Rembulan

Rembulan
Praduga


__ADS_3

Kenanga menatap punggung Athar yang semakin menjauh darinya, bahkan kedua manik kata Kenanga melihat paper bag berisi makan siang darinya di berikan begitu saja pada sekretarisnya oleh Athar. Meski sekuat tenaga Kenanga berfikir positif tentang sikap Athar yang akhir-akhir ini berubah sangat drastis padanya, tapi tetap saja hati kecilnya benar-benar merasa kalau kejadian beberapa tahun silam akan kembali terulang.


"Harusnya aku tidak perlu memberikan hatiku padanya" Kenanga memejamkan matanya, punggungnya dia sandarkan di dinding kantor milik keluarga Athar.


Saat ini Kenanga benar-benar merasa bodoh dan menyesal telah membuka hati untuk Athar, bahkan tanpa di sadari ternyata benih rasa cinta itu kini sudah tumbuh dalam hati Kenanga, namun apa yang dia dapatkan? Hanya sikap acuh dari Athar. Ya, pria itu benar-benar sudah melupakan dirinya, pikir Kenanga.


Buliran demi buliran air mata kini mulai membasahi pipi Kenanga, meski Kenanga sudah bersusah payah untuk menahan air matanya, tapi air matanya sepertinya tidak mau berkompromi akan hal itu. Beruntungnya lantai lima gedung ini sangatlah sepi, karena hanya di peruntukan untuk pimpinan tertinggi, direktur dan ruang sekretaris.


Kenanga mencoba menghapus air matanya yang tak henti mengalir, namun sekuat apapun Kenanga menghapusnya pipinya lagi dan lagi bahas oleh tetesan air matanya. Merasa tak sanggup lagi berada di sini, Kenanga memutuskan untuk segera pergi meninggalkan tempat ini. Namun langkah kaki Kenanga kali ini tak menuju lift, melainkan menuju pintu tangga darurat. Tak mungkin Kenanga turun menggunakan lift, akan sangat riskan bila naik lift dan bertemu dengan para staf di kantor ini, yang ada dirinya hanya akan menjadi bahan tontonan karena matanya sembab. Oleh karena itu Kenanga memutuskan untuk turun ke lantai bawah menggunakan tangga darurat, setidaknya nanti sembari turun dirinya bisa sedikit mengatur hati dan perasaannya.


Dengan langkah kaki yang gontai Kenanga berjalan menuju pintu tangga darurat yang terletak tidak jauh dari pintu lift. Tangannya menyentuh handle pintu tersebut namun belum sempat terbuka, pintu tersebut malah di tahan oleh tangan kokoh yang di rasa tidak asing oleh Kenanga. Bahkan di jari manis tangan tersebut terpasang cincin yang memiliki model sama dengan cincin yang Kenanga kenakan.


"Sayang, bisakah kita berbicara sebentar?" suara lembut Athar membuat hati Kenanga semakin terasa teriris. Buliran air mata yang tadi sempat terhenti kini jatuh kembali membasahi pipinya.


"Sayang.." panggil Athar kembali karena Kenanga tak kunjung mau berbalik badan. Bahkan kali ini tangan Athar memaksa tubuh Kenanga berbalik menghadap kepadanya, namun sayangnya Kenanga tak mau menatap dirinya


Athar menghela nafasnya dengan berat, kemudian menarik tangan Kenanga. Athar membawa Kenanga masuk ke dalam ruang Kerja miliknya.


"Aku mau pulang" tolak Kenanga sesaat saat Athar baru saja membuka pintu ruang kerjanya.


"Hanya lima belas menit" ucap Athar.


"Tidak perlu, pekerjaanmu pasti sangat banyak. Lain waktu kita atur ulang pertemuan kita" Kenanga masih tak merubah posisinya berdiri di ambang pintu ruang kerja Athar yang sudah terbuka lebar.


"Kenanga ..." ucap Athar pelan, kemudian Athar menarik paksa Kenanga masuk ke dalam ruang Kerjanya dan langsung menutup rapat pintu tersebut.


Tak memberikan sedetik saja Kenanga berbicara, Athar langsung menghimpit tubuh Kenanga dengan pintu ruang kerjanya yang sudah tertutup rapat. Tak ingin membuang waktu, Athar lantas menyambar bibir Kenanga. Menyalurkan kerinduan yang selama beberapa hari ini menyiksa dirinya, namun sayangnya penolakan dari Kenanga membuat Athar terpaksa melepaskan ciumannya.

__ADS_1


"Aku minta maaf" ucap Athar sesaat setelah bibirnya terlepas dari bibir Kenanga.


"Jangan menangis hanya karena diriku" Athar mencoba menghapus air mata Kenanga menggunakan ibu jarinya.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya..."


