Rembulan

Rembulan
The Ultimate Challenges


__ADS_3

“Weiiis ini penganten baru nih… masih anget-anget sering ditinggal-tinggal yah”


Bulan menatap Doni yang datang menjemput Juno dan dirinya ke kantor. Juno tampak tidak peduli dengan candaan Doni, membuka bagasi belakang dan menyimpan koper disana, membuka pintu penumpang dan menyuruh Bulan masuk dan langsung masuk di bangku depan di samping pengemudi.


“Halo Bang Doni… apa kabar?” tanya Bulan sambil tersenyum


“Sehat cantik… ternyata setelah nikah sama most wanted man di kantor kelihatan makin kinclong, pantesan yang di Surabaya pengen cepet-cepet balik” sindir Doni pada Juno yang tampak tidak peduli.


“Langsung aja kesana nanti kita makan malam setelah dari lokasi” Juno mengecek kepadatan lalu lintas menuju lokasi, tidak terlalu macet untuk ukuran jam pulang kantor.


Bulan masih bingung, Juno tidak menjelaskan apapun tentang rencana hari ini, dia hanya diminta untuk ikut ke suatu tempat. Tampaknya sangat penting sampai membuat kepulangan Juno dipercepat ke Jakarta.


“Lu udah kontak ownernya supaya ketemuan sekarang?”


“Udah… masalahnya kalau gak sekarang confirm dia mau kasihkan ke orang yang mau sewa juga, dia gak masalahin soal pembayaran perbulan atau pertahun. Soalnya dia bilang selama bisa bayar tepat waktu perbulan gak masalah”.


“Dia percaya sama gw… jadi kalau lu nanti telat bayar cicilan kontrakan nama gw yang di blacklist”


“Dia tuh adiknya yang punya workshop di Cikarang, aku sering ketemuan sama adiknya buat ngecek produk ehhh ternyata mereka investasi di ruko” Doni bercerita dengan penuh semangat.


“Ruko… kita sekarang mau ke Ruko yang mau jadi kantor?” tanya Bulan, dari tadi ia bertanya-tanya kenapa Juno tampak begitu tergesa dan khawatir terlambat.


“Jaaah…. Lu belum ngomong sama Bini?” Doni tampak melirik Bulan lewat spion dan menoleh pada Juno.


“Ntar aja kalau sudah sampai, dilihat dulu” jawab Juno pendek. Dia masih sibuk dengan handphone.


“Breng sek banget punya Bos gak ngasih kesempatan buat ngambil off barang sehari”.


“Gw juga kan butuh waktu buat pribadi”


“Masa gw besok minta ijin off dia gak ngasih!”


“Pake cara ngancam segala kalau project Surabaya bakalan di take over sama yang lain gegara gw pulang lebih cepat”.


“Lagian kan gw udah beresin masalah yang major”


“Tinggal yang kecil-kecil bisa di remote dari sini”


Juno terlihat kesal, mukanya terlihat murung.


“Dia kayaknya tau lu bakalan resign bikin usaha sendiri”.


“Soalnya beberapa kali dia nanya sama gw aktivitas lu kemana aja”.


“Gw bilang aja kalau lu banyak yang nawarin di Kontraktor lain”. Doni tersenyum sambil cengengesan.


“Ngapain juga lu ngomongin gitu sama Bos pantesan dia mantengin gw trus selama di Surabaya”


“Payah lu, bikin masalah gw tambah runyam!” Juno memandang Doni dengan kesal.

__ADS_1


“Lah biar dia mikir Bro… kalau lu itu aset berharga… hahahahaha”


Juno menggelengkan kepala, pantas saja belakangan ini Arvian sering mengecek keberadaannya dan menanyakan banyak hal yang tidak ada kaitannya dengan project. Bulan hanya menyimak saja di bangku belakang, rupanya banyak hal yang tidak ia ketahui tentang suaminya.


Mobil memasuki daerah Blok M, kemudian jalan Melawai, Bulan hanya memperhatikan jalan yang tidak pernah ia lewati, mobil terus berjalan hingga akhirnya berhenti di daerah Radio Dalam.


“Sudah sampai?” tanya Bulan, Doni menoleh dan tersenyum dari tadi Doni hanya memperhatikan dari spion kalau istri temannya lebih banyak diam dan memperhatikan jalan.


“Jauh yah?” tanya Doni, Bulan hanya meringis.


“Jakarta mah kalau gak kerasa jauh bukan Jakarta… hampir satu jam yah” Bulan melihat di hp sudah jam tujuh lebih padahal tadi mereka berangkat sebelum adzan magrib. Juno tidak mau menunggu sholat magrib dulu takut terlambat datang ke tempat pertemuan katanya. Kalau pindah ke daerah ini artinya waktu tempuh yang lebih lama untuk ke kantornya, dan yang pasti tidak dilewati jalur busway.


