Rembulan

Rembulan
Pria Idaman


__ADS_3

Sepanjang perjalanan mereka berdua lebih banyak diam, setelah seharian menghabiskan waktu di Bintaro rupanya energi Bulan terkuras habis. Juno hanya melirik dilihatnya Bulan hanya memandang keluar jendela sambil melamun.


“Mikirin apa?” tanya Juno heran.


“Nggak, kagum aja sama Teh Hasna bisa sampai sedeket itu sama anak sambungnya, aku baru tahu tadi kalau dia nikah sama Pak Reza yang duda dua anak”


“Dia dulu stafnya Pak Reza”


“Malah katanya dulu deket duluan sama anaknya Maura… eh malah dilamar jadi istrinya”


“Anaknya Pak Reza itu yang paling besar udah kelas satu SMA tapi sekolahnya di Bandung, tinggal sama orangtuanya Teh Hasna”


“Keren banget… itu yang namanya sambil mendayung dapetin tiga pulau...hehehehe”


“Duda kaya beudd… ganteng lagih hihihi” Bulan tertawa sendiri


“Ohhh ya ampunnnn… nyaris aja aku mengulang sejarah kaya Teh Hasna… eh tapi beda cerita ketang” teriak Bulan sambil melonjak duduk. Juno tersentak kaget.


“Apaan sih kamu?!” teriak Juno kaget.


“Iya… aku kan awalnya kenal sama Pak Kevin karena godain Elma… ih lucu banget anak itu emang… pinter lagi… eh gak taunya anak bos… untung aja Pak Kevin bukan duda… kalau gak bisa-bisa cerita Teh Hasna terulang sama aku hehehehe” Bulan tertawa sendiri membayangkan kalau kejadian itu terjadi pada dirinya. Juno melengos kesal.


“Kamu gak inget kalau waktu itu kamu lagi tunangan sama aku?!” ucapnya kesal.


“Oh iya lupa… dulu pernah tunangan yah sama seorang laki-laki… hmmm tapi gak berasa punya tunangan… kaya temen juga enggak… udah kaya orang asing yang mengaku tunangan sih kalau aku bilang” sindir Bulan sambil menarik napas.


“Alaah yang penting pada akhirnya menikah juga kan… banyak komentar banget sih kamu” balas Juno kesal, merasa disindir atas sikapnya yang menyebalkan dulu.


“Udah jodoh kali… mau gimana lagi udah ditakdirkan dari Lauh Mahfuz nya jadi yah terima aja” jawab Bulan sambil membaringkan dirinya di kursi. Juno terdiam dan memandang istrinya lekat.


“Aku seneng kok ditakdirkan berjodoh sama kamu” ucap Juno, Bulan tersenyum mendengarnya.


“Kok cuma senyum mestinya  jawab dong!”


“Aku juga senang berjodoh sama Aa… impian aku loh menikah sama Aa tuh” sambung Juno sambil tersenyum.


“Aku mau punya bayi” jawab Bulan tiba-tiba. Juno menoleh kaget.


“Kenapa tiba-tiba malah jadi pengen bayi?… pasti gegara lihat bayi kembar tadi”


“Kita masih berjuang supaya perusahaan stabil… aku pikir lebih baik kita tunda dulu barang dua atau tiga tahun”


“Supaya nanti bisa punya rumah yang nyaman untuk anak-anak”


“Kalau sekarang kondisinya gak nyaman di Ruko” jawab Juno pelan. Bulan hanya mengerutkan dahi.


“Banyak kok yang menikah dan punya anak tapi belum punya rumah sendiri” jawab Bulan pendek, mulutnya mengerucut menandakan keinginannya yang belum terpenuhi.


“Ya aku tapi pengennya sudah punya rumah yang nyaman gak di ruko seperti sekarang” balas Juno.


“Kedepan kita akan mulai disibukkan sama proyek di Bintaro dan Kuldesak”


“Kamu harus backup Doni untuk keuangan, dia gak jago dalam perhitungan, biar dia fokus koordinasi sama workshopnya”


“Kita belum bisa punya workshop sendiri jadi butuh perhatian dalam koordinasi sedangkan Doni belum resign dari kantor sekarang” Juno memberikan alasan, Bulan hanya bisa diam mendengarkan.


