Rembulan

Rembulan
Perang Dunia


__ADS_3

Bulan PoV


Menutup pintu kamar dengan perlahan, kakiku terasa lemas tidak bertenaga. Bersandar pada pintu agar tidak terjatuh… jangan cengeng Bulan, kenapa akhir-akhir ini kamu jadi cengeng. Kuusap air mata yang mengalir di pipi, jangan menangis Bapak akan sedih kalau aku menangis. Selama apa yang dituduhkan itu tidak benar jangan merasa sedih… tegakkan kepala, tegakkan kepala… air mata please stop mengalir.


Papa Bhanu orangnya memang galak, jadi jangan terlalu diambil hati Bulan.... Bukan tanpa alasan kenapa Mama Nisa bercerai dengan Papa Bhanu pasti karena sifatnya yang keras. Tapi kasian Mama Nisa.  Aku menarik napas panjang, samar kudengar suara keras dari ruangan keluarga, kamar ini rupanya kedap suara sehingga sulit kudengar apa yang dibicarakan di luar. Perlahan ku buka pintu sedikit.


“Papa tidak bisa bicara seperti itu”


“Sebelum menuduh orang, mestinya Papa tanya dulu” kudengar suara Juno, tampaknya ia berusaha menjelaskan soal aku yang bernyanyi di depan dengan Anjar. Bodoh kamu Bulan kenapa sangat mudah untuk dibujuk rayu hanya karena materi. Anjar bahkan sudah menjual saham yang ia tawarkan sebagai kompensasi menyanyi di atas panggung.


“Its ok Bulan… kamu bernyanyi bukan karena saham, tapi kamu kasian melihat Anjar di bully teman-temannya, selama ini dia selalu membantu kamu” kudengar suara hati yang lain.


“Tapi tetap saja orang kan mana tahu dia suka membantu kamu, yang keliatan kan kalian berduet mesra. Belum lagi disebut-sebut calon pasangan yang bakalan menikah setelah Nico dan Afi” iya juga sih, pantesan Papa Bhanu marah.


“Makanya lain kali sebelum melakukan sesuatu dipikir dulu, jangan asal kasian, ini malah mau nyanyi karena ditawari saham… payah kamu. Makanya makan tuh makian… biar mikir!” Oh ya ampun yang nonton tidak cuma Papa Bhanu tapi juga keluarga yang lain. Pantas saja beliau marah.


“Mas, diantara semua perempuan yang pernah aku temui, aku merasa Bulan adalah perempuan yang paling tepat untuk Juno”.


“Mereka berdua pernah bertunangan, tapi harus putus karena sikap keras Juno”.


“Takdir yang kembali menyatukan mereka jadi aku merasa kalau Bulan memang perempuan yang tepat untuk Juno”.


“Aku tidak peduli soal takdir, manusia bisa merubah takdir kalau dia berusaha”


“Aku … aku berusaha merubah nasib keluarga kita sehingga anak-anak bisa hidup dengan berkecukupan”


“Iya merubah takdir dengan berselingkuh dengan janda kaya supaya bisa meningkatkan modal perusahaan… itu yang dimaksud Papa dengan merubah takdir?” terdengar lagi suara keras Juno, ya Allah kenapa ini malah jadi ribut seperti ini.


“Tutup mulut kamu! Tahu apa kamu soal perusahaan?".


“Dari dulu kamu tidak pernah mau tahu soal perusahaan Papa, kamu lebih memilih jadi tukang gambar daripada usaha sendiri!” owh ya Allah Papa Bhanu ternyata menginginkan Kak Juno untuk jadi penerusnya.


“Perusahaan? Perusahaan apa? Demi perusahaan itu Papa jadi budak perempuan yang dijadikan istri demi mendapatkan modal perusahaan”.


“Tidak heran karena perempuan itu juga rela menjadi simpanan laki-laki tua untuk dapat harta yang banyak”.


“JUNO!!  “ suara teriakan Mama Nisa terdengar keras, aku belum pernah mendengar Mama teriak begitu keras seperti menjerit.


“CUKUP MAMA YANG BICARA SEKARANG!” tidak terdengar suara Kak Juno, tampaknya kaget mendengar teriakan Mama Nisa.


