Rembulan

Rembulan
Si Pembohong Ulung


__ADS_3

“Naan…nanti tunggu kondisinya sehat baru kita pulang ke Bandung” Juno tergagap melihat muka Bulan yang tiba-tiba saja terlihat bertekad bulat untuk pulang.


“Aku gak mau nanti… aku mau pulang ke Bandung sekarang”


“Mana hp aku?… aku mau telepon Bapak supaya jemput” Bulan meraba-raba ke sekelilingnya dengan perlahan, berharap menemukan handphone. Kepalanya sulit untuk melihat dengan leluasa sekarang.


“Kondisi kamu belum sehat sayang… kan masih terasa pusingnya”


“Kasihan Bapak nanti kalau melihat kamu sakit seperti ini… nanti malah jadi pikiran” selama ini Bulan tidak berani menghubungi Bapak karena khawatir membebani pikiran Bapaknya.


Bulan merengut kesal, perlahan air mata kemudian mengalir di pipinya.


“Aku cuma pengen pulang aja ke Bandung… gak pengen apa-apa” ucapnya sambil tersedu. Juno menatapnya sedih. Ia tahu kalau keinginan pulang Bulan karena kondisi mentalnya yang sedang turun.


“Aku cuma pengen pulang”


“Udah lama gak ke makam Ibu”


“Aku cuma pengen pulang”


“Cuma itu aja.... gak minta yang lain”


“Aku mau diem di Bandung aja”


“Aku udah capek di Jakarta”


“Aku gak cocok diem di sini”


Juno terlihat bingung, air mata Bulan terus mengalir walaupun sudah diusap berkali-kali oleh pemiliknya.


“Maafin aku… aku udah banyak berbuat salah sama kamu” bingung harus berkata apa akhirnya perlahan Juno memeluk istrinya dengan hati-hati. Tangis Bulan malah semakin keras.


“Aku mau pulaaaang”


“Mau di Bandung ajaaa”


“Iya… iya nanti kita pulang” jawab Juno akhirnya.


“Nanti Aa bilangin sama dokternya kalau kamu mau pulang”


“Udah jangan nangis terus kasihan bayinya nanti merasa tertekan kalau kamu nangis terus seperti ini” bujuk Juno sambil mengusap lembut perut Bulan.


Bulan berusaha menahan tangisan dengan menarik napas… tapi masih saja tersedu. Bersamaan dengan itu beberapa orang perawat masuk ke dalam ruangan.


“Selamat sore Ibu Rembulan… kita mandi yaaa, belum berganti pakaian juga kan sejak tadi”


“Looooh kenapa ini menangis?” perawat yang datang melihat Bulan yang masih tersedu di pelukan Juno.


“Ini katanya sudah pengen pulang suster” jawab Juno sambil tersenyum, mengusap-usap punggung istrinya perlahan.


“Ohhh iya pasti gak nyaman yah… apalagi sedang hamil” ucap perawat sambil tersenyum sambil penuh pengertian.


“Kalau sudah di lap diganti pakaiannya nanti akan merasa lebih baik”


“Bisa ditinggal sebentar yah Pak… supaya nanti ibunya lebih segar” perawat memandang Juno sambil memberikan isyarat untuk keluar. Dengan enggan Juno melepaskan pelukannya pada Bulan.


“Aku keluar sebentar yah, supaya perawat bisa membersihkan kamu”


“Aku gak akan kemana-mana” ucapnya sambil mengusap rambut Bulan perlahan. Kemudian mengangguk pada perawat sebagai tanda minta ijin untuk keluar.


Duduk menunggu di depan kamar Juno membuka pesan di hpnya. Ada banyak pesan yang masuk, kebanyakan dari klien dan grup . Namun saat membuka pesan dari Doni dahinya terlihat berkerut.


