
“Bum!”
“Rembulan” Cedrik menepuk-nepuk pipi Bulan, badannya terasa dingin dan buliran keringat mengucur deras di dahi dan pipinya.
“Ada yang lihat tadi kenapa sampai jatuh?” tanya Cedrik pada perempuan yang berkerumun di toilet.
“Saya Pak yang menemukannya, tadi pas mau ke toilet ada suara yang teriak pas saya masuk udah ada di lantai mbaknya”
“Saya langsung lapor ke Mbak yang di depan, soalnya cuma ruangan itu yang lagi ada acara” petugas kebersihan perempuan menjelaskan dengan muka khawatir.
“Bum!” kembali Cedrik menepuk pipinya.
“Pak Cedrik harus dibawa ke permukaan yang bisa dibaringkan dulu, kalau disini kotor Pak” staf yang melapor pada Cedrik mencoba menenangkan, karena Cedrik terlihat panik.
“Oh iya betul, ada sofa yang diluar” Cedrik meraih tubuh Bulan yang tergolek lemas di lantai. Membaringkannya perlahan di sofa dan kemudian menyangga kepalanya dengan bantal.
“Jangan dikasih bantal Pak biar bisa bernafas” saran seorang perempuan yang melintas. Cedrik segera melepaskan bantal yang menyangga.
“Kakinya agak ditinggikan malahan supaya ada oksigen ke otaknya”
“Coba kerudungnya dibuka pinnya supaya tidak menekan” saran perempuan itu, Cedrik terlihat bingung.
“Gak usah dibuka kerudungnya, pinnya saja dibuka supaya tidak menekan” perempuan itu langsung bergerak membuka pin di bawah dagu.
“Ada yang bawa kayu putih atau aroma terapi?” tanya perempuan itu pada yang ada disana.
Ternyata tidak menunggu lama, Bulan mulai menggerakan tangannya.
“Bulan!.. Kamu sudah sadar?” Cedrik menggoyangkan tangan Bulan, terdengar suara gumaman yang tidak jelas dari mulut Bulan.
“Rembulan… ada yang terasa sakit?” suara Cedrik terdengar cemas. Namun pada saat Bulan membuka mata kembali menjerit.
“Arghhhh Kak … semuanya berputar” tangan Bulan mencengkram lengan Cedrik dengan kuat.
“Aku…aku mau mati kayanya ini Kak… Ya Allah… Bapaaakkk” Bulan menyembunyikan kepalanya ke bawah tangan, matanya terpejam erat.
“Bum… ehhhh jangan panik… mau mati gimana? Kamu gak apa-apa kok” Cedrik berusaha menenangkan.
“Ibu waktu hamil Benny juga dulu meninggal, pusing kepalanya… sekarang aku hamil kepala aku pusing juga ini berputar semuanya…. Hwaaaa” Bulan menangis sambil mengerutkan tubuhnya di sofa. Tangannya tanpa sadar menggenggam erat tangan Cedrik.
“Kamu hamil?” suara Cedrik terdengar kaget.
“Suami… suami kamu masih di Surabaya?” ia tahu kalau Juno masih di Surabaya karena kemarin Bulan memberitahunya ia akan ditemani oleh staf kantor karena Juno di luar kota.
Bulan mengangguk lemah, Cedrik mengerutkan dahi nya. Saat ini proses seleksi proposal masih berlangsung tapi ia tidak mungkin meninggalkan Bulan dengan kondisi seperti ini.
“Kamu handle proses seleksi di dalam, aku mau mengantar ke Rumah Sakit. Kalau Mr. Chow tanya bilang saja kalau aku mengambil dokumen kelayakan dulu ke kantor”
“Panggil Adly supaya bantu kamu kesini” Cedrik langsung memberikan instruksi.
“Suruh driver supaya bersiap ke depan lobby”
"Pak ini maaf, handphone mbaknya terjatuh” staf kebersihan menyerahkan handphone Bulan yang terjatuh pada Cedrik yang langsung disimpan di saku jas.
