
Jumat pagi itu Papa Bhanu datang bersama dengan seorang pria setengah baya yang berpakaian perlente. Memakai blazer, dengan kemeja slim fit berwarna biru laut, celana angkle slimfit sirwal biru, tanpa kaus kaki dengan sepatu pantofel. Hmmm... membuat orang yang berpapasan akan kembali melirik karena tampilannya yang menarik dan segar dengan senyuman lebar di wajah. Sophisticated... Juno yang langsung menemui mereka berdua, karena sebelumnya Papa sudah menelepon agar Juno tidak berangkat kerja terlebih dahulu.
“Perkenalkan ini anak saya Juno.. paling besar Mas”
“Silahkan perlihatkan brosurnya saja nanti dia yang memilih”
Ternyata Papa benar-benar membuktikan janjinya untuk memberikan Juno mobil baru. Melihat gaya Papa Bhanu yang dominan dan berkuasa. Bulan yang melihat dari ruang keluarga, bisa membayangkan betapa arogannya beliau waktu dulu, saat anak-anak masih kecil dan Mama Nisa adalah istri yang penurut.
“BMW?” tanya Juno sambil berkerut saat laki-laki yang datang bersama Papa menyodorkan Ipad yang dibawanya. Melihat Juno yang tampak berkeberatan, Papa Bhanu yang langsung tersenyum diplomatis.
“Papa cuma suka BMW, kalau mau yang lain silahkan saja. Tapi saran Papa coba kamu test drive dulu”
“Mobil-mobil Papa semuanya BMW… sama Dimas ini diurusnya, dia bisa handle untuk berbagai merk mobil. Kamu bisa sebutkan saja nanti dia yang nyari”
Owh... Dimas toh namanya, ucap Bulan dalam hati, pantas saja untuk leveling tampilan seperti dia, terlihat bukan sales mobil biasa, tapi untuk level buyer kelas atas... sebutkan merk nya dia akan bantu fasilitasi.
“Mas Juno kemarin saat Pak Bhanu mengontak saya katanya Mas Juno ingin membeli model yang terbaru. Ada permintaan spesifik untuk modelnya Mas kalau begitu?
“Sedan atau SUV?” dengan gaya yang meyakinkan kembali membuka pad nya untuk menunjukkan model yang terbaru, dengan kacamata minus yang model baja tipis menjadikan Dimas seperti entrepreneur muda yang meyakinkan.
“SUV” jawab Juno tegas, dengan tubuh tingginya membuat ia nyaman dengan model SUV.
“Ok… sesuai yah dengan profilnya…Mas Juno memang cocok untuk SUV”
“Karena permintaan Om Bhanu ingin memilih merk BMW jadi ada beberapa tipe utk SUV dari model X1 sampai dengan X7” Dimas rupanya menyadari siapa pemegang kendali keuangan disini, keinginan Papa Bhanu masih menjadi skala prioritas.
“Haha… gak mungkin lah X7 … kalau Papa mungkin X6 atau X7 saya sih paling di X1 atau X2” jawab Juno.
“Hmmm yang keren sih cocok dengan Mas Juno itu X5 lah”
“Masih terlalu tinggi buat saya” jawab Juno. Keinginannya untuk mandiri membuatnya berhitung, berapa cicilan yang harus ia bayarkan setiap bulan untuk mengembalikan biaya pembelian mobil ini.
“Daripada saya beli X5 saya lebih suka ambil Benz GLC Class” jawab Juno dingin.
“Hahahahha… sudah membandingkan rupanya” Dimas tampak tertawa dengan penuh gaya diplomatis, Papa Bhanu mengangguk-angguk puas, rupanya anaknya tidak mudah untuk digertak. Meyakinkan pikirnya.
__ADS_1
“Ok kalau begitu kita lihat option di X1 dan X2” akhirnya Dimas menyerah, menyerahkan profil mobil yang diinginkan oleh Juno.
