
“Ini wall papernya kok foto kita berdua” mata Bulan membulat melihat ke layar hp, Juno yang langsung terlihat panik.
“Eh…” ia berusaha menggapai hp yang dipegang Bulan tapi dijauhkan oleh Bulan, sambil menatap terus ke layar hp.
“Ini foto waktu tunangan Afi kan?” Bulan mengamati foto di hp, “Bagus juga hasilnya, mungkin karena sama fotografer yang fotoin nya”
“Kenapa dipasang di wallpaper hp?” kembali Bulan bertanya sambil memandang dengan berkerut, Juno melengos.
“Suka kangen yah sama aku?” Bulan tersenyum menggoda.
“Sini ah… kamu tuh suka banyak omong disuruh baca pesan malah liat yang lain-lain” Juno berusaha menggapai hp sambil nyetir.
“Eh… ga boleh liat Hp sambil nyetir bahaya” Bulan menjauhkan Hp sambil melihat history telepon.
“Tadi yang telepon Doni..” ucapnya, “Mau dilihat pesannya juga?” ia membuka kotak pesan Juno.
“Waaah ini pesannya banyak yang gak dbuka ginih… gak kepo emangnya?” Bulan menatap layar Hp Juno dengan penuh rasa ingin tahu.
“Ada pesan dari Doni atau Sarah gak?” Juno menjawab malas.
“Ini ada Doni… Jun.. lu jemput gw ke rumah… gw males bawa mobil” Bulan membacakan pesan Doni. Juno hanya menarik nafas.
“Yang ini dari Sarah…. Buruan! Yang kawin adik lu bukan lu gak usah sampai beres” Bulan merengut membacanya.
“Teman-teman Kak Juno kok gak punya perasaan banget… cuma mikirin diri sendiri” ia mendengus kesal.
“Ini kok banyak pesan dari nomor tak bernama” Bulan melakukan scrooling di hp Juno, “Kenapa gak dibuka?” ia menatap Juno heran
“Gak kenal nomornya males bukanya juga” muka Juno terlihat tidak bersemangat.
“Hmm bukannya kalau kirim pesan begini artinya dia kenal sama Kak Juno kali aja pesan penting… aku buka yah..” Bulan dengan semangat membuka pesan.
“Ehhh.. kamu tuh kurang kerjaan banget” Juno menggapai-gapai Hp nya namun karena masih menyetir jadi sulit.
“Abang… ini aku Malika dari CS Sejahtera Wood Craft… Gimana tertarik gak sama bonus produk dari kami? Saya tunggu kabarnya… Oya kalau ada perlu apa-apa kontak saya aja… saya siap 24 jam untuk Bang Juno” mata Bulan langsung membulat.
“Ewww… ini nawarin barang atau nawarin diri… siapa sih ini?” Bulan menatap Juno heran.
“Makanya jangan dibuka... udah dibilangin.. eeh gimana sih jadi kan check list terbaca.” saat lampu merah di perempatan Juno mengambil Hp nya dari tangan Bulan.
“Nama Malika... kaya produk kacang kedelai aja” gerutu Bulan, Juno tersenyum mendengarnya, “Kenapa emang kan bagus lagi namanya…” Juno tersenyum menggoda Bulan.
“Bagus bagus… kalau bagus kenapa gak bukan foto dia aja yang dipajang di wall paper hp.”
“Sini ah dihapus aja… ngapain juga memajang foto kita berdua di hp… udah gak ada apa-apa lagi kan kita” Bulan mencoba meraih handphone Juno mukanya terlihat kesal.
“Ehh jangan… kenapa kamu kaya yang marah gitu… biasa aja.”
“Aku seneng aja majang foto kita berdua… biar gak berkesan Jones banget.”
“Masa seganteng ini gak punya pacar… adiknya udah nikah tapi kakaknya gak punya gandengan
”
“Lumayan kan kalau ada yang mepet-mepet kaya si Malika gini… aku tinggal liatin foto ini… aman deh” Juno tertawa-tawa.
“Enaknya aja aku jadi pengusir nyamuk… Makanya move on jangan jadi jones terus” Bulan melengos kesal.
“Lah kan ini juga dalam rangka move on… majang foto cewe cantik sebagai wall paper sudah jadi indikator move on” balas Juno, “Hp nya yang move on orangnya sih belum” Bulan memandang malas ke luar.
“Kamu kenapa sih marah-marah terus? Gak suka fotonya dipajang? Pengen dipajangnya sama anak laki itu si Anjar” Juno membalas kesal.
