
Bulan PoV
Melihat Kak Juno sibuk memilih hp setelah sebelumnya menyuruhku memilih yang langsung aku tolak.
Memilih!… gila apa… harga handphone brand keluaran amerika dengan bentuk apel di gigit tanda rasanya asyem.. Seasem harganya. Masih mending Apel Malang terasa asem-asem seger, lah ini harganya asem-asem pait gimana caranya mau nyicil kalau harganya selangit.
“Mau warna apa?” masih nanya juga, udah dibilangin aku gak mau beli merk ini. Kemahalan susah nyicilnya, mana gak jelas lagi tadi dia ngomong nyicil pake apa.
“A…” aku cuma bisa memandang dia dengan tatapan putus asa. Udah dibilangin sejak masuk ke toko kalau harga handphone itu terlalu mahal.
“Warna pink aja yah… perempuan kan sukanya warna pink” orang ini ampun deh gak bisa dikasih kode lembut, musti kode keras.
“Aa… ihh” bingung harus bagaimana lagi bicara dengan orang ini, malah keliatan santai saja. Duduk dan menunggu pegawai toko membawa warna yang dia inginkan, akhirnya kujulurkan tanganku untuk mencubit perutnya. Dia langsung melonjak dan duduk menjauh.
“Awww… kamu.. Sakit tauk” dia meringis sambil mengusap-usap pinggangnya, cengeng banget dicubit segitu aja langsung meringis, Benny aja kalau dicubit gemas paling cuma meringis.
“Abis dibilangin gak mau nurut.. “ kesal melihatnya seperti santai saja, gak sayang uang apa. Dari kemarin mengeluarkan uang terus, sedangkan uang pengganti pengobatan Bapak saja belum dibayarkan.
“Aku kalau beli barang sesuai kebutuhan”
“Produk ini memiliki masa pakai yang lebih lama daripada produk lain, dan artinya kamu bisa memakai handphone lebih lama waktu pakainya, toh kamu bukan tipe orang yang suka berganti-ganti model kan”
“Tapi hargana lebih mahal A… aku bakalan lama nyicilnya nanti”
“Sekarang aku banyak pengeluaran, yang penting ada handphone dulu aja, nanti deh begitu uang investasi kembali aku baru beli yang berkualitas”
“Yang bayar kan aku kok kamu yang ribut sih” mukanya cemberut ngeselin gitu.
“Nanti kamu bisa bayar gak pake uang tapi pake yang lain” senyumnya terlihat menyebalkan.
“Pake apa?” udah feeling gak enak ini, mukanya terlihat berbeda tidak pernah aku melihat dia seperti itu.
“Yang ini Kak.. kalau yang model ini tidak ada yang pink Ka tapi purple. Kemudian yang untuk warna ini tinggal yang memori 128gb. Kalau warna yang lain masih ada yang 60gb”
“Hmm yang 128gb saja supaya bisa menyimpan lebih banyak”
“Purple gak apa? Atau mau warna lain?” dia memandang dengan lekat, baru sadar kalau sekarang kalau bola matanya hitam pekat.
“Terserah Aa aja yang belikan… aku ikutan aja toh kadang tertutup oleh casing juga” jawabku
“Oya casingnya sudah include? Atau beli terpisah?” dia menatap pegawai.. Hmm pasti musti beli lagi lah.
“Terpisah kaka? Untuk casing bisa memilih disana” dia menunjuk beberapa casing, dijamin harganya diatas harga rata-rata kalau kita beli di online.
“Sana pilih satu casing… gak pake lama” dia cuma nunjuk pake dagu, beuuuh pengen jitak gayanya orang kaya banget sih.. Untung beneran kaya.
Membeli barang mahal seperti beli kue gampang banget, sampai seberapa banyak sih tabungannya heran, gak pakai berhitung dulu. Memang aku tahu kalau dari dulu keluarga Afi secara ekonomi berada, rumahnya saat di Bandung di kompleks perumahan yang elit. Afi dulu tidak pernah kost selalu diantar jemput oleh supir.
“Mau makan dimana?” tiba-tiba saja berhenti, hampir saja terbentur pada bahunya.
__ADS_1
“Makan lagi? Masih kenyang ah… aku cape” gara-gara minum obat setelah makan soto, mata rasanya berat.
“Nanti malam kamu kan harus makan, kita beli roti saja” dia berbelok ke toko roti yang namanya mirip dinosaurus. Bikin blibet lidah buat nyebutinnya, gegara cabang dari negara lain harus mengikuti ejaan negara tersebut.