Tanpa banyak bicara ia langsung menggendong Bulan.
“Kita ke rumah sakit sekarang kondisi kamu harus diurus sama tenaga medis” Bulan tidak menjawab hanya mengangguk lemah.
Saat di mobil tangan Bulan tidak pernah melepaskan tangan Cedrik, begitu terlepas langsung ia menggapai-gapai seakan takut kehilangan pegangan.
“Jangan takut aku disini nemenin kamu” Cedrik berusaha menenangkan, untuk pertama kalinya ia melihat Bulan dalam kondisi yang tidak berdaya, selama ini perempuan yang dikenalnya semenjak bangku kuliah selalu terlihat penuh semangat dan energi.
“Aku kayanya mau mati kaya ibu” suara Bulan terdengar lirih, butiran air mata mengalir di mukanya.
“Jangan berpikir seperti itu, kematian tidak ditentukan oleh manusia tapi oleh Tuhan”
“Jangan mendahului keputusanNya”
“Siapa yang bisa aku hubungi sekarang?” Cedrik tampak tercenung, ia bingung harus menghubungi siapa.
“Suami kamu nomor handphonenya berapa?”
“Aku gak inget lihat aja di hp aku” jawab Bulan lemah. Cedrik mengangguk setuju, ia langsung mengambil handphone Bulan.
“Kamu tuh hp gak pernah pakai password… gimana sih” saat Cedrik membuka handphone Bulan untuk mencari nomor telepon Juno. Tapi ternyata teleponnya mati tidak bisa dihubungi.
“Hmmm… pusing banget Kak… aduhh” Bulan hanya menggumam dan mengaduh saat mobil berhenti mendadak karena ada kendaraan yang tiba-tiba berhenti di depan.
“Pelan-pelan Pak… ini kondisinya hamil” ucap Cedrik saat cengkraman tangan Bulan semakin erat pada lengannya.
Tak lama saat di rumah sakit Bulan kembali menjalani pemeriksaan, ternyata tekanan darahnya kembali menurun ditambah dengan asam lambung yang kembali kambuh sehingga mengakibatkan gangguan pada kondisi fisik.
__ADS_1
“Bukankah kamu menikah dengan kakaknya sahabat kamu yang pakai kacamata tebal itu” tiba-tiba saja Cedrik teringat kalau Juno adalah kakaknya Afi. Bulan hanya memberikan isyarat jempol karena sedikit saja gerakan membuat kepalanya terasa berputar.
“Siapa namanya?”
“Afi” jawab Bulan kembali pelan. Cedrik kemudian kembali mencari di hp, dahinya semakin berkerut, ia hanya bisa menggunakan satu tangan karena satu tangannya lagi tidak bisa ia lepaskan dari genggaman Bulan.
“Gak ada nama Afi” ucapnya sambil terus menggeser layar handphone naik turun, tapi tak ada nama Afi disana.
“Ipar Tercantik” ucapnya lirih.
“Haahh” Cedrik terlihat bingung.
“Itu nama di handphone, dia ganti nama dia sendiri di hp aku. Katanya dia adalah ipar tercantik yang aku miliki di dunia” Bulan tersenyum samar. Masih terbayang dalam ingatannya saat Afi mengganti nama-nama di handphonenya.
“Gimana kalau istrinya Benny lebih cantik daripada dia” Bulan kembali tersenyum tapi langsung mengaduh karena membuat kepalanya pusing.
“Matanya coba dibuka jangan ditutup terus” Cedrik terlihat prihatin, tangannya terasa kesemutan karena cengkraman tangan Bulan sangat kuat sehingga membuat lengannya kemerahan. Bulan malah menggelengkan kepala dan semakin membuatnya pusing dan mengaduh keras.
