
Juno PoV
Ternyata yang berkumpul di Cafe tidak cuma anak design tapi beberapa anak dari divisi lain yang dikenal dan sering kerja bareng. Malah ada beberapa anak front office yang ikut juga, menarik… selama ini aku mengira kalau mereka tidak merasa dekat denganku. Ternyata aku salah.
“Lu terkenal juga Dul” Doni mendorong bahuku, begitu melihat banyaknya orang yang berkumpul. Yah… wajar sebetulnya hampir lima tahun aku bekerja di perusahaan ini, disaat orang lain berpindah pekerjaan setiap tahun aku memilih stay terus di satu perusahaan.
Ternyata Arvian yang mendanai kegiatan Farewell Party ini, belum pernah ada kegiatan seperti ini sebelumnya. Biasanya kalau ada staff yang keluar, yah sesuai prosedur saja. Syukurlah… ini berarti aku sudah bisa menjalin hubungan yang baik dengan seluruh staf dan meninggalkan kesan yang baik pula saat meninggalkan perusahaan ini.
Arvian pun ternyata datang, dia memberikan apresiasi atas pekerjaanku selama ini di perusahaan, meminta para desainer madya untuk bekerja keras seperti yang aku lakukan selama ini, dan mendoakan agar aku sukses merintis perusahaan baru. Walaupun di akhir dia memberikan ancaman untuk tidak mengambil klien perusahaan dan berpindah ke perusahaan baru yang kurintis. Hahahahahaha ide bagus sebetulnya, terima kasih atas inspirasinya jawabku.
Tidak terasa acara berlangsung sampai satu jam lebih sampai aku baru menyadari kalau aku belum menjawab pesan-pesan dari Bulan. Tapi ternyata seharian ini ia tidak mengirimkan pesan sama sekali bahkan tidak melakukan panggilan telepon. Apakah dia marah?
Akhirnya aku cek dimana posisinya saat ini… What… dia masih belum pulang juga padahal terakhir dia sudah meninggalkan kantor dari jam tujuh malam tadi. Sedang apa dia? Kemudian aku melihat dia bergerak sudah jam delapan lebih selama satu jam lebih dia berada dimana tadi?.
Acara masih belum selesai, anak-anak masih terlihat menikmati acara sedangkan aku mulai merasa tidak tenang, khawatir dengan Bulan yang masih belum pulang dan jaraknya lumayan jauh.
“Don… gw pulang duluan kayanya” bisikku pada Doni.
“Heeh gak bisa dong tunggu sampai jam sembilan lah… ini kan acaranya elu.. Tuh anak-anak mau ngasih kenang-kenangan katanya”
Ternyata mereka sudah merancang acara ini dengan baik, ada banyak hadiah yang tiba-tiba saja menumpuk di meja, kemudian mereka bersikeras supaya aku membuka semua hadiah dan orang yang memberikan hadiah diberikan kesempatan untuk berfoto dan mengucapkan salam perpisahan. Shits… hadiahnya banyak lagi. Aku tidak mungkin kabur sekarang. Kulihat kembali di aplikasi sekarang Bulan sudah berpindah tempat. Blora… mau kemana dia? Aku coba telepon dulu siapa tahu dia bisa datang menyusul kesini.
Damn… dia tidak mengangkat telepon… ok...hahahaha dia membalas dendam.
“Sayang kamu dimana?”
“Hari ini aku pulang, pekerjaan sudah selesai”
“Anak-anak lagi bikin farewell party… kamu bisa kesini?”
“Aku share lock”
Paling tidak aku harus coba kontak dia dulu, perempuan biasanya langsung luluh kalau dipanggil sayang.
__ADS_1
“Dul… tuh gift yang ke satu Tarry… anak FO”
‘Ayo Tarry… mau kasih ucapan apa sama Yayang Juno”
Tarry anak front office paling senior dan yang jadi favorit Doni pantas saja dikasih kesempatan pertama, paling cantik memang dan bergaya paling manja.
“Jaga jarak aman yah… khawatir ada yang foto terus dikirim ke bininya bisa-bisa tidur di sofa ntar Bang Juno-nya” Doni langsung menarik Tarry yang sudah mepet ingin berfoto sampai menempelkan badannya walaupun aku sudah menjaga jarak. Aku tersenyum berterima kasih pada sahabatku ini, entah merasa cemburu atau dia khawatir pada Bulan tapi aku sangat berterima kasih.
