Rembulan

Rembulan
Memegang Pundakmu Sekarang


__ADS_3

Siang di Jakarta selalu panas, Bulan memutuskan memakai kemeja katun dan rok klok kesukaannya, sepatu pantofel dan tas kecil yang memuat mukena, makeup touch up, dompet, tissue dan handphone. Ok ready to go… baru jam 11 siang, jadi masih ada waktu untuk mencari …. Bulan terhenyak saat keluar dari kamar, Juno sedang asyik duduk di teras depan kamarnya.


“Kak… ya allah dari tadi tuh bukannya pulang?” Bulan melotot heran


“Pulang kemana? Kan mau nemenin jalan sama temen-temen kamu” dengan percaya dirinya Juno berdiri, Bulan hanya bisa melongo


“Aku pergi nonton sama temen-temen anak KAP” desisnya, tidak ada dalam perjanjian ia membawa lagi orang, tiket nontonnya dibayarin orang masa bawa orang lain.


“Tiket aku dikasih dari mereka… masa aku bawa orang lain” Bulan cemberut, malu terbayang kesannya ingin gratisan ramai-ramai.


“Ya tenang aja aku bayar sendiri lah… masa ikut dibayarin” Juno menggeleng-gelengkan kepala, alasan penolakan Bulan terasa menggelikan


“Aku sudah lama tidak pernah nonton film di bioskop… kangen juga nonton… terakhir nonton waktu kapan yah… kuliah” Juno menerawang kebelakang.


“Ya iyalah… sama mantan.. Begitu putus mana pernah nonton… hidupnya desperate begitu” Bulan mendengus sambil mendahului Juno, berpikir mencari alasan agar bisa lepas dari manusia pemaksa ini.


“Mba Bulan… nikah kok gak bilang-bilang” tiba-tiba Pak Daan muncul dari balik gudang sambil membawa selang air. Bulan terlonjak kaget, ternyata benar tadi yang dikatakan Juno kalau Pak Daan menyangkanya sudah menikah.


“Eh Bee….” belum sempat Bulan menyelesaikan ucapannya, Juno langsung menimpali


“IYAAAA PAAA… nanti pas acara perayaannya diundang deh” Juno sambil berjalan menyeret Bulan ke mobil.


“Apaan sih main ngebohong gitu… “ Bulan marah sambil berusaha melepaskan tangan Juno dari lengannya.


“Lahhh aku kan gak ngebohong cuma bilang Iyaaa Pak nanti pas perayaan diundang” Juno tampak geli sendiri oleh kemampuannya untuk membuat alasan.


“Ahhh reseee… “ Bulan cemberut kesal. Juno menggiringnya ke pintu mobil.


“Sudah masuk… nanti keburu main filmnya” sambil membuka pintu mobil, Bulan memandang Juno dengan tatapan kesal, dari pagi manusia yang ada di depannya memaksanya terus.


“Nanti kalau mereka gak suka Kak Juno ikut barengan aku, musti pulang jangan maksain barengan. Soalnya aku janji nemenin si Anjar buat ngedampingan cewek-cewek bagian Umum”


“Kalau nanti aku tinggalin dia kasian…” Bulan masih keukeuh belum mau masuk, Juno mengangguk-angguk.


“Iya jangan khawatir kalau mereka gak suka aku, nanti bakalan pulang duluan… tinggal kasih kode aja” Juno berjalan sambil tersenyum ditahan, sekarang ia tahu kalau teman-teman yang dimaksud adalah Anjar dan perempuan-perempuan temannya, kalau urusan dengan perempuan ia merasa mudah untuk mengurusnya.


Sepanjang perjalanan Bulan sibuk mengirimkan pesan dengan muka berkerut, berkali-kali menarik nafas panjang.


“Kenapa gak suka aku ikut? Kan kamu bilang supaya aku bisa move on aku musti berpegang sama pundak kamu… sekarang aku sedang berpegang pada pundak kamu tapi kamu seperti tidak suka” Juno menatap lurus ke depan seperti sedang bicara sendiri. Bulan melirik Juno dan menunduk.


“Aku bukan gak suka … cuma gak nyaman aja… Kenapa sikap Kak Juno tiba-tiba berubah…hmmm aneeh” Bulan memandang takut-takut.


“Aneh gimana… perasaan aku biasa aja” Juno melirik kesal.


“Kaya yang gak mau kalah sama Afi… tiba-tiba maksa pengen punya pasangan” Bulan menggerutu kesal.


“Aku tadi udah beneran ngantuk Bulaaaan…. Kalau dipaksain pulang ke rumah udah gak kuat”


“Kamu mau aku celaka haaaaah?” Juno mendengus kesal.


“Ya enggak… cuma kaget aja.. Masa aku pengen Kak Juno celaka sih… kebangetan”


“Kalau aku jahat tadi gak akan ngebiarin Kak Juno tidur di kamar aku… aku juga kasian ngeliatnya”


“Cuma yaaah aneh aja… tiba-tiba gini” Bulan menunduk sambil berkata pelan.


“Kamu …. Kamu bisa gak nerima aku yang sekarang…” Juno menarik nafas panjang.


“Gak usah membicarakan soal yang lampau… “


“Aku gak mau membahas itu”


“Aku sudah tidak ingin membicarakannya” sambungnya lagi dengan nada yang berat.


Bulan diam, menunduk dan tampak berpikir.


“Aku bukannya gak mau, cuma masih bingung…. Perasaan aku yang sekarang kaya datar gitu…” jawabnya pelan


“Dulu itu mungkin sukanya aku sama Kak Juno kaya ngeliat Pangeran gitu … penuh kekaguman.. Kaya ngeliat Kak Juno itu sempurna banget”


“Tapi pas tunangan tuh… hmmm kaya yang mimpi jadi kenyataan tapi kemudian kecewa karena impian itu tidak seindah kenyataan” Bulan tersenyum sedih.


“Hehehehe aku nangisnya lama itu… tiga hari sampai pulang ke Bandung”


“Trus Bapa bilang jangan maksain kalau memang jadi tersiksa mah… karena kalau sudah menikah perempuan harus ikut apa yang jadi keputusan suami”


“Kalau laki-laki yang jadi suami kamu gak bisa menghargai aku… aku nanti akan menderita kata Bapak… trus Bapak gak mau aku menderita… aku musti bahagia” Bulan jadi berkaca-kaca.

__ADS_1


“Eh aku lupa belum telepon Bapak” ia langsung meraih handphone dan memijit sambungan bicara.


Beberapa terdengar nada sambung tapi tidak diangkat hingga akhirnya Bulan mencoba menghubungi Benny.


“Assalamualaikum De…”


“Bey.. gimana kondisi Bapak udah baikan?”


“Teteh tadi nyoba nelepon Bapak tapi gak diangkat”


“Bapak tidur?”


“Kamu sekarang dimana?”


Serentetan pertanyaan dengan tidak sabar Bulan lontarkan, Juno memandangnya dengan muka prihatin.


“Kalau nanya itu satu-satu… gimana adik kamu bisa jawab… semuanya ditanyakan bersamaan” mendengar ucapan Juno, Bulan terdiam sambil mendelik.


“De… Bapak lagi apa?” tanyanya pelan sambil beringsut membelakangi Juno melihat ke arah luar jendela mobil.


“Ohh bisa tidur? Bagus dong”


“Masih sakit kepalanya?”


“Hmmm… besok bawa ke dokter yah… dokter Samuel aja yang deket biar Bapak gak cape”


“Kalau nanti disuruh ke spesialis baru kamu ke Kimia Farma yang di bawah… disana lengkap spesialisnya”


“Hahhh…. Jangan lah jangan ke RS pakai BPJS…. Musti pakai rujukan dan ambil antrian… kamu kan sekolah..”


“Trus Bapak gak akan kuat ngantrinya lama…  bayar mandiri aja nanti Teteh nanti transfer uangnya”


“Temenin Bapak yah Bey… Teteh asalnya mau pulang kemarin tapi asa nanggung”


“Tapi beneran Bapak gak apa-apa?” lama Bulan mendengarkan Benny bercerita.


“Ya udah atuh… teteh transfer uangnya sekarang ke rekening kamu”


“Sama Bapak gak usah banyak ngobrol langsung bawa aja ke dokter… kalau diobrolin Bapak pasti milih pake BPJS … kasian lama”


“Iya jagain Bapak yaaa Bebey sayang… nanti sama Teteh dibeliin kaos futsal 2…” terdengar jawaban panjang lebar… Bulan langsung cemberut.


“Iyalah… nanti Teteh cari tambahan kerja… dibeliin sepatu futsal asal Bebey temenin Bapak… jangan lupa Bapak nya makan dijaga kalau lagi sakit jangan sampai kelewat yaaah” Bulan masih terus mengingatkan adiknya tanpa mengindahkan Juno yang hanya tersenyum mendengar percakapan kakak beradik itu.


“Kamu telepon sama adik kamu, ngebelakangin aku emangnya ngaruh gak akan kedengaran”


“Yang ada malah gak sopan … memangnya aku tembok dibelakangin” Juno mendengus kesal, setelah mengakhiri panggilan Bulan membalik sambil tersenyum malu.


“Hehehe maaf… kebiasaan soalnya aku kalau telepon suka gak ngontrol muka kata Afi”


“Suka pake ekspresi ngomongnya”


“Hmmm nanti begitu sampai ke Mall aku mau shalat dulu baru nanti ke bioskopnya” Bulan memandang area Mall yang saat antrian mobil masuk ke area parkir.


“Lebih baik memilih film dan seatnya dulu… supaya kebagian tempat duduk yang enak, baru kemudian sambil nunggu jam tayang kita shalat” usul Juno sambil mencari tempat parkiran. Bulan mengangguk setuju, ia sudah lama tidak pernah menonton film di bioskop. Biasanya hanya streaming di hp.


“Teman kamu menunggu dimana?” Juno mengikuti Bulan yang berjalan di area Lobby Mall, untung datang di siang hari sehingga sebagian pengunjung belum datang.


“Tadi katanya di dekat Kedai Kopiku…. Tuh Anjar…” Bulan menunjuk Anjar yang tampak asyik berbincang dengan dua orang perempuan.


“Njay…. “ teriak Bulan memotong percakapan tiga orang yang nampak asyik. Dua perempuan yang berdiri di dekat Anjar, sering Bulan lihat di bagian umum. Mereka disebut primadona di bagian itu karena masih single dan dianggap paling cantik. Kalau ada acara-acara kantor biasanya mereka yang suka menjadi MC andalan.


“Waaah aku kirain Bulan bawa teman cewe… ternyata bawa cowo … pas dong jadinya biar Anjar gak sendiri” salah seorang yang memakai span kulit dan blus pendek tersenyum manis melihat Juno.


Bulan yang sudah hapal kebiasaan mereka bersikap tidak peduli,


“Maaf tadi kebetulan Kakaknya Afi nganterin barang yang tertinggal di mobil, sehabis acara nikahan kemarin, trus katanya udah lama gak refresing nonton film… jadi ikutan deh… gak apa-apa kan” Bulan berusaha mencari alasan. Juno memandangnya dengan kesal, alasan macam apa itu terdengar murahan.


“Gak apa-apa dong… sering-sering aja ikutan bareng kita.... Bosen liat cowok yang itu-itu aja di kantor”


“Ini tumben-tumbenan si Anjar mau… biasanya paling susah diajak main keluar”


“Kenalin aku Lindya… temen sekantornya Bulan tapi beda divisi” Lindya memakai celana Hotpants yang ketat membentuk tubuh, dengan atasan yang pendek tapi longgar. Ia mengulurkan tangannya ke Juno yang disambut dengan senyuman oleh Juno.


“Saya Juno… Abang ketemu gedenya Bulan” ucapnya sambil tersenyum, Bulan langsung melotot mendengarnya, Anjar hanya melirik dengan tajam.


“Waah kirain masih available … hehehe tapi gak apa-apa kan masih boleh berteman sama kita-kita yah Bul… “ Lidya menepuk pundak Bulan dengan keras, yang hanya tersenyum dengan kesal.

__ADS_1


“Boleh… silahkan saja kalau mau pedekate juga… seneng aja aku sih” dia melirik Juno dengan kesal.


“Saya Astri… “ giliran yang memakai rok span kulit selutut yang bersalaman dengan Juno, genggaman tangannya dengan Juno tidak segera dilepas malah kemudian sedikit menarik tangannya Juno.


“Ihhhh tangannya anget banget… aku tangannya dingin yah” Juno hanya tersenyum samar mendengarnya.


“Iyalah Kak Juno tangannya anget kan dia masuk kategori mahluk berdarah panas, temenan sama Cicak, Komodo, Kadal….” dengus Bulan, Juno hanya tersenyum seperti perkiraannya paling mudah untuk mengambil hati perempuan.


“Ia dari tadi Bulan ngajak ribut terus bikin panas”


“Yaah adik Abang paling suka marah-marah” Juno mengacak-acak rambut Bulan di depan Anjar.


“Saya gak apa-apa kan ikut menonton…. Nanti pesan tiketnya bersama-sama biar mendapatkan posisi duduk yang berdekatan.” Juno terus menebar pesona dengan senyumannya.


“Gak apa-apa dong… mumpung kita masih punya waktu nih” Lindya berjalan mendahului, dengan kaki yang panjang dan lenjang seperti seorang gadis model yang berjalan di atas catwalk.


Sesampainya di lantai 7 mereka kemudian memilih film yang akan ditonton. Saat Astri menawarkan film dengan genre horor, Bulan langsung menolak.


