Rembulan

Rembulan
Ada apa ini?


__ADS_3

Rembulan berusaha mengejar orang yang mengambil paksa tas miliknya. Dia berlari secepat mungkin agar dapat mengejar motor yang berada di depannya.


Rembulan hampir bisa meraih kerah baju pencuri itu, namun, dia terjatuh dan tersungkur. Beberapa warga yang berada di sana berlari menghampiri Rembulan.


"Ada apa, Nak?" tanya seorang wanita berkaca mata.


"Orang itu.." Rembulan menunjuk ke arah motor bit hitam. "Dia telah merampas tasku." matanya berkaca-kaca.


Beberapa pria langsung berlari untuk mengejar mereka, ada juga yang langsung bergegas mengambil motor untuk mengejar pencuri itu.


Rembulan benar-benar merasa sedih, dia tidak pernah menyangka hal itu bisa terjadi padanya.


Wanita berkaca mata itu mengusap punggung Rembulan untuk menenangkannya. "Sudah, Nak. Rezeki bisa dicari kembali, yang terpenting itu kamu baik-baik saja."


"Iya, Bu. Aku akan mencoba untuk mengikhlaskan apa yang telah hilang dariku,"


Ketiga temannya menghampiri Rembulan dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi dengan Rembulan.


Rembulan pun menceritakan apa yanv telah terjadi padanya.dia pun meminta maaf kepada Tiara dan kedua temannya atas kejadian itu.


"Maaf. Karena kelalaianku kita semua menjadi rugi." Rembulan menyatukan kedua tangan.


Tiara memegang tangan Rembulan, "jangan bergkri seperti itu, Rembulan. Ini adalah musibah jadi, jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi."


"Yang terpenting kamu tidak terluka. Soal uang, tidak perlu difikirkan," ucap Rendra.


"Tidak masalah jika uang itu hilang, toh, kita bisa mencarinya lagi,"


Tiara membantu Rembulan berdiri. Lalu kemudian mereka mencari tempat untuk beristirahat.


Tiara dan Rembulan duduk di kursi taman, sedangkan Rendra dan Riki pergi ke warungv untuk membeli minuman.


Tiara merangkul Rembulan, "Sudahlah jangan difikirkan lagi."


"Aku masih tidak menduga saja, Tiara. Andai saja aku lebih berhati-hati mungkin hal jni tidak akan pernah terjadi,"


"Kau ini. Sudah lupakan kejadian itu." Rendra memberikan sebotol air.


"Terima kasih,"


"Rembulan. Hal buruk apa pun yang terjadi kepada kita, itu bukanlah kesalahan kita sendiri, tetapi itu sudah jalannya takdir,"


"Hmm. Jadi, kamu jangan terus-terusan menyalahkan dirimu,"


Rembulan tersenyum. Mereka berempat berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain.


Setelah itu, mereka kembali ke rumah kos Tiara—menghitung penghasilan dan menghitung dagangan yang tidak terjual.


"Alhamdulillah. Kue dan rotinya habis terjual dan yang tidak habis hanya barang-barang ini," ucap Riki.


"Tidak masalah. Bisa buat tambahan penjualan besok," ucap Tiara.


"Benar banget. Kalau begitu aku dan Riki akan membeli barang-barangnya lagi." Rendra mengambil sejumlah uang lalu kemudian dia dan Riki pergi ke toko peralatan sekolah.


Rembulan dan tiara membereskan barang-barang yang lain. Lalu mereka berdua menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue dan roti di hari berikutnya.

__ADS_1


Setelah Rendra dan Riki membeli peralatan sekolah, mereka langsung membungkus barang-barang itu menjadi satu.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga." Riki menaruh tumpukan buku menjadi satu.


"Alhamdulillah." Rembulan membawakan air putih dan cemilan.


"Terima kasih,"


"Setelah ini kami akan kembali ke rumah,"


"Iya."


Setelah memakan beberapa cemilan, Tendra dan Riki pergi meninggalkan rumah kos Tiara.


Lalu kemudian Rembulan membereskan piring dan gelas tersebut. Setelah itu, Rembulan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudu dan melaksanakan salat asar.


Ketika Rembulan sedang melaksanakan salat asar, ponselnya terus berdering—notifikasi panggilan masuk. Mendengar suara dering ponsel, Tiara masuk ke dalam kamar dan mengangkat panggilan tersebut.


[Hallo]


[Apa ini nak Tiara?]


[Iya. Ini siapa ya]


[Aku ibunya Rembulan. Apa Rembulan ada?]


[Rembulan sedang salat asar, Bu]


[Hmm. Ya sudah, nanti jika Rembulan telah selesai salat, minta dia untuk segera menghubungiku]


Tiara meletakkan kembali ponsel itu di meja. Lalu dia kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Rembulan datag menghampiri Tiara. Dia bertanya siapa yang tadi telah menghubungi dirinya.


"Siapa yang meneleponku tadi, Tiara?" tanya Rembulan.


"Ibumu. Dia bilang kamu hafus menghubungi ibumu kembali,"


Rembulan pergi ke kamarnya—mengambil ponselnya—menghubungi kembali nomor telepon yang terakhir kali menghubungi ponselnya.


"Ibu menggunakan ponsel siapa untuk menghubungiku?"


Panggilan itu terhubung, tetapi tidak ada yang menjawab panggilan darinya. Rembulan mencoba kembali menghubungi nomor tersebut, tetapi tetap saja tidak ada yang menjawab.


'Mengapa tidak ada yang menjawabnya' batin Rembulan.


Rembulan pergi keluar dan mencoba menghubungi kembali nomor tersebut. Dia telah menghubungi nomor itu sebanyak lima belas kali, namun, tidak ada yanv menjawab panggilannya.


"Mengapa tidak da yanv menjawabnya," ucap Rembulan.


Melihat Rembulan sangat gelisah, Tiara menghentikan pekerjaannya lalu kemudian dia menghampiri Rembulan.


"Ada apa Rembulan? Mengapa kamu terlihat sangat gelisah sekali?"


"Tadi ibuku menelepon dengan menggunakan nomor ini, kan?" Rembulan menunjukkan riwayat panggilan.

__ADS_1


"Iya benar, ibumu tadi menelepon dengan nomor itu,"


"Tapi kenapa nomor ini sulit sekali dihubungi. Mungkinkah terjadi sesuatu dengan orang tuaku?"


Tiara mengambil ponsel Rembulan dan menaruhnya di atas meja. Dia kemudian menatap Rembulan dan mencoba menenangkan Rembulan.


"Jangan berfikir buruk, Rembulan. Percayalah pasti orang tuamu baik-baik saja, mungkin saja ibumu tidak bisa menjawab panggilan darimu karena ayahmu da di dekatnya,"


Rembulan menghela nafas, "Astagfirullah. Semoga saja apa yang kamu katakan benar."


"Sekarang kita tunggu saja ibumu menelepon kembali, hmm." Tiara meletakkan telapak tangannya di pipi Rembulan.


Rembulan duduk di ruamg tamu sambil menatap ponselnya yang ada di meja. Dia masih menunggu ibunya menelepon.


Tiara yang sedang berada di dapur melihat Rembulan masih gelisah. Dia pun menghampiri Rembulan sambil membawa beberapa camilan dan air dingin.


"Rembulan." dia meletakkan nampan berisi camilan dan air dingin di meja.


"Iya,"


"Aku paling tidak suka melihatmu seperti ini. Bagaiman kalau kita pergi ke rumah orang tuamu?"


"Tidak usah Tiara. Nanti aku makin merepotkan dirimu,"


"Tidak merepotkan kok. Sekarang kamu bersiaplah dan kita akan mengunjungi orang tuamu,"


Rembulan langsung memeluk Tiara. Dia benar-benar sangat berterima kasih atas pengertian Tiara.


Tiara menghubungi Rendra dan Riki untuk meminta bantuan mereka—mengantar mereka ke rumah orang tua Rembulan.


"Aku tidak merepotkan kalian, kan?" Rembulan menatap Rendra dan Riki.


"Tidaklah. Kenapa kami harus merasa kerepotan,"


"Hmm. Ayo kita berangkat," ajak Riki.


"Terima kasih,"


"Sama-sama,"


Walau Rembulan akan datang ke rumah orang tuanya, dia masih merasakan gelisah dan takut akan sesuatu.


Rembulan berusaha menenangkan hati dan fikirannya agar tidak berpikiran buruk mengenai keadaan orang tuanya.


Rendra memerhatikan Rembulan dari kaca spion, "Apa yang kamu fikirkan, Rembulan?" tanya Rendra.


"Entahlah. Aku hanya merasa ada sesuatu yang terjadi dengan orang tuaku,"


"Istigfar Rembulan. Berdoalah semoga orang tuamu baik-baik saja dan tidak terjadi hal buruk terhadap mereka,"


"Amiin,"


'Ya Allah. Semoga tidak terjadi hal buruk dengan kedua orang tuaku, semoga mereka baik-baik saja"


Ketika sampai di sana, mereka melihat rumah orang tua Rembulan di kelilingi banya orang.

__ADS_1


Rembulan pun semakin takut akan keadaan orang tuanya. Dia langsung berlari menerobos kerumunan dan...


__ADS_2