Rembulan

Rembulan
Engkau Masih Seperti yang Dulu


__ADS_3

Author PoV


Juno memandang pesan yang muncul di hp nya, setelah satu minggu pesan terakhir yang ia kirimkan pada Inneke baru hari ini perempuan itu memberikan jawaban tentang waktu dan tempat pertemuan. Sebuah restoran di daerah Jakarta Pusat yang dekat kantor Inneke sehingga memudahkan bagi Inneke untuk kembali ke kantor apabila ada urusan yang mendesak.


“Je.. kita bisa ketemu jam 3? Aku beres meeting punya waktu kosong sebelum balik lagi ke kantor”


Sekarang baru jam makan siang, ia masih punya waktu untuk menyiapkan diri, termasuk menenangkan dirinya sebelum bertemu kembali dengan Inneke setelah bertahun-tahun lamanya mereka berdua tidak pernah melakukan kontak.


“Ok kita ketemu jam 3 disana” hanya itu jawaban Juno, membayangkan apa yang harus ia bicarakan saja lumayan memusingkan untuknya. Lamunannya terpotong saat menyadari bulu halus yang mengitari kakinya.


“Apa kamu? Mau makan lagi? Makan melulu sih!” dengan bersungut sungut Juno akhirnya mengambil makanan kucing kalengan yang disimpan di lemari pendingin.


“Kebanyakan makan nanti kamu buang airnya lebih sering… rumah jadi bau tahu!” Samson seperti tidak peduli, asyik melahap makanan kesukaannya.


Restoran tempat mereka akan bertemu ada di daerah Cempaka Putih, agak sulit mencari parkiran di jam makan siang seperti ini, akhirnya setelah menunggu beberapa saat  ada mobil yang keluar. Untung saja dia datang lebih awal khawatir datang terlambat sehingga mengakibatkan Inneke harus menunggu sedang pekerjaannya pasti banyak yang harus diselesaikan.


Masuk ke area Restoran ternyata sudah tidak terlalu banyak pengunjung yang makan siang, yah wajar sudah jam 2 siang lebih. Hari ini ia belum sempat makan siang. jadi sambil menunggu, Juno memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.


“Smoking area” ucapnya saat ditanya mau duduk dimana.


Menikmati waktu tanpa harus dikejar-kejar target pekerjaan, seminggu kebelakang ia lebih banyak menyiapkan portofolio desain dan menyusunnya sesuai dengan tema yang akan ia kembangkan di perusahaan. Ia ingin mengembangkan desain interior kontemporer dan industrial sebagai nilai pembeda dengan perusahaan interior lain. Tema yang ia sukai karena simple dan berkesan modern. Tapi ia harus mengakomodir jenis interior desain lain, untungnya Sarah punya passion yang berbeda dengannya, yang lebih menyukai jenis art deco dan coastal.


Sekarang ia seperti sedang berlibur menikmati waktu luangnya dan mencoba mengejar mimpinya sendiri. Ada banyak rencana yang sudah ia rancang dan ia yakin bisa sukses di bidang ini. Banyak klien yang menanyakan kemana ia akan pindah, mereka merasa puas dengan hasil pekerjaannya selama ini dan ingin terus bekerjasama kedepannya. Tidak… ia tidak merasa membajak klien dari perusahaan lama, ia sama sekali tidak melakukan itu, karena sampai sekarang lebih banyak mereka yang bertanya dan meminta informasi bukan dia yang mengajak bergabung.


“Cepat juga kamu datang?” suara itu datang dari pinggir smoking area tempat Juno duduk, ia segera menoleh rupanya Inneke datang dari dalam, smoking area memang ada di teras restoran untuk mengakomodir pengunjung yang ingin merokok di restoran tersebut.