“Aku pengen kalau kita punya anak kondisi sudah stabil, sekarang terlalu banyak ketidakpastian”


“Project kita baru mulai… kita belum tau juga handle-nya bakalan smooth atau akan banyak kendala”


“Kalau ditambah ada bayi aku khawatir kita gak bisa mengurus dengan baik” jelas Juno


“Iya” jawab Bulan lemah, masuk akal juga pikiran suaminya.


“Sabar yaaa… nanti kita bikin bayi yang banyak dan lucu, kalau perlu kembar tiga sekalian supaya gak kalah sama Hasna” Juno tersenyum menggoda, sambil memegang tangan Bulan, yang langsung ditepis kesal.


“Gak mau bayi kembar, satu aja. Kembar repot ngurusnya!" ” kerepotan yang dialami Hasna tadi masih terbayang di kepalanya. Walaupun sebetulnya Bulan masih ingat mengurus Benny sejak bayi, tapi membayangkan seperti kalau memiliki anak sendiri tampaknya berbeda excitement-nya. Bayangannya tentang bayi terhenti saat membaca pesan yang masuk.


“A… aku dapat pesan dari Kak Cedrik” ucap Bulan pelan. Juno langsung melirik kesal, laki-laki itu masih saja suka mengirim pesan pada istrinya.


“Dia ngajak kita ketemuan”


“Dia baru datang bareng sama tunangannya Katrin”


“Katanya Katrin mau buka restoran di Indonesia,  perlu diskusi soal tempat dan interior restorannya”


“Karena dia dengar aku menikah sama desainer interior...hmmm dia pengen diskusi juga sama A Juno”


“Kasih aja alamat kantor lama aku… suruh dia kesana… banyak desainer interior yang bagus juga disana!” jawab Juno ketus.


“Jangan gitu dong… dia itu teman aku, teman baik”


“Datang kesini sama tunangannya kok” rajuk Bulan, ia merasa tidak enak kalau harus merekomendasikan orang lain disaat suaminya sendiri memiliki kemampuan.


“Kapan?”  akhirnya tanya Juno pendek


“Mereka baru datang besok pagi katanya”


“Mau besok malam atau lusa? Terserah Aa”


“Ya sudah lusa saja kalau begitu”


“Besok malam aku mau koordinasi pekerjaan dulu sama Sarah dan Doni” akhirnya Juno menyerah untuk bertemu dengan Cedrik si pria masa lalu yang masih membayang.


-------------------------


Pertemuan dengan Cedrik agak membuat Bulan gelisah, walaupun mereka bertemu dengan membawa pasangan masing-masing rasanya tetap saja tidak nyaman. Mau menghindar tapi rasanya belum menemukan alasan yang pas. Apalagi alasan pertemuan ini adalah adanya permohonan bantuan untuk alasan profesional terkait dengan pekerjaan suaminya.


Setelah beberapa kali berganti pakaian yang dirasa cukup baik dan sopan akhirnya Bulan memilih dress panjang floral, berusaha menghilangkan kesan dirinya yang dulu yang dikenal oleh kakak kelasnya. Begitu keluar kamar  ia berpapasan dengan suaminya, pandangan Juno membuatnya berhenti,  menatapnya dari atas ke bawah lekat.


“Kenapa? Aneh yah? Gak pantas?” tanya Bulan bingung.

__ADS_1


“Spesial banget dandannya kalau ketemu mantan” sindir Juno sambil beranjak ke meja makan.


“Biasa aja deh komennya… jadi gak pantes?” tanya Bulan bingung. Sarah yang sedang duduk di sofa jadi tertarik melihat ke arah Bulan. Memperhatikannya sesaat dan langsung ikut berkomentar.


“Mau kemana lu.. Tumben dandan” komentar Sarah langsung membuat Bulan terhenyak kaget.


“Seriusan ini aku keliatan niat dandan? Padahal cuma pengen keliatan lebih dewasa aja pake dress”


“Gak kaya anak kuliahan gitu… ya udah aku ganti baju aja!” ucap Bulan menyerah.


“Gak usah… gak apa-apa pake baju itu aja!” tungkas Juno pendek, dengan malas Ia kemudian pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Mereka berjanji bertemu dengan Cedrik dan tunangannya untuk makan malam bersama di salah satu restoran.


“Ketemuan siapa lu emang?” tanya Sarah.


“Kakak kelas aku waktu kuliah Mbak… dia datang sama tunangannya, mau bikin restoran di Jakarta. Butuh konsultasi soal tempat dan interior… makanya ngajak ketemuan sama A Juno” jelas Bulan.