Banyak roti kesukaan Afi, aku harus memilih supaya nanti bisa dititip pada Kak Juno saat pulang. Mama Nisa juga suka roti manis, seadainya bisa pulang ingin rasanya membelikan untuk Bapak juga.
“Banyak amat buat siapa saja?” dahinya berkerut.
“Buat Afi sama Mama Nisa, Aa suka roti yang asin atau manis?” eh malah tersenyum sinis.
“Asin yah, Aa tuh tipe-tipe susah ngunyah yang manis” terpaksa dijawab sendiri. Diam berarti iya, padahal apa susahnya ngejawab iya.
Croissant yang butter, model orang kaya dia tidak terlalu suka yang rasanya aneh-aneh. Aku suka almond with caramel simple tapi manis, bikin hidup terasa lebih bahagia.
“Nih…” nyodorin kartu untuk membayar roti.
“Ada kok aku uang… masih cukup buat bayar roti” masa beli roti aja sampai harus dibayari.
“Ya pake aja…memangnya kamu kamu bawa uang" tetap memaksa, apaan sih belagu banget mentang-mentang banyak isinya, beli roti memangnya sampai berapa ratus. Orang-orang mulai memandang kesal, menunggu giliran membayar. Daripada ribut akhirnya aku ambil kartunya, dia langsung pergi dari kasir. Seperti ini rasanya kalau jadi kaum duafa mau membayar apapun susah kalau gak ada uang.
“Habis berapa?” set deh langsung ditanya ngabisin duit berapa, kalau masih ngecek ngapain juga ngasih kartu buat bayar.
“Sembilan puluh tujuh ribu” jawabku pendek.
"Pantas saja gak ada notifikasi kalau dibawah seratus ribu" hmmm... dia mengharap aku belanja banyak kali, mana mungkin belanja banyak pakai kartu orang.
“Kita langsung pulang sekarang, kasian Mama dari tadi nungguin. Dia khawatir sama kamu” jalannya sudah kembali cepat.
“Pinjam aja baju si Afi … susah amat”
“Baju Afi ukurannya kecil dia S aku M, trus dia kalau beli baju ukurannya yang pas jarang yang gombrang”
“Aku mau pulang dulu, mau bawa baju sama kelengkapan yang lain” mata ngantuk banget pula.
‘Ya sudah kita ke kost an dulu” akhirnya mau juga nurutin maunya aku. Hufttt susah banget naklukin badak.
Juno PoV
Begitu masuk ke mobil dia langsung tidur, rupanya dia benar-benar lelah atau efek dari obat mungkin. Langsung tertidur lelap padahal baru keluar dari area parkir.
Sesampainya di kost an dia masih tidur, bagaimana mungkin masuk ke dalam kost an kuncinya kan pasti di dalam tas. Akhirnya aku biarkan dia tidur di mobil dan mencari penjaga kost. Kali ini benar tidak berbohong kalau aku suami yang mengantarkan istrinya sehingga saat meminjam kunci cadangan Pak Daan langsung percaya.
Memasukan barang-barang terlebih supaya nanti tidak repot saat membawanya masuk. Membayangkan harus mengangkat dia dari mobil rasanya terlalu berlebihan, it's not my style.
“Bulan… bangun hehhhh… sudah sampai kost-an ini” kutepuk-tepuk pipinya. Tidurnya ternyata lumayan dalam.
“Bulaaaaaan… heeeeh Bulaaaaan” akhirnya ku cubit pipinya yang tebal, dia hanya menggelengkan kepalanya.
“Bulan kalau gak bangun dalam hitungan ketiga aku cium yaaah”
__ADS_1
“Satu…. Duaaa…”
“Awaaaaas jangan coba-coba mikirin nyium aku” matanya tiba-tiba membuka lebar.
“Aku walaupun ngantuk tapi otak tetap bisa jalan” sambil mata terpejam dia bangun, membuka seatbealt dan keluar dari mobil, persis mirip zombie.
“Heeeh dilihat kalau jalan, nanti kamu jatuh”
“Ingat lukanya belum sembuh kalau kejeduk nanti sakit” dia jalan dengan terhuyung-huyung. Ternyata kewaspadaan masih tinggi tapi matanya belum bisa dikendalikan.
“Aku masih ngantuk” padahal sudah masuk waktu magrib, tapi saat masuk kamar dia langsung tidur ke kasur, tersungkur dan langsung terlelap tanpa berganti pakaian. Istri macam apa ini, datang ke kamar malah tidur. Mungkin karena obat yang tadi diminum, dari tadi dia mengeluh sakit dosis obatnya lumayan tinggi tampaknya.