“Ya… aku takut kena macet, datang terlambat akan menambah beban waktu untuk Ibu Kepala Cabang… aku tahu kamu sibuk”


“Aku juga baru beres meeting disini, ternyata bisa selesai lebih cepat”


“Kamu masih seperti dulu, selalu concern tidak mau menghambat orang lain” komentar Inneke sambil duduk di kursi di depan Juno.


“Mau pindah tempat? Aku tadi duduk disini niatnya sambil santai dan makan, kita bisa pindah ke dalam supaya lebih nyaman” tawar Juno, ia kemudian hendak mematikan rokok yang baru dihisapnya beberapa kali.


“Gak usah gak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan asap rokok, habiskan saja”


“Aku sengaja minta waktu setelah rapat. Aku bilang mau ketemu klien….hahahahah” Inneke tertawa senang ia terlihat santai dan menikmati pertemuannya dengan Juno.


“Mau minum apa?” tawar Juno, melihat sikap santai Inneke, ia merasa lebih tenang dan tidak terlalu terbebani.


“Ice Americano”


“Ice Americano dan espresso double shot” gaya Juno terlihat cool saat memesan minuman, kemeja denim menonjolkan mukanya yang semakin berkarakter.


“Aku minta carrot cake yaa” sambung Inneke saat waiters menanyakan pesanan mereka.


“Kamu masih suka cheese cake? Disini cheese cakenya juara”


Juno menggelengkan kepala, “Aku sudah makan tadi… full”


“Aku dengar kamu sudah resign dan mulai merintis usaha sendiri” Inneke memulai percakapan setelah mereka terdiam beberapa saat.


“Ya… sudah planning sejak lama, tapi baru terlaksana sekarang, walaupun sebetulnya belum siap seratus persen tapi kalau tidak dipaksakan aku khawatir tidak akan pernah memulai”


“Akhirnya impianmu tercapai, punya bisnis sendiri dibidang interior… Selamat”


“Sayang aku gak bisa menemani kamu saat mimpi itu tercapai” ucap Inneke pelan.


“Kamu juga sukses kan berhasil menjadi Kepala Cabang di usia sekarang… Selamat” Juno tersenyum dengan tulus.


“Aku gak pernah menyangka kita akan berbeda jalan seperti ini, saling mengucapkan selamat atas keberhasilan masing-masing” Inneke menunduk sambil tersenyum sedih, Juno tampak diam tanpa ekspresi sambil terus menghisap rokoknya.


“Masih ingat gak dulu kita berencana bikin perusahaan bersama, aku handle keuangan kamu handle interiornya” Inneke tersenyum tipis mengingat rencana yang pernah mereka buat dulu.


“Aku bilang dulu kantornya pengen di Jakarta biar banyak kliennya tapi kamu pengen di Bandung supaya lebih tenang gak hectic”


“Ternyata beneran kan kantornya di Jakarta akhirnya...hehehehe” Inneke tertawa senang.


“Ya… kamu biasanya selalu benar” jawab Juno pelan.


“Ada apa? Kenapa kamu ingin bertemu?”


Mendengar Juno yang langsung bertanya pada tujuan pertemuan mereka siang itu, Inneke langsung terdiam, kemudian tersenyum kaku.


“Kamu berbeda sekarang… lebih take control” komentar Inneke sambil menyesap perlahan kopi dingin kesukaannya.


“Pengalaman hidup, kepahitan, keberhasilan dan tantangan yang dihadapi membuat aku harus bisa mengambil keputusan cepat”

__ADS_1


“Bukankah itu yang selalu kamu bilang dulu… kita harus cepat mengambil keputusan kalau tidak akan diambil orang lain”


“Itu sebabnya kamu tiba-tiba menikah dengan Rembulan?” tanya Inneke tiba-tiba, Juno menoleh dan tersenyum sinis.


“Kenapa tiba-tiba jadi membahas Bulan?”


“Aku dengar kamu tiba-tiba saja menikahi dia, apakah ada alasan khusus?”


“Bukankah kamu sudah sempat putus sama dia?”