“Weeeiisss another project nih… gile langsung banyak gini, gede-gede juga nilai projectnya”


“Kirain gw kita cuma bakalan handel dulu project kecil-kecil ternyata langsung pada gede. Hoki banget si Juno berhenti kerja”


“Gak sia-sia gw resign dari kerjaan” sambung Sarah senang.


“Yah doakan saja Mbak… mudah-mudahan jadi” ucap Bulan sambil menghela napas, selama dua hari ini mereka berdua sibuk menyusun anggaran untuk dua proyek yang akan berjalan bersamaan. Untungnya ada Sarah yang akan handel langsung project Kuldesak sehingga Juno akan bisa fokus di project rumah Bintaro. Tapi kalau project restoran juga berhasil mereka dapatkan itu berarti akan membutuhkan dana dan fokus perhatian yang lebih.


Mereka harus mencari workshop tambahan yang dapat dipercaya untuk mengerjakan produk interior yang dirancang. Workshop ini harus bisa memenuhi standar yang ditetapkan untuk menjaga nama baik dan keberlanjutan project di masa depan.


Juno keluar kamar dengan memakai kemeja denim biru dan celana hitam, tampak serasi dengan pakaian dress floral yang dikenakan oleh Bulan. Sarah langsung tertawa sinis melihatnya.


“Kalian kaya anak remaja yang couplean mau difoto ke studio… Bajunya pake dress code” sindirnya. Bulan tersenyum melihat suaminya yang tampak tidak peduli dengan sindiran temannya itu.


“A Juno itu pakai baju apapun ganteng Mbak Sarah…” ucapnya sambil menyikut Juno dari pinggir


“Apalagi kalau gak pake baju… hehehehe” sambung Bulan yang dibalas dengan toyoran di kepala oleh Juno. Suaminya terlihat melotot.


“Awww… iya maksudnya emang bentuk badan bagus jadi pake baju apa pun masuk”


“Aku mah gak ngomong porno woooy” Bulan mengusap-usap kepalanya, khawatir kerudungnya menjadi kusut. Sarah hanya melengos dan meninggalkan ruangan sambil membawa Samson. Bagi Sarah saat ini yang paling ganteng dan seksi hanya Samson si kucing pemalas.


Perjalanan ke restoran tidak memakan waktu lama kurang dari satu jam mereka sudah sampai. Begitu di lobby restoran mereka langsung masuk, rupanya  meja untuk makan malam sudah dipesan oleh Cedrik dan mereka berdua sudah datang terlebih dahulu.


“Bulaaan” suara teriakan Cedrik membuatnya kaget


“Sejak kapan kamu pakai kerudung?!”


“Dari kejauhan aku udah ngeliat kamu cuma gak yakin aja… begitu dekat baru yakin pasti itu kamu ngeliat cara jalannya….hahahahah masih kaya pegas lompat lompat” ternyata sampai sekarang Cedrik tidak pernah berubah masih fun dan tidak pernah berbasa basi.


“Haloo Kak Cedrik apa kabar?” Bulan mencoba bersikap normal, tersenyum dengan formal pada laki-laki yang pernah memenuhi hatinya dulu.


“Haloo perkenalkan saya Rembulan… ini suami saya Juno” ucap Bulan sambil menyalami perempuan tinggi putih yang berdiri di samping Cedrik, perempuan yang terlihat cantik dengan baju off shoulder hitamnya memperlihatkan bahunya yang lenjang. Ternyata ia memakai dress tutu yang bermotif abstrak, tersampir jaket kulit di kursi yang didudukinya.


“Haloo apa kabar… saya Katrin… tunangannya dengan Cedrik” ucap Katrin dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.


“It's Ok… nanti cukup bilang Tunangannya Cedrik tidak usah pakai dengan” jelas Cedrik sambil tertawa lebar.


“Maaf dia masih belajar  bahasa Indonesia jadi masih belibet ngomongnya”


“Silakan duduk…” ternyata suasana kaku terpecahkan oleh gaya Katrin yang terlihat bebas dan santai dengan bahasa Indonesia yang masih kaku.


“Dia sebetulnya ada darah Indonesia-nya. Neneknya orang Kalimantan, tapi karena sudah lama menetap disana jadi sudah jarang menggunakan bahasa Indonesia”


“Dia itu lancarnya bahasa Inggris sama Kanton malah” keluh Cedrik tersenyum pada tunangannya yang tampak tersenyum tidak peduli.


“Sekarang karena mau buka restoran di Indonesia dia lagi belajar cara cepat… aku dilarang ngomong bahasa Inggris mesti ngomong bahasa Indonesia terus”


“Waah kereeen… langsung dapat guru native dari Indonesia, aku manggilnya apa nih Kak Katrin atau Cici” tanya Bulan langsung.


“Kamu kalau ngomong jangan kaya senapan mesin mesti pelan biar dia menyerap dulu di otaknya” jelas Cedrik sambil tertawa-tawa.


“Rembulan ingin tahu kamu mau dipanggil dengan sebutan apa? Kak Katrin atau Cici” sambung Cedrik pada tunangannya, ternyata ucapannya lebih pelan dari biasanya.


“It's Ok… bisa panggil saya Katrin saja” jawab Katrin cepat. Bulan mengangguk.


“Jadi kamu adik kelas yang selalu disebut-sebut oleh Cedrik?” tanya Katrin.


“Saya gak punya hutang sama dia, jadi mungkin bukan saya yang suka diceritaon Kak Cedrik” ucap Bulan santai, Cedrik langsung tertawa terbahak mendengarnya.


“Hahahahha dia gak akan ngerti humor receh kamu” ucapnya sambil menggelengkan kepala.


“What? Apa itu itu humor receh… bukankan receh itu uang yang kecil-kecil” Katrin terlihat bingung. Benar saja ternyata suasana makan malam kali ini terasa berbeda, Katrin yang kepo tapi mudah bingung, Juno yang hanya bisa menyimak Bulan dan Cedrik yang saling meledek satu sama lain.


Akhirnya daripada urusan panjang lebar, mereka menyepakati untuk mencampur pembicaraan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Untuk topik yang sifatnya informal mereka menggunakan bahasa Indonesia agar Katrin bisa berlatih bahasa Indonesia tapi untuk penjelasan pekerjaan yang sifatnya teknis menggunakan bahasa Inggris agar mempermudah dan lebih jelas dalam diskusi.


Katrin tampak menikmati suasana diskusi malam itu, ia semakin yakin untuk membuka cabang restoran di Indonesia. Selama ini keluarganya memang telah memiliki beberapa cabang restoran di Hongkong, seiring dengan banyaknya pengusaha Hongkong yang melakukan ekspansi perjalanan bisnis ke Indonesia, mereka kerap diminta untuk membuka cabang juga di Indonesia agar bisa tetap menikmati masakan khas Hongkong di Indonesia. Selain itu adanya darah Indonesia yang mengalir pada keluarga Katrin mendorong mereka untuk mencoba peruntungan di Indonesia, terlebih saat ini Katrin bertunangan dengan orang Indonesia.


“Juno… I want to show you the type of interior for my restaurant, can you come with me?” ajak Katrin. Dari tadi mereka berdua asyik berdiskusi soal interior restoran, rupanya restoran tempat mereka makan sekarang ini milik teman Katrin sehingga mereka bebas untuk melihat-lihat ke bagian dapur.


“Oww.. Rembulan is it ok kalau saja ajak-ajak suaminya melihat lihat interior dapur?” rupanya Katrin bisa melihat keberatan Juno yang langsung melirik pada Bulan dan Cedrik. Padahal Juno tidak ingin meninggalkan istrinya berduaan saja.


“Ok… Fine” ucap Bulan sambil memberikan simbol OK.


“Come on… don't worry, your wife will be safe with him” ucap Katrin sambil menarik tangan Juno agar berdiri.


“Perlu aku temani A?” ucap Bulan seakan mengerti keengganan suaminya.


“Gak perlu, kamu tunggu saja disini, aku gak akan lama” ucap Juno pendek sambil kemudian menatap Cedrik.


“Saya tinggal dulu sebentar” ucapnya, Cedrik hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman samar. Sedari tadi Juno tidak banyak bicara dengannya hanya menanggapi beberapa kalimat lebih banyak berdiskusi soal restoran dan interior dengan Katrin.


“Suami kamu orangnya pemarah kayaknya”


“Kamu terlihat sangat berhati-hati” komentar Cedrik saat Juno sudah jauh meninggalkan meja.

