
Flashback On
Mendengarkan Bulan bercerita sambil tertawa-tawa membuat Juno tersenyum di seberang telepon. Saat itu Bulan sedang dalam perjalanan menuju kantor Cedrik.
“Tahu gak A… Papa mukanya kaya kucing lagi dimandiin. Basah tapi tidak berkutik, gak bisa ngapa-ngapain”
“Meong-meong tapi tetep aja diguyur sama air…ahahahahhaha” Bulan tertawa dengan puas. Doni yang duduk di sebelahnya hanya ikut tersenyum mendengarkan cerita Bulan.
“Udah baikan niih ceritanya sampe ketawa curhat-curhatan” ledek Doni sambil melirik Bulan.
“Apaan sih Bang Don suka geje” ucap Bulan sambil cemberut. Tanpa terasa karena mereka datang pagi, mobil sudah sampai di hotel tempat pertemuan akan dilaksanakan.
“A doakan yahh supaya lancar, langsung deg-degan sama sakit perut ini… nervous” ucap Bulan sambil mengusap-usap perutnya.
“Sakit perut?! Sudah jangan dipaksakan… pulang lagi saja” sergah Juno terdengar nada khawatir.
“Nggak ah… biasa lagi kalau nervous kita suka mules pengen BAB”
“Udah yah aku mau siap-siap turun nih… doain. Nanti kalau bisa langsung dari Bandara nyamper tempat meeting”
“Kali aja aku kebagian yang paling akhir” suara Bulan terdengar penuh harapan dan manja mengharapkan agar Juno bisa menemaninya dalam presentasi. Tanpa sadar bibir Juno tersenyum mendengar suara istrinya.
“Ya aku usahakan begitu selesai deal contract aku langsung ke Bandara. Paling cepat jam 1 siang baru bisa sampai kesana” hiburnya. Walaupun sudah diminta untuk menutup telepon tapi Juno masih melanjutkan pembicaraan dengan nasehat panjang agar Bulan berhati-hati dan menjaga diri hingga akhirnya harus ditutup karena Bulan sudah sampai di ruang meeting.
Juno menarik napas panjang, rasanya dadanya terasa sesak dipenuhi oleh beragam emosi. Bahagia karena hubungannya dengan Bulan yang telah membaik, diiringi oleh perasaan rindu yang rasanya seperti memenuhi hatinya saat ini. Tapi ia juga merasakan gamang dan khawatir dengan kehamilan istrinya. Dengan kondisi perusahaan yang masih merangkak dan belum stabil, ia takut tidak bisa memberikan nafkah yang cukup kepada anak dan istrinya, muncul pula kekhawatiran apakah ia bisa menjadi seorang ayah yang baik kepada anaknya. Mengingat kalau ia berasal dari keluarga yang broken home, perceraian kedua orangtuanya masih menyisakan kenangan buruk sehingga membuatnya merasa tidak percaya diri.
Hari ini ini akan menyepakati kontrak dengan perusahaan yang menjual furniture di Surabaya. Perusahaan baru yang pemiliknya memiliki hobi untuk membuat produk interior tapi tidak memiliki keterampilan dalam menuangkannya ke dalam bentuk gambar teknik. Awal mula perkenalan mereka saat Juno yang ditugaskan untuk menata rumah sang pemilik perusahaan. Setelah sebelumnya sudah ada beberapa orang desainer yang ditugaskan oleh Arvian namun semuanya gagal dan ditolak karena dianggap tidak bisa memenuhi keinginan klien.
Ternyata memang klien tersebut sudah memiliki ide yang spesifik tentang interior di rumahnya, ia menjelaskan secara mendetail dan kemudian menginginkan agar pihak desainer bisa menuangkannya ke dalam gambar teknis. Beberapa desainer cenderung merubah dan mengembangkan gambar sesuai pengalaman dan kebutuhan teknis tapi ternyata itu membuat klien merasa tidak puas. Hanya dengan Juno ia bisa menerima saran dan masukan sehingga pengembangan produk interior bisa dibuat dan ditata. Dan hasilnya memang tidak mengecewakan, sehingga kemudian banyak teman dan keluarganya yang memintanya untuk membuatkan rancangan produk sesuai kebutuhan di rumah mereka. Hal tersebut ternyata menginspirasi si klien untuk membuat perusahaan sendiri. Tentu saja pada saat ia harus mencari orang yang ahli menggambar teknik produk interior, ia langsung mencari Juno.