“Alasan khusus apa? Marriage by accident maksudnya? ahaha” kembali Juno tertawa getir, Inneke langsung terdiam dengan muka kesal.


“Bulan terlalu polos, susah mau bikin accident sama dia” Juno tertawa membayangkan ekspresi Bulan saat mereka menghabiskan waktu saat di kost an dulu.


“Kamu menyukai dia?” tanya Inneke lagi, Juno menoleh dan menatapnya heran sambil tersenyum.


“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku menyukainya, dia istriku… aku harus menyukainya”.


“Seperti kamu menyukai aku dulu?” tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut Inneke membuat Juno tertawa getir.


“Kenapa kita jadi membicarakan masa lalu yang sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kita sekarang?”


“Aku kira kamu terlalu cerdas untuk menanyakan hal yang bodoh seperti itu”


“Setiap orang memiliki tempatnya masing-masing, kita tidak bisa membandingkan seseorang karena pasti berbeda”.


“Aku setuju bertemu dengan kamu sekarang, karena Bulan meminta aku untuk menyelesaikan urusanku dengan kamu Nge… walaupun buat aku urusanku sama kamu sudah selesai saat kamu memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain”


“Walaupun berat untukku untuk menerimanya dulu, tapi aku pada akhirnya aku bisa melanjutkan hidup”


“Jadi kamu jangan merasa khawatir… I’m fine… you see… aku  baik-baik saja”


“So you don't have to worry ok!”


“Maaf.. aku minta maaf sudah memutuskan hubungan seperti dulu” jawab Inneke sambil menunduk, menutupi air mata yang tiba-tiba saja menyeruak


“Aku merasa bersalah… “


“Dulu aku merasa kamu tidak peduli, kamu sibuk dengan dirimu sendiri”


“Heiii… aku juga harus menyelesaikan tugas akhir… kamu tahu kan… aku tidak mungkin datang terus menemani kamu”


“Tapi sudahlah itu sudah berlalu… untuk apa kita membicarakannya lagi”


“Kita sudah menjadi manusia dewasa dengan tanggung jawabnya  masing-masing”


“Kamu sudah memiliki keluarga dan pekerjaan yang baik… aku senang itu… I’m happy for you!”


“Apa benar kamu merasa senang melihat aku sekarang? Kalau kamu senang, kenapa kamu kemarin berkelahi dengan Kevin kemarin?” Inneke menatap Juno lekat, matanya menatap penuh meminta penjelasan, terbesit satu harapan dalam suaranya. Juno tersenyum sinis mendengar nada tuduhan itu.


“Aku kira semua laki-laki akan melindungi apa yang menjadi miliknya”


“Aku hanya melindungi apa yang menjadi milikku… nothing else” jawab Juno tegas.


“Maksud kamu Kevin mencoba mendekati istrimu?” Inneke tersenyum sinis.


“Aku tidak tahu, aku hanya tidak suka kalau dia terlalu dekat dengan laki-laki lain”


“Pengalaman membuatku lebih waspada”


“Jangan sampai terjadi lagi kejadian yang sama dengan laki-laki yang sama pula” Juno tersenyum saat mengatakannya,


“Jangan khawatir Bulan sudah mengundurkan diri dari kantor suamimu”


“So kita bisa menjalani hidup kita masing-masing sekarang”


“Kita tidak akan lagi saling berpapasan tanpa sengaja kedepan” ucap Juno tegas


“Aku… aku… aku masih mau berteman dengan kamu”


“Bisakah kita berteman?”


Bulan PoV


Setelah lebih dari seminggu mencoba membuat suasana kembali nyaman akhirnya kekakuan kembali mencair, hari ini kembali aku harus menemani Pak Kevin untuk meeting di luar. Ada banyak agenda meeting hari ini sehingga kami harus dibagi pada dua tim dan sebagaimana biasanya Mbak Icha akan memilih untuk ditemani Anjar. Jadi mau tidak mau setelah kejadian terakhir kemarin akhirnya aku satu mobil lagi dengan Pak Kevin.


