Rembulan

Rembulan
Menunggu Hari Pembalasan


__ADS_3

“Ayo Bi..Nanti restonya keburu tutup” Bulan beranjak lebih dulu meninggalkan Juno


“Apa itu Bi?” Juno mengerutkan dahi mendengarnya, rasanya seperti panggilan kekinian, ia tidak suka.


“Bi kependekan dari Bibi” jelas Bulan sambil terus berjalan, apa daya karena jalannya lambat jadi langsung tersalip.


“Apaan Bibi kaya mbak di rumah aja” Juno menarik tangan Bulan supaya berhenti.


“Kenapa sih sekarang jadi rese banget sampai pengen punya panggilan khusus segala, udah dikasih banyak protes” Bulan melengos, sikap yang tidak konsisten menurutnya. Kalau laki-laki galak biasanya tidak suka banyak permintaan.


“Bibi itu apa?” Juno bersikeras tidak melepaskan tangan Bulan sebelum menjelaskan artinya.


“BiBi itu dua huruf B disatukan”


“Bang Bhrata” Bulan tertawa nyengir.


“Sayang punya nama bagus gak dipakai… Seorang Ksatria yang datang menyelamatkan Bapak dan Neng Bulan sehingga terlepas dari kesulitan” Bulan memperagakan sambil merentangkan tangannya dan memutar tubuhnya di trotoar. Juno hanya bisa tersenyum sebal.


“Ingat singkatannya jangan dieja dalam bahasa Indonesia jadi Bebe atau Bau Badan…. Wkwkwkwkwkwkw….. aduuuh,,” Bulan tertawa sendiri sambil berjalan mundur, hampir saja tersungkur kalau tidak segera dipegang Juno.


“Kamu tuh gimana sih! Jalan banyak gaya… pake mundur segala” ia cuma bisa mengomel karena Bulan masih terus saja mengoceh.


“Kaya kedengaran sama orang bakalan disangka manggil mesra.. Bi… pasti disangka hubby…. Hueks” Bulan menirukan orang muntah, merasa mual membayangkannya.


“Gak apa-apalah orang nyangka kita mesra-mesraan padahal kita cuma orang yang menikah karena takdir… hehe” Bulan tertawa kecut sendiri, tapi kemudian ia langsung tertawa sendiri lagi.


“Hehehe nanti kalau punya anak… kalau manggil Bi… itu bisa disangka manggil Abi… bapaknya anak-anak..hehe...ehhh” tiba-tiba ia teringat sesuatu Abi… Umi… Anjar.


“Anjar… apa kabarnya dia sekarang?” pikirnya dalam hati, ada rasa sakit yang ia rasakan. Pemandangan terakhir yang ia ingat tentang Anjar adalah saat di kamar rumah sakit bersama Bapak.


Tatapan Anjar yang penuh harap, tatapan Anjar yang putus asa, dan terakhir tatapan Anjar yang merasa bersalah saat memegang potongan kebaya milik ibu yang sobek.


“Kenapa kamu?” Juno merasa heran melihat Bulan yang langsung berubah murung, padahal awalnya tertawa-tawa.


“Gak apa-apa” hanya itu jawaban Bulan, sambil terus berjalan, tiba-tiba ia merasa sedih, seperti ada sesuatu yang menyayat hatinya. Kenapa ini?


“Masih buka restorannya, tapi waktunya tinggal tiga puluh menit lagi, bisa makan cepat?” tawar Juno. Bulan langsung menggeleng selera makannya tiba-tiba hilang.


“Aku lagi gak terlalu selera makan, sayang sudah bayar mahal tapi gak dimanfaatkan dimakan semua” ia masih saja berhitung soal uang.


“Ya sudah ada cafe dekat kampus, kita jalan lagi dikit, mereka buka sampai jam 11 malam” ajak Juno, Bulan hanya mengangguk saja.


“Ehmm Bi…” kali ini ia tidak keliru dengan nama panggilan


“Maaf mau tanya” agak ragu sambil terus berjalan di samping Juno sambil menunduk.


“Ehhmmm… tapi kamu jangan marah!” sambungnya lagi


“Aku cuma mau tanya aja, soalnya aku gak tau mesti nanya ke siapa?” ucapnya perlahan.


“Soal apa?” Juno mengerutkan dahinya, tumben bertanya dengan sopan seperti ini.


“Ehmmm itu … ehmmm  Kak Juno tau gimana kondisi Anjar setelah ribut di kamar Bapak?” tanyanya pelan sambil terus menunduk tidak berani menatap Juno sama sekali.


Juno mendengus kesal, tidak menyangka kalau Bulan menanyakan hal itu, pantas saja sikapnya tiba-tiba berubah.


“Kenapa kamu tiba-tiba ingat sama dia?”


“Merindukan pacar masa lalu?”


“Kenapa gak kamu tanya aja sama dia langsung?”


“Pake tanya sama aku segala!”


“Peduli apa aku sama orang yang gak tau diri macam dia!” Juno berjalan cepat meninggalkan Bulan dengan kesal,


“Maaf...Bi…. Maaf… aku gak merasa kangen atau gimana, aku cuma inget aