
Kenanga terbangun saat nada alarm di ponselnya berdering begitu nyaring, kedua kelopak matanya yang terasa masih lengket dia paksakan untuk terbuka. Mesti hawa dingin begitu terasa di luar sana dan ingin rasanya Kenanga kembali di balut oleh selimut tebal miliknya, namun kegiatan dan tanggung jawabnya sebagai seorang pekerja, mengharuskan gadis itu untuk bangun. Setelah berhasil mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi, Kenanga kembali teringat akan pesan yang di kirim kepada Athar, dengan segera Kenanga mengambil ponsel miliknya yang baru saja tergeletak di atas kasur.
Kenanga membuka ponsel tersebut dengan buru-buru, namun sayangnya hasilnya masih nihil, Athar belum juga membalas pesan darinya. Dengan rasa kecewa, Kenanga beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi.
Seusai ritual mandi paginya, Kenanga seperti biasa menikmati sarapan paginya bersama dengan kedua orang tuanya.
"Oh iya nak, bagaimana keadaan Athira saat ini?" tanya Papa Adam
"Seperti itu lah pah, Kak Athira harus banyak berisitirahat dan tidak di perbolehkan oleh dokter untuk melakukan pekerjaan berat"
"Lantas siapa yang mengurus perusahaan? Tuan Zanaka atau suami dari Athira?" mama Anesa menimpali
"Semua pekerjaan dan tanggung jawab kak Athira untuk sementara waktu di ambil alih oleh Athar ma"
"Hah? Lantas bagaimana dengan pekerjaan Athar sendiri?" tanya Mama Anesa dengan terkejut
"Athar mengambil cuti untuk sementara waktu ma, ya mau bagaimana lagi, mereka kan hanya dua bersaudara dan tidak mungkin pula Athar membiarkan kak Athira bekerja dengan kondisi seperti ini. Dan untuk Kak Niko, beliau juga sedang ada pekerjaan di luar negri, jadi tidak bisa mengurus pekerjaan yang ada di sini" papar Kenanga panjang lebar
"Oh..." Jawab Papa Adam dan Mama Ansea bersamaan di iringi dengan anggukan kepala tanda mereka berdua mengerti apa yang anaknya jelaskan.
Setelah sarapan pagi selesai, seperti biasa Papa Adam akan mengantarkan Kenanga menuju kantornya. Kini anak dan ayah itu duduk di dalam mobil yang akan membawa mereka menuju tempat bekerja mereka masing-masing. Suasana jalan pagi ini tergolong ramai padat merayap.
"Pantas saja, papa sudah beberapa hari ini tidak melihat kau di antar pulang oleh Athar nak, tapi kalian tidak sedang bertengkar kan?" tanya Papa Adam penuh selidik.
Sebagai orang tua, tentu Adam bisa melihat ekspresi wajah Kenanga selama beberapa hari ini, terlihat murung dan kurang bersemangat meski gadis itu berusaha menutupi perasaannya, tapi sorot mata Kenanga tidak bisa berbohong, dan papa Adam pun sebenarnya memiliki rasa takut bila kejadian beberapa tahun silam kembali terulang, kegagalan pernikahan anaknya membuat Adam semakin merasa kawatir.
"Tidak pa, kami baik-baik saja. Athar hanya sedang sibuk saja pa, makannya dia belum sempat menemui Kenanga"
"Kalau Athar sibuk dan belum sempat datang menemui dirimu, tak ada salahnya kan kalau kau yang menemui Athar? Bukankah selama ini Athar selalu meluangkan waktu bertemu denganmu, memberikan perhatian lebih"
__ADS_1
Kenanga mengerjapkan matanya beberapa kali, benar juga apa yang papanya katakan baru saja. Jika Athar tak sempat menemui dirinya, tak asa salahnya kan Kalau dirinya yang mengunjungi Athar, mungkin membawakan bekal makan siang adalah ide yang bagus, seketika senyum di bibir Kenanga terbit.
"Kenapa malah tersenyum?" tanya Papa Adam keheranan
"Terimakasih pa, papa memberiku ide terbaik" Kenanga menghambur memeluk pria paruh baya yang menjadi cinta pertamanya.