Sempat berpikir untuk mengirimkan pesan meminta izin pada A Juno, tapi untuk apa, toh aku pergi disiang hari dalam urusan meeting pekerjaan kantor bukan acara main bersama. Kalau aku mengirimkan pesan untuk minta izin malah jadi membuat pikiran A Juno kemana-mana dan khawatir. Aku yakin bisa menjaga diri dan Pak Kevin pun bukan predator yang suka memangsa anak buahnya.

__ADS_1


And now akhirnya aku kembali duduk berdua dengannya di mobil, agak canggung pada awalnya karena dia lebih banyak diam.


“Kamu benar-benar mau berhenti bekerja?” Pak Kevin memulai percakapan dengan tatapan lurus kedepan.


“Eh iya Pak, suratnya sudah di tanda tangan kan Pak?” aku cuma bisa cengengesan untuk menutupi rasa gugup, perut terasa sangat lapar padahal tadi jam sepuluh aku sempat makan dua donat manis. Pantas saja kalau pipi ini semakin menggembung dan sering dicubit A Juno.


“Belum… saya ingin tanya dulu sama kamu alasannya apa?”


“Ishhh Bapak tuh… kalau belum dimasukan ke HRD nanti aku makin mundur waktu berhentinya” terbayang A Juno nanti akan protes dan ngomel-ngomel kalau tahu.


“Ya aku akan bilang nanti kalau pengajuan berhenti akan ditetapkan tertanggal kamu mengajukan surat, tapi jelaskan dulu alasannya!”


“Apakah karena pertikaian kemarin dengan suami kamu?” dia menoleh dan menatapku, beruntung sekali Kak Inne memiliki suami yang penuh perhatian seperti ini, sama orang lain aja udah perhatian apalagi sama istrinya pikirku.


“Nggak Pak… aku udah bilang sama Mbak Icha mau membantu membangun kantor suami, kan aku udah tulis disana, Pak?” kilahku, masa iya aku harus bilang karena suami cemburu kalau istrinya sekantor sama suaminya mantan.


“Perusahaan yang baru mulai tidak akan perlu tenaga ahli bidang keuangan, butuh minimal satu tahun sampai bisa running dan punya staf yang khusus” sambung Pak Kevin


“Lama amat Pak sampai setahun?” tiba-tiba terbayang perjalanan panjang penuh perjuangan yang harus aku hadapi.


“Ya merintis perusahaan baru memang seperti itu, tahun-tahun pertama akan penuh perjuangan, jadi apa kamu yakin akan siap kehilangan pemasukan sedangkan pemasukan utamanya tidak stabil?” eh malah ngetawain lagi, tampaknya Pak Kevin tahu kegalauanku.


“Yah mau gimana lagi Pak, aku kerja juga butuh ketenangan batin, untuk bisa kreatif dan produktif, kalau jadi banyak masalah jadinya gak varokah Pak”


“Lagipula perempuan itu kalau sudah menikah saat ia keluar harus atas izin dan ridho suami”


“Kalau sudah tidak ridho seperti ini aku mesti mengalah Pak, pekerjaan masih banyak kok”


“Jadi artinya benar kamu keluar karena perkelahian kemarin?” keukeuh juga si Bapak.


“Iya sebagian besar menjadi pemicunya itu, sebagian lagi karena ingin membantu suami… puas Pak?” Pak Kevin tersenyum mendengar aku kesal.


“Kamu mau pindah kerja sama David lagi gak?”


“Paling gak kamu gak akan dicurigai kalau kerja sama David”


“Nggak deh Pak… aku udah janji mau berhenti dari perusahaan ini”


“Nanti panjang lagi urusannya”


“Maaf ya Pak, aku jadi meninggalkan medan pertempuran padahal aku senang bekerja sama Bapak, Mbak Icha dan Anjar… the best teamwork ever” ucapku sambil mengacungkan jempol.


