
Bulan POV
Dari tadi kulihat dahinya berkerut saja memandang hp.
“Ngeliatin apa sih A sampai berkerut begitu?” dia melirik sambil terus berkerut
“Niiih dahi sampai ngelipat” ucapku sambil menunjuk lipatan di dahinya.
“Jangan dibiasain mengerutkan dahi kaya gitu”
“Coba dipijat sini mukanya, mikir jangan pake otot A” kupijat perlahan dahinya, kerutan di alis ini sampai sudah seperti permanen. Beberapa kali aku lihat kalau sudah menggambar di kertas ataupun di laptop dahinya selalu berkerut.
“Enak” ucapnya sambil memejamkan mata. Ya enaklah dimana-mana kalau dipijat pasti enak. Mau kepala atas atau kepala bawah pasti enak… Aiissshhh kenapa otak aku jadi me sum begini.
“Liat apa sih A dari tadi sampai berkerut gitu dahinya… udah atuh nanti gagal hasil pijit facialnya”
“Supirnya Papa gak bisa ngejemput pagi-pagi besok tuh, bisanya malam dari Jakarta, katanya udah ijin ada hajatan keluarganya di Bekasi” jawabnya. Ohhh pantes aja keliatan bete.
"Kalau malam dari Jakarta artinya baru Senin kita bisa pulang, aku ada janji temu Senin pagi" jelasnya
“Santai aja lagi A… masih banyak transportasi umum, jangan tergantung sama orang lain”
“Kondisi kaya gini yang aku hindari kalau gak punya kendaraan tuh… jadi kaya hopeless” keluhnya
“Hopeless gimana? Kaya kiamat aja gak punya kendaraan tuh”
“Aku dari kecil gak punya mobil masih hidup tuh, gak masyalah”
“Kalau ada masalah tuh jangan dibikin berat tapi musti dibikin ringan”
“Kondisi aku kan sehat gak harus rebahan kaya waktu datang ke Bandung dulu”
“Ke Jakarta sekarang banyak fasilitas transportasi yang bagus”
“Ada bis, ada travel ada kereta… tinggal disesuaikan dengan budget kita”
“Mau nyaman gak berdesak-desakan bisa pakai travel atau kereta”
“Pergi ke stasiun tinggal panggil mobil online… gak pake keringetan”
Dia diam mendengar ceramah dari Mama Bulan. Hmmm diam paham atau diam kesal yah?.
“Hmmm sebetulnya aku udah booking kereta buat besok..hehehehe” terpaksa deh ngaku supaya gak jadi bahan pikiran dia buat acara pulang besok ke Jakarta. Dia langsung mendelik.
“Kapan kamu pesan kereta? Tadi aku lihat di webnya udah penuh semua, travel juga udah pada penuh” rupanya dia udah prepare juga buat naik kereta atau travel. Hahahahahaha sayang sekali Antonio otak kamu kalah cepat dalam booking membooking.
“Dari Rabu kemarin dong… waktu Aa bilang pake flight ke Bandung dari Surabaya, aku langsung pesan tiket kereta, soalnya kalau weekend pasti akan penuh, jadi pesannya jangan terlalu mepet” kasih usap-usap dikit biar gak ngambek.
“Bilang dong dari tadi” ehhh udah dibeliin malah menggerutu. Dasar.
“Itu oleh-oleh segambrengan gitu gimana bawanya?”
“Kamu tuh beli apa aja sih sampai banyak gitu oleh-oleh” gundukan plastik kue di sudut kamar menarik perhatiannya.
“Alaaah masukin koper atuh… susah amat”
“Pas di stasiun panggil mamang porter, kasih uang yang gedean buat sedekah… beres deh… semua mahluk berbahagia”
“Udah batalin supir Papanya, kasian udah capek-capek acara nikahan trus mesti ke Bandung”
Segala hal selalu jangan dibuat sulit, karena toh pada akhirnya akan terlewati juga kan.