Begitu kesepakatan kontrak kerja tercapai ada kelegaan yang dirasakan Juno, istilah anak membawa rejeki ternyata benar adanya. Begitu kehamilan Bulan diketahui, ada banyak tawaran kerjasama datang dan ini salah satunya. Juno langsung mengirimkan kabar gembira itu pada Bulan mengabari kalau mereka mendapatkan tambahan proyek sehingga ia ingin kalau istrinya tidak usah terlalu khawatir dengan keuangan perusahaan. Proyek ini memungkin dirinya hanya membuat gambaran produk tanpa harus bersusah payah untuk membuatnya di workshop yang tentu saja membutuhkan biaya tambahan. Tapi hingga beberapa pesan ia kirimkan tak satupun dijawab oleh Bulan.
Akhirnya Juno mengirimkan pesan pada Doni, dan langsung mendapatkan respon.
“Bulan lagi presentasi”
“Gilee istri lu bahasa engres nya was wis wus wes… gw ngerti sebagian… orang Hongkong manggut-manggut terus sambil bolak-balik proposal”
“Sukses kayanya kita”
“Tadi yang duluan presentasinya dari kita, ada satu perusahaan tapi mereka kertas proposalnya kagak dibulak balik Doel”
Doni kemudian mengirimkan foto dan video Bulan yang sedang berdiri di depan, melihat ekspresi Bulan yang serius Juno tersenyum. Ia bisa melihat kalau Bulan betul-betul fokus menyampaikan bahan presentasi, ada rasa menyesal hingga ia tidak bisa mendampingi istrinya dan melihat proses itu langsung.
“Gw mau ke Bandara sekarang”
“Gw usahakan langsung ke tempat meeting”
Itu adalah kontak terakhir antara Juno dan Doni sebelum ia mematikan handphonenya saat boarding di Bandara. Semakin dekat waktu bertemu istrinya, perasaannya terasa makin menggebu. Antara rindu pada perempuan yang menjadi istrinya kini dan senang akan keberhasilan mendapatkan kontrak kerja.
Sementara itu di Jakarta sesaat setelah presentasi Bulan menarik napas panjang. Rasanya seperti habis keluar dari gua yang panjang. Selama ia menyampaikan bahan presentasi ia nyaris tidak bisa berpikir hal yang lain, untuk bernapas pun seperti tidak terasa saking fokus untuk memberikan penjelasan yang detail dan terbaik. Bulan merasakan antusiasme dari investor yang menyimak bahan yang disampaikan.
__ADS_1
Pengalaman beberapa kali mendampingi perusahaan kecil dalam mendapatkan investor selama bekerja dengan Kevin, ia sudah dapat membaca keinginan dari para investor. Reliabilitas perusahaan, kemampuan untuk memenuhi target pekerjaan, keuntungan yang didapatkan dari setiap proyek dan bagaimana perusahaan merancang untuk mencari proyek di masa depan. Itu yang menjadi titik tekan dalam presentasi yang disampaikan oleh Bulan.
“Keren lu… gak nyangka banget lu bisa ngomong engres” bisik Doni sambil menepuk-nepuk pundak Bulan pelan. Saat ini perusahaan ketiga sedang bersiap-siap untuk menyampaikan bahan presentasi.
“Gila Bang aku nervous banget, pegang nih tangan aku dingin” Bulan menempelkan tangannya pada lengan Doni.
“Gila… kaya kulkas gini… lu yakin masih idup?” Doni menatap dengan penuh rasa khawatir. Bulan tersenyum mendengarnya, bersama Doni ia bisa lebih santai dalam bersikap.
“Masih lah Bang, cuma kayanya gula darah aku turun nih Bang, perut langsung terasa melilit juga, asam lambung kayaknya naik”
“Bentar gw bikinin teh manis” Doni langsung berdiri dan membuat teh. Di sudut ruang meeting telah disediakan minuman dan makanan kecil bagi yang hadir. Bulan tersenyum melihat kesungguhan Doni dalam membantunya, sambil menunggu ia membuka handphone dan melihat pesan yang masuk.
