menghilang di balik pintu ruangan yang kembali tertutup. Athar terlihat begitu profesional dalam bekerja, bahkan Kenanga merasa kalau Athar tak memperlakukan dirinya istimewa, bahkan seolah-olah dirinya dan Athar hanya pasien dan dokter tidak lebih atau tidak saling mengenal begitu dekat. Hati Kenanga sedikit berdesir saat di perlalukan sama seperti pasien lainnya.