"Kau ini" Papa Adam tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
^
Kenanga duduk di lobi kantornya sejak lima menit yang lalu, dirinya saat ini sedang menunggu order makanan yang dia pesan melalui aplikasi online. Waktu semakin berjalan, sudah hampir menjelang makan siang, namun pesanan yang dirinya tunggu masih belum tercium aromanya.
"Lama sekali" Kenanga kembali melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Nona Kenanga"
Sapaan tersebut seketika mengalihkan pandangan mata Kenanga, benar saja orang yang sedari tadi di tunggu akhirnya datang. Setelah mengambil pesanan makanan tersebut, Kenanga bergegas meninggalkan kantornya menuju kantor Athar.
"Selamat siang.." sapa Kenanga
"Siang Miss, ada yang bisa kami bantu?" jawab Resepsionis itu ramah
"Bisakah saya bertemu dengan Athar"
"Oh maksud saya Tuan Athar Zanaka" Kenanga mengulangi perkataannya
"Apa Miss sudah membuat janji?"
"Belum, tapi saya kemari di utus oleh Nona Athira" jawab Kenanga dusta.
__ADS_1
"Maafkan Kenanga Kak Athira, sudah membawa nama kakak" gumam Kenanga dalam hatinya
"Oh baik. Tuan Athar saat ini berada di ruangannya di lantai Lima gedung ini. Apa perlu saya antarkan?" tawar resepsionis tersebut
"Tidak perlu terimakasih" Kenanga mengulas senyuman dan meninggalkan meja resepsionis tersebut.
Kenanga menggunakan Lift menuju lantai lima tempat dimana ruangan Athar berada, hanya dengan hitungan detik kini lift yang membawanya sudah tiba di lantai lima. Dengan langkah kaki yang semangat, Kenanga melangkahkan kakinya menuju ruangan Athar. Namun namun langkah kakinya terhenti tak jauh dari ruang kerja Athar, kedua manik matanya menangkap sosok pria yang beberapa hari ini sangat di rindukan, mengenakan jas lengkap layaknya bos-bos besar yang sering Kenanga lihat di serial tv. Tampan, hanya kata itu yang terlintas di benak Kenanga saat itu.
Athar terlihat tersenyum sambil berjalan mengantarkan seorang pria bule di kawal oleh beberapa orang bertubuh tegap di belakang mereka.
Sadar akan Athar yang berjalan ke arah dirinya, Kenanga menepikan tubuhnya di dinding, namun sayangnya Athar tidak menyadari kalau Kenanga berada di sana.
"Dokter..." Kenanga mengumpulkan sekuat tenaga untuk mengucapkan kalimat itu saat Athar melewati tubuhnya beberapa langkah
Athar yang merasa tidak asing dengan suara tersebut, seketika menghentikan langkah kakinya, memutar kepalanya mencari asal suara tersebut, dan betapa terkejutnya Athar saat melihat Kenanga berdiri beberapa langkah di belakang tubuhnya.
"Kenanga.." Athar sangat tak menyangka Kenanga berada di kantor ini.
"Tuan Heden, tunggu sebentar"Athar langsung menghampiri Kenanga
"Kenanga? ada apa?" tanya Athar sedikit terkejut.
"Aku..." Kenanga tak melanjutkan kata-katanya.
"Kau mengantarkan makan siang untukku?" Athar melihat ke arah paperbag yang di pegang oleh Kenanga.
"Aku masih ada pekerjaan, setelag pekerjaanku selesai aku akan menghubungimu" Athar mengusap puncak kepala Kenanga, kemudian mengambil alih paper bag yang di bawa Kenanga dan langsung kembali menemui pria bule yang sedari tadi juga tampak mengamati mereka berdua
Hati Kenanga seakan mencelos, bahkan kedua matanya melihat dengan jelas kalau Athar memberikan paper bag tersebut kepada wanita yang di yakini oleh Kenanga sebagai sekretarisnya. Kenanga merasa matanya terasa panas dengan sekuat tenaga Kenanga menahan supaya air matanya tidak tumpah.
__ADS_1
"Dia hanya sedang sibuk" ucap Kenanga meyakinkan dirinya sendiri saat melihat tubuh Athar hilang di balik pintu lift.
Namun tak bisa di pungkiri Kenanga merasa benar-benar terabaikan saat ini, bahkan di waktu jam makan siang saja Athar tak memiliki waktu untuknya, membalas pesannya saja tidak.