__ADS_1


“Oyaa hahaha engga Kak… memang dia bawaannya serius kok” Bulan mencoba bersikap netral. Tadi ia memang sangat berhati-hati dalam bersikap jangan sampai Juno meradang karena sikap akrab Cedrik padanya.


“Aku senang kamu bisa menemukan laki-laki pintar dan fisiknya juga ok” ucap Cedrik dengan nada datar, tiba-tiba saja suasana menjadi serius setelah hanya mereka berdua di meja.


“Apa yang menjadi alasan hingga kamu memutuskan untuk menikah dengan dia?”


“Kapan kamu mengenalnya?” tiba-tiba saja banyak pertanyaan muncul dari mulut laki-laki itu. Bulan hanya tersenyum menunduk, ia sudah menduga kalau Cedrik pasti akan menanyakan itu.


“Dia kakaknya Afi… Kak Cedrik  tahu kan sahabat aku waktu kuliah?” tanya Bulan pelan sambil memutar gelas minumnya.


“Berapa tahun kamu mengenal dia?” selidik Cedrik lagi, selama ini ia tidak pernah mendengar Bulan dekat dengan siapapun.


“Tentu saja sejak saya kenal dengan Afi saya kenal sama keluarganya… aku mah orangnya akraban… hehehehe” Bulan mencoba tertawa senang di depan Cedrik. Tapi yang diajak tertawa tampak tidak terpancing dan tetap memandang Bulan dengan serius.


“Bukan kenal itu, mengenal sebagai pasangan? Aku kira karakternya berbeda jauh dengan kamu, dia seperti Ernest, kamu ingat gak? … Anak Divisi Dokumentasi yang mau menang sendiri, gak mau mendengar masukan orang lain, lebih suka kerja sendiri jadi gak cocok buat team work”


“Kamu dulu paling sering bentrok sama dia”


Bulan menarik napas panjang, hanya dengan hitungan jam Cedrik sudah bisa menebak sifat Juno.


“Bapakku dulu terkena serangan jantung, beliau berpikir umurnya gak lama lagi. Harus segera dioperasi, tapi menolak dioperasi kalau aku belum menikah” ucap Bulan sambil menarik napas.


“Aku dulu pernah bertunangan sama A Juno, tapi putus karena pola komunikasi kami buruk”


“Saat itu aku berada di titik yang paling rendah, gak ada yang bisa bantu aku”


“A Juno yang datang dan mengajak aku menikah”


“Aku berpikir yah memang sudah takdir berjodoh dengan dia… walaupun dulu sempat putus tunangan tapi kalau memang harus menikah dengan orang yang sama, yah aku jalani saja”


“Tinggal aku harus sabar menyesuaikan diri”


“Ternyata pernikahan itu bukan akhir dari suatu hubungan Kak” ucap Bulan matanya menerawang melihat ke arah pengunjung.


“Dia adalah awal dari suatu hubungan panjang antara laki-laki dan perempuan”


“Proses penyesuaian…. Huuuft”


“Kesimpulannya yah Kak.... jangan suka membenci sesuatu, mungkin saja di masa depan sesuatu yang kamu benci itu menjadi bagian dari hidup kita...hehehhe dulu aku sebel banget sama si Ernest eehh ternyata dapat pasangan yang beda-beda tipis sama dia… tapi A Juno masih mendinglah lebih ganteng dari Ernest… untung aku gak berjodoh sama si Ernest...hahahhaha” Bulan kembali menertawakan dirinya dulu.


Cedrik hanya mengerutkan dahi, penjelasan Bulan tentang pernikahan itu menjadi awal suatu hubungan adalah hal yang aneh baginya. Sudah satu tahun ia bertunangan dengan Katrin, selama ini Ia berpikir pernikahan akan menjadi ujung tujuan dari hubungannya selama ini.


“Dari dulu pemikiran kamu suka berbeda dari yang lain, aku baru terpikir sekarang kalau pernikahan itu awal dari suatu hubungan jangka panjang… kalau dipikir-pikir benar juga” ucap Cedrik.


“Kalau aku menikah dengan Katrin, artinya aku menjalani hubungan dengan format baru” ucapnya lagi. Bulan tersenyum mendengar istilah format baru.


“Gak usah terlalu banyak dipikirin Kak… jalani aja… aku lihat Katrin orangnya asyik menyenangkan dan bisa diajak diskusi” jelas Bulan, ternyata keduanya sudah selesai dari kegiatan observasi di dapur.


