Rembulan

Rembulan
Vye Vye


__ADS_3

Hari ini sore terakhir ia di kantor, mengemas semua barang pribadi dalam dus, hanya tinggal membawa cangkir minum yang biasa dipakai dan beberapa dokumen pribadi yang ia simpan. Makanan persediaan dan kopi instan yang biasa ia minum sudah diserahterimakan ke Anjar.


Duduk di meja sambil menunggu Three Musketeer pulang rapat, karena ingin berpamitan terlebih dahulu walaupun waktu sudah menunjukan jam lima lebih tiga puluh menit. Juno berjanji akan menjemputnya karena tadi ia mengatakan harus membawa dus sehingga akan repot kalau memakai kendaraan umum.


“Ehhh masih menunggu kita?” Marissa tampak kaget saat melihat Bulan yang masih duduk di meja rapat sambil memainkan hp.


“Masa iya aku pergi gak pamit” ucapnya sambil cemberut. Perasaannya campur aduk, seperti dipaksa harus meninggalkan keluarga yang ia sayangi tapi keadaan memaksanya untuk pergi. Juno sudah datang dari lima belas menit yang lalu dan menunggunya di tempat parkir.


Kevin memandangnya sambil tersenyum dan kemudian menyimpan semua dokumen rapat yang tadi dibawanya, menghampiri Bulan dan memberikan tepukan di pundaknya.


“Jangan sedih! Kedepannya kita masih bisa bertemu dan berkumpul lagi”.


“Bukankah dalam agama disebut tidak boleh memutuskan silaturahmi? ”


“Sugooi… sejak kapan lu jadi alim begini pake kutipan agama segala” ejek Marissa sambil duduk disamping Bulan.


“Insyaf kali Mbak… sudah bertobat supaya nanti bisa dihapus dosa setahun kebelakang dan setahun kedepan” sambung Anjar memprovokasi ejekan dari Marissa. Tapi Kevin adalah lelaki yang selalu terkendali dalam bersikap, hanya tersenyum tipis dan menikmati semua ejekan yang ditujukan kepadanya.


‘"Ada masanya orang ingin menjadi lebih baik”


“Kalau bahasanya Rembulan memantaskan diri… bukan begitu Bulan?” tanya Kevin, yang langsung disambut dengan acungan jempol oleh Bulan.


“Memantaskan diri buat apa? Emang lu pengen gebet siapa lagi? Masih belum cukup si Inge?” tanya Marissa sinis.


“Otak kamu tuh terlalu berburuk sangka, apa istilahnya Rembulan kalau suka berburuk sangka pada orang lain?” tanya Kevin


“Suudzon Pak”


“Nah itu! Suudzon… memantaskan diri kan bisa bermakna apa saja, memantaskan diri menjadi atasan yang baik, menjadi teman yang baik, menjadi orangtua yang baik… intinya adalah berkembang terus menjadi pribadi yang lebih baik” jawab Kevin tenang. Marissa langsung bertepuk tangan dengan senyuman meledek.


‘Wuarrrbiazzza … Lu baru diceramahi satu kali sama Bu Ustadzah langsung nempel di kepala dan siap hijrah” ledek Marissa yang disambut dengan sambitan kertas oleh Kevin.


“Hehehehe aduh aku bakalan kangen inih, makanya aku udah nyiapin kenang-kenangan buat bos-bosku tersayang sama teman tercintaku” Bulan mengambil kantong kertas di sampingnya dan mengeluarkan isinya, tiga buah kado yang terbungkus rapi dan dari penampakan dari luar terlihat kalau isinya seperti buku.


“Ini untuk Pak Kevin, ini untuk Mbak Icha dan ini buat my dearest Anjar” Bulan memberikan satu per satu buku kedepan Kevin dan Marissa, Anjar yang masih duduk di mejanya kemudian mendekat dan ikut duduk di meja rapat.


“Pasti buku inih… gak akan jauh Bulan kalau ngasih hadiah pasti nyuruh mikir” protes Anjar.