“Mas selama ini aku selalu mengalah, apapun keinginan kamu”


“Apapun itu bahkan disaat kamu ingin menikahi perempuan itu, demi keutuhan keluarga aku mengalah... demi anak-anak supaya tetap memiliki seorang Papa walaupun tidak pernah ada”


“Termasuk saat perempuan itu meminta Mas menceraikan aku, aku terima. Untuk apa aku harus mengemis-ngemis perhatian pada laki-laki yang memang sudah tidak menganggap aku ada!” kenapa ini air mata malah mengalir terus.


“Mama sudah tidak usah bicara lagi, ini bukan kesalahan Mama” suara Kak Juno terdengar serak.


“Kakak diam! Sudah saatnya Mama yang bicara sekarang!”


“Aku berterima kasih Mas masih tetap mengirimkan tunjangan setiap bulan untuk anak-anak dan memberikan rumah ini sebagai tempat kami tinggal… tunjangan yang Mas berikan lebih dari cukup”


“Tekadku hanya satu setelah perceraian kita, jangan sampai anak-anak mengalami dan merasakan kesedihan yang aku rasakan karena kesalahan dalam memilih pasangan”


“Aku ingin mereka menemukan orang yang mencintai mereka dalam susah dan senang, saling membantu dan saling mengistimewakan” suara Mama terdengar sedih, kenapa perasaan ini seperti ditusuk. Sedalam itukah kekecewaan Mama pada Papa Bhanu?.


“Bulan mungkin tidak berasal dari keluarga yang berada, ayahnya seorang guru.”


“Tapi aku merasa dia adalah perempuan yang tepat yang bisa mendampingi Juno, dia punya keceriaan yang bisa membuat Juno tertawa, kekaguman pada anak kita, kesolehahan yang bisa membawa kedamaian dalam keluarga mereka nanti”


“Kekayaan harta tidak selalu membawa kebahagiaan Mas!”


“Perempuan itu sudah memperlihatkan di depan keluarga besar hubungannya dengan laki-laki lain?”


“Apa kata orang-orang kalau Juno hanya dapat bekasan orang lain?”


“Lalu Papa pikir orang tidak membicarakan Papa? Sudah selingkuh dari Mama kemudian menceraikan Mama demi menikahi seorang Janda Kaya untuk perusahaan Papa?!”


“Malah Papa dapat bekasan dari laki-laki tua!”


“Lalu dari mana Papa tahu kalau Bulan itu bekas siapa?”


“Sampai sejauh ini yang aku tahu dia belum pernah ada yang menyentuh!”


“Kamu dari tadi bisanya bicara saja… kalau kamu benar-benar ingin hidup dengan perempuan itu sudah waktunya kamu pergi dari rumah ini!”.


“Rumah ini Papa yang beli, dari uang yang kamu sebut sebagai hasil dari menjadi budak dari perempuan”.


“Papa pengen tau apakah kamu bisa membeli rumah kalau menikah dengan perempuan miskin itu!”.


Perempuan miskin… woaahh hebat sekali kenapa ini seperti drama sinetron di televisi, terbayang kalau Bapak disebut orang miskin bapak pasti ketawa-tawa. Bapak pernah bilang jangan mau jadi PNS disebutnya juga abdi negara, artinya mengabdi berbakti pada negara. Kalau ada PNS kaya pasti dia punya kerja sampingan yang menghasilkan, tapi kalau tidak punya kerja sampingan tapi kaya artinya otaknya yang nyamping alias miring.


“JANGAN KHAWATIR AKU AKAN PERGI!”


Suara keras Kak Juno menyadarkanku, maksudnya apa? Pergi kemana? Pergi dari rumah inikah?. Kenapa ini sampai mendorong perpecahan keluarga seperti ini gara-gara kehadiran aku? Aku perlu melihat ada apa di ruang keluarga.


“Dughhh…”


“Awww….. Arghhh” pintu terbuka tepat aku akan mengintip keluar, air mata langsung mengalir terasa sakit, pedas, senut-senut, pusing.


“Kamuuu… ngapain diem di pintu?” suara Kak Juno rasanya seperti mendengung.


“Aa buka pintu meni keras-keras…. Argh…..” air mata mengalir di pipi. Sakiiiit


“Ke..keluar darah sedikit… kamu gak apa-apa?” mata susah dibuka begini gimana mau apa-apa.