“Lahh kok malah jadi marah.. Mustinya aku yang marah dipajang foto gak bilang-bilang… kalau ada orang lain yang tau, kan jadinya kesempatan aku punya pacar jadi makin sedikit disangka udah ada yang punya” Bulan mendelik dengan kesal.
Mendengar jawaban Bulan, Juno hanya bisa menarik nafas panjang, perempuan di sebelahnya selain tidak peka juga sering gagal paham.
“Kalau aku yang pajang foto kamu, gak akan kamu anggap pacar?” ucap Juno pelan,
Bulan melirik diam
“Kamu udah jadian sama laki-laki itu?” suara Juno terdengar dingin. Bulan masih saja diam.
“Bulan….” suara Juno terdengar lebih tegas.
“Kamu sudah pacaran dengan dia?” tanyanya lagi. Bulan hanya menggeleng lemah, tidak sadar kalau Juno tidak akan melihat gelengan kepalanya.
“Oh ya sudah kalau kamu sudah mengikat janji sama dia” lirih suara Juno terdengar diantara suara hiruk pikuk kendaraan.
“Siapa yang udah mengikat janji sama dia? Aku gak mengikat janji sama siapapun” Bulan menatap kesal.
“Trus kenapa gak mau memulai lagi sama aku?” tanya Juno
“Emang kapan Kak Juno ngajak jadian?” Bulan mengerutkan dahi. Juno hanya menarik nafas panjang, perempuan ini gak bisa dikodein.
“Musti diucapkan kaya ijab kabul rupanya, gak bisa pakai kode-kode” tanya Juno lemas, selama ini dia tidak pernah mengungkapkan secara khusus perasaan pada lawan jenis.
“Soal apa? Kalau pacaran?” tanya Bulan balik, Juno melengos kesal.
“Yah soal apa lagi Rembulan … memangnya sekarang kita lagi ngobrolin transaksi saham” Juno mulai merasa kesal.
“Yah musti jelas lah… segala sesuatu berawal dari niat.”
“Beberapa niat memang ada yang harus dilafalkan secara lisan ada juga yang cukup dalam hati.”
__ADS_1
“Tapi kalau kita ucapkan secara lisan akan memperkuat niat yang ada dalam pikiran kita.”
“Contohnya niat shalat… ada beberapa pendapat yang menyebutkan kalau niat shalat tidak perlu dilisankan atau diucapkan tapi sebetulnya kalau diucapkan akan mengingatkan otak kita kalau shalat yang akan kita lakukan itu shalat apa … dhuhur atau ashar” Bulan menjelaskan dengan penuh semangat.
“Soalnya sering pas kita tengah-tengah shalat kita lupa… ini shalat apa…. Hihihihi” Bulan tertawa sendiri.
‘Kamu aja kali yang kaya gitu … aku sih gak pernah” jawab Juno ketus.
“Manusiawi lah kalau lupa...hehhehe” Bulan kembali tertawa.
“Aku pikir gak semua hal harus diucapkan cukup dipahami saja” sambung Juno dingin.
“Soal apa?” tanya Bulan, membuat Juno melirik kesal, lama-lama dia emosi juga.
“Soal pacaran … hubungan antara laki-laki dan perempuan… soal apa lagi” ucapnya kesal. Bulan tersenyum sebetulnya memang dia berniat menggoda Juno.
“Tuh kan aku ga ngerti soalnya Kak Juno ngomongnya apa yang ada dipikiran Kak Juno.”
“Allah sih Maha Tahu… kalau aku gak baca niat shalat tapi Dia tahu aku mau shalat apa.”
“Tapi kan aku bukan Tuhan yang membaca pikiran manusia” sambung Bulan.
“Jadi kalau ngomong itu musti jelas konteks nya apa”
“Nih sekarang Kak Juno tau gak pikiran aku apa” Bulan mendekat ke arah Juno secara tiba-tiba, sangat dekat hingga hembusan nafas Bulan terasa ke pipi Juno, membuatnya kaget dan refleks menjauh.
“Jauh-jauh kamu… jangan nyosor gitu… orang lagi nyetir ehhh” Juno mendorong dahi Bulan menjauh.
“Tuh pikiran Kak Juno salah… aku bukan mau nyosor mencium… aku mau lihat kenapa di telinga Kak Juno banyak rambutnya” Bulan tertawa kecil.
“Ahhh udah ah terserah… ngomong sama kamu kebanyakan bumbu… bikin pusing” tungkas Juno.
“Ahahahahha gitu aja marah…” Bulan berusaha menetralkan suasana hatinya, ia sebetulnya tahu maksud Juno tapi perasaannya masih belum yakin.