Banyak pesan yang masuk diantaranya dari Juno, Bulan tersenyum membaca pesan dari suaminya. Ia bisa melihat kesungguhan dari Juno untuk berubah menjadi suami yang lebih baik. Ada kelegaan yang Bulan rasakan dengan perubahan ini, ternyata benar apa yang dikatakan Mama Nisa. Berjauhan selama satu minggu memberikan waktu untuk suaminya sehingga bisa berpikir jernih.
Dahi Bulan berkerut memandang pesan yang masuk lainnya, ada nomor yang tidak pernah ia simpan tapi ia tahu siapa pemiliknya… Inneke. Menarik napas panjang kemudian ia membuka pesan yang dikirimkan oleh kakak kelasnya itu.
“Gw gak nyangka kalau kamu akan seegois itu”
“Cuma karena Je membeli mobil barengan sama kita terus dia harus menggagalkan pembelian mobilnya”
“Kamu tahu gak sih…. Kalau mobil itu udah kaya jadi impiannya dulu”
Tangan Bulan langsung bergetar, ada rasa marah yang tiba-tiba memenuhi kepalanya, apa urusannya perempuan itu soal keputusan yang diambil dalam rumah tangganya.
“Dia kemarin udah mengajukan kredit buat peminjaman mobil”
“Gw udah bantu supaya dia bisa mengangsur dengan bunga yang gak memberatkan”
"Sekarang dia batalkan dengan alasan kalau lu gak suka minjam uang ke Bank”
“Yakin lu ngelarang dia beli mobil karena masalah pinjaman ke Bank? Kok gw curiga kalau kamu gak ngijinin Je beli mobil karena pernah jadi mantan gw”
Seketika itu juga amarah Bulan seakan ingin meledak, menatap Doni yang menghampiri dirinya dengan membawa secangkir teh dan makanan kecil. Berusaha menenangkan diri dengan menarik napas panjang.
“Bang aku mau ke toilet dulu”
“Ehhh minum dulu minum… muka lu pucet begitu” Doni menyodorkan air teh ke depan Bulan, tidak ingin menarik perhatian orang banyak, langsung ia teguk dan simpan sambil tersenyum samar. Ia harus segera mencuci muka dan menenangkan diri, kepalanya langsung terasa pusing setelah membaca pesan itu.
Berjalan dengan cepat ke luar ruangan seperti sedang melayang, Bulan mencoba mencari toilet yang terdekat, kemudian membasuh mukanya dengan air, ia tidak mempedulikan kalau makeup yang ia aplikasikan dengan penuh kehati-hatian agar terlihat flawless akan habis oleh air.
“Tenang…. Tenang jangan terpancing” Bulan kembali menarik napas sambil menatap handphone yang disimpan di sebelah wastafel. Untung saja tidak ada seorangpun di toilet saat itu.
“Kakak…Amma tau kalau kamu punya karakter kaya Appa yang gampang marah” ucap Bulan pelan sambil mengusap perutnya.
“Sejak kamu ada di perut Amma, bawaannya jadi pengen nerkam orang” ucapnya sambil tersenyum.
“Tapi jangan gampang marah sama orang gila sayang”
“Nanti kita jadi sama gilanya kaya dia” ucapnya pelan sambil mengusap perut, semakin kesini ia merasakan perutnya seperti dipelintir.
Tiba-tiba saja telepon berdering, Bulan terhenyak kaget, ternyata Inneke yang telepon. Ditatapnya layar telepon dengan pandangan bingung, ia tahu kalau ia angkat, maka sangat mungkin dia akan meledak memaki perempuan yang selalu menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Akhirnya panggilan telepon itu berhenti, Bulan menarik napas lega. Dengan kondisinya saat ini ia harus lebih berhati-hati jangan sampai emosi membuatnya sakit kembali.
__ADS_1
Pesan kembali masuk. Inneke kembali mengirimkan pesan. Bulan menggelengkan kepala heran, perempuan ini benar-benar sudah kehilangan akal. Ia harus membicarakan ini dengan Juno supaya mengambil langkah tegas.