“Gak apa-apa gimana… sakiiiit” terpaksa harus jongkok kepala terasa pusing.

__ADS_1


“Ini keluar darah merembes….” suaranya terdengar panik.


“Udah jangan ribut, kepala akunya pusing” matanya harus dipejamkan sebentar supaya stabil. Pintu kamar Kak Juno itu tebal dan berat.


“Kamu ngapain lagi ada di belakang pintu, aku kan gak tau ada kamu disitu” masih nyalahin lagi.


“Malah nyalahin aku...kenapa Aa buka pintunya pakai otot, coba kalau pelan-pelan gak akan sakit kaya giniiiihh...hiksss” ini air mata kenapa lagi ngalir terus.


“Iya maaf aku gak tau… kita ke dokter sekarang, aku takut lukanya terbuka” tangannya terasa hangat memegang pipiku, jarinya mengusap air mata yang mengalir.


“Gak apa-apa … palingan berdarah soalnya tadi kejeduknya keras atuda” kucubit perutnya keras sebagai pembalasan dendam


“Awwww…. “ dia langsung terduduk dari berjongkok.


“Aishhh kamu cubitannya mantap beginih” mukanya meringis


“Sakitan aku … Aa tuh kalau marah-marah jangan suka emosian gitu” pengen nyubit lagi kalau gini tuh.


“Awww… “ kucubit lagi tangannya, supaya adil.


“Iyaaa… aduuuh..aduuduuuh sakit Muneey, aku kan gak tau kamu ada di belakang pintu”


“Muni.. muni… asmuni…” akhirnya kulepaskan cubitan di tangannya, sudah tidak terasa terlalu sakit lagi di kepala.


“Sini coba lihat… aku mau buka perbannya… ini kenapa banyak putih putih dimuka kamu? Kamu pakai bedak kok sampai ke rambut?” ternyata tepung masih banyak dikepala dan menempel sebagian di perban.


“Tadi habis perang tepung sama Afi, pas Papa Bhanu datang” tiba-tiba aku jadi teringat keributan tadi.


“A.. Papa Bhanu marah banget yaah Aa nikah sama aku?”


“Mama gimana? Mama gak apa-apa?”


Kak Juno terlihat lelah, mukanya seperti kurang tidur.


“Udah jangan pikiran soal Papa”


“Aku ganti dulu perbannya, ini gimana perban bisa sampai penuh tepung begini, gimana kalau masuk ke dalam luka jahitan… kamu tuh sama Afi kaya anak kecil aja pakai perang tepung segala”


“Aww...aw….aw…. Aarghh pelan-pelan…” ternyata setelah terbentur kulit disekitar luka lebih sensitif.


“Mana tissue basahnya? Itu darahnya harus dibersihkan dulu sebelum kering, cuma sedikit kok” kusodorkan tisu basah, kudengar suara Mama Nisa diluar karena pintu terbuka sedikit.


“Aku minta Mas pulang sekarang!”


“Secara hukum rumah ini sudah jadi milikku, jadi aku berhak mengusir Mas keluar!”


“Aku tidak mau kehilangan milikku yang berharga lagi… Cuma anak-anak yang menjadi kebahagiaan aku sekarang…..argh…. “ suara tangisan Mama terdengar pelan.


“A… kasian Mama” muka Kak Juno terlihat mengeras, tangannya sibuk membersihkan tepung yang ada di sekitaran luka. Lirih kudengar suara tangisan Mama.


“Terima kasih atas semua tanggungjawab dan perhatian yang Mas berikan pada anak-anak”


Arghhh sedih sekali rasanya mendengar ucapan Mama, terbayang selama bertahun-tahun menahan perasaan terluka pada laki-laki yang mengkhianati janji pernikahan.


“Kenapa kamu menangis, pertengkaran seperti ini sudah biasa di keluarga kita… tidak usah ditangisi lama-lama akan terbiasa” mukanya tampak keras tanpa ekspresi. Ya Allah tidak terbayang bagaimana rasanya bertahun-tahun mendengar pertikaian seperti ini. Pantas saja Afi punya sikap yang tidak peduli, ternyata selama ini dia memendam perasaan terluka.