“Alhamdulillah lancar semuanya. Sampai tadi penutupan perusahaan kita diberikan apresiasi”


“Cuma tadi katanya ada catatan buat perusahaan kita dianggap masih skala kecil sehingga tidak terlalu membutuhkan suntikan dana yang besar”


"Kalau ngasih duit sih gak usah pikiran besar kecil kalee, kasih aja hahahhaha"


“Itu gw tau soalnya gw tadi minta diterjemahkan sama anak cewek yang duduk di sebelah yang manis-manis pake kerudung”

__ADS_1


“Gw jadi naksir sama tuh anak… pinter kaya si mbul... gw udah dapat nomor hpnya juga...hahahah sekali mendayung duit dapet.... cewe dapet...nasib lu Don...Bejo”


“Oh iya tadi gw baru marahin si Inge. Sorry bukannya gw mau ikut campur sama urusan rumah tangga lu… tapi gw kesel soalnya gara-gara dia Bulan sakit”


"Hati gw mangkel pengen ngamuk... sorry kalau waktu lu putus mah, gak urusan gw sama dia... tapi kalau urusan sama neng Bulan... gw abangnya yang bakalan turun"


"Gw gak bisa nengok dulu, pusing kepala gw seharian dengerin bahasa enggres... salam sama Bulan besok gw ke rumahsakit"


Juno mengerutkan dahinya, permasalahan semakin melebar. Ia memang akan berbicara dengan Inge tapi menunggu kondisi Bulan stabil terlebih dahulu. Ia tidak bisa tenang kalau Bulan belum stabil, tidak bisa mengikuti emosi semuanya harus diselesaikan dengan baik-baik.


Ia bisa mengerti kalau Doni merasa kesal pada Inneke, sejak dulu Doni memang tidak menyukai Inge, sampai saat Juno putus yang paling memberikan dukungan pada Juno untuk melupakan Inge adalah Doni.


“Perempuan kaya dia cepat atau lambat bakalan bikin masalah… percaya sama gw” itu adalah perkataan Doni dulu.


“Mending lu putus sekarang daripada lu udah kawin lu nyesel dapetin perempuan kaya dia… bakalan nyesel lu gw jamin” perkataan Doni itu seakan terngiang sekarang di telinga Juno. Betapa beruntungnya dulu dia putus.


Dreeet Dreeeet…. Dreeet Dreeeet. Saku Juno satu lagi bergetar.


Juno mengerutkan dahinya, ia lupa kalau Handphone Bulan masih disimpan di sakunya setelah tadi diberikan Mama Nisa. Ada nada panggilan masuk ke hp itu.


Dilihatnya layar ternyata nomor tak bernama. Siapa? Lama ia biarkan hingga akhirnya panggilan diakhiri sepihak. Juno kemudian membuka aplikasi pesan, biasanya orang yang telepon sering mengirimkan pesan kalau tidak diangkat teleponnya.


Ternyata Inneke yang telepon…


Sebelumnya perempuan itu sudah mengirimkan pesan, tapi karena hp Bulan di silent Juno tidak menyadarinya. Baru saat ada telepon masuk ada nada getar yang membuatnya menyadari keberadaan handphone milik istrinya.


“Aku dapat kabar katanya kamu masuk RS… Mudah-mudahan bukan karena pesan yang aku kirim, meski Doni bilang kamu pingsan gara-gara aku”


“Sorry kalau kamu merasa keganggu. Aku cuma pengen kita bekerja sama saja… memberikan yang terbaik buat Juno”


Ia hanya bisa menggelengkan kepala heran. Sampai saat ini pun Inneke tidak pernah merasa dirinya bersalah dan kemudian dengan tulus meminta maaf. Entah apa yang dikatakan Doni sehingga perempuan itu mengirim pesan kembali ke Bulan. Satu hal yang harus dipastikan sebelum mereka bertemu adalah jangan sampai perempuan itu mengirim pesan kembali ke handphone istrinya.


Perawat masih terlihat sibuk melaksanakan tugasnya untuk merawat Bulan, Juno merasa ia harus memulai langkah awal untuk melindungi istrinya sekarang. Dipijitnya sambungan telepon ke nomor Inneke. Tidak menunggu hingga tiga nada panggil, Inneke sudah mengangkat telepon.


“Halo… Selamat sore”


“Akhirnya kamu telepon juga… aku kira kamu terlalu sakit sampai tidak bisa mengangkat telepon” ucap Inneke dengan suara santai, tidak terdengar suara berempati akan sakit Bulan. Juno masih diam mendengar suara perempuan yang pernah menjadi kekasih hatinya dulu.