Hampir tiga puluh menit acara buka hadiah dan ucapan perpisahan dari masing-masing pemberi gift. Aku tidak sempat membuka hp karena staf yang ingin memberikan hadiah dan berfoto sangat bersemangat sehingga hampir tidak ada jeda. Sampai akhirnya semuanya selesai dan aku bisa menarik nafas lega.
“Bang Juno makasiiiih yaaaa” staf perempuan yang ternyata tiba-tiba bertambah membuatku semakin pusing, tiga hari tidak bertemu Bulan cukup membuat kepalaku berdenyut setiap berdekatan dengan perempuan yang tidak berhenti untuk menggoda dengan senyuman dan harum tubuhnya.
Bulan… shitss… aku lupa dimana, segera kulihat di aplikasi… My God… posisinya sudah di tol kota menuju arah keluar kota… Damn dia pulang ke Bandung tanpa memberitahuku terlebih dulu. Dia marah pasti…
“Don… aku mesti pulang, janji mau jemput Bulan kasian dia sudah lama menunggu”
“Ehh gila lu… kenapa gak bilang, tau gitu gw jemput dia”
Doni selalu concern kalau berhubungan dengan Bulan. Entah kenapa aku kadang merasa heran dia merasa begitu akrab dengannya padahal baru bertemu beberapa kali, tapi mereka seperti kakak adik yang sudah kenal lama. Aku tidak pernah berpikir negatif pada Doni, aku tahu dia adalah teman yang baik dan selalu bisa aku andalkan.
“Hmm ada di Blora, ada janji sama temannya. Aku pulang duluan yah… lu handle sampai akhir yah, jangan sampai ada staff cewek yang pulang kemalaman sendiri” ucapku, walaupun mereka terlihat kecewa melihatku pulang lebih dahulu tapi aku harus pulang.
Kembali ku telepon Bulan kali ini baru tiga kali panggilan langsung dimatikan… Shiits dia benar-benar marah.
Author PoV
Bulan masih ingat ada travel yang terdekat di daerah Blora, dia selalu naik travel itu kalau pulang dari Bandung. Segera memesan seat ternyata waiting list karena weekend pasti penuh menuju Bandung. Tak apa pikirnya, selalu ada penumpang yang gagal berangkat karena sesuatu dan lain hal. Walaupun nanti tidak ada seat sampai jam sepuluh ia bisa pulang ke rumah Mama Nisa. Hari ini ia benar-benar tidak ingin pulang ke Ruko perasaannya benar-benar merasa sepi dan sendiri.
Setelah terlewati dua jadwal perjalanan menuju Bandung, akhirnya Bulan dipanggil ada penumpang yang tidak datang. Waktu sudah menunjukkan hampir jam sembilan tiga puluh. Kalau perjalanan tiga jam berarti sampai ke Bandung lewat jam dua belas. Bulan berusaha menghubungi Benny agar bisa dijemput, tapi ternyata hp-nya tidak aktif terus. Itu berarti ia harus naik taksi malam-malam lewat jam dua belas dan rasanya mengerikan bagi yang tidak pernah menggunakan moda transportasi umum di malam hari.
Tidak lama setelah mobil travel bergerak menuju Bandung, hp Bulan kembali berbunyi. Juno.
Bulan memandang hp di tangannya, kemudian ia menekan tombol merah dengan tatapan kesal. Sudah dua kali Juno meneleponnya dan keduanya tidak diterima olehnya, apalagi setelah membaca pesan yang dikirim Juno padanya. Dengan mudahnya hanya menyebutkan kalau pekerjaanya sudah selesai, tidak ada kata maaf ataupun basa basi penyesalan selama tiga hari tidak menghubunginya.
__ADS_1
Tak lama setelah mobil bergerak ia segera terlelap, ternyata berhadapan dengan mantannya suami membuatnya lelah, sudah beberapa hari ini ia merasa lelah, sehingga walaupun Juno tidak pulang ke Ruko Bulan tidak mengalami kesulitan untuk tidur, ia selalu tidur dengan cepat saat kepalanya menyentuh bantal.
Selama perjalanan Jakarta Bandung tidak dirasakan oleh Bulan, mendadak ia merasakan mobil berhenti membuatnya langsung terbangun.