“Kamu juga staf terbaik yang aku miliki”


“Seandainya saja… seandainya saja…” Pak Kevin tidak menyelesaikan kalimatnya.


“Seandainya saja apa Pak?”


“Seandainya saja kita adalah orang yang tidak terhubung dengan masa lalu siapapun, apakah ceritanya akan berbeda?” senyuman Pak Kevin terlihat getir.


“Takdir Pak, takdir…. Sudah mau bagaimana lagi, saya bersyukur dapat kesempatan bekerja dengan atasan yang baik dan pengertian seperti Bapak”


“Kalau saya bayangkan Bapak dalam kehidupan sebelumnya, kayaknya Bapak reinkarnasi dari seorang Petapa Tua yang bijaksana”


“Berjenggot panjang dan memimpikan untuk terlahir kembali sebagai seorang CEO tampan, hidup di dunia modern memiliki istri yang cantik dan anak yang banyak dan lucu”


“Karena kebaikan dan doa-doa yang selalu Bapak panjatkan sampai akhirnya Bapak mati di pertapaan akhirnya Tuhan mengabulkan doa Bapak…. Dan TARAAAA… jadi Bapak sekarang ini, seorang Direktur tampan, yang memiliki istri cantik, anak cantik, kaya raya dan bahagia, tapi karena dasar jiwanya seorang Petapa yang bijaksana sampai sekarang Bapak tetap santuy dan membuat damai tenang suasana...hehehehhe”


Pak Kevin tergelak mendengar khayalan tingkat dewaku, mana ada dalam Islam manusia melakukan reinkarnasi, kalau sudah mati sih tinggal menunggu malaikat Munkar dan Nakir saja ditanya amal kehidupan.


Ternyata khayalan itu benar-benar menghapus kekakuan dan ketidaknyamanan diantara kami berdua, selama rapat Pak Kevin terlihat lebih santai dan tidak menjaga jarak lagi. Aku merasa lega, aku tidak ingin berhenti bekerja dan meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan di tempat yang lama.


Sampai akhirnya rapat berakhir jam empat sore, badan terasa pegal terlalu lama duduk di udara AC pasti membuatku masuk angin apalagi hari ini hanya memakai rok span selutut, betis terasa menggigil kena gigitan udara AC.


“A… bisa jemput ke kantor gak hari ini? Badan aku gak enak” sebelum keluar ruangan aku mengirimkan pesan pada A Juno. Tampaknya sekarang aku bisa pulang tepat waktu.


“Sekarang sudah jam empat sore, mau langsung pulang atau ikut ke kantor sama aku?” Pak Kevin menatapku lekat, bisa melihat mukaku yang terlihat lelah.


“Ikut sama Bapak aja deh ke kantor. Sambil menunggu di jemput saya mau buat laporan rapat hari ini Pak” beliau mengangguk setuju dan mendahului keluar ruangan. Klien dari perusahaan mitra masih meneruskan pekerjaannya karena mereka memang harus membuat penawaran tender sesuai dengan kesepakatan rapat.


“Well ..well… ada yang lagi reunian rupanya” tiba-tiba Pak Kevin berhenti dan memandang ke arah luar Restoran.


“Siapa Pak yang reunian?” tanyaku dan pandanganku langsung tertuju pada laki-laki yang memakai kemeja denim dan celana hitam yang sedang merokok. Duduk bersama seorang perempuan cantik yang tertawa dan bercerita.


“Hmmm rupanya dilakukan juga… kenapa gak bilang sama aku?” walaupun aku yang nyuruh tetap saja merasa gak rela. Pak Kevin berjalan mendahului mendekati mereka berdua, mau tidak mau aku mengikutinya di belakang.


Kenapa ini seperti memergoki pasangan yang sedang berselingkuh yah, padahal kan aku yang nyuruh… KOK KESEL SIH…..

__ADS_1


__ADS_2