
Pagi itu suasana di rumah terasa menyenangkan untuk Mama Nisa, biasanya hanya ia sendiri yang hilir mudik di rumah. Afi pasti tidur hingga siang, namun semenjak menikah dengan Nico yang notabene adalah manusia pagi membuatnya jadi turut bangun.
Nico pagi-pagi jam setengah enam sudah nangkring di atas sepeda, ada janji dengan anggota club sepeda miliknya, karena Afi bukan pencinta sepeda ia terpaksa merelakan Nico pergi tanpa dirinya. Hanya janji yang harus dipegang Nico yaitu pulang sebelum jam 10 pagi, dan ternyata Nico benar-benar memenuhi janjinya. Jam 10 kurang 10 menit ia sudah sampai kembali di rumah.
“Yang… tadi muter kemana aja?” Afi tampak menyambut Nico yang masih tampak terengah.
“Jalur biasa” jawan Nico pendek sambil menegak air yang dibawakan Afi.
“Iya yang biasa itu kemana? Aku kan gak tau yang biasa sama gak biasa”
“Kasih tau jalurnya kemana jadi kalau ada apa-apa aku tinggal nyari ke jalur itu” jelas Afi kesal.
“Emangnya bakalan ada apa?” tanya Nico bingung, Afi melotot kesal.
“Yah apa aja, kali aja kamu keserempet motor atau mungkin janjian sama cewe. Jadi aku bisa tau kamu bakalan jalan ke daerah mana” Afi menatap Nico kesal.
“Uhuuuk...uhuuuk..” Nico tersedak mendengar jawaban Afi.
“Tuuuh kan… kamu janjian sama cewek yah?!” Afi menepuk-nepuk punggung Nico supaya berhenti batuknya.
“Janjian sama cewek gimana sayaang, aku tuh batuk kaget ngedenger kamu bilang aku keserempet motor. Kalau jadi istri doain nya yang bener dong!” Nico menatap Afi dengan tatapan prihatin, Afi kemudian menunduk karena merasa bersalah.
“Iya maaf, aku cuma main-main nyebut kaya gitu, soalnya aku kan curiga aja kamu semangat banget mau olahraga...kali aja janjian sama cewek”.
“Aku olahraga biar makin kuat… bukan nyari cewe” bisik Nico sambil celingukan menatap ke arah Mama Nisa dan Bulan yang sedang sibuk di meja tengah membuat makanan.
“Uwwww… co cweet deh kamu… cinta yah sama istri yang paling manis ini?” Afi langsung glisar glisur pada Nico yang masih basah berkeringat.
“Kamu tuh bukan manis tapi gurih” ucap Nico cepat.
“Uhuuuuukk…. Aaarghh…. Gaaak nahaaan” Bulan cekikikan di meja sampai tepung bertebaran, karena menepuk tepung pelapis saat mendengar gombalan Nico.
“Ihhhh… kamu tuh bikin aku gumusssshhh!” Afi dengan tidak ada rasa malu-malunya menciumi Nico di depan Bulan dan Mama Nisa.
Mama Nisa hanya tersenyum melihat kelakuan anak dan menantunya itu.
“Ngamar sana ngamar jangan nyosor disini!” teriak Bulan, tidak tahan mendengar kebucinan Afi.
“Heissshh… yang masih perawan belum unboxing jangan banyak omong luh… mesti lihat gimana caranya pedekate biar laki kelepek kelepek sama yang GURIH” teriak Afi tanpa rasa malu. Bulan hanya bisa tepok jidat mendengarnya.
Kemarin Afi memaksa Bulan untuk mengakui sudah melakukan malam pertama atau belum, mereka ngobrol ngalor ngidul sampai hampir jam 12 malam dan Nico akhirnya memanggil Afi untuk kembali ke kamar.
Mama Nisa hanya bisa menggeleng-geleng saja mendengar ucapan Afi.
“Sabar yah Bulan kamu kan sudah tau sifat Afi suka ceplas ceplos rahasia dapur kok diumumkan, kalau kakaknya ada disini dijamin dijewer dia”
“Ini yang mau dibuat jadi bentuk apa saja Ma?” tanya Bulan. rupanya mereka sedang asyik membuat adonan untuk mpek-mpek.
“Bisa dibuat bentukan bulat, kapal selam, atau lenjer. Tergantung kesukaan sih” Lumayan banyak juga mpek-mpek yang dibuat, tadi Mama Nisa sangat bersemangat membuatnya sehingga memasukan bahan hampir dua kali lipat dari biasanya yang ia buat.
“Ihhh… Mama senang ada teman bikin kue dan makanan di rumah. Afi gak suka masak atau bikin kue. Dia kalau santai malah main PS sama Nico” Bulan melihat ke arah sahabatnya ternyata memang sedang menyiapkan PS untuk dimainkan bersama Nico.
“Teteh Bulan bikin mpek-mpeknya yang enak dan banyak yah… mesti lebih enak dari Mpek Mpek Mama Amel yang jualan di cafetaria” Afi mendekat ke meja dan menusuk-nusuk mpek-mpek yang sudah direbus. Mama Nisa memang paling rajin membuat Mpek-Mpek dulu karena Papa Bhanu dari Palembang.
“Ehhh jangan ditusuk-tusuk gitu iseng banget kamu. Mana Nico?” tanya Mama
“Lagi mandi… sini aku cobain hasil kolaborasi Mama sama Bulan” tanya Afi mengambil satu dan menggigitnya hati-hati,
“itu belum digoreng Fi, Mama ajarin aku bikin cuko nya” Bulan menyiapkan bumbu-bumbu untuk kuah mpek-mpek.
“Gw udah feeling kalau punya kakak ipar kaya elu tuh di rumah bakalan semarak, banyak makanan hidup bahagia.” Afi menikmati mpek-mpek panas sambil meniupinya.
“Makanya kudu buru-buru unboxing biar dapat feel rumah tangganya”
Kembali Afi menyinggung soal kondisi Bulan yang belum unboxing di depan Mama Nisa.
“Ade kamu tuh gimana sih, hal seperti itu jangan diumbar di depan umum. Kamu lagi Bulan, kalau urusan rumah tangga jangan dibicarakan dengan orang lain. Gimana kalau suami kamu gak ridho? Bahaya itu!” Mama Nisa memukul tangan Afi yang masih terus saja mengambil mpek-mpek yang belum digoreng.
“Itu Afi aja Ma yang mengambil kesimpulan, aku gak ngomong apa-apa kok” Bulan mencibir ke Afi.
“Ahahahahha gw sebagai orang yang lebih berpengalaman tahu kalau si Bulan itu belum unboxing soalnya waktu gw ceritain proses unboxing dia kaya yang ngeri-ngeri sedap gituh” Afi tertawa-tawa bahagia.
“Kalau ngeliat expresi si Bulan gw yakin kalau dia belum pernah ngalamin….hahahhaha”
Bulan langsung menoyor kepala Afi
“Kamu tuuh nyebelin gak ilang-ilang” dicolekannya tepung kanji ke pipi Afi yang langsung membalas tidak mau kalah. Perang bedak tepung langsung membuat suasana meja makan menjadi gaduh.
“Ehhh kalian berhenti… Afiii… Bulaaan…” Mama Nisa menjerit karena mereka berdua jadi tidak terkendali.
“APA-APAN INI?” suara yang bergelegar terdengar di pintu masuk ruang keluarga. Papa Bhanu!
“Papa!” Afi tampak kaget begitu pula Mama Nisa. Jangan ditanya soal Rembulan, dengan kondisi muka dan rambut yang penuh dengan tepung ia sudah tidak sanggup untuk berkata-kata.
__ADS_1
“Mas… kok tidak memberitahu akan datang?” Mama Nisa tergagap, ia segera membersihkan tangannya dan menyambut mantan suaminya.
“Kalian bersihkan diri sana!” bisiknya pada Afi dan Bulan.
Bulan menepuk-nepuk tepung yang ada di rambutnya, diusapnya tepung yang menempel di tangan dan kemudian mencuci muka di tempat cuci piring. Tidak mungkin melewati ruang keluarga dengan muka penuh tepung seperti pemain pantomim. Lain halnya dengan Afi yang langsung dengan ceria menyambut kehadiran Papanya.
“Papa kok gak kasih tau mau datang, Mama sama Bulan lagi bikin mpek-mpek. Rasanya enak” Afi langsung menyambut Papanya dengan penuh semangat dan bahagia, semenjak acara pernikahan yang tidak diganggu oleh kehadiran nenek sihir. Ia merasa kalau Bhanu sudah menjadi bagian dari dirinya kembali.
“Bersihkan diri kamu. Sudah menikah bukan berarti bisa bersikap seenaknya” Papa Bhanu menahan Afi yang sudah akan memeluknya.
“Papa payah gak pernah asyik dari dulu juga!” Afi melengos kesal. Bulan mendekat dan tersenyum, walaupun masih ada sisa tepung di baju dan rambut tapi mukanya sudah lebih bersih dan tidak lagi berlumur tepung. Bulan berdiri termangu, bingung harus menyapa bagaimana karena selama menikah baru sekarang ia bertemu kembali dengan Bhanu.
“Ahh… iya Bulan belum sempat salim sama Papa” Mama Nisa melambaikan tangannya meminta Bulan mendekat.
“Aku belum sempat cerita soal Bulan… Mas Bha..” belum sempat Mama Nisa menyelesaikan ucapannya. Bhanu sudah memotong duluan.
“AKU SUDAH TAHU!. Itu sebabnya aku kesini hari ini!”
“Kemarin aku ketemu sama Widya, dia dapat kabar dari adikmu kalau Juno sudah menikah”
“Kenapa kamu berani-beraninya menikahkan Juno tanpa memberitahuku terlebih dahulu?”
“AKU MASIH BAPAKNYA JUNO…. AKU BERHAK UNTUK TAHU DAN TERLIBAT DALAM KEPUTUSAN UNTUK ANAK-ANAK!”
“DAN AKU TIDAK SUKA JUNO MENIKAH DENGAN PEREMPUAN INI!”
“Perempuan macam apa dia, bernyanyi-nyanyi dengan laki-laki lain dalam acara keluarga?”
“Tapi kamu malah menikahkan Juno dengan dia!”
“Kamu mestinya berpikir Nisa… Mestinya punya harga diri!”
“Aku malu ….”
“Anakku menikah dengan perempuan yang murahan seperti dia!”
Jedaaaaarrr…. Seperti petir menyambar tanpa memberikan kesempatan untuk Bulan menarik nafas. Semua ucapan Bhanu yang keras dan menunjuk-nunjuk dirinya membuat Bulan merasa berhenti bernafas.
“PAPA…!” terdengar teriakan Afi, rupanya ia belum keluar dari ruang keluarga saat Bhanu berteriak marah.
“Papa ngomong apa sih!”
“Papa jangan bicara begitu pada Bulan, dia itu teman baik aku… yang selama ini selalu ada buat aku itu Bulan Paaaa….” Afi berteriak sambil mengguncang-guncang tangan Bhanu.
“MAS BHANU!” sekarang giliran Mama Nisa yang berteriak. Muka Bulan sudah pucat, tangannya sudah gemetar dan mengepal, tampak berusaha menahan perasaan.
“Nisa… aku masih berhak untuk memberikan restu dengan siapa Juno menikah. Aku papanya, walaupun kita berpisah tidak ada yang namanya bekas anak atau bekas bapak. Juno dan Afi tetap anak-anakku”.
“Mengapa saat pernikahan Afi tidak ada seorangpun yang menceritakan tentang rencana pernikahan Juno”
“Aku malah harus tahu dari orang lain”
“Kalian sudah menganggapku orang lain?”
“Ya buat aku Papa sudah seperti orang lain” tiba-tiba terdengar suara Juno dari pintu.
“Aku yang melarang Mama untuk memberitahu Papa tentang pernikahanku”
“Jangan salahkan Mama, itu semua keputusanku” sambung Juno, menyimpan tas yang tersampir di bahunya dan melangkah mendekat.
“Hebat sekali kamu, merasa sudah berdaya jadi SUDAH TIDAK MEMBUTUHKAN RESTU DARI ORANGTUA HAAAH”
“Sampai kapanpun Papa tidak akan merestui pernikahan kamu dengan perempuan ini!”
“MEMALUKAN!”
Bulan kembali terhenyak, kata-kata memalukan menjadi seperti tamparan di wajahnya, matanya sudah berkaca-kaca tapi masih berusaha menahan perasaannya agar tidak menangis. Melihat kearah Juno dengan bingung dan takut, tidak menyangka kalau Juno akan datang disiang hari.
“Masuk kamu ke kamar!” ucap Juno tegas sambil menggerakan kepalanya menoleh ke arah kamar. Bulan tampak ragu, melihat ke arah Mama Nisa yang mengangguk samar tanda memberikan persetujuan,
“A…” ucap Bulan pelan, tapi Juno menggeleng dan kembali bicara.
“MASUK KE KAMAR SEKARANG!” suara Juno tak terbantahkan, dengan menunduk Bulan berjalan masuk, air matanya mengalir perlahan. Seandainya diperbolehkan pergi sebetulnya ia ingin memilih langsung pergi, tapi situasinya berbeda sekarang. Terlalu banyak beban hutang yang sudah ia tanggung pada laki-laki itu terutama setelah telepon yang ia terima kemarin dari rumah sakit.
Flashback
Bulan memandang handphone di tangannya, terlihat cantik, produk besutan Amerika ini memang berbeda dengan handphone merek lain. Pantas saja kalau orang senang memakai merk ini karena terlihat memiliki kebanggaan yang berbeda saat memakainya. Sejak kemarin dia mulai mencoba mempelajari beberapa fitur yang ada di handphone ini ternyata memang bagus, terutama kameranya.
Teringat pada pesan yang diberikan oleh Juno untuk memberikan foto diri yang sedang tersenyum membuatnya mencoba mode selfie, ah rasanya terlalu memalukan. Tapi mau bagaimana lagi toh yang memintanya suami sendiri. Akhirnya dipilihnya aplikasi yang menampilkan mode selfie dengan pilihan template lucu-lucuan. Dipilihnya template yang mengganti kepalanya dengan binatang dan memilih dinosaurus dan tersenyum dengan lebar. Melihat fotonya sendiri dengan mode dinosaurus tersenyum membuat Bulan jadi merasa lucu.
“I’m a Dinosaurus who always roar"
“Even when i want to whisper"
__ADS_1
“Far away from you makes me calmer"
“And makes my smile looks better"
Ok, send...Bulan tersenyum sendiri, dulu ia paling suka membuat pantun dengan bahasa inggris, salah satu usaha untuk meningkatkan kemampuan imajinasinya. Mudah-mudahan ini memberikan hiburan.
Ada rasa penyesalan yang ia rasakan tadi malam saat berbaring di tempat tidur, mengapa ia mudah terpancing marah kalau berhubungan dengan Kevin dan Inneke. Bulan kemudian duduk termenung, mungkin ini bukan semata-mata soal suami yang dianggap belum move on dari sang mantan tapi dirinya yang merasa tidak percaya diri.
Siapa perempuan yang akan merasa percaya diri kalau dibandingkan dengan Inneke?. Masuk pada kategori kelompok mahasiswi paling cantik di kampus, dengan segudang prestasi dan IPK tertinggi. Selalu terlihat sempurna dengan sikap yang terlihat santun dan ramah, jangankan laki-laki dia saja sebagai perempuan suka melihatnya.
Bulan menarik napas panjang, dibaringkan tubuhnya di atas bantal, ada aroma baru yang tidak ia kenal yang membuatnya sulit tidur. Aroma laki-laki berbeda dengan Benny dan Bapak, aroma yang lebih maskulin. Bulan...Bulan…. pikirnya, mestinya kamu malu… menyalahkan orang lain atas ketidakpercayaan diri yang dimiliki.
Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, tidak cantik bukan berarti tidak baik, tidak kaya bukan berarti tidak bahagia, tidak pintar bukan berarti tidak berpengetahuan. Dipeluknya guling dengan erat seakan ingin menyalurkan kegalauan hatinya. Ia harus lebih tenang dan percaya diri saat berhadapan dengan masalah sang mantan. Pelukan dan ciuman yang diberikan suaminya saat pergi memberikan keyakinan kalau Juno menyukai keberadaannya. Ia harus lebih percaya diri.
Ting..ting. Ternyata Juno membalas, saat membuka pesannya Bulan tertawa senang. Ternyata Juno mengirimkan jenis foto yang sama, bedanya Juno mengedit kepalanya menjadi Singa yang tersenyum.
“I am a lion who always roar”
“Even when i want to whisper”
“I always wonder”
“Why staying with you makes me happier"
Ahahahahah... mereka berdua memang suka saling berteriak kalau bertengkar. Mungkin karena sama-sama anak pertama pikir Bulan.
“Really?” akhirnya Bulan tidak kuasa menahan rasa untuk tidak mengirim pesan.
“Yups...can't sleep?” balas Juno
“The bed smell different” jawab Bulan
“Smell bad?” Bulan tertawa, terbayang ekspresi Juno saat menuliskannya dengan dahi berkerut, laki-laki itu perfeksionis, disebut bau pasti akan membuat pencinta kebersihan itu merasa terhina.
“Nope… calming” Bulan tersenyum, diciumnya beberapa kali bantal yang memiliki aroma suaminya itu
“Really?” tanya Juno, kali ini Bulan membayangkan Juno sedang tersenyum saat menulis pesan.
“Yups… can't sleep either?” tulis Bulan sambil tersenyum, jawaban Juno ia kembalikan dengan pola yang sama.
“Remember the pillowy one that I left behind” Bulan mengerutkan dahi membacanya.
“Pillowy?”
“Your lips …” jawab Juno. Bulan langsung cemberut malu. Enak saja bibirnya disebut bantal.
“I’m sorry… if I roar too much… try to be calm and gentle” sambung Juno
“Stay with me Muney and trust me more… and I will love you more and more”
“Muney?" apalagi ini muney tanya Bulan dengan dahi berkerut.
“Moon honey” tulis Juno, hmmm membaca tulisannya bisa membayang orang yang menulisnya sambil tersenyum.
Kembali Bulan tersenyum, ini seperti orang baru pacaran, digombalin dan dia merasa melayang ke langit ketujuh.
“Thank you for stay by my side, never knew how to deal my life without you” balas Bulan
“Sleep tight… “
Bulan menutup mukanya dengan bantal, rasanya memalukan seperti anak SMA yang baru kirim-kiriman pesan dengan kakak kelasnya. Ternyata setelah ada badai selalu ada suasana dingin yang menenangkan.
Tring..tring… Bunyi telepon dari nomor telepon yang tidak dikenal, menyadarkan Bulan dari lamunannya tadi malam.
“Selamat siang dengan Ibu Rembulan?".
“Ya saya sendiri” siapakah yang telepon dan memanggilnya ibu, Bulan mengerutkan kening, ini bukan gaya pegawai bank yang menawarkan kartu kredit.
“Saya Gita dari Rumah Sakit Boroboro ingin menyampaikan informasi terkait penggantian dana perawatan di rumah sakit atas nama Bapak Harlan Suherlan.”
“Oh iya Mbak Gita jadi kapan bisa dikirimkan dana penggantinya?” Bulan langsung merasa bahagia, akhirnya ia bisa mengembalikan semua pinjaman uang Juno.
“Itu masalahnya Mbak, mohon maaf staf yang sebelumnya mengurus klaim asuransi BPJS nya salah memahami aturan. Jadi untuk BPJS itu tidak bisa menggunakan dana talangan. Pasien harus mendaftarkan diri semenjak awal masuk ke rumah sakit sebagai pasien BPJS bukan pasien umum.”
“Karena Pasien atas nama Bapak Harlan didaftarkan sebagai pasien umum maka tidak bisa berubah status menjadi pasien BPJS, sehingga klaim penggantian ditolak oleh pihak BPJS”.
“Dokter Samuel sudah berusaha mengajukan keberatan tapi tetap tidak bisa, sehingga biaya perawatan Bapak Harlan tidak bisa diganti. Namun untuk meringankan biaya pasien, dokter Samuel kemudian menolak biaya pemeriksaan dokter dari jumlah yang ditagihkan” Bulan termenung hanya sebagian suara dari petugas rumah sakit yang terdengar olehnya, uang lebih dari seratus juta yang dipinjamkan oleh Juno artinya tidak bisa dikembalikan.
“Ibu Rembulan apakah ada yang akan ditanyakan?” Bulan hanya bisa terdiam, ini berarti ia harus bekerja lebih keras lagi, ia tidak mau memiliki hutang budi.
“Baik kalau tidak ada yang ditanyakan, kami akan mengembalikan kelebihan pembayaran biaya rumah sakit pada rekening yang sudah kami catat sebelumnya. Selamat siang”.
Ini berarti ia harus segera mencairkan dana tabungan berjangka yang dimilikinya walaupun itu menjadikan nilai pengembalian menjadi lebih kecil. Pengembalian investasi saham perlu dicek lagi pada Anjar, mudah-mudahan saja bisa segera dicairkan walaupun nilainya telah merosot jauh. Roda memang berputar, tidak selalu uang itu mudah didapatkan, tinggal bagaimana caranya mengatur agar saat roda dibawah kita tidak mengalami kehancuran.
__ADS_1