
“Berapa hari?” tanya Bulan tidak percaya
“Tiga hari” jawab Juno malas
“Tiga malam empat hari sebetulnya” sambungnya lagi
“Lamaa amat, aku sendirian dong di Ruko?” Bulan merengut kesal, selama seminggu kebelakang mereka menikmati masa-masa bulan madu di rumah aja berdua, ternyata hal itu membuat Bulan mulai tergantung.
“Kamu nginep ke rumah Mama, jangan di Ruko sendirian, aku juga khawatir!” muka Juno sudah terlihat seperti ditekuk.
“Setelah dari Surabaya aku lanjut ke Bali juga mengecek progres proyek yang disana” mendengar ucapan Juno, Bulan langsung melotot kaget.
“Ya Allah lanjut ke Bali… berapa hari?”
“”Cuma tiga hari dua malam” jawab Juno perlahan. Bulan mengerutkan dahi bingung.
“Lama juga yah…” jawabnya lemah.
“Udah gak bisa jauh-jauh dari aku yah?” goda Juno, hiburan saat penat di kantor adalah menelepon Bulan di saat senggang. Memandang keramaian suasana di luar kantor sambil membayangkan istrinya.
“Ah nggak biasa aja. Suka geer!” Bulan dengan cepat menanggapinya.
“Hmmm gengsi amat ngaku bucin sama aku” semakin senang mendengar Bulan yang terdengar malu.
“Idiiih bucin… gak salah... A Juno yang bucin, aku mah biasa aja” suara Bulan yang terdengar ketus membuat Juno tersenyum lebar, terbayang hidung Bulan yang kembang kempis sambil bibir manyun dan cemberut
Sore itu mereka melakukan panggilan telepon setelah sebelumnya Juno mengirim pesan ingin berbicara sebentar dengannya sehingga Bulan memutuskan untuk keluar ruangan.
“Udah? Cuma mau ngasih tau soal mau berangkat aja?” suara Bulan terdengar seperti tidak sabar.
“Kenapa memangnya? Kamu kerjaan udah mau selesai kan? udah jam 4” protes Juno karena merasa Bulan tidak sabar dalam menerima teleponnya.
“Iya nanti kan bisa cerita kalau udah pulang, tinggal 3 jam lagi juga”
“Emang Aa pulang jam berapa malam ini? Ngelembur lagi?” tanya Bulan kesal, beberapa kali akhirnya ia harus pulang sendiri karena Juno harus kerja lembur.
“Enggak.. Pengen ngobrol aja kangen denger suara kamu… cempreng!” ucap Juno lagi sambil tersenyum, ia hafal kalau Bulan gampang terpancing marah kalau digoda.
‘Enak nya aja cempreng. Suara aku bagus, dulu ikutan paduan suara… malahan dulu sempat ikut radio kampus, jadi penyiar tamu”
“Jadi gak mungkin suaraku cempreng”
“Bilang aja kalau kangen sama aku, gak usah pura-pura!”
“Orang gengsian emang suka kaya gitu, suka ngehina sama orang padahal mah dia teh suka”
“Aku udah sering digituin, dari SD anak laki-laki suka ngejahatin… ngelemparin kertas, narik-narik tas ngeselin pokoknya tapi padahal mereka tuh suka sama aku” jelas Bulan berapi-api.
“Widihhh geer banget kamu, tau darimana mereka suka sama kamu?, kamunya aja kali nyelebelin galak!”
“Biasanya anak perempuan suka cari perhatian sama laki-laki, suka kecentilan paling merasa cantik” Juno berusaha terdengar ketus, padahal ia tertawa-tawa di kursinya. Tidak sadar kalau dirinya sampai berputar-putar di kursi kerja saking asyiknya menggoda Bulan.
“Tau atuh… aku kan temennya gak cuma perempuan tapi ada juga anak laki-laki yang baik yang gak nyebelin”
“Nah mereka yang cerita kalau si Yudi itu sebetulnya suka sama aku”
“Itu ya A… si Yudi itu anaknya paling nyebelin dulu, suka ngelemparin kertas yang dibulet-bulet kaya bola gitu… trus di lempar diam-diam”
“Terus kalau aku ngeliat ke belakang di pura-pura…. Ih sebel… terasa kesalnya sampai sekarang!” Bulan mendengus kesal.
