Rembulan

Rembulan
Hari pertama pernikahan


__ADS_3

Pada hari pertama pernikahan satu sama lain masih malu-malu maklum pengantin baru, hari demi hari dilewati dengan penuh suka cita.


setelah sepekan di Jawa kami memutuskan pulang ke Kepulauan Riau tempat awal kami berdua dipertemukan. Perjalanan kami dari rumah diantar sama mertua ayah dan ibu dari sang istri tercinta menuju yogyakarta. Setelah sampai kami langsung menuju salah satu hotel yang ada di kota pelajar tersebut untuk menginap semalam disana.


Namun ayah dan ibu mertua memutuskan untuk kembali langsung kembali lagi kerumah. Setelah shalat maghrib mereka melanjutkan perjalanannya.


Keesokan harinya pasangan muda ini bergegas menuju bandara jam 12 siang, lalu terbang menuju kota tempat mereka bekerja. sesampai dibandara keduanya pun naik taxi kemudian berpisah selama sepekan, sang suami pulang kemasjid tempat tinggalnya semasa bujangan dan tempat pertama mereka dipertemukan saat itu.


Sang istri pun masih tinggal ditempat kakak kandunganya yang kebetulan juga tinggal tidak jauh dari tempat kerja sang adik. karena rumah yang akan mereka tempati belum selesai dibersihkan, selama satu pekan itu mereka berdua layaknya orang pacaran, tetapi pacaran setelah halal.


Jarak rumah kakak sang istri dengan masjid tempat tinggal Iman suami dari Santi ditempuh dalam kurun waktu 15 sampai 20 menit, jadi kalau keduanya rindu maka sang suami kerumah kakak iparnya demi ketemu istri tersayang.


kagen-kangenan istilah anak muda sekarang, karena sepekan tidak ketemu terasa sudah sangat lama sekali tidak bertemu, secara pengantin baru.

__ADS_1


seminggu berlalu, akhirnya mereka pindah kerumah barunya, hari itu mengangkut pakaian dan peralatan dapur lainnya, kebetulan hari pertama dirumah Santi mulai menunjukan skillnya dalam memainkan sutil diatas panci.


Masakan pertama kali yang ia masak adalah terong balado yang ditambahkan telur puyuh, sungguh sangat lezat sekali. ini merupakan hal yang sangat menakjubkan buat Iman melihat sang istri sangat mahir sekali dalam menyajikan masakan pertamanya buat sang suami.


Selanjutnya, keduanya makan bersama suap-suapan, sebagaimana yang diajarkan dalam pernikahan, ketika kedua mempelai disuapi saat acara sakral. Hal ini mereka lakukan sebagai simbol guyup rukun antara keduanya dalam menjalani kehidupan mahligai rumah tangga.


Tiba-tiba keduanya saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh cinta. Lalu sang suami bertanya,"Kenapa adik(panggilan sayang) menatapku begitu tajam?


Sang istri," tidak apa-apa bang(panggilan sayang), aku hanya ingin engkau tahu bahwa pandanganku hanya tertuju padamu."


Kemudian mereka melanjutkan santapannya, sang istri menyuapi suaminya sambil berucap,"Gimana enak kan bang masakan adik?


Abang," Tentu saja enak, apalagi yang masak secantik kamu!

__ADS_1


Adik," Ah...Abang bisa aja,". istri sambil tersenyum sumeringgah."


Setelah itu, sang istri hendak mencuci piring setelah selesai menghabiskan makanannya, lalu sang suami berkata,"Sudahlah adik tidak perlu mencucinya."


Sang istri,"megapa?


Sang suami,"Abang tidak mau melihat jari-jemarimu mengkerut basah terkena air, biar aku saja yg mencinya."


Sang istri," Hmm...bang...bang...sambil tersenyum manja."


Malam pun datang tiba saatnya beristirahat, tetapi sekali lagi suami menawarkan hal yang tak tersuga oleh istrinya,"Adik mau dipijit?"


Istri," Mau kalau abang bersediah."

__ADS_1


Saat suami memijit, seakan istri tak mau pujian suami terasa hambar tanpa balasan, ia pun melontarkan pujian kepada suaminya,"Pijitan abang, enak sekali, tiada duanya bang...!".


Malam pun semakin larut, setelah dipijit istri mulai ngantuk mah tidur. Sang suami pun beranjak untuk menemani tidur istri tercinta dan mengakhiri kesehariannya dengan mengecup kening istrinya sebelum keduanya tertidur lelap.


__ADS_2