“Hehehehe Buku adalah sumber ilmu pengetahuan, gak apa-apa ngasih sumber ilmu biar nanti kalau ilmunya bermanfaat dan dipakai kan aku dapat pahalanya… ilmu yang dimanfaatkan” Bulan hanya bisa tersenyum malu, ia sudah bingung pada awalnya harus memberikan apa, tapi akhirnya memberikan sesuatu yang sudah ia tahu isi dan manfaatnya hanyalah buku.


“Aku juga buatin sesuatu yang spesial, gak bagus dan mewah cuma handmade, dibuat sama aku sendiri” ia mengeluarkan bungkusan kecil kado dari dalam kantong kertas dan memberikannya pada Kevin, Marissa dan Anjar. Untuk Kevin ia memberikan dua bungkus kecil.


“Buat Pak Kevin, saya titip satu untuk Elma, tolong bilang kalau aku bikinnya spesial buat dia” dengan bungkus kado yang lucu memakai pita kecil disematkan di atasnya, membuat kado kecil itu terlihat lucu dan menggemaskan.


“Apa ini?” Kevin tersenyum melihatnya dan menimang-nimang kado untuk anaknya itu.


“Sama dengan yang untuk Bapak tapi beda model… buka dong kadonya Mbak Icha… Anjar… gak kepo gitu?”


Mendengar permintaan Bulan, serempak mereka bertiga membuka kado yang diberikan Bulan, semuanya memilih kado yang paling kecil terlebih dahulu. Rupanya mereka penasaran dengan isi kado kecil itu… dan ternyata isinya adalah Gelang.


“Wow… ini lucu banget… kamu beli dimana?” Marissa menimang-nimang gelang manik di tangannya.


“Cute…. Lucu banget”


“Aku bikin sendiri Mbak… aku nyari di online trus tinggal dirangkai aja, kalau Mbak Icha dan Elma kan perempuan jadi bahannya manik-manik nah kalau Pak Kevin dan Anjar kan laki-laki jadi bisa pakai bahan tali kulit domba jadi lebih bagus dan liat bahannya” Bulan membantu memasangkan gelang di tangan Marissa.


“Aku juga mau dong dipasangin” Anjar mengulurkan tangannya dan gelang miliknya, Bulan memandangnya dengan tatapan penuh keprihatinan, ia tahu kalau Anjar sedang mencari perhatian.


“Sini aku pasangin… buat aku kamu sahabat laki-laki terbaik yang pernah dimiliki, walaupun nyebelin tapi akan tetap jadi teman aku yah” ucapnya sambil memasangkan gelang di tangan Anjar, yang hanya mengangguk-angguk senang saat permintaanya dipenuhi oleh Bulan.


“Aku juga kalau begitu mau dipasangin” tiba-tiba Kevin mengulurkan gelang yang dimilikinya, gelang kulit yang buckle perpaduan warna hitam dan biru, warna yang sering dipakai oleh Kevin. Bulan menggelengkan kepalanya, merasa aneh semua orang jadi mendadak manja seperti ini. Ia menganggukan kepala dan mengambil gelang milik Kevin.


“Wah kok beda modelnya? ” Anjar melihat gelang yang dipegang Kevin.


“Yah beda dong, kan orangnya juga beda, karakter nya beda, umurnya beda” jawab Bulan. Marissa menatap Kevin lekat, kemudian tersenyum kecut.


“Sini Pak aku pasangin, nanti bisa pasang sendiri yah” jawab Bulan sambil memasangkan gelang Kevin.


“Nah sudah dipakai semua…. Heheheh suka gak?”


‘Sekarang buka kado yang kedua…”

__ADS_1


‘Ehhh kalau gak suka sama gelangnya jangan dibuang yah, kirimin lagi aja ke aku… soalnya itu bahannya mahal….hehehehehe”


“Kamu ngasih hadiah gak ikhlas pake acara diminta balik segala” gerutu Anjar. Model gelang yang dipakai Anjar berbeda, menggunakan variasi tali kulit dan serat kayu dengan dua layer sehingga terkesan dinamis dan kekinian.