“Aku nangis ini sakit gara-gara luka….. Sroookss”  mana lagi tisu kering cuma ada tissu basah.


“Kamu tuh cengeng banget, luka segini nangisnya kaya anak tk”


“Dulu perasaan jarang nangis… aku kira kamu perempuan yang kuat ternyata cengeng!”


“Kenapa? Nyesel yah nikah sama perempuan cengeng?“


“Ya udah sini gak usah… aku juga bisa bersihin sendiri!” kutahan tangannya yang sedang membuka lapisan kasa obat.


“Aishhhh diem kenapa sih, aku lagi mengalihkan perhatian.. Diem kamunya!” mukanya tampak serius, rupanya mengganti perban menjadikan Kak Juno lebih tenang.


“Ok… sudah” dia mengusap pelipis perlahan, mengusap airmata yang masih tersisa di pipi.


“Kita pergi sekarang” ucapnya pendek.


“Pergi kemana?” apakah karena diusir Papa Bhanu?


“Kita perlu pergi dulu dari rumah sampai kondisi tenang” dia pergi ke walking closet dan mengeluarkan koper besar, mengeluarkan beberapa pakaian dan celana seperti dilemparkan begitu saja.


“Pakaian kamu mana?” tanyanya sambil melihat ke arah lemari kecil yang ia minta isi dengan pakaianku


“Masih di koper..”


“Pakaian dalam sama dasinya sudah aku masukin lagi ksana” dia menggelengkan kepala.


“Ya sudahlah… bagus kalau begitu jadi bisa langsung pergi”.


“Bawa tas berisi dokumen ini” dia memberikan tas besar yang berisi kertas-kertas yang tersusun rapi, tampaknya ini berisi dokumen pekerjaan Kak Juno.


Aku membawa tas laptop dan tas kerja Kak Juno, melangkah mengikutinya di belakang. Tampak Papa Bhanu sedang duduk dengan angkuhnya di sofa single paling besar di ruangan keluarga. Mama Nisa tampak sembab habis menangis tapi yang aneh tidak terlihat lemah dan ringkih malah seperti angkuh berhadapan dengan Papa.


“Kakak kamu mau kemana?”


“Mama gak mau kamu pergi… Papa yang sudah pergi dari rumah ini. Kamu tidak boleh pergi meninggalkan Mama” Mama terlihat panik matanya terlihat merah air mata sudah menggenang di matanya.


“Aku gak kemana-mana setiap hari nanti menengok Mama”


“Papa benar aku sudah menikah jadi sudah waktunya aku mandiri”


“Mama jangan khawatir nanti kalau aku sudah menemukan rumah yang besar, Kita bisa tinggal bersama”

__ADS_1


“Aku panggil Afi dulu supaya menemani Mama sekarang”


Dia langsung pergi ke lantai dua memanggil Afi, sedari tadi aku tidak mendengar suara Afi selama pertengkaran dengan Papa Bhanu.


“Bulan… kamu masih sakit kenapa malah meninggalkan Mama, nanti siapa yang menemani Mama kalau memasak dan bikin kue lagi”


Aku bingung harus menjawab apa, kulirik Papa Bhanu menatapku dengan tajam.


“A...aku ikut sama Aa… nanti Bulan kesini, nanti Bulan buatin Mama pasta yah… hehehe Bulan cuma jago bikin pasta”.


“Nanti Bulan belajar bikin masakan trus kirim ke Mama, nanti Mama kasih tau kalau gak enak biar Bulan belajar lagi sama Mama”


Mama malah menangis sambil memeluk aku erat, Ya Allah kenapa pernikahan ini tidak hanya menyulitkan kami tapi juga Mama.


Kulihat Afi turun bersama Kak Juno, mukanya terlihat murung dan matanya juga sembab, rupana dia memilih menangis di kamar bersama Nico. Syukurlah ternyata dengan adanya Nico disampingnya Afi memiliki teman untuk mencurahkan kesedihan.


“Kamu temani Mama sampai nanti Mama tidur, Kakak sama Bulan pergi sekarang” suara Kak Juno terdengar tegas, Afi cuma mengangguk dan menatapku dengan tatapan sedih.