Beberapa saat kemudian keheningan di dalam mobil, masing-masing bergelut dengan pikirannya masing-masing.
“Aku ngomong serius… beberapa kali aku sudah bicara sama kamu” tiba-tiba Juno memulai pembicaraan.
“Aku mau mulai lagi berhubungan sama kamu...kita mulai lagi saling mengenal sebagai pasangan” sambungnya lagi.
“Kalau kemarin kita bertunangan karena dorongan orangtua kita”
“Yah Kak Juno aja kali yang begitu… aku sih engga” jawab Bulan malas, Juno memandangnya dengan putus asa.
“Iya aku yang seperti itu, kamu sih udah suka sama aku sejak dulu kan” Juno tersenyum
“Widiiih geer kata siapa? Kagum mungkin… biasalah kalau perawan suka sama fatamorgana… memandang semua laki-laki seperti pangeran berkuda…”
“Jadi sekarang udah gak suka sama aku?” tanya Juno pendek, Bulan hanya melengos.
“Aku pengen memulai lagi sama kamu Bulan… “
“Kamu bikin aku merasa tenang, bisa get along sama adik aku, Mama bahkan Papa yang menyebalkan pun masih bisa kamu tangani”
“Kamu tau kan kalau kondisi aku kompleks… aku butuh perempuan yang bisa mengerti kondisi aku” sambung Juno, sambil sesekali memandang ke arah Bulan. Yang dipandang masih melihat ke arah luar mobil.
“Gimana?” tanya Juno kembali, lama diam sampai akhirnya Bulan menjawab.
“Gak tau…” jawab Bulan, sekarang Juno yang mengerutkan dahinya.
“Gak tau gimana?”
“Yaah gak tau....Aku gak tau perasaan aku sama Kak Juno… gak ngerti…”
“Kadang merasa seneng, sering kesal, sering juga kangen, tapi masih sering juga ngerasa sakit hati” gumam Bulan.
“Kok… aku kan ga pernah marah-marah lagi sama kamu” tungkas Juno, mereka sudah masuk ke parkiran kostan Bulan.
“Gak tau atuh… mungkin disakitinnya dulu sakit hatinya sekarang” jawab Bulan asal, sambil membereskan barang-barangnya.
“Kok bisa gitu… yang dulu jangan diingat-ingat… kita mulai lagi hubungan yang lebih baik kedepan”
“Aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi” Juno tiba-tiba memegang tangan Bulan, membuatnya tersentak kaget seperti ada aliran listrik di tangannya.
“Eh… “ Bulan berusaha menarik tangannya, tapi Juno menahan sambil menatap Bulan.
“Aku gak tau… “ Bulan masih berusaha menarik tangannya, ia merasa sungkan.
“Kamu suka sama Anjar” tanya Juno lesu.
“Anjar teman aku… teman baik aku… dia suka bikin aku merasa seneng, walaupun dia mengesalkan… selama kemarin aku sedih dia bisa bikin aku ketawa lagi” perlahan genggaman tangan Juno mengendur.
“Aku ngehargai dia terlepas dia memang suka mengesalkan dan banyak menebar pesona pada perempuan-perempuan… yah karena aku ngeliat dia sebagai teman sih… ngerti gak sih.”
“Mungkin beda kalau aku menempatkan dia sebagai pasangan… yah mungkin kesel juga, yang pasti dia bisa aku andalkan saat aku dalam kesulitan.”
“Dia selalu siap membantu, mau masalah kantor ataupun masalah pribadi”
“Gitu… “
“Udah ah… ngapain juga aku musti jelasin soal hubungan aku sama si Anjar” Bulan menaikan bahu.
“Makasih udah repot-repot nganterin aku padahal Kak Juno mau bekerja… aku doakan kerjaannya lancar dapat bonus yang banyak, biar aku nanti ditraktir makan lagi” Bulan tertawa lebar.
__ADS_1
Juno menarik nafas panjang, ditariknya kembali tangan Bulan sebelum turun.
“Jadi gak mau jadi pacar aku” akhirnya Juno membuat pernyataan jelas. Bulan membelalak kenapa Juno seperti yang memaksa, akhirnya Bulan mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.
“Kenapa?”
“Kenapa Kak Juno seperti yang tergesa…”
“Apa karena Afi sudah menikah kemudian merasa tertinggal?” Bulan tersenyum samar.
“Jangan terlalu khawatir soal jodoh setiap orang memiliki waktunya”
“Aku gak khawatir… aku yakin kok Allah sudah menyiapkan laki-laki yang baik buat aku… waktunya aja yang belum datang”
Juno menarik nafas panjang
“Aku hanya ingin memastikan saja, aku ingin kamu memikirkan kalau aku benar-benar berniat serius sama kamu”
“Mau disebut berniat untuk menikahi… boleh… bisa dianggap begitu."