“Silahkan bagi yang ingin ke toilet, kita istirahat dulu maksimal lima belas menit yah Bapak Ibu supaya tidak terlalu malam sampai ke Bandung”
Berusaha mengumpulkan kesadaran Bulan menatap keluar, ternyata sudah di km 78, ia tertidur dengan lelap. Kepalanya masih terasa pusing, tapi desakan ingin ke toilet membuatnya turun dari travel. Udara dingin menyadarkannya sehingga walaupun terhuyung-huyung ia segera ke toilet mengeluarkan beban perjalanan yang mendesaknya. Mencuci muka di wastafel membuatnya segar. Masih ada waktu sepuluh menit, Bulan bergegas ke Mart yang ada di rest area, perutnya mudah merasa lapar sehingga perlu membeli camilan untuk dimakan.
Ada perasaan aneh saat ia akan kembali ke mobil travel, Bulan merasa ada yang mengamatinya, menatap ke kiri dan kekanan tapi tidak ada orang selain dari petugas kebersihan dan petugas SPBU yang sedang asyik bercanda dengan teman-temannya. Bulan bergegas masuk ke mobil travel, sedikit menyesali keputusannya untuk pulang ke Bandung dengan tiba-tiba tanpa meminta izin dari suaminya. Seharusnya ia menginap saja di rumah Mama Nisa, paling tidak bisa mengobrol dengan Afi dan Mama.
Di dalam mobil travel akhirnya Bulan membuka pesan dari Juno, walaupun ada perasaan bersalah tapi rasa kesal dan marah masih lebih besar, diabaikan selama tiga hari terasa berlebihan
“Ngapain juga aku kirim pesan ngasih tau pulang ke Bandung, belum tentu juga dia pulang ke Ruko” Bulan mengerutkan dahi saat menuliskan pesan. Dihapusnya kembali tulisan yang meminta izin pada suaminya kalau dia pulang ke Bandung. Lama berpikir akhirnya Bulan menuliskan pesan.
“Aku pulang ke Bandung mau ketemu Bapak”
Pesan singkat padat cepat yang dikirimkannya dan kemudian mematikan handphone nya, khawatir Juno meneleponnya, Bulan langsung menyantap roti yang dibelinya dengan lahap. Ternyata makan croissant tadi tidak cukup mengganjal perutnya, sudah beberapa hari ini ia selalu ingin makan yang manis kalau malam-malam.
Memasuki Kota Bandung, Bulan kembali menghidupkan handphone, ia kembali menghubungi Benny tapi ternyata masih saja tidak bisa dihubungi, pasti saja anak itu tidur tanpa mengisi baterai handphone. Ternyata kebiasaan mereka berdua sama suka lupa mengisi baterai hape. Bulan tidak berani menelepon Bapak, kondisi Bapak belum stabil, tidak mungkin minta dijemput oleh Bapak.
Di daerah Pasteur sudah sepi, biasanya dia turun di sini supaya lebih dekat ke rumah, tapi dengan kondisi sepi seperti ini Bulan tidak berani turun, walaupun beberapa penumpang turun di lokasi itu. Ia memutuskan untuk memanggil taksi di pool travel, paling tidak tempatnya aman dan dia bisa menunggu tanpa rasa was-was dan khawatir. Ketakutan yang ia rasakan saat di rest area membuatnya panik saat tiba di Bandung lewat tengah malam.
Menjelang masuk ke pool hanya tinggal tiga penumpang tersisa, ia merasa lega paling tidak, masih ada teman, walaupun sebetulnya masih ada jadwal keberangkatan setelahnya mobil travel yang ia tumpangi, jadi tidak mungkin ia akan sendirian di pool. Duduk di belakang membuatnya harus menunggu penumpang lain turun.
Saat turun dan berjalan ke arah ruang tunggu, Bulan kembali mencoba menelepon Benny ternyata masih mati hp nya. Akhirnya ia memutuskan mencari taksi online, asyik mengisi arah tujuan ia tidak menyadari seorang laki-laki mendekat dan menarik tasnya dari belakang.
“Mau kemana?”
Bulan terlonjak tarikan pada tasnya cukup keras sehingga membuatnya hampir terhuyung, untung segera ditahan laki-laki itu. Matanya langsung membulat melihat laki-laki yang menariknya. Jeritan kaget yang sudah ada di ujung mulut langsung tertahan, berganti dengan teriakan kesal yang tertahan .
“Lepassss”
Siapa coba yang tarik-tarik Teh Bulan… awas loh lagi mode galak… yang gak kenal aja suka disemprot apalagi yang kenal… pasti disembur….hahahahahaha
__ADS_1