“Ya sudah… jangan dipaksakan tenang… tarik nafassss….tarik nafaasss ingat kalau dalam kondisi seperti ini jangan panik… semakin kamu panik malah nanti jadi semakin sakit”
“Aku belum ngelahirin kenapa mesti disuruh tarik nafas terus… bukannya itu kalau mau melahirkan” keluh Bulan sambil terus mencoba menarik nafas.
“Gimana nanti kalau bayinya keluar sebelum waktunya” ucapnya sambil mengernyit takut. Cedrik langsung melotot kaget mendengarnya.
“Kamu jangan bicara aneh-aneh… sebentar aku panggilkan suster dulu… ini dokternya kemana lagi dari tadi lama banget sih” Cedrik tampak kebingungan.
“Kakak jangan panik gitu… kalau Kakak panik gimana nanti aku… aku belum pernah kaya gini” Bulan meringis posisinya sangat tidak nyaman.
“Halo… ini dengan Afi?” ternyata teleponnya langsung tersambung pada Afi.
“Iya ini saya Cedrik kakak kelas kamu dulu, begini…” belum sempat Cedrik menyelesaikan pembicaraannya sudah terdengar teriakan keras di ujung telepon.
“Ngapain telepon Bulan ada di Kak Cedrik… mana Bulan? Jangan macam-macam sama dia… kalau berani macam-macam…” terus terdengar teriakan keras dari telepon. Cedrik memandang telepon dengan kaget dan bingung.
“Ini kenapa kamu menikah sama keluarga preman?” ia menatap Bulan bingung.
“Afi memang kaya kakaknya emosian… sini kasihkan sama aku…. Kak Cedrik jangan pergi!” tangan Bulan yang satu lagi menggapai-gapai mencari handphone.
“Fi… jangan ngomong keras-keras. Aku di rumah sakit tolongin aku” hanya itu yang diucapkan Bulan dan kemudian memberikan kembali handphone pada Cedrik.
“Halo… ini dengan Cedrik kembali… tolong berhenti bicara!” ucap Cedrik tegas. Kemudian dia menceritakan kronologis kejadian Bulan sehingga masuk rumah sakit. Tidak butuh lama kemudian ia mengakhiri sambungan telepon.
“Sebentar lagi dia kesini, kamu tenang saja” Cedrik menarik nafas lega.
“Gak apa-apa jangan berpikir seperti itu. Kesehatanmu lebih penting” Cedrik mengusap tangan Bulan dengan lembut, diperhatikannya muka Bulan yang tampak pucat dengan mata terus terpejam.
“Kamu bahagia?” tiba-tiba saja pertanyaan itu tercetus. Bulan tercenung mendengarnya.
“Kamu bahagia menikah dengan Juno?” kembali Cedrik bertanya, pertanyaan itu membuat Bulan mengendurkan pegangannya, tapi saat Cedrik bergerak, tangan Bulan kembali mencengkram lengan Cedrik.
“Kakak jangan tinggalin aku… aku takut” ucap Bulan dengan suara lemah.
“Semuanya berputar” air mata Bulan kembali mengalir.
“Aku gak akan kemana-mana jangan khawatir” ucap Cedrik.
“Dia baik sama kamu?” tanya Cedrik kembali. Bulan hanya tersenyum lemah, kembali teringat pada pesan yang dikirimkan Inneke padanya tadi pagi membuatnya ingin menangis, buliran air mata semakin deras mengalir.
“Kenapa malah menangis?” suara Cedrik terdengar prihatin,
“Ada masalah dalam pernikahan kalian? Itu yang membuat kamu sampai pingsan tadi?” tanyanya lembut. Bulan mengusap air mata yang mengalir di mukanya.
“Inneke…” ucapnya pelan
“Siapa?” Cedrik mengerutkan dahi.