Sudah dua kali ke kamar ini, tapi seperti kamar yang sudah lama ditempati. Lemari pakaiannya rapi, ada beberapa kaos yang tidak terlipat rapi tapi masih dalam batas normal. Ukuran bajunya banyak yang over size rupanya dia memang suka baju yang lebar dan tidak membentuk tubuh. Bagus juga jadi aku bisa meminjam kaosnya.
Sambil menunggu putri tidur terbangun, akhirnya kuputuskan untuk menginstal aplikasi di hp nya yang baru. Hp yang lama ia tinggalkan di atas meja, rupanya dia sudah tidak banyak berharap lagi. Ok… good kartu selulernya ada di dalam tinggal mendownload aplikasi yang akan sering dia pakai.
Tidak terasa dua jam dihabiskan untuk merapikan agar hp bisa langsung dipakai dia besok. Untung saja tadi membeli roti sehingga tidak usah mencari makan malam lagi. Dia masih tidur dengan nyenyak, jadi penasaran obat yang diminum apa saja sampai tidurnya kaya orang mati, suara tv pun tidak mengganggunya.
Jam sembilan mata sudah mulai terasa berat, hari ini terasa melelahkan sebetulnya, dari kantor klien langsung ke Jakarta dan mengurus Bulan. Anak ini mau tidur di kost an kah? Mau pulang jam berapa memangnya ke rumah.
“Bulan sudah jam sembilan… ayo bangun nanti terlalu malam” kutepuk tepuk pipinya tapi matanya masih saja terpejam. Akhirnya kuputuskan untuk berbaring di sebelahnya.
“Bulaan kamu mau tidur disini?...hei… mau pulang ke rumah atau tidur di kost-an?” dari jarak sedekat ini aku baru menyadari kalau bulu matanya memang lentik. Hidungnya tidak terlalu mancung, ujungnya masih tumpul seperti hal hidung perempuan asia tapi untungnya tulang hidungnya cukup tinggi. Bibirnya yang menarik, merekah dan tebal dengan posisi tidur yang sekarang sedikit mangap terlihat sangat sensual. Tiba-tiba teringat janjinya untuk menyicil tiga kali ciuman.
“Bulan… aku mau ambil cicilan yang 3 kali yah” bisikku di telinganya.
“Hmmmm…” suaranya bergumam tidak jelas, otaknya masih belum singkron.
“Aku boleh milih yah kemana saja” kali ini dia tidak menjawab.
Bidang pada area muka yang tersedia hanya pipi sebelah kanan, dahi dan bibir. Tidak ada pilihan lain hanya bisa mengambil area itu saja. Jangan salahkan aku Bulan, salah kamu sendiri tidurnya miring.
“Bulan aku ambil cicilan pertama” lucu juga menggangu dia saat tidur, perlahan kucium dahinya terasa berminyak. Dia belum cuci muka setelah datang ke kamar, pantas saja kalau berminyak.
“Cicilan kedua aku mau cium pipi kanan yah” dia masih tidur dengan lelap. Perlahan ku cium pipinya, terasa empuk masih ada lemak bayi di pipinya.
“Sekarang aku mau ambil cicilan yang terakhir, asalnya aku mau cium pipi kiri kanan tapi karena kamu tidurnya miring jadi mau gak mau aku cium bibir kamu”
“Kamu jangan kaget yaah… aku tidak mau merasakan adegan sinetron ditendang dari tempat tidur”
“Hmmmm….” eh ternyata masih nyahut. Its ok lets try, setelah beberapa tahun tidak pernah mencium bibir perempuan akhirnya penantian panjang telah berakhir.
“Bulan aku cium bibir kamu yah” perlahan mendekat, kenapa dada terasa berdebar keras. Bibirnya terasa kering, tapi berbeda dengan bibir Inneke yang tipis, bibir yang kucium sekarang dengan perlahan terasa empuk, penuh dan kenyal seperti spons… ingin rasanya ******* habis bibir ini tapi sang pemilik bibir pasti akan terbangun. Nanti lain waktu… Sabar Juno… Sabar… Jangan sampai di panik. Ehhhh… dia bergerak.
“Hmmmm….” dia bergerak aku langsung mundur, bibirnya tampak bergerak kemudian dijilat terlihat sangat sexy…. Damn…. She is hot.
“Hmmm… aku ngantuk…” dia mengumam.
“Iya tidur aja…” jawabku
__ADS_1
“Bulan… cicilannya sudah aku ambil barusan…”
“Hmmm iya makasiih...:” dia kembali menjawab sambil menggumam, laaah hahahahha dia bilang makasih lagi… aku yang makasih.. Kalau bisa aku pengen tambah tapi takut kamu bangun.