“Yang paling kesel itu dia suka ngaduin aku sama Bu Guru… bilangin aku nyontek tugas… ihhh enaknya aja, aku kan anak guru masa nyontek sih!”
“Terus kamu tahu dia suka sama kamu gimana?” Juno terdengar penasaran.
“Iya si Hadi cerita, itulah teman aku yang baik itu..”
“Dia bilang kalau si Yudi itu suka sama aku sebenernya cuma malu, katanya dia seneng kalau aku udah marah-marah”
“Ih amit-amit itu anak… bayangin lagi kecil aja udah manipulator gitu, kalau suka bilang aja suka gak usah ngegangguin” Bulan menarik nafas kesal.
“Aa juga kayaknya dulu lebih nyebelin dari si Yudi, sekarang aja suka ngeselin dan nyebelin!”
Juno yang duduk semakin senang mendengarnya, ia merasa mendapatkan kesempatan untuk menggoda Bulan lebih jauh. “Eitssss… jangan salah, aku tuh dari dulu udah mempesona, malah anak perempuan yang suka ngelemparin aku kertas, cari perhatian sama aku”
“Hadeuuuh sombong banget, aku mah walaupun Aa cakep dulu pas SD males banget nyari perhatian sama Aa… orang nyebelin kaya gini!” Bulan langsung menyambar umpan yang disodorkan.
“Hahahahahha masa lupa, waktu kuliah dulu kamu hobi hilir mudik kalau datang ke rumah, jangan suka pura-pura!” Juno menahan tawa, tangannya menekan perut supaya tidak berguncang.
“Apaaa siapa bilang? Aku gak pernah nyari perhatian sama Aa dulu, kegeeran!”
“Udah ah… ngobrol sama Aa mah ngeselin!”
“Assalamualaikum” Bulan langsung mematikan Hp tidak menunggu jawaban dari Juno.
Begitu sambungan telepon terputus, Juno langsung tertawa terbahak-bahak. Seharian ia merasa suntuk dan jenuh karena dipenuhi dengan rapat dan diskusi yang membuatnya lelah. Berbicara dengan Bulan selalu membuatnya keluar dari cangkang dan bisa membuatnya menarik napas.
“Ngetawain apa kamu sampai puas gitu?” ternyata Sarah sudah berdiri di pintu dan memandangnya tajam.
“Ehmmmm…. Gak ada apa-apa lagi iseng aja” Juno langsung kembali ke meja dan minum air putih berusaha mengembalikan lagi sikap formalnya.
“Gw denger dari Doni lu udah sewa Ruko?” Sarah menatapnya tajam. Juno menatapnya dengan malas, mulut Doni memang harus disumpal kadang-kadang soalnya suka tidak tahan untuk mengumbar suatu hal yang ia sukai atau sedang bersemangat.
“Iya gw mau mandiri aja, udah nikah masa iya tinggal di rumah orangtua terus” Juno berusaha menutupi rencananya untuk mencoba membuka perusahaan desain sendiri.
“Alaaah lu gak usah pura-pura sama gw, gak akan gw omongin sama si bos” jawab Sarah kesal, duduk di kursi depan meja Juno dan menatapnya dengan kesal.
“Mau lu apa?” Juno langsung to the point, tidak akan semata-mata Sarah datang ke ruangannya kalau tidak ada maunya.
“Gw mau ikut kalau Lu keluar dari sini. Gw udah bosen… gak menarik disini!” ucapnya sambil stretching, sebagian bajunya terangkat ke atas, tapi ia terlihat tidak peduli. Juno langsung memalingkan muka melihatnya.
“Lu bakalan butuh bantuan gw… memangnya gampang memulai usaha baru.. Lu bakalan butuh orang yang bikin portofolio desain”
“Kita gak bisa pakai desain yang dibikin disini untuk portofolio”
__ADS_1
“Lu bakalan kena tuntutan hak cipta” sambung Sarah, Juno melengos kesal.