“Inneke terus mengirim… mengirim pesan sama aku… srook”
“Bilang aku… kalau aku bukan istri yang baik yang mendukung suami… hwaaa”
“Padahal aku sudah berusaha membantu A Juno… dianya aja gak tahu”
“Aku gak suka … aku gak suka kalau A Juno sampai pinjem uang ke Bank soalnya… soalnya beban perusahaan masih belum kuat untuk menambah hutang…. Sroook… aduuuh” Bulan memegang kepalanya yang terasa bergoyang karena ia bergerak.
“Siapa Inneke?” tanya Cedrik bingung.
“Bekas pacarnya A Juno… Kak …Kak Cedrik ingat gak senior di kampus yang cantik yang jadi Duta Kampus” Bulan sambil tetap memejamkan mata Bulan menghapus air matanya dengan lengan baju. Cedrik menghela napas.
“Jorok kamu… ini pakai sapu tangan” mengusap air mata Bulan dengan sapu tangan yang dibawanya.
“Makasih… aku pinjam… eh aku minta aja nanti aku ganti Kak” ucap Bulan dengan tersedu.
__ADS_1
“Aku gak ingat jelas tapi aku ingat ada senior yang jadi Duta Kampus Angkatan 2008 kalau tidak salah”
“Iya dia… cantik kan dia… dia itu bekas pacarnya A Juno”
“Hmmm tipe perempuan modern tapi mukanya dingin” ucap Cedrik sambil berusaha mengingat-ingat.
“Kok bisa dia mengirim pesan sama kamu” ucap Cedrik cepat. Bulan hanya diam menarik napas. Malas rasanya menceritakan semua permasalah pada orang lain. Cedrik menatap handphone Bulan yang ditangannya, diam-diam ia membuka pesan di handphone Bulan kemudian keningnya berkerut membaca pesan dari Inneke.
Bersamaan dengan itu pemeriksaan dokter mengharuskan Bulan menjalani observasi untuk rawat inap karena mengalami gejala vertigo berat, sementara menunggu proses administrasi diselesaikan kepala Bulan harus disangga oleh penyangga leher sehingga kondisi kepalanya lebih stabil.
“Kenapa kamu gak lawan dia?” tanya Cedrik saat perawat dan Dokter keluar dari bilik observasi. Bulan hanya tersenyum lemah.
“Aku lagi gak ada dalam kondisi sehat, energinya cuma untuk seleksi proposal ini saja”
“Lagipula untuk apa aku menjawab pesan seperti itu… dia seperti perempuan yang gak waras… mengirim pesan sama istrinya mantan padahal dia sendiri sudah menikah dan punya keluarga” jawab Bulan.
“Kamu kok bisa kenal sama dia? Bukankah angkatan kalian jauh?” Cedrik seperti bingung.
“Dia menikah sama bos aku yang di KAP. Bos aku yang cerita kalau istrinya dan A Juno dulu itu pacaran… A Juno sendiri gak pernah cerita sama aku” jelas Bulan. Cedrik menggelengkan kepala pusing.
“Hidup kamu kok rumit banget sih Bum” ucapnya bingung. Bulan tersenyum mendengarnya, panggilan Bum adalah kependekan dari Bulan.
“Aku sekarang udah kalem Kak gak gedubrak gedubruk lagi bam bim bum” ucap Bulan. Julukan Bum diberikan karena Bulan yang selalu ribut dalam beraktivitas.
“Tipe perempuan seperti Inneke itu selalu mengejar target yang ingin dicapainya”
“Mungkin dia melihat kalau suami kamu sekarang sebagai targetnya lagi”
“Tapi dia kan sudah menikah Kak… punya anak lagi kenapa harus kembali mengejar A Juno, dulu dia yang meninggalkan A Juno kemudian menikah sama Pak Kevin”
“Manusia kan gak ada puasnya” jawabnya pendek.
“Tapi selama suami kamu mencintai kamu dan tidak memperdulikan perempuan itu kamu gak usah khawatir” ucap Cedrik dengan tegas, Bulan hanya tersenyum samar.