“Seperti gw tulis di message … cuma mau ngeyakinin aja kalau kita In The Same Boat buat mendorong Juno maju”


Juno tersenyum sinis mendengarnya. Siapa pula yang mengajak perempuan itu untuk masuk ke dalam perahunya. Bukankah dia yang dulu memutuskan untuk turun dari perahu yang ia kemudikan, kenapa sekarang dia merasa berada pada perahu yang sama.


“You are no longer in my boat Nge… why do you think that you become part of my team now?” akhirnya Juno tidak sabar untuk segera berbicara. Sejenak keheningan muncul selama beberapa detik, sampai akhirnya Inneke kembali bicara.


“Juno… itu kamu… hahahahaha kaget aku, kenapa Bulan ngadu yah sama kamu aku kirim-kirim pesan sama dia” terdengar tawa Inneke di seberang telepon terdengar sumbang dipaksakan. Juno tersenyum kecut ia tahu kalau Inneke tertawa untuk menutupi kegugupan.


“Kita harus ketemu untuk menyelesaikan permasalahan ini”


“Tapi aku perlu bicara sebentar sekarang jadi tolong dengarkan aku, karena waktuku sangat sempit”


“Aku minta tolong supaya kamu tidak lagi mengirim pesan pada Bulan”


“TENTANG APAPUN ITU”


“Apa yang terjadi dalam rumah tangga aku dan Bulan itu urusan kami berdua”


“Aku minta maaf kalau kalau direpotkan dengan pembatalan kredit mobil yang sudah aku ajukan”


“Tapi untuk level Kepala Cabang pembatalan kredit yang dibawah 500 juta tidak berarti banyak buat kamu… I know you can handle it”


“Kondisi Bulan sedang sakit dan aku ingin dia fully recovery supaya bisa menjalani kehamilannya dengan baik dan sehat”


“Pesan-pesan yang kamu kirimkan pada dia akan aku hapus”


“Dan aku minta kamu untuk tidak mengirim pesan apapun padanya”


“UNTUK TUJUAN APAPUN”


“Demi pertemanan kita di masa lalu aku minta kamu untuk menghargai permintaan aku”

__ADS_1


“Begitu kondisi Bulan membaik, aku minta waktu kamu untuk bisa bertemu satu kali saja”


“Ada yang ingin aku bicarakan”


Tanpa memberikan jeda Juno terus berbicara. Sejenak kembali keheningan di dalam percakapan antara dua orang yang pernah masa lalu itu di telepon. Hingga akhirnya kembali Juno berbicara.


“Ok… perawat sudah selesai memandikan Bulan. Aku harus masuk lagi ke kamar”


“Sekali lagi aku minta tolong hapus nomor Bulan dari handphone kamu”


“Aku pamit dulu”


“Assalamualaikum”


Tanpa menunggu jawaban dari Inneke, Juno langsung mematikan handphone. Sebetulnya perawat masih di kamar. Tapi Juno membutuhkan waktu untuk menghapus semua pesan yang ada di dalam handphone. Sejenak berpikir untuk mencari cara yang terbaik agar istrinya tidak merasa marah karena privasinya terganggu. Kemudian Juno langsung tersenyum, masuk pada aplikasi pesan dan menekan beberapa tombol sambil sesekali melihat ke arah kamar. Mirip seperti anak yang takut kalau kenakalannya diketahui ibunya. Saat tujuannya tercapai ia langsung tersenyum lebar dan masuk ke kamar dengan perasaan gembira.


“A… lihat handphone aku gak?” ternyata pertanyaan itu langsung menghadangnya saat ia baru masuk ke kamar.


“Hah… ooh ini sama aku, tadi kan jatuh waktu kamu pingsan. Dititip sama aku dari Mama” Juno memberikan hp kepada Bulan yang sedang duduk di kursi karena perawat sedang merapikan tempat tidur.


“Kepala kamu gak pusing duduk di kursi seperti ini” tanya Juno khawatir.