“Hampir semua desain yang dipakai di sini hasil gw semua” ucapnya kesal.
“Ya tapi karena lu jadi pekerja disini, lu udah dibayar untuk membuat desain jadi mereka memiliki hak ciptanya” sambung Sarah.
“Jadi lu mesti pertimbangkan, gw cuma nawarin diri sama elu”
“Sama orang lain gw males” ucapnya sambil berdiri.
Juno menghela nafas panjang, ia sadar kalau perjalanan untuk membuka perusahaan desain yang ia rancang dengan Doni masih sangat panjang. Menyewa Ruko hanya satu langkah awal, masih banyak yang harus ia siapkan dan lakukan sampai mereka bisa fix mulai bekerja di perusahaan sendiri.
“Nanti gw kabarin kalau sudah fix” akhirnya Juno menjawab lemah, kondisinya memang serba terbatas sekarang, dimulai dari berkurangnya modal untuk usaha, waktu karena ia harus sambil terus bekerja dan juga tenaga yaitu orang yang secara khusus bisa menghandle pekerjaan untuk bisa memulai bisnis.
“Ok… gw tunggu… lu musti tau.. Gw selalu ada di belakang lu buat backup so you can count on me” Sarah tersenyum lebar sambil menatap Juno yang hanya mengangguk sambil membalas tersenyum tipis.
Ada keraguan dalam hati Juno terkait dengan Sarah, perempuan itu terkadang tidak bisa diselami dan dibaca apa maunya. Hanya satu hal yang sangat jelas terbaca adalah kalau Sarah itu menyukainya, tapi sejak awal Juno sudah memberikan isyarat kalau dia tidak merasa tertarik. Mereka dekat sebatas teman satu profesi, sering lembur bareng, makan keluar bersama-sama karena mereka berdua yang menjadi desainer utama untuk interior.
Tapi ternyata itu membuatnya jadi tergantung pada Juno, beberapa waktu belakangan bahkan Sarah memperlihatkan pada orang-orang kalau mereka seakan-akan memiliki hubungan spesial. Sarah kerap melabrak staf perempuan yang dianggap mencari perhatian kepadanya, tapi ia berusaha tidak terpancing dan bersikap tidak peduli agar masalah tidak jadi berkepanjangan dan Sarah menjadi punya alasan untuk selalu berhubungan dengannya.
“Dul?” suara Doni memecahkan lamunannya.
“Tadi si Sarah kesini?” ekspresi Doni terlihat ragu untuk mendekat, ia sudah tahu kesalahannya. Juno menatapnya lekat dengan kesal.
“Sorry banget tadi gw gak sengaja ngomong kalau Lu udah pindah ke Ruko”
“Soalnya di nge-bully terus anak FO soal elu, dia bilang kalau Lu tuh tunangannya dia”
“Lah dia kan udah tau Lu udah kawin, eh masih ngaku-ngaku aja!”
“Lu gak niat bikin acara pesta kawinan biar orang pada tau kalau lu udah kawin?”
Juno menarik nafas panjang, ide melakukan pesta sempat terpikir, tapi Bulan menolak ide itu, baginya acara pernikahan sudah selesai saat akad kemarin. Ia ingat kalau Bulan bersikeras kalau pesta pernikahan hanya membuang-buang uang saja.
“Uang dari Bapak mendingan kita pakai untuk pembukaan kantor atau uang muka rumah, gak usah dipakai pesta… mubazir” itu ucapan Bulan saat malam setelah Bapak memberikan uang simpannya kepada mereka.
“Terus gimana lu sampai bilang kalau gw pindah ke Ruko?” tanya Juno kesal.
“Iya gw kesal soalnya dia marah-marahin si Nina anak FO sampai kaya mau mewek gitu”
“Gw bilang gak usah marah-marah sama si Nina soal elu, soalnya elu kan udah kawin terus sekarang tinggal di Ruko bareng sama istrinya”
“Dia tanya kenapa Lu tinggal di Ruko kan dia tau kalau Lu tinggal di PI”
“Yah gw bilang kalau lu udah mau mulai ngerintis kantor baru” muka Doni terlihat menyesal.