“Jangan katakan kalau suami kamu juga main gila sama perempuan itu!” ucap Cedrik kesal. Bulan menggeleng pelan, penyangga di kepalanya membuat ia sulit menggerakan kepala.
“Nggak… A Juno gak pernah menanggapi perempuan itu, tapi aku masih merasa gak nyaman dia selalu saja bersikap seakan paling tahu soal A Juno”
“Sekarang aku mulai merasa capek… apakah memang layak dipertahankan?”
“Selama bukan perbedaan keyakinan… cinta itu layak dipertahankan” jawab Cedrik pelan. Bulan membuka mata perlahan, ia bisa melihat Cedrik yang terlihat sedikit buram di sekelilingnya masih seperti air bergoyang tidak terkendali.
“Kita berdua tidak pernah membahas ini… terlalu menyakitkan untuk dibicarakan dan tidak ada solusinya” ucap Cedrik.
“Kamu adalah perempuan yang layak diperjuangkan dan dipertahankan… harus yakin itu”
“Kalau laki-laki yang kamu pilih tidak melihat itu maka ia tidak layak kamu pertahankan” sambungnya lagi.
“Dulu aku menyadari.. Semakin lama kita bersama akan semakin sulit untuk kita berdua”
“Tidak ada solusi untuk perbedaan keyakinan”
“Sampai beberapa waktu aku harus memendam perasaan untuk menahan diri gak ketemu sama kamu… menghindari tempat-tempat dimana kamu suka berkumpul” Cedrik menarik napas panjang.
“Aku sampai mempertanyakan kenapa agama itu harus ada di dunia sehingga kita diberikan sekat padahal kita memiliki Tuhan yang sama”
“Sampai akhirnya aku menemukan ketenangan dan memahami bahwa semua yang terjadi di dunia ini ada maksud dan tujuannya”
“Perbedaan itu bukan hal yang buruk tapi harus menjadi kebaikan” ucapnya sambil menarik napas panjang.
“Kalau semuanya sama, kita tidak bisa melihat kebaikan yang dimiliki, justru karena perbedaan itu kita bisa memilah dan memahami ohhh disini letak kebaikannya dan disana letak kekurangannya tapi jangan dijadikan masalah, kita terima saja... ada perkara yang memang tidak perlu dicari penjelasannya cukup diterima saja” jelas Cedrik, Bulan tersenyum.
“Kalau Kak Cedrik tidak menjauh mungkin aku akan selamanya menjadi followers, tapi karena Kak Cedrik menjauh aku jadi mandiri dan berusaha memimpin diriku sendiri dan teman-teman aku jadi berkembang banyak” kenang Bulan.
“You see… akan selalu ada kebaikan dibalik kejadian buruk” Cedrik menepuk hangat genggaman tangan Bulan di lengannya. Bulan mengangguk lemah.
“Yang penting kamu mesti tahu kalau aku selalu berada di belakangmu… I will follow you down”
“Hahaha ini mah kaya lagu yang suka kita nyanyiin dulu Kak” ucap Bulan tertawa lebar, untuk pertama kalinya ia bisa tertawa setelah menangis.
“anywhere you go, i’ll follow you down
anyplace but those i know by heart
anywhere you go, i’ll follow you down
i’ll follow you down, but not that far” Cedrik menyanyikan lagu yang suka mereka nyanyikan bersama saat berkumpul kuliah dulu.
“Aku bakalan ngikutin tapi jaga jarak soalnya sekarang kamu udah nikah…hahahaha” Cedrik tertawa senang melihat Bulan sudah bisa membuka mata sedikit sambil tersenyum.
“Bulaaaaaan… lu kenapaa… heeeh malah pada nyanyi lagi.” suara perempuan di belakang tirai terdengar keras.
__ADS_1
Hadeuuuh ini… Nona riweuh… gak bisa lihat orang seneng dikit.