“Umur sudah nambah kayanya sudah bukan waktunya lagi pendekatan dengan perempuan hanya untuk sekedar bersenang-senang saja”
“Jadi aku ingin kamu pikirkan… kamu mau gak berhubungan lebih dari sekedar teman saja”
“Kita taaruf…” ucapnya pendek
Mata Bulan kembali membulat, istilah taaruf terasa sangat berat baginya.
“Eheheheh taaruf yang sesuai syariah yang aku tahu menjalin komunikasi saling mengenal satu sama lain tapi tidak boleh berduaan tanpa mahramnya…”
“Kaya gini gak boleh Kak… apalagi kaya tadi pegang-pegang… ntar nyetrum” Bulan nyengir malu.
“Kalau begitu kita OTW Taaruf saja, gak mungkin sekarang ngajak si Afi kemana-mana, dia kan udah nikah”
“Yang penting kan bisa saling menjaga satu sama lain” Juno tersenyum
“Ahh terserah Kak Juno deh… yang pasti buat aku untuk bisa jadi pasangan aku musti bikin nyaman dulu, bisa berkomunikasi dengan baik, saling menghargai satu sama lain”
“Gitu aja udah cukup”
“Ok DEAL…” Juno langsung menarik tangan Bulan dan berjabatan tangan.
“Saya akan memperlakukan kamu dengan baik, berkomunikasi dengan baik dan menghargai semua pemikiran kamu."
“Kita akan mulai otw taarufnya dari sekarang” Bulan membelalakan mata, aturan dari mana langsung disepakati saja.
“Sudah kamu segera turun sana… bahaya nanti aku pengen nyetrum terus jadinya” Juno mendorong Bulan turun.
“Ehhh tadi narik-narik jangan turun dulu sekarang malah ngedorong” Bulan mendelik kesal.
“Besok aku kabari lagi..” Juno melambaikan tangan dan mulai beranjak pergi.
“Ehhh aku belum jawab soal aku mau atau engga gimana sih” Bulan mendelik kesal, dia berpegangan di jendela mobil.
“Yang namanya taaruf itu dijalani bukan dijawab mau atau engga… nanti pas dilamar baru jawab mau atau tidak… ok” Juno memberikan lambang Ok sambil memajukan mobil.
“Kak Junooo…. Ihhh … ini kok tiba-tiba jadi taaruf sih” Bulan termenung bingung sambil memandang mobil Juno yang menjauh.
Berbagai macam perasaan bercampur menjadi satu, perasaan tersanjung karena Juno bersikukuh untuk mengajaknya kembali berhubungan lebih dari sekedar teman, bingung karena tidak tahu harus bersikap bagaimana, kesal karena merasa diambil keputusan sepihak, takut karena tidak ingin mengalami lagi perasaan sedih seperti dulu.
“Arghhhhh bingungggggg”
Tuluit tuluit…. Tuluit tuluit… Suara telepon masuk di Hp Bulan memecah kebingungan… Anjar
“Beb…. Sebagai penebus dosa tadi saweran saham gw… aku punya info terhits…”
“Sekarang lu kalau invest… this is the right time baby…” suara Anjar terdengar bersemangat..
‘Hahhhh serius… bentar-bentar aku masuk ke kamar dulu…” Bulan bergegas masuk
Hati-hati Bul… jangan kebawa nafsu… segala hal yang terburu-buru gak baik… Eits...Nafsu yang mana dulu niiihh…
*************************************
Penutup wiken dengan peringatan menjelang tsunami emosi…
Libur lebaran telah usai… besok kita mulai kembali bekerja, anak-anak sebagian ada yang sudah sekolah, kalau mahasiswa sudah kembali kuliah. Luruskan niat tetap bersemangat menjalani hari kata Neng Bulan… Dilisankan saja supaya lebih terasa niatnya, kalau dalam bahasa pendidikan mah lebih terkonstruksi dalam otak kita… akan terngiang-ngiang.
Pesan Sponsor besok itu Senin:
I like monday \= I like to vote
I like monday \= Dont forget to like
I like monday \= I give you my coffe cup
Hahahahahahhaha
Usaha pisan aku teh… gak apa-apa daripada aku diomelin sama Admin... #sendikoadmingalak
Sehat selalu yaa Bro and Sis… Prepare for roller coaster episode… Ini kita sudah duduk dan pasang seat belt nya.
Big hug
__ADS_1
ShAnti