“Susah tahu bikin gelang itu, aku sampai gagal dua kali gak rapi-rapi… akhirnya bagus juga”


“Bagus yaah?” Bulan tersenyum senang melihat gelang kulit yang dipakai Anjar berwarna cokelat sangat serasi dengan variasi tali serat kayunya.


“Pak ini kalau dibersihkannya cukup di lap pakai kain basah aja” Bulan menyodorkan kain yang biasa dipakai untuk kacamata, “trus keringkan sama kain ini” ucapnya. Kevin mengangguk dan menyimpan kain itu disakunya.


“Sekarang kita buka kado kedua” ucap Bulan sambil mengatupkan kedua tangannya, penuh rasa suka cita karena merasa kado yang dibuatnya berhasil memberikan kesan yang menyenangkan.


Kembali Marissa yang pertama membuka kado bukunya dan ia mengerutkan dahi


“Kim Yu Jin “Terima Kasih Sudah Mengatakannya” ucap Marissa sambil membolak balik buku yang dibelikan Bulan untuknya.


“Heheheh ini adalah buku yang ditulis oleh orang Korea. Best seller Mbak...bacaan ringan sih Mbak… karena aku hapal Mbak Icha orangnya suka nyablak dan ngomong bebas… kadang orang salah mengerti, menyangka kalau Mbak Icha itu jahad padahal sih engga, cuma sering gak sadar ngomong pedes….hihihihi”


“Buku ini ngasih tau bagaimana kita berkomunikasi dan menyampaikan isi pemikiran kita tanpa membuat orang lain merasa tersinggung...hehehehhe jangan marah yah Mbak… supaya banyak orang yang tahu kalau Mbak Icha adalah orang yang baik”


“Trus yang kedua, sampulnya bagus, aku tahu kalau Mbak Icha gak akan mau baca buku yang berat yang megangnya aja males, tapi ini covernya cute… dan isinya ringan santai… semoga suka”


Marissa tersenyum kecut, ia sudah sering mendengar kalau ia dianggap singa di divisi ini, berbanding terbalik dengan Kevin yang sering dianggap sebagai pimpinan yang penuh pengertian dan perhatian pada orang lain.


“Ok aku akan baca, utamanya karena bukunya lucu dan disini tertulis best seller”


“Kalau gak asyik aku bakalan kirimin balik buku ini ke kamu, kalau gelang gak akan gw balikin malahan gw bakalan minta dibikinin lagi dengan motif yang berbeda”


Bulan langsung tergelak mendengarnya, Marissa memang tidak pernah menutupi pikiran dan perasaannya seperti buku yang selalu terbuka.


Kevin kemudian membuka hadiah buku untuknya. Ia langsung tersenyum saat melihatnya.


“Jangan bilang kalau Bapak sudah punya buku itu?” Bulan sudah merasa khawatir kalau Kevin sudah memiliki buku yang ia pilihkan untuk atasannya itu.


“Malcolm Gladwell “Outliers”...hmmmm how come you can read my mind kalau aku pengen membeli buku ini Rembulan?” ucap Kevin, yang langsung membuat Bulan lega.


“Serius Bapak belum punya buku ini? Alhamdulillah aku legaaa….”


“Aku tuh sampai bolak balik milih buku mana yang akan Bapak suka, ada satu buku yang bagus tapi tebal bakalan terlalu berat”


“Gils aku bilang…. Ini buku cocok banget buat Bapak yang environmental awareness nya tinggi banget”


“So kalau Bapak baca tokoh-tokoh disini memang di influence secara gak langsung dalam mencapai keberhasilannya”.


“Kamu sudah baca?” tanya Kevin sambil tersenyum melihat Bulan yang dengan semangat mempromosikan buku yang dibelinya.


“Yah belum, kan aku belikan buat Bapak bukan buat aku, masa aku baca dulu ntar lecek dong”.