Seperti sekarang pada akhirnya pulang ke Jakarta dengan menggunakan kereta api Parahyangan . Dua hari ini menjadi hari yang paling berkesan, semua keinginan yang dulu sempat terucap dalam hati, hari ini kembali terwujud. Naik kereta bersama pasangan, duduk berdekatan dengan orang yang kita cintai itu, ternyata rasanya gimana gitu.
Dulu saat masih menyandang status jomblo akut, sering melihat sepasang kekasih atau suami istri yang duduk bersebelahan di kereta, tampaknya menyenangkan, bercerita sambil bisik-bisik. Mengambil foto berdua dari berbagai sudut.
“Masih belum puas dari tadi udah ngambil berapa kali take” gerutunya. Merasa bosan harus memberikan senyuman palsu setiap kali aku mengajaknya berfoto.
“Sejarah A.. Sejarah buat aku ini tuh… maklum gak punya foto berdua sama pacar di kereta” jelasku.
__ADS_1
“Foto berdua sama si Cedrik cabut dari frame foto… simpan dalam kotak.. Kalau perlu masukin ke mesin penghancur kertas di kantor” beuuh tahu dari mana dia aku punya foto berdua sama Kak Cedrik.
“Gak tahu fotonya juga dimana… kan ada di kotak yang dari kost-kostan” dia mengangguk senang.
“Makanya senyum yang ikhlas biar punya foto bagus ngalahin foto para mantan” ternyata itu menjadi kata kunci untuk senyuman yang membuat semua orang yang melihat foto ini meleleh melihatnya.
Butuh perjuangan untuk bisa sampai pada titik ini, pengorbanan yang A Juno lakukan untuk bisa menerima keyakinanku bahwa materi tidak menjadi indikator kebahagiaan sudah mulai ia pahami dan mau ia perjuangkan.
Dan sekarang aku juga harus terus berjuang untuk memberikan dukungan dan keyakinan kalau dia memang laki-laki yang akan menjadi imam di dunia dan akhirat. Semua hal yang pernah terjadi dulu hanya merupakan bagian dari cerita lalu yang membentuk kami sekarang ini. Seperti nasehat Bapak kemarin, meyakini takdir kalau memang dia adalah laki-laki yang terbaik yang dipilihkan Allah untukku. Yakin bahwa perempuan baik hanya untuk laki-laki baik, dan laki-laki yang baik akan mendapatkan perempuan yang baik pula.
“Muuney… Muuney” tepukan di pipi membangunkanku dari mimpi. Lama sekali rasanya tidak mendengar panggilan itu.
“Sudah mau sampai… sekarang sudah di Jatinegara… bangun supaya gak pusing”
“Minum dulu” dia menyodorkan air mineral untuk menyadarkan dari tidur yang lelap, kehamilan ini membuatku jadi mudah tertidur.
“Kepalanya pusing nggak?” dia seperti yang khawatir melihatku.
“Hmmm nggak… agak pusing sedikit, mungkin karena tadi bangunnya terlalu pagi”
“Aa sih” kesal juga jadinya dari kemarin, kerjanya minta pijit-pijit plus terus.
“Kamu kuatkan jalan? Kita dijemput sama Afi dan Emil. Mereka sudah ada di Gambir”
“Kuat… gak apa-apa A… sehat kok jangan khawatir” kuusap tangannya perlahan untuk menenangkan. Dia mengangguk tenang, kupegang tangannya terasa dingin.
“Tangan Aa dingin banget” kutempelkan ke pipi supaya dia merasa hangat. Hanya senyuman samar yang terlihat. Baginya naik transportasi umum bukan hal yang mudah, terbiasa menggunakan kendaraan pribadi sehingga bisa mengatur dan mengontrol semua sesuai dengan keinginannya.
“Gembuuuul” hanya satu orang yang suka berteriak dan memanggil seperti itu. Afi ...yang mencoba berlari tapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Perutnya yang sudah semakin besar membuat Emil harus ekstra perhatian disaat energinya tiba-tiba naik seperti anak yang kebanyakan makan permen. Tangan Afi hanya bisa melambai-lambai sebelah, satu tangannya lagi ditahan Emil sehingga ia hanya bisa berjalan lambat, sesekali seperti ingin melompat saking senangnya.