“Fi… maafin aku…” airmataku mengalir dengan deras, merasa bersalah membuat dia dan Mama Nisa harus mengalami ini.


Afi menggeleng-gelengkan kepala malah ikutan nangis sambil memeluk aku.


“Maafin aku… kamu jangan nangis.. Bukan salah kamu… keluarga aku emang kaya gini” ternyata ini yang membuat Afi murung waktu awal-awal kuliah, pertengkaran dalam keluarga memang menjadi beban untuk anak.


“Ayo..” Kak Juno memberikan komando untuk keluar, aku ragu apakah harus pamit pada Papa Bhanu, kulirik keberadaannya, masih menatapku dengan tatapan penuh amarah. Daripada nanti jadi masalah akhirnya kuputuskan untuk pamit dari jauh saja.


“Om saya pergi” dia tidak ingin menganggapku sebagai anaknya, kenapa aku harus memanggilnya Papa. Afi menatapku bingung.. Hanya Mama yang tersenyum.


“Aku nanti manggil Papanya sama yang mau ngakuin aku sebagai menantu aja Ma..” aku kira ucapanku cukup keras untuk di dengarnya. Mama tersenyum makin lebar, syukurlah paling tidak saat aku pergi aku bisa melihat Mama Nisa tersenyum.


Tidak ada ekspresi apapun di muka Kak Juno, entah karena lelah atau karena banyak yang dia pikirkan.


“Kita mau kemana A?” dia masih diam seperti sedang berpikir


“Aku kemarin sudah membersihkan kamar mandinya setiap hari”


“Hah…”


“Kamar mandi…”


“Aku udah bersihin kamar mandinya sampai berkilau…”


“Aa belum liat yah tadi… padahal aku gosok sampai  kinclooooong banget, kamar mandi di kost an juga gak pernah sekinclong itu”


Eh bibirnya mulai naik ke atas tersenyum sedikit.


“Kenapa gak nyuruh si Mbak untuk membersihkan? Kan aku sudah bilang kamu istirahat saja” hadeuuuh mukanya lempeng lagi.


“Beda dong A.. mesti dilihat perbedaan yang bersihin toilet antara lulusan SMP dengan lulusan S1 Keuangan”


“Apa bedanya?” mukanya terlihat berkerut sambil menatap ke jalan.


“Kalau lulusan SMP bersihin toilet dia gak akan mengukur berapa banyak pembersih yang harus dipakai, bagian mana yang sering digunakan oleh pengguna toilet”


“Kalau lulusan S1 Keuangan memang akan semendetail itu?”


“Heheheheh yah enggak juga… lulusan S1 Keuangan akan mikir dibayar berapa sama yang punya toilet sampai mau gosokin toilet sepenuh jiwa… hehehehhe”


Lumayan bibirnya tersenyum ke atas.


“Dinafkahi setiap bulan… nafkah lahirnya sudah tinggal nafkah batinnya yang belum. Nunggu yang bersihin toiletnya siap” sekarang dia senyum beneran. Hadeuuh kalau ngomong yang kaya gini aja pasti senyum dia.


“A… kemarin rumah sakit telepon” rasanya sulit menceritakan ini padanya.


“Mereka bilang..hmmm” kutarik nafas panjang dulu.


“Mereka bilang kalau uang operasi Bapak gak bisa diganti…” mukanya masih terlihat datar.


“Aku janji nanti akan mengganti biaya operasi Bapak kalau sudah kondisi normal”


“Insya allah akan kembali normal, cuma aku minta waktu aja”


Mukanya terlihat dingin tidak menanggapi.


“A..?”


“A… kok diam?”


“Mau bayar pakai apa kamu?” bibirnya malah tersenyum sinis, disangkanya aku gak mampu kali.


“Yah pakai uang lah…”


“Aku gak butuh uang… aku punya banyak uang…” sombong banget sih.


“Terus pakai apa?” suka aneh orang satu ini.


“Cicil seperti kemarin… tapi aku yang nentuin…” dia tersenyum licik.


“Cicil gimana?”


“Cicilan bathin…”


Dimana-mana juga cicilan biasanya dihitung berdasarkan tenornya mau tiga bulan, enam bulan atau dua belas bulan… mana ada cicilan bathin. Hadeuuuh


 


 

__ADS_1


__ADS_2