“Jadi lu tau dari mana Oneng kalau buku ini bagus… sok teu lu!” Anjar langsung menoyor kepala Bulan yang langsung menoleh kesal.


“Aku baca googling Anjaaay, cari atuh resensi bukunya, sebelum membeli sesuatu kita riset dulu jangan asal beli aja… emang kamu main pakai feeling aja… lakukan riset!”


“Nih makanya aku beliin kamu buku nya Daniel Kahneman”


“Buka kado buku dari aku buat kamu coba!” Bulan mendorong kado yang ia berikan kepada Anjar yang tampak bergaya enggan untuk membuka kadonya.


“Ehhh meni jual mahal, sini aku bukain” tidak sabar Bulan kemudian membuka sendiri kado buku buat Anjar.


“Ini bukunya Daniel Kahneman “Thinking Fast and Slow” Bulan menyodorkan buku yang sudah dibuka kemasannya.


“Dalam buku ini dijelaskan kalau tidak bisa serta merta mempercayakan intuisi kita serta bagaimana kita berpikir hati-hati dan mengambil manfaat dari itu dengan  menggunakan teknik berbeda untuk mengatasi kesalahan yang kerap mendatangkan masalah bagi kita”.


“Jangan mengulangi kesalahan yang dulu dalam investasi Njar… aku gak bakalan ada barengan sama kamu buat ngebantu analisa lagi” ucap Bulan serius.


“Kamu harus lebih hati-hati”


“Dibaca yah bukunya!”


“Noooh denger… umur si Bulan lebih muda dari kamu tapi lebih mikir!” ucap Marissa sambil membalaskan Bulan menoyor kepala Anjar.


“Gak usah baca buku juga gw udah sadar bakalan lebih hati-hati” gerutu Anjar sambil membolak balik buku yang diberi Bulan.

__ADS_1


“Yahh aku tahu kok kamu orang yang cerdas gak akan jatuh ke lubang yang sama”


“Udah ah… pasti sekarang Pak Kevin mau bahas hasil rapat tadi”


“Aku pamit pulang aja. Mohon maaf lahir batin yah atas kesalahan aku selama ini”


“Sama Pak Kevin, maaf yah Pak… kalau aku selama ini gak kerja maksimal, trus udah gitu banyak urusan pribadi yang bikin masalah jadi rumit” Bulan mengulurkan tangannya bersalaman dengan Kevin yang disambut dengan genggaman hangat tangan Kevin.


“Sama-sama aku juga minta maaf gak bisa jadi atasan yang baik buat kamu. Kamu meninggalkan kesan yang baik dan menyenangkan buat aku”.


“Makasih udah ngajarin Elma mengaji sehingga dia bisa mengaji Al Quran sekarang, semoga dia bisa menjadi perempuan yang solehah seperti kamu”.


“Kedepan kamu harus tetap menjadi pribadi yang hangat dan menyenangkan seperti sekarang” ucapnya sambil tersenyum hangat.


“Hadeuuh kalau Bapak perempuan, udah aku peluk da sekarang” Bulan cemberut sambil tersenyum sedih. Kevin tergelak mendengar permintaan Bulan.


‘Laki-laki juga gak apa-apa Rembulan, aku sih seneng-seneng aja dipeluk sama kamu...hahahahah” jawabnya sambil tertawa lepas.


“Ihhh Bapak….” Bulan langsung melepaskan tangannya dari genggaman Kevin dan berbalik menghadap Marissa.


“Mbaa Ichaaa…. Makasih yaa atas bimbingan dan bantuannya selama ini”


“Maafin semua kesalahan aku” dipeluknya Marissa dengan sepenuh hati, yang dipeluk hanya tersenyum dan balas memeluk Bulan.


“Jaga diri yah baik-baik yah… Si Juno emang kadang suka nyebelin tapi dia laki-laki yang baik dan setia… percaya sama gw!” ucapnya.


“Kalau mau balik lagi kerja ngantor let me know.”