“Aku gak suka nonton horor, kalau yang ditontonnya Horor aku milih pulang aja deh, atau kita beda ruangan” Walaupun mendapatkan tiket gratisan ia tidak mau menyiksa dirinya


“Yah udah hmmm apa dong… Njar lu deh yang pilih biasanya lu jagoan… dari tadi diem mulu” Astri menyikut Anjar yang tampak lebih pendiam hari ini.


“Hmm film perang mau … ini katanya rame” Anjar menunjuk poster “Operation Finalle”


“Gak mau nonton perang…. Gak seru ah tembak-tembakan” Astri dan Lindya menjawab bersamaan, karena mereka yang memiliki tiket menjadikan pilihan ada pada mereka.


“Hmmm ini film sejarah gimana…” Anjar kembali menunjuk poster “Outlaw King”


“Enggak membosankan….” kali ini Lindya yang menjawab.


“Kalau Crazy Rich Asia gimana? Katanya ratingnya bagus… “ Juno menunjuk poster yang tak jauh dari mereka.


“Ahhhh aku mau nonton itu… ya ampun ganteng banget… ayo buruan kita pesan tiketnya” Lidya langsung menyambar tangan Juno untuk pergi ke gerai penjualan tiket. Bulan hanya melengos melihatnya, baguslah tidak ada penolakan.


“Kenapa dia pakai kaos perusahaan?” tiba-tiba Anjar mendekat dan memandang Bulan lekat.


“Eh… kaos apa?” Bulan kaget tidak terpikir kalau hari ini mereka bertemu dengan teman sekantor pasti akan mengenali kaos yang diberi oleh kantor.


“Itu… itu aku ingat kaos yang dikasih buat acara ultah Kantor untuk dipakai buat jalan sehat”


“Hmmm kirain apaan” Bulan berusaha berpikir mencari alasan.


“Pake punya adiknya kali…. Afi kan sekantor sama kita” Bulan bernafas lega bisa mendapatkan alasan yang paling masuk akal.


“Gak mungkin lah… soalnya itu kaos yang warna itu hanya dibagikan 4 setiap devisi… Divisi Laporan Keuangan paling banyak, atlitnya juga banyak… dan aku inget temen kamu gak pernah ikutan acara jalan sehat yang kaya gitu” Anjar tidak mudah menerima alasan.


“Yahhhh si Afi beberapa kali kan nginep di rumah aku, pinjem kaos aku trus pulang jadi dipakai sama Kakaknya”


“Ahhh gitu aja kok ribet sih” Bulan langsung menghindar mencari alasan. Muka Anjar yang kesal pasti karena soal Juno ikut dengannya sekarang.


“Gimana udah di investasikan?” tanya Bulan, Anjar mengangguk.


“Investasi apa nih? Aku kok gak diajak-ajak sih Njar…” Astri merangkul tangan Anjar dengan mesra. Bulan langsung membuang muka… ini cewe dua-duanya kaya yang kegatelan.


“Investasi akhirat…. Membangun mesjid supaya nanti masuk Surga” jawab Anjar malas.


“Yeeey gw kira investasi saham…. Mau dong Njar nanti kalau dikasih Mas Kawin nya seperangkat alat investasi” Astri kembali memandang Anjar dengan manja.


“Yang ada kalau gw kawin ntar dikasih seperangkat alat memasak buat calon istri gw biar bikinin gw makanan tiap hari”


“Ihhh males banget… emangnya gw pembokat masak tiap hari” Astri langsung menawar rupanya ia optimis di masa depan akan menjadi istri Anjar.


“Lahhh kamu kan tiap hari makan… emang ntar gak akan masak buat keluarga?”


“Yahhh nyari lah pembantu yang bisa masak… ntar tangan gw kukunya patah dong” Astri memperlihatkan kuku tangannya yang panjang lentik.


“Fix lu Tri… musti nikah sama juragan Warteg… biar gak usah masak” Bulan tertawa sambil menggelengkan kepala… jawaban Anjar selalu lucu.


Tak lama Juno datang bersama Lidya, masih bersemangat menggandeng tangan Juno.


“Ok kita udah dapat kursi…” ucapnya bersemangat, sambil mengacungkan tiket bioskop.


“Ayo… kita shalat dulu” Juno mengajak Bulan sambil mengulurkan tangannya.


“Ehhh kok shalat sih… mendingan beli makanan dong… kita kan belum beli makanan” Astri menolak halus.


“Yahhhh kita bagi dua aja… lurus ke surga belok ke neraka… “ jawab Anjar asal sambil meninggalkan mereka.

__ADS_1


“Ihhhhhh Anjarrrr….” desahan dua perempuan membuat Bulan hanya menarik nafas. Mana ada orang memilih masuk neraka pastilah masuk surga…. Akhirnya semua berjalan lurus ke arah mushola… niatnya sih ingin masuk surga semua.


__ADS_2