Jangan ditanya soal aku, pantas saja tadi A Juno meminta porter untuk membawa dua koper, karena dia juga menahanku supaya tidak berlari.
“Tenang aja… kalian kaya yang udah tahunan udah gak ketemu” gerutunya. Dia tidak tahu salah satu alasan kenapa pernikahan dengan A Juno itu menyenangkan karena dia punya adik seperti Afi.
“Ihiihihihihi aku kangen banget tahu” pelukkannya terasa hangat.
“Ya Allah Afi perut kamu udah keliatan gede… aku cuma baru nyendul”
“Gimana mau keliatan gede, baju elunya terlalu gede, paling yang ngepas dong” tangan Afi meraba-raba perutku.
“Deuu ileh.. Dipas in begini yang keliatan gede bukan perut elu Bul… malah ***** yang makin nonjol ahahahahahah” dengan seenaknya dia mengusapkan tangannya di perut dan di dada. Afi ampun deh gak pernah ada filter di mulutnya.
“Udah-udah… kamu tuh ampun ih” Emil langsung menarik Afi sambil membawa satu koper.
“Udah sana duluan aja bareng sama Kaka” dia langsung menepis dan menggandeng tanganku.
“Gimana lu.. Masih pusing gak?”
“Ada ngidam apa gitu… pengen jitak suami atau makan martabak dua dus?”
“Gak lah sama sekali… gak berani jitak A Juno, yang ada aku sering dijitak sama dia” aduku, beberapa kali memang A Juno ngejitak gara-gara aku suka ngisengin dia.
“Nanti bilangin aja sama Mama biar dimarahin” ucapnya sambil tertawa dan tiba-tiba saja matanya membulat seakan baru teringat satu hal.
“Ya ampyunn aku sampai lupa mau ngomongin berita terheboh… hahahhahaha”
“Kaka … woy…. Tahu gak berita apa yang tadi dibawa sama Papa pagi-pagi ke rumah”
“Apaan? Kenaikan harga saham perusahaan?” tanyaku, melihat ekspresi Afi tampaknya sesuatu yang luar biasa. A Juno cuma mengerutkan dahi sambil menggeleng.
“Ahahahahahah lu berdua gak bakalan percaya” Afi bercerita dengan penuh semangat padahal kita masih berjalan di selasar samping stasiun Gambir. Dia tidak peduli kalau orang lain harus melipir karena dia menghabiskan badan jalan selasar.
“Ahahahahahah… Papa pagi-pagi tadi datang sambil bawa surat” Afi berhenti membuat kami terpaksa ikut berhenti dan memperhatikannya. Emil hanya bisa menarik napas dan ikut berhenti memperhatikan istrinya yang dipenuhi dengan energi untuk menggibah. Dia sudah tahu cerita Afi sehingga hanya tersenyum melihat kelakuannya.
“Waktu tadi pagi Mama kan lagi sarapan sama roti di meja, Papa datang-datang langsung duduk aja depan Mama, gw sama Emil kan lagi di sofa sambil lenyeh-lenyeh”
“Tiba-tiba gw denger Papa ngomong gini”
“Nis… surat putusan cerai aku udah keluar… kita nikah lagi”
__ADS_1
“JEDEEEEEER…. Hahahahahha Mama sampai keselek”
“Gak ada angin… gak ada hujan main ngajak kawin… Bapaknya Juno Aditya percaya diri banget ahahahhahahahaha”
"Heloooo.....emangnya selama ini kita nungguin elu... kayanya itu pikiran Mama...hahahahha"
“Seriusan?” aku langsung melirik A Juno, mukanya masih lurus tanpa ekspresi. Tapi aku tahu kalau dia kaget karena tangannya menggenggam pegangan koper dengan erat.