“Nggak… cuma masih keleyeng-keleyeng aja kaya jalan di air”


“A aku belum solat, tapi mukena aku ada di tas kerja yang ketinggalan di kantor Kak Cedrik”


“Trus gimana yah tadi seleksi proposalnya?” muka Bulan terlihat sedih, karena merasa tidak menyelesaikan seleksi proposal investasi.


“Tasnya dibawakan sama Doni jangan khawatir”


“Presentasinya bagus, pas sesi tanya jawab tadi aku hadir. Sudah aku selesaikan” ucap Juno dengan bangga.


“Haaah serius?”


“Tadi Aa sempat ke sana… Ya Allah makasihhh” Bulan tersenyum antara bahagia dan sedih, merasa terharu karena perjuangannya tidak sia-sia. Juno menarik napas lega, untung saja tadi dia mengikuti saran Doni. Tangan Bulan menggapai-gapai mencoba memegang Juno yang langsung disambut gembira oleh suaminya.


“Makasih yah udah nyempetin langsung ke tempat meeting, aku tadi kepikiran terus” ucap Bulan sedih.


“Mulai sekarang kamu jangan memikirkan soal pekerjaan kantor dulu, fokus pikirkan kesehatan kamu sama bayi kita”


“Aku yang akan urus untuk soal seleksi investasi” ucap Juno tegas. Bulan tersenyum samar dan mengangguk pelan, kepalanya susah bergerak dengan penyangga kepala di lehernya.


“Iya… aku juga mikir seperti itu… aku udah capek”


“Aku mau pulang aja ke Bandung”


“Sekarang mau telepon Bapak” jawab Bulan cepat. Juno langsung melotot kaget tidak menyangka kalau Bulan betul-betul memaksa ingin pulang. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak apalagi handphone nya sudah dipegang Bulan sekarang.


Bulan mengerutkan dahi, kondisi handphonenya dalam keadaan mati.


“Kok mati sih perasaan tadi di charge penuh” ucapnya sambil mencoba menyalakan kembali. Juno hanya diam dan menatap istrinya yang sedang menghidupkan kembali hp. Posisi kepala yang tidak bisa menunduk membuat Bulan harus tengadah untuk bisa melihat handphone.


“Kok….kok ini semua pesannya hilang?” Bulan mengerutkan dahi.


“Apa tadi terbanting?” tanya Bulan pada Juno.


“Aku gak tahu… aku terima sudah mati kondisi hpnya”


“Nanti aku tanya sama Afi, soalnya tadi Afi yang terima dari Cedrik... Sini coba aku lihat” paling mudah melempar dulu bola pada orang lain yang tidak ada di ruangan sehingga pertanyaannya tidak akan berkepanjangan.


“Hmmm nomor kontak masih pada ada… mungkin tadi nge restart sendiri… biasanya seperti itu untuk melindungi sistem” jawab Juno dengan sok yakin. Ia dengan gaya professional mengutak atik handphone Bulan dan kemudian menyerahkannya kembali.


“Sistemnya masih bagus kok jalan… gak apa-apa nanti kalau ada pesan yang hilang minta dikirim ulang aja ke orangnya” ucap Juno mencoba menghibur sambil mengusap perlahan rambut istrinya.


“Lagipula dengan kondisi kamu sekarang jangan lihat hp dulu supaya cepat sembuh, katanya matanya sakit… nanti makin sakit dong” sambungnya lagi dengan meyakinkan. Bulan mengangguk setuju.


“Ya udah aku telepon Bapak saja” Ehhhhh…. hati Juno langsung menclos… kalau yang ini sih susah dihalanginya.


"Mendingan kamu sholat dulu aja sayang... aku pinjamkan mukena sama perawat yahh"

__ADS_1


Bulan tampak berpikir kemudian mengangguk, ia juga harus mencari alasan yang tidak membuat khawatir dan datang ke Jakarta dengan tenang.


"Iya... tolong telepon sama Aa aja Bapaknya... aku mau sholat dulu" ucapnya pelan dan memberikan handphone kembali pada Juno. Ternyata doa yang tadi dipanjatkan sudah mulai dikabulkan oleh Pencipta, diberikan kemudahan dalam menyelesaikan semua urusan. Semoga kedepan lebih baik lagi. Aamiin.


__ADS_2