“Habis gw kesal dia ngaku-ngaku terus kalau kalian sudah bertunangan dan akan menikah”
Juno kembali menarik nafas panjang dan menatap sahabatnya.
“Lu mikirin si Sarah kalau gw lebih mikirin mulutnya si Nina”
“Lu gak mikir kalau si Nina bakalan ngomong sama orang-orang kalau gw mau bikin perusahaan sendiri?”
“Ya ampun Dul… lu cerdas banget!”
“Gw musti ngebungkam si Nina kalau gini” Doni langsung berdiri dan beranjak keluar.
“Udah...percuma… telat lu mikirnya!” ucap Juno kesal. Doni terduduk dengan penuh penyesalan.
Ternyata apa yang dipikirkan Juno langsung terbukti, tak lama ia berbicara telepon di ruangannya berbunyi.
“Selamat siang Pak Juno, Pak Direktur mau ketemu dengan Pak Juno. Bisa ke lantai dua sekarang?” Yuni sekretaris Arvian Bos besar yang telepon.
“Tuhhh apa gw bilang…. Mulut ember lu!” Juno memandang Doni dengan kesal. Ia harus memikirkan alasan yang tepat kalau Arvian menanyakan soal perusahaan yang ia akan dirikan.
“Sorry Dul… benaran sorry gw gak maksud” muka Doni terlihat menyesal.
“Udah lah gak usah dipikirin, cepat atau lambat bakalan kejadian juga. Anggap aja ini jalan-Nya kita harus ngasih tau lebih cepat” jawab Juno santai, mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur di bibirnya si Doni.
**************
Sepanjang perjalanan Juno diam tidak berbicara, mukanya terlihat dingin dan kesal. Bulan yang dari tadi mencoba mengajaknya bicara akhirnya menyerah.
“Kenapa atuh Beib dari tadi manyun terus?” tanya Bulan akhirnya. Setelah beberapa kali bicara tapi tidak mendapat tanggapan Juno.
“Gak apa-apa” jawab Juno pelan. Bulan menarik nafas panjang, kemudian melirik ke arah suaminya.
“Kaya perempuan aja, kalau ditanya kenapa?jawabnya “Gak apa-apa” padahal mah apa-apa”
“Trus kalau gak ditanya lagi ntar dianggap gak perhatian”
“Kamu kenapa sih gak pernah merhatiin aku?” ucap Bulan dengan gaya perempuan centil.
“Aku tuh ngomong gak apa-apa bukan berarti gak ada apa-apa”
“Kamu tuh mestinya penasaran, tanyain terus sampai akhirnya aku mau cerita sama kamu!”
Bulan terus bicara nyerocos menirukan gaya perempuan misterius dengan jawaban gak apa-apanya.
Juno meliriknya dengan tatapan pasrah, mobil berhenti karena lampu lalu lintas, kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah bibir Bulan dan membuat gerakan seperti mengunci mulut.
“Mulutnya dikunci dulu barang beberapa menit… berisik kaya radio rusak” ucapnya sambil menarik napas. Bulan melotot kesal tapi akhirnya dia diam mengikuti keinginan Juno. Suasana di mobil terasa hening terutama karena jalanan yang macet sehingga terasa lebih lama.
Tangan Juno kembali terulur dan membuka kunci mulut Bulan.
“Sepi!… dibuka aja kuncinya” ucapnya sambil tersenyum. Bulan masih cemberut tapi ia tetap diam tidak mau bicara, matanya masih melirik Juno dengan tajam.
“Eh lupa kunci nya tadi di double sama gembok”
Menghentikan kendaraan di pinggir jalan, dan membuka seatbelt, mendekati Bulan dan menarik tengkuknya dan menyentuh bibir Bulan dengan intens tanpa memberikan kesempatan bagi Bulan untuk menolak dan hanya sesekali berhenti untuk bernafas.
“Ah… coba bisa ngomong gak sekarang, aku gak tau kunci gemboknya betul gak ini” ucapnya sambil menatap Bulan lembut, yang dicium hanya bisa megap-megap tanpa bisa bicara karena serangan mendadak.
__ADS_1
“Eh bukan yah… kirain kunci gemboknya yang itu, yang ini mungkin?” ucapnya, dan kembali menyentuh bibir Bulan dengan penuh hasrat. Bulan kembali terhenyak tidak menyangka akan cara Juno memperlakukannya dengan manis.
“Hmmmphhh… udah ben..bennerrr kuncinya yang ini A… udah kebuka” Bulan menggap-menggap sambil mendorong Juno menjauh, mereka ada di pinggir jalan umum dan masih banyak orang lalu lalang. Bisa-bisa digebrak-gebrak lagi sama orang terus disuruh cari kamar.
“Hmm.. padahal aku udah nyiapin 2 kunci khawatir masih salah” Juno tersenyum menggoda.
“Aa… ih.. Gak malu apa diliatin sama orang itu dipinggir jalan”
“Disangka pasangan mesum lagi!” Bulan melotot kesal.
“Lah bilang aja sudah menikah” Juno kembali memasangkan seatbelt suasana hatinya sudah lumayan membaik, setelah membuka kunci gembok.
“Yah gak bisa gitu juga A… gak boleh mempertontonkan kemesraan di depan umum, nanti mengundang fitnah. Orang kan bisa aja menyangka kita belum menikah” Bulan bersikukuh. Juno mengangguk tanda setuju, betul juga pikirnya untuk tahu mereka sudah menikah atau belum harus dijelaskan atau ada orang yang bertanya dulu. Tapi kalau sekilasan saja mana orang tahu mereka sudah menikah.
“Kenapa sih bete gitu? Ada masalah di kantor?” Bulan mengusap tangan Juno pelan sambil menatapnya. Juno hanya tersenyum dan mengangkat alis dan menghembuskan nafas kasar.
“Biasa lah… Bos arogan!” ucapnya.
“Doni gak sengaja ngomong di depan orang kalau aku udah pindah ke Ruko buat bikin perusahaan sendiri”
“Sampai ke telinga Bos dan dia mengancam”
“Aku paling gak suka diancam gitu”
“Dia bilang aku gak bisa keluar seenaknya saja soalnya terikat kontrak”
“Semua hak cipta desain yang aku buat selama bekerja sama dia tidak bisa diklaim”
“Panjang dan pedes banget omongannya, aku tuh semakin ditekan semakin bete”
“Mestinya dia support kalau berjiwa besar”
“Toh desainer gak cuma aku, sudah banyak desainer interior madya yang sudah menunjukkan kualitas rancangan yang bagus”
“Tapi dia memang orangnya arogan, itu sebabnya aku merasa gak nyaman”
“Sering mengambil keputusan sendiri soal project tanpa diskusi sama kita” Juno menarik nafas kesal.
“Aku asalnya gak akan cepat keluar, mau ngumpulin modal juga barang tiga sampai enam bulan kedepan”
“Yah aku mau mulai proyek kecil-kecilan aja yang dikerjain di rumah setelah ngantor”
“Tapi kalau kaya gini ceritanya, aku bakalan mempercepat resign”
“Aku juga pengen ngomongin itu sama A Juno”
“Setiap bulan kita harus membayar sewa tiga puluh juta, kalau kita tidak segera memiliki income yang tetap atau tambahan, maka akan mengurangi modal dan itu gak sehat”
“Aku mau memetakan kebutuhan biaya yang kita harus keluarkan setiap bulannya dan berapa income minimal yang harus kita penuhi agar tidak minus”
“Ehmmm aku boleh tanya gak?” Bulan tampak ragu untuk bertanya.
“Apa?”
“Kalau gaji Aa perbulan berapa?” Bulan tampak malu untuk bertanya, Juno tersenyum sinis,
“Kenapa? Takut kurang dikasih bulanan?” Juno tersenyum,
“Engga ihhhh… aku juga punya gaji jangan khawatir, gak akan membebani A Juno” jawabnya sambil cemberut.
“Aku cuma mau menghitung bisakah menutup pengeluaran dari gaji A Juno” jelas Bulan.
“Gaji aku dua puluh tiga juta, aku biasanya nyari tambahan dari menjual gambar desain keluar” Mata Bulan melotot mendengarnya.
“Setiap bulan kita mesti membayar sewa tiga puluh juta A… masih kurang tujuh juta buat bayar sewa aja?” jantung Bulan serasa mau copot. Juno tersenyum santai.
“Aku punya simpanan, terus kalau kerja rodi, aku bisa ngejual desain gambar lebih banyak dari pemasukan bulanan di kantor”
“Tenang aja kamu gak akan mati kelaparan bareng sama aku” jawabnya santai.
“Iya tapi tetap aja gak aman buat aku mah” Bulan menarik nafas panjang, pola asuh keluarganya yang berasal dari keluarga menengah dengan penghasilan dari gaji Bapak sebagai guru membuatnya memiliki pola pengaturan keuangan yang sangat terencana dan detail karena pemasukan yang tidak berlebih.
Keluarga suaminya memang berasal dari keluarga bisnis, keluarga Mama Nisa yang memiliki perusahaan sendiri, tapi Mama Nisa memang tidak terlibat aktif hanya menerima income pasif saja. Sedangkan Papa Bhanu jelas seorang pengusaha, sehingga pola pikir wirausahawan tampaknya telah mengalir sangat kental dalam diri suaminya.
“Seminggu kedepan tampaknya jadi perjalanan dinas terakhir” sambung Juno, sambil memarkir kendaraan di garasi setiba di Ruko.
“Anggaplah aku seminggu keluar kota, jadi aku minta bekal buat seminggu” sambungnya lagi.
“Kartu ATM nya A? Ada di rumah kok, gak pernah aku bawa-bawa”
“Bukan bekal itu, bekal amunisi supaya aku gak pengen ngemil selama di luar kota” jawab Juno sambil tersenyum.
Bulan langsung melengos kesal dia sudah tau istilah-istilah nyeleneh suaminya.
“Salaaah.. Aa kalau mau bekal amunisi...akunya mesti ikut”
“Tapi kalau aku gak bisa ikut… itu isi botol mesti dihabisin sekarang!” ucapnya sambil melotot ke arah bawah perut Juno.
“Weiiiis suka gw kalau punya istri penuh semangat gini… baru dua minggu udah pengen ngabisin isi botol langsung”
“Terserah Aa… yang penting mesti habis biar seminggu aman... “ ucap Bulan malas, terbayang kalau harus melakukan panggilan video lagi, entah harus bagaimana ia nanti.
“Sedot yaah?” ucap Juno sambil tersenyum penuh arti.
“Sedot… emang vacuum cleaner… “ Bulan menggelengkan kepala bingung.
“Kamu kan tahu kalau mau membersihkan dengan sapu pasti masih aja ada serbuk kotoran yang tertinggal tapi kalau di vacuum dijamin semua debu bersih habis” jelas Juno dengan penuh semangat, Bulan mengangguk membenarkan.
“Jadi vacuum itu cara yang paling efektif untuk membersihkan isi botol habis tidak bersisa” ucapnya sambil tersenyum licik. Bulan hanya mengangguk-angguk saja, sudah lelah seharian bekerja, pada akhirnya selama permintaan suaminya bisa ia lakukan, tidak pernah ia tolak.
“Iya deh terserah Aa… yang penting selama seminggu nanti jangan banyak permintaan aneh-aneh kaya kemarin pakai video call aku kan malu” jawabnya sambil mengunci pintu Ruko.
“Gak ini gampang kok… yuk mandi dulu nanti aku ajarin…” Juno tersenyum penuh kemenangan. Hiburan yang paling menyenangkan adalah menggoda istrinya, selalu mudah diganggu dan marah tapi mudah juga dibujuk.
__ADS_1
Bulan...Bulan kamu mah cuma pinter ngitung uang doang… soal yang kaya ginian mah kayaknya mesti belajar dari pengalaman. Pengalaman memang guru yang paling hebat dan menyenangkan...hihihihihi