“Kalau mau dibandingkan dengan merk mobil lain, Mas Juno bisa compare dengan Mazda CX9 dan Peugeot 5008”
“Ya saya sudah liat dari interiornya saya lebih suka Peugeot 5008” jawab Juno dengan diplomatis.
“Waah Mas Juno rupanya sudah punya pilihan sendiri Om” Dimas tersenyum lebar.
“Ya terserah dia saja yang memilih, soalnya dia yang pakai” akhirnya Papa Bhanu menyerah, dari tadi ia beberapa kali melirik ke arah ruang keluarga, ia bisa melihat Mama Nisa berbicara dengan Bulan yang sedang menyiapkan minum untuk tamu dan Papa Bhanu. Sikapnya langsung berubah penuh perhatian pada diskusi pilihan mobil yang sedang dipilih Juno.
“Gimana Kak sudah ada yang sesuai?” tanya Mama Nisa, sambil tersenyum pada Dimas tapi datar pada Papa Bhanu.
“Masih memilih Ma” jawab Juno dengan berat. Awal mula ia ingin menolak bantuan dari Papa, tapi kemarin Mama Nisa kembali menegaskan kalau sudah tanggung jawab dari Papa Bhanu untuk membantunya, karena Juno adalah anak Papa yang menjadi indikator kesuksesan keluarga.
“Aku suruh dia pilih mobil dari BMW saja, tapi rupanya dia sudah punya pilihan” jelas Papa Bhanu dengan semangat, merasa ada topik yang bisa dibahas dengan mantan istrinya.
“Coba mana Mama lihat, mungkin saja bisa memberikan masukan” Mama Nisa mengambil pad yang ada di tangan Juno, melihat pilihan yang tadi ditawarkan oleh Dimas dan kemudian menunjuk pilihannya.
“Yang ini saja, terlihat lebih simple” ucap Mama, Juno mengangguk sambil menarik nafas panjang. Rupanya semua orang memilih model yang sama, Papa Bhanu tampak penasaran akan pilihan dari Mama Nisa, saat ia melihat, langsung tersenyum.
“Kan Mama juga satu hati sama Papa milihnya BMW” ucapnya bangga, mendengar itu Mama hanya melengos tanpa tanggapan. Bulan yang mendengar percakapan di ruang tamu jadi semakin penasaran. Sambil membawa baki berisi minuman hangat ia mendekat.
“Waah ini putrinya gak sekalian dibelikan juga Om, masa Kakaknya dibelikan adiknya nggak, bisa dipakai buat kuliah juga kan” ucap Dimas sambil tersenyum pada Bulan, selama ini ia hanya tahu kalau Papa Bhanu memiliki dua orang anak, putra dan putri tapi belum pernah bertemu.
Mendengar ucapan Dimas, Bulan melongok kepada pria yang sedang tersenyum lebar padanya.
“Maksud Mas adiknya itu saya?” tanya Bulan bingung, Dimas mengangguk dan kembali tersenyum lebar. Bulan hanya meringis dan melihat ke arah suaminya yang sudah menatap tajam.
“Hehehehe saya adik ketemu gede kalau sama dia Mas, perkenalkan saya Bulan istrinya A Juno”
“Lagi pula saya bukan anak kuliahan… udah lewat jaman itu mah, tiga ratus ribu tahun yang lalu, bentar lagi jadi makemak berdaster” ucapnya sambil menyimpan minuman, hiu yang sudah akan menerkam harus segera dialihkan perhatian fokusnya.
“Gak perlu mobil, cukup punya telunjuk aja, minta antar sana sini… kalau telunjuknya pegal bisa pake jempol alias hitchhiker” jelasnya sambil tertawa. Ia sudah membaca gelagat kalau suaminya akan mulai mengeluarkan taring. Bisa-bisa gagal pembelian mobil hari ini.
“Saya tinggal dulu… ikutan aja pilihan mobilnya sama Paduka Yang Mulia” ucapnya sambil menunjuk Juno.
__ADS_1
“Owh maaf… saya kira adiknya Mas Juno” Dimas langsung tergagap kaget, sambil menatap Juno yang terlihat mengerut kesal.
“Habisnya mirip yah mukanya… memang jodoh yah” sambungnya lagi.
Bulan mengerutkan dahi, rasanya baru kali ini ada yang menyebut mereka berdua mirip. Rasanya sangat-sangat sulit untuk menyebut mereka berdua memiliki kemiripan karena perbedaan kontur muka mereka begitu kentara. Tapi Juno terlihat senang mendengar pujian itu, ia langsung tersenyum menatap Bulan sambil menariknya untuk duduk di pegangan kursi.
“Coba aku pengen tahu, kamu bisa menebak gak selera warna aku apa” Juno menyodorkan pad pada Bulan untuk bisa melihat pilihan warna.
“Waah ini ada rooftop nya?” ucap Bulan gembira, Juno mengerutkan dahi. Mobil Anjar yang terbaru memiliki jendela di bagian atas mobil menjadi pilihan favorit Bulan sebagai model terkini.
“Rooftop?” ia kemudian melihat bagian dari mobil yang dilihat Bulan.
“Bukan rooftop itu sunroof… kalau rooftop di rumah. Kamu kebanyakan ngeliat desain rumah jadi disamain sama mobil” dengus Juno kesal. Papa Bhanu hanya menggelengkan kepala, sementara Dimas dan Mama Nisa tersenyum melihat sikap Bulan yang hanya nyengir.
“Oyaa hehehhehehe… salah dong dari kemarin” ucapnya sambil menggaruk-garuk kepala.
"Yang ini lebih hebat daripada punya teman kamu itu, ini panoramic sunroof jadi bisa dibuka"
“Cepat pilih mau warna apa? Kalau salah pilih artinya kamu belum kenal sama aku luar dalam” ucap Juno sambil menarik Bulan duduk merapat.
“Memangnya kalau salah nanti mau diapain? Dihukum gak boleh ikut mobil? Gak apa-apa aku mah, udah tahu ********** juga” jawab Bulan sambil melihat warna yang ditawarkan dengan dahi berkerut. Ada banyak pilihan warna yang unik dan berbeda. Tapi ia sudah hapal selera suaminya.
“Hmm… yang ini warna glacier silver, tidak terlalu putih tapi bersih dan mengkilau”
“Aku sering lihat di produk interiornya Bapak Juno memakai warna ini, gemerlap tapi gak bikin silau kaya mutiara”
“Atauuu yang mineral grey ini… kesannya misterius, pas banget kalau bawa mobil ini, begitu keluar dari mobil antara yang nyetir sama mobilnya sama-sama garang...hahahaha. Dua warna ini selalu ada dalam desain interior yang dibuat. Desain yang gampang disukai tapi gak umum” jelas Bulan, mendengarnya Juno tersenyum. Dicubitnya pipi istrinya.
“Hmmmm iya likeable but rare, kaya kamu dong” ucapnya menggoda.
“Ishhh apaan sih” Bulan langsung cemberut malu, ada Mama, Papa Bhanu dan tamu yang terlihat baper melihat mereka berdua.
“Halah… ini Mama jadi nonton yang bucin. Turun dari siapa sih kamu Nak… perasaan Papa kamu gak gitu” keluh Mama Nisa sambal mendelik kesal pada Papa Bhanu.
“Beda masa… kalau waktu dulu kita menikah belum jaman istilah bucin”
__ADS_1
“Nah sekarang sudah Papa sudah bisa bucin” ucap Papa bangga.
“Halaah telat” jawab Mama sambal melengos dan beranjak pergi. Juno dan Bulan berusaha menahan senyum di depan Papa yang hanya bisa melongo kesal. Sudah 2 – 0 skor.