“Dia nunggu dimana?” tanya Juno.


“Tuh mobilnya, artinya dia udah di dalam” Doni menunjuk mobil mazda yang terparkir di ujung ruko yang berderet, ternyata posisinya ruko yang akan disewa terletak paling ujung dari deretan ruko.


“Aku ikut?” tanya Bulan, ia merasa tidak dilibatkan semenjak awal sehingga tidak tahu harus bersikap bagaimana.


“Kamu kan nanti yang akan menempati jadi harus liat gimana sih!” suara Juno terdengar kesal, Bulan mengerutkan dahi, kenapa tiba-tiba jadi emosi seperti itu. Malas menanggapi karena ada Doni, ia langsung turun dan mengikuti Juno dari belakang.


Semenjak pulang dari Surabaya bawaan Juno seperti dalam kondisi siap perang, gampang tersulut dan terkesan bermusuhan. Ini seperti saat mereka bertunangan dulu, bawaannya emosi dan susah diajak bicara.


Begitu memasuki depan pintu ruko Bulan langsung merasa suka, diantara semua jejeran ruko yang ada, tampilan ruko yang akan disewa di bagian depan didominasi oleh jendela dan pintu kaca. Lantai dua nya diberikan partisi kayu sehingga memperlihatkan perbedaan fungsi antara rumah dan toko, di bagian atas lantai tiga ditanami tanaman rambat dan kalau dari bawah seperti taman kecil dengan tanaman-tanaman hias. Bulan langsung tersenyum saat melihatnya.


“Kenapa kamu senyum senyum gitu?” Juno mengerutkan dahinya melihat senyuman Bulan.


“Rukonya bagus” bisik Bulan sambil menggandeng tangan Juno yang hanya mendengus mendengarnya. Bulan menarik nafas panjang, beneran lagi kondisi senggol bacok suaminya ini sekarang. Akhirnya Bulan melepaskan gandengan tangannya dan berjalan mengikuti Doni.


“Kenalkan saya Lyfa… bukan pengantin baru tapi merasa pengantin terus….hahahahha” perempuan berkerudung yang cantik menyambut kedatangan mereka. Bulan langsung merasa cocok dengan pemilik ruko tersebut.


“Saya Bulan Mbak… pengantin baru tapi sudah mau expired...hehehhe” Bulan mencoba membalas candaan Lyfa tapi malah tatapan marah Juno yang ia dapatkan saat ia menertawakan leluconnya. Dia langsung terdiam dan mencoba tersenyum ditahan.


“Wahahahahah suaminya ngambek disebut expired, biasa Mas kalau sama-sama ting-ting suka susah  ngegolin. Saya juga dulu lama baru bisa gol… maklum lah new player...hehehhe” muka Juno semakin terlihat masam, Doni yang hafal karakter sahabatnya langsung mengalihkan fokus pembicaraan.


“Mbak… ini kita mau menyepakati soal perjanjian sewa”.


“Gimana apakah bisa kita untuk enam bulan pertama mau sewa bulanan dulu?, nanti kalau setelah enam bulan kalau Mbak Lyfa minta sewa pertahun mudah-mudahan kita udah bisa ada dananya”


“Maklumlah Mbak… kita baru merintis nih, butuh dana banyak buat ngisi interior nya juga” Doni mencoba mengeluarkan semua pesona yang dimilikinya agar bisa mendapatkan perjanjian sewa yang meringankan.


“Hmm… Bang Epul sih pengennya langsung setahun, tapi yah aku ngerti kalau mengawali usaha berat banget perjuangannya”.


“Insya Allah aku mau coba bujuk suamiku… soalnya uang sewaan ini kita bayar buat cicilan ke Bank jadi musti pasti dan gak boleh telat kalau kalian mau sewa perbulan”.


"Oh itu sih dijamin Mbak… insya Allah deh kita akan tepat waktu”.


“Nih kita bertiga pada kerja semua, jadi bakalan patungan buat bayar ruko walaupun belum ada pemasukan dari usaha”.


“Cuma yah itu Mbak… diusahakan banget yah, jadi biar dana yang tersisa besok kita mau belikan furniture deh dari Workshopnya Bang Epul”.

__ADS_1


“Beneran yah buat interior di dalam kalian pakai dari suamiku” Lyfa terlihat senang.


“Mbak bagaimana kalau desain buat interior ruko dibuatkan oleh A Juno dan dibuat di workshopnya suaminya Mbak Lyfa, nanti kalau kita pindah semua furniturenya gak akan kita bawa, tapi tetap ruko ini” Tiba-tiba Bulan mengajukan penawaran, muka Lyfa langsung cerah, ia tidak menyangka perempuan ini bisa  punya tawaran yang menarik.