“Ntar aku rekomendasiin kantor yang bagus punya temen gw… lu bisa kerja disana, dijamin lu bakalan bisa langsung masuk deh… pake katebelece dari gw”


“Siap… siap Mbak… makasih” Bulan senang memiliki teman yang selalu memperhatikannya.


“Njar… makasih ya… main-main lagi ke Ruko, Bang Doni suka nanyain kamu tuh” ucap Bulan.


“Makasih yah atas pertemanan yang menyenangkan selama ini, aku gak akan pernah lupa sama candaan kamu yang nyebelin tapi menghibur banget”


“Maafin semua kesalahan aku yaaah”


Anjar hanya mengangguk diam dan tersenyum tipis saat bersalaman dengan Bulan, tiba-tiba saja dia menarik tangan Bulan dan memeluknya. Bulan yang tidak siap dan kaget dengan sikap Anjar langsung jatuh ke pelukan Anjar yang tidak berlangsung lama karena Bulan yang segera melepaskan diri.


“Hehehehe pelukan persahabatan… ngewakilin Pak Kevin aku sih...piss” ucap Anjar sambil mengacungkan tangan perdamaian.


“Kamuuuu tuh yaaah nyebelin… kalau ketahuan suami aku, nanti aku yang kena semprot… hadeuuuh Anjaaaay” Bulan memukul Anjar dan  langsung menengok ke pintu dan jendela. Kekhawatiran Juno menyusulnya dan melihat ia tadi dipeluk Anjar.


“Hahahaha… sana balik… ntar laki lu nyusul lagi...giiiih pergi-pergi” Anjar mendorong Bulan agar segera pulang.


“Jangan pegang-pegang lagi… haram bukan muhrim… sebel tau!” Bulan menepiskan tangan Anjar kesal.


Suasana riuh rendah akhirnya menjadi kenangan yang akan diingat Bulan, kantor yang telah menjadi bagian dirinya walaupun hanya enam bulan lebih ia disana. Akankah ia bisa kembali kesana? Bulan berjalan dengan tergesa menuju parkiran tampak mobil Juno dan laki-laki itu tampak asyik menunggu di luar sambil merokok.


“Ngerokok lagi… katanya udah mau berhenti” gerutu Bulan sambil mendekati suaminya.


“Habis kamunya lama, jadi aku gak ada kerjaan, yah udah ngerokok aja” kilah Juno


“Alasan” sambil cemberut Bulan masuk ke dalam mobil. Dilihatnya ada kantong kertas berlambang VSdi dalam mobil.


“Habis dari mana A… “ Bulan mengerutkan dahinya, rasanya ia mengenal lambang V dan S yang saling bertumpuk itu.


“Biasa belanja…” jawab Juno sambil tersenyum simpul.


“Belanja apaan sih… kok senyumnya mencurigakan gitu” Bulan mencoba meraih kantong yang ada di bangku belakang.


“Hadiah buat yang mau ngantor di rumah” ucap Juno sambil tersenyum ditahan


“Itu bakalan jadi baju kantor kamu kalau kerja di rumah”


Mendengar itu Bulan semakin penasaran, dibukanya seat belt agar bisa meraih kantong kertas dan akhirnya ia bisa melihat ke dalamnya.


“Ini apa?” Bulan mengerutkan dahinya, baju model apa ini pikiranya, bahanya tipis dan banyak rendanya kemudian ia membukanya dengan perlahan… dan


“Aaaaaaaaa…. Ini baju apaaa” Bulan memukul bahu Juno dengan kesal, yang tampak tertawa dengan senang melihat ekspresi kesal Bulan. Melihat baju tidur lingeri yang seksi hanya menutupi bagian kecil dari tubuh, baju seragam apaan, baju seragam pemuas ***** ini sih.

__ADS_1


“Itu baju seragam kamu yang baru… malam ini langsung pakai yah...hahahaha”


Dasaaaaar… keluar kandang hyena … masuk kandang buaya...


__ADS_2