“Kenapa takut yah gak berani terima telepon. Gw tau kamu udah buka pesan tadi”
“Nihhh kalau kamu gak percaya kalau Juno seneng banget sama mobil yang sudah dia pesan kemarin”
“Gw kasih waktu dua hari buat memikirkan sebelum ajuan kredit gw batalin. Sekarang tinggal lu buktiin sebagai istri yang mendukung suami”
“Biarin Juno ngambil cicilan mobil itu supaya dia bisa mendapatkan impiannya”
Bulan menggelengkan kepala, tangannya menutup kedua matanya yang terasa seperti menonjol seperti kemarin, kakinya pun terasa sangat lemas, seperti tidak ada tulang yang mampu menyangga tubuhnya. Menarik napas panjang sambil berpegangan erat pada wastafel.
Tring.. Satu pesan masuk, kali ini video yang masuk. Bulan mengerutkan dahi. Video apa ini? Apa mungkin?… pikirannya tiba-tiba membayangkan kemungkinan buruk tentang video asusila yang saat ini sedang marak terjadi. Ia tidak bisa membayangkan kalau suaminya sampai bisa melakukan hal yang buruk seperti itu. Dengan menguatkan diri Bulan menekan layar untuk memutar video yang dikirim. Ternyata video di dalam mobil, ada orang yang menyorotkan video ke bangku pengemudi depan. Bulan menarik napas lega, pikiran buruknya tidak terbukti.
“Hai guyss… masih inget sama pasangan legend kita Juno dan Inneke”
“Ada yang lagi CLBK an niiiiih gkgkgkgkkgkgkgkgk” terdengar perempuan yang mengarahkan kamera hp ke arah bangku depan, Bulan bisa melihat Inneke yang melambai-lambaikan tangannya dengan penuh semangat dan tawa, kemudian berpindah pada Juno yang menepis kamera yang mengarah kepadanya.
“Apaan sih lu.. Gw lagi nyetir nih jangan suka ngomong gak jelas ntar anak-anak mikir yang lain-lain lagi” ucap Juno tenang.
“Bagus mesinnya halus” sambungnya.
“Gw biasanya gak pernah pake matic tapi ini gw langsung nyaman pakenya”
“Jadi gimana mau mobil yang tadi atau mau yang ini?”
“Ini lebih mahal loh soalnya keluaran terbaru dan musti inden dulu” suara perempuan itu terdengar gembira.
“Hmmm nanggung yah… gw suka mobil ini aja deh… mobil impian gw banget... gak apa-apa inden juga. Gak urgent kok” suara Juno terdengar gembira. Bulan tersenyum sedih mendengarnya, ia tidak menyangka kalau suaminya ternyata benar-benar menyukai mobil itu.
“Kita dengerin lagu yaah kaya dulu” suara Inneke terdengar bahagia
‘Cie ciee…yang CLBK…fuitfuiwwww” suara perempuan itu terdengar kembali menggoda.
“Mau lagu apa Je.. aku masih nyimpen play list kita dulu loh” Inneke menyentuh tangan Juno yang sedang menyetir.
“Apaan sih lu.. Udah jangan gangguin gw lagi test drive” Juno terlihat menepis tangan Inneke yang memegang lengannya.
“Ahahahhaha ada yang masih kesetrum Nge….hahahhaha”
Kepala Bulan terasa berputar setelah melihat video itu, tangannya langsung mencengkram kran air wastafel, matanya terpejam dan menunduk menahan rasa pusing yang semakin menjadi.
“Arghhhh astagfirullah Bapaaak” suara rintihan Bulan terdengar lemah, saat ia membuka mata ia langsung menjerit. Langit-langit yang ada di atasnya tiba-tiba seperti patah terjatuh ke ke bawah.
“Arghhh….” tubuh Bulan limbung dan ambruk di lantai.
#########
Maaf lama gak up... musim ujian akhir, jadi harus berjibaku memeriksa soal dan memberikan nilai. Jangan sampai nanti bikin story novel bisa tapi menilai hasil ujian keteteran. Ingat dahulukan kewajiban primer baru melanjutkan dengan kewajiban sekunder...wkwkwkwk... mohon maaf kalau kalian masih sekunder. Hahahahaha
Terima kasih yah atas dukungannya. Semoga selalu sehat dan bahagia, tetap berpikir positif dan bahagia karena itu semua bikin hidup jadi lebih hidup... Love ... Peace and Gawl
__ADS_1