“Hanya saja kita minta tempo untuk pembayaran interiornya, kita bayarnya nyicil dan minta diskon” sambung Bulan sambil tersenyum manis.


“Wahhh banyak banget persyaratannya… tapi menarik juga sih, toh kalian yang bayar untuk furniturenya walaupun nyicil… ehh pake diskon segala lagi” Lyfa tampak berpikir panjang.


“Iyalah Mbak, furniturenya di design untuk ruko kan jadi gak akan cocok ditempat lain… bisa yah Mbak?” Bulan tersenyum manis, tapi senyuman langsung hilang saat melihat muka Juno yang masam.


“Hufftt… hmmm kalau aku sih iyes ntah gimana Bang Epul yah… tapi kayaknya iyes aja deh… sayang soalnya kapan lagi dibuatkan desain interior yang bagus”.


“Aku tuh dari sejak ruko jadi udah pengen ngisi furniturenya tapi pengen yang unik gitu”


“Jangan khawatir Mbak… soal gambar A Juno jagonya… di kamar dia aja beuuh keren abis”


Lyfa tertawa melihat gaya Bulan yang terlihat berlebihan,


“Hahahaha beneran ini istrinya jagoan marketing… ya sudah ok gak masalah” Lyfa melirik Juno yang lebih banyak diam.


“Mau ditempati kapan?” tanyanya sambil menatap Juno.


“Secepatnya” hanya itu jawaban Juno.


“Ok.. surat perjanjian bisa dikirimkan belakangan kita fix untuk biaya sewa pertahun di 350 juta tapi kalau dicicil per-bulan jadi 30 juta bagaimana?” Mbak Lyfa ternyata memang pintar.


“Ok deal…” jawab Juno cepat sambil menyambut uluran tangan Lyfa. Mata Bulan membelalak, sebulan tiga puluh juta hanya untuk sewa ruko luar biasa pikirnya, otaknya langsung menghitung omset yang harus didapatkan oleh perusahaan Juno kalau ingin bertahan.


“Kunci saya serah terimakan sekarang saja, karena besok saya harus berangkat ke Bogor. Bang Epul pengen survey untuk pindah tempat workshop, yang sekarang terlalu sempit”


“Hadeuuh bakalan nambah lagi hutang yang harus aku pikirin”


“Kalian mesti tepat waktu yah bayarnya biar aku gak pusing mikirin cicilan” diambilnya sejumlah kunci dari tas dan diserahkannya pada Juno.


“Aku titip ruko ini kedepan yah Dek” ucapnya sambil menatap Bulan.


“Aku udah tanami pohon dan tanaman hias di rooftop. Ingat jangan sampai mati!” ucapnya sambil mengacungkan jari tangan tanda mewanti-wanti.


“Aku boleh lihat ke atas Mbak?” Bulan tampak bersemangat.


“Boleh-boleh, ayo aku kasih tahu cara perawatan tanamannya biar hijau terus” mereka berdua langsung akrab, menuju tangga sambil asyik mengobrol.


“Untung tadi barengan sama Bini lu, wuiih gw kirain bakalan alot ternyata langsung deal”. Doni mengusap-usap dadanya.


“Padahal biasanya dia tuh paling pelit ngasih diskon-diskonan atau bayar nyicil”


“Anginnya lagi bagus kali yaa”


Juno hanya diam, memilih duduk dan mengambil laptop untuk mengerjakan sesuatu. Melihat sikap Juno yang seperti itu Doni tampak biasa saja, ia tahu kalau peran Juno di kantor sangat besar. Ia dikenal memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengembangkan design baru sebagai solusi dari permasalahan klien. Beberapa project yang ditangani Juno merupakan project andalan yang menjadi portofolio perusahaan.

__ADS_1


Juno termasuk staf yang paling jarang cuti di kantornya, terkadang Sabtu Minggu mereka masih bekerja menyelesaikan project. Untungnya mereka berdua sama-sama single sehingga tidak terikat oleh jam pulang kantor. Tapi kondisinya berbeda sekarang, semenjak menikah Juno jarang bisa bekerja saat weekend.


Tapi ini adalah cita-cita mereka berdua dari dulu untuk membuka kantor konsultan sendiri. Mereka yakin bisa merintis bisnis sendiri tanpa tergantung orang lain. Hanya memang dibutuhkan keberanian untuk memulai selain perencanaan yang matang. Kalau mereka berhasil mengatasi tantangan ini, karir mereka di dunia desain interior akan semakin berkembang karena bisa mencurahkan semua ide dan gagasan dalam pekerjaan mereka tanpa ada yang membatasi.


__ADS_2