"Ssssttt" Athar meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Kenanga.


"Aku kau pasti merasa kecewa dengan sikapku beberapa hari ini, tapi aku benar-benar ingin segera menyelesaikan pekerjaanku sebelum hari pernikahan kita"


Hening, tak ada jawaban apapun dari bibir Kenanga. Saat ini Kenanga tengah berpikir mungkin dirinya yang terlalu over thingking kepada Athar, dan terus mengganggap Athar sama seperti Riko.


"Sayang..." Athar menarik dagu Kenanga, bahkan kini kedua mata mereka saling bertemu.


"Kau marah dan kecewa terhadapku. Aku tau aku memang sudah mengabaikanmu" ucap Athar pelan.


"Aku hanya merindukanmu.." Kenanga lantas menghambur ke dalam dekapan Athar, menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria yang beberapa hari ini membuat semangatnya menghilang.


Athar membalas pelukan Kenanga dengan erat. Kenanga melepaskan pelukannya.


"Kenapa sayang?" Athar menaikkan kedua alisnya saat Kenanga melepaskan pelukan dirinya.


"Kau sungguh membuatku sangat takut.." Kenanga mengalungkan kedua tangannya di tengkuk leher Athar


"Kau hanya perlu percaya padaku, aku tak akan meninggalkamu apapun yang terjadi, sekarang, besok dan seterusnya" Athar mengulas senyumannya dan kembali menyambar bibir Kenanga.


Kali ini tak ada penolakan dari Kenanga, melainkan balasan lembut dari Kenanga, keduanya saling melepaskan rindu. Sungguh Athar sangat merindukan saat-saat seperti ini bersama Kenanga, ciuman Athar sangat lembut hingga membuat Kenanga semakin menarik tengkuk leher Athar supaya lebih memperdalam ciuman keduanya.

__ADS_1


"Tuan Athar, semua sudah menunggu di ruang meeting" Ketukan pintu dan suara Ilea membuat Kenanga melepaskan ciumannya.


"Lima menit lagi.." pinta Athar pelan kepada Kenanga


Kenanga terkekeh menanggapi Athar yang merengek padanya. Sungguh bila sudah seperti ini, Kenanga semakin gemas terhadap Athar.


"Dokter ini saat ini pemimpin di perusahaan ini, harus memberikan suri tauladan yang baik untuk para staf di kantor ini" Kenanga merapihkan dasi milik Athar.


"Tuan.." Suara Ilea kembali terdengar memanggil Athar, karena memang saat ini Athar harus memimpin rapat untuk evaluasi staf marketing di perusahaannya.


"Iya ." jawab Athar dengan ketus, dirinya benar-benar kesal kepada Ilea yang mengganggu aktivitasnya.


"Tidak boleh ketus seperti itu ah" Kenanga memberikan usapan lembut di bibir Athar, menghapus air liur sisa ciuman keduanya


"Aku akan selalu menunggumu. Aku percaya padamu"


"Terimakasih sayang, aku janji bila nanti sore pekerjaanku selesai lebih awal aku akan menjemputmu. Tapi kalau masih ada pekerjaan, sayangku jangan marah ya" Athar mencubit gemas hidung Kenanga


"Ya sudah, akan aku antar ke lantai bawah" Athar kembali menggenggam tangan Kenanga dengan erat, kini kedua jari-jemari mereka saling bertaut satu sama lain.


Athar membuka pintu ruang kerjanya, dan Ilea yang masih berdiri tepat di depan pintu di buat sangar terkejut saat Athar keluar bersama dengan seorang gadis. Sejak kapan bosnya menyimpan gadis di dalam ruang kerjanya? pikir Illea.


"Ilea, kau antarkan calon istriku ke lantai bawah, dan minta kepada supir kantor untuk mengantarkan calon istriku kembali ke kantornya"


"Tidak usah, aku bisa turun sendiri dan pulang menggunakan taksi" tolak Kenanga. Athar berjalan mendahului Ilea yang memberikan dirinya jalan.


"Dokter, aku bisa turun sendiri dan kembali ke kantor menggunakan taksi" Sesaat setelah Kenanga, Athar dan juga Ilea masuk ke dalam lift.

__ADS_1


"Sayang, ini perintah bukan tawaran" tegas Athar sambil mengusap puncak kepala Kenanga, bahkan Athar tanpa malu menghujani puncak kepala Kenanga dengan ciuman.


Sementara IIea menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal, merasa tidak enak berada di dalam lift bersama bosnya dan juga kekasihnya. Andaikan Ilea tau kalau bosnya tiba-tiba kembali ke ruang kerjanya untuk menemui calon istrinya, tentu saja Ilea tidak akan menyusul Athar ke ruang kerjanya.


__ADS_2