“Tapi dia keras kepala susah diatur” keluh Cedrik sambil cemberut.


“Perempuan pintar itu ciri khasnya keras kepala dan susah diatur” jelas Bulan lagi.


“Tapi kamu tidak keras kepala, kamu gampang aku atur-atur” sanggah Cedrik. Bulan tertawa mendengarnya.


“Aku kan adik kelas… junior harus ikut apa kata senior… Senpai Yoroshiku Onegaishimasu” ucap Bulan sambil menghormat ala orang Jepang… ledekan yang sering ia lakukan pada Cedrik yang gemar memerintah padanya.


“Heeeii… tell me why you laugh? Dia suka marah-marah terus sama aku” Katrin terlihat penasaran melihat Bulan yang tertawa dan Cedrik yang terlihat tersenyum.


“Dia adik kelas yang menyebalkan… nambah kerjaan aku sebagai kakak kelasnya” jelas Cedrik saat Juno memandang mereka berdua dengan tatapan penuh curiga.


“Is this Rembulan the same girl in video that you always watch?” tanya Katrin, mata Bulan langsung membulat video apa pikirnya?, ia tidak pernah membuat video apapun bersama Cedrik. Juno langsung menatap Bulan lekat tatapannya menghunus tajam meminta penjelasan.


“A..aku gak pernah bikin video sama Kak Cedrik kok…” Bulan menggelengkan kepala cepat.


“Yesss I think that girl is you… honey give me your handphone. He always smile if watch that video”


“Cedrik says… video ini menghibur dia kalau sedang kesal dan pusing sama kerjaan”


“Dia bilang adik kelasnya dulu lucu… very entertain” Katrin dengan cepat membuka hape Cedrik, yang hanya bisa diam memandangnya, sesekali dia memandang Bulan dan Juno.


“Maaf Juno… ini adalah video yang dulu saat mereka sedang menjalani seleksi organisasi”


“Bukan video yang aneh-aneh” Cedrik berusaha menenangkan suasana yang tiba-tiba menjadi tegang. Tiba-tiba saja terdengar irama dangdut dari handphone Cedrik.


“Selamat pagi Kakanda Cedrik… kami bermaksud melamar menjadi staf magang di Biro Publikasi bersama Kakanda…. Mohon kami bisa diterima” terdengar suara Bulan dari handphone. Mata Bulan langsung melotot kaget, ternyata itu adalah saat ia mengikuti seleksi.


“Ya Allah… itu ada yang memvideokan … Ya Allah” Bulan menutup telinganya, Juno mengerutkan dahi. Cedrik tertawa melihat sikap Bulan.


"Kakak Cedrik... Pria Idaman"


“Sikapmu yang penuh kasih dan sayang"


"Membuat aku hai mabuk kepayang"


"Sifatmu yang peramah dan pendiam"


"Membuat aku rindu siang malam”


Alunan lagu dangdut terus terdengar dari handphone. Suara Bulan dengan cengkok dangdut yang dipaksakan terdengar kontras, Katrin menyerahkan handphone kepada Juno. Tampak dalam video dua anak mahasiswa yang sedang bernyanyi di depan seorang laki-laki yang duduk dengan gayanya yang arogan. Bulan dengan mukanya yang lugu dan Cedrik yang menggunakan jas almamater duduk melipat tangan di dada, kakinya ditumpangkan satu sambil mendengarkan nyanyiannya. Dibelakang Bulan ada satu orang yang bertindak memainkan alat musik sambil bergaya sebagai penyanyi latar.


“Ini istrimu kan… mukanya sangat lucu… gayanya seperti penyanyi dangdut… temannya yang dibelakang senyum-senyum ditahan tahan tapi istrimu menyanyi very seriously”


Juno menerima handphone dan memperhatikan video, kerutan di dahinya berkurang sedikit demi sedikit, senyuman samar terlihat di wajahnya. Bulan kemudian melirik melihat ke arah handphone dan kemudian langsung menutup kembali kepalanya.


“Argggghhhh… Kak Cedrik hapus videonya” Bulan melotot kesal.


“It's Ok Rembulan… your video is very cute… it's very entertaining… don't worry to much”


“You have a talent to become a singer… especially dangdut singer”


Bulan hanya bisa menunduk, ia menarik nafas panjang. Nanti saat pulang pasti akan banyak diskusi panjang lebar dari suaminya

__ADS_1


__ADS_2