“Kapan memangnya Papa udah bercerai sama Jamet” kasus di kantor Papa memang sudah lebih dari tiga bulan, tapi aku tidak tahu perkembangan rumah tangganya. Hanya saja terakhir kudengar kalau kasusnya sudah ditutup dengan kesepakatan damai di kedua belah pihak. Sehingga tidak dilanjutkan ke pengadilan.
“Aku tanyakan kemarin, memangnya Papa sudah bercerai sejak kapan?”
“Ternyata Papa udah jatuh talak lebih dari setengah tahun yang lalu katanya”
“Sejak Papa tahu si Jamet nyeleweng dan menggelapkan uang perusahaan”
“Nah putusan pengadilan kemarin akhirnya jatuh karena Papa bikin perjanjian”
“Gak akan dituntut ke meja hijau, tapi harus mau bercerai dari Papa tanpa meminta pembagian gono gini”
“Karena Papa anggap harta gono gininya sudah diambil sama si Jamet dan pacarnya itu”
“Mungkin daripada masuk penjara akhirnya si Jamet setuju, padahal kan awalnya dia ngancem Papa gak akan mau cerai dan nuntut bagian dari perusahaan”
“Pikir-pikir Papa gw cerdas juga hahahahhahaha”
“Seriusan? Gak pake pembagian harta Fi?” amazing banget memang si Papa taktiknya.
“Mama gimana?” hanya itu yang terucap dari mulut A Juno.
“Yah Mama gak ngomong apa-apa”
“Nganggep Papa kaya angin aja waktu ngomong gitu”
“Sampe Papa kaya yang frustasi di diemin sama Mama”
“Mama malah ke taman trus ngurusin tanaman”
“Itu galaw Fi … mamanya” jelasku sambil duduk di kursi belakang mobil. Sengatan Jakarta sudah mulai terasa… sabar Bulan… perjuangan dimulai panas-panasan baru dimulai.
“Mama pernah bilang sama aku kalau ngurusin tanaman itu bikin Mama bisa relax dan melupakan masalah”
“Iya kali… soalnya Mama langsung ninggalin Papa, trus diam aja di taman ngurusin tanaman”
“Papa diasinin aja sampai kita tinggalin mereka masih pada diem-dieman” jelas Afi. Tidak terbayang bagaimana perasaan Mama saat Papa Bhanu tiba-tiba nembak seperti itu. Gak ada romantis-romantisnya… kaya Mama mengharapkan Papa kembali aja.
“Ka… gimana menurut Kaka, kita mesti ngomong apa sama Mama?” Afi menepuk lengan A Juno yang duduk di depan dengan Emil yang sedang menyetir. Dia tidak menoleh ataupun menjawab tetap saja diam dan memandang lurus kedepan. Kalau melihat pundaknya yang tampak tegak dan lurus, dia pasti sedang berpikir keras.
“Kaka… ih” Afi memukul dengan kesal.
“Hal seperti ini gak bisa tergesa-gesa sayang” Emil yang sedari tadi diam akhirnya berbicara.
“Kita gak bisa ikut campur sama urusan Mama dan Papa”
“Mungkin dulu Mama memutuskan bercerai dengan Papa karena pertimbangan anak”
“Tapi sekarang kan anak-anaknya sudah menikah”
“Jadi biarkan Mama punya pertimbangan sendiri tanpa adanya desakan dari kita”
“Yang perlu Mama tahu cuma satu hal, apapun keputusan Mama kita mendukung” ternyata Emil dibalik rambut ikalnya, otaknya sangat lurus tanpa ada gangguan frekwensi.
“Ya aku pikir juga begitu”
“Kita pura-pura tidak tahu saja”
“Biarkan semuanya berjalan seperti dulu, saat Papa tidak ada di rumah”
“Kalau Papa datang bersikap sewajarnya saja”
__ADS_1
Ucapan A Juno seperti menjadi perintah komando untuk kami semua, mengangguk dan menyetujui.
Saat ini semuanya akan kembali kepada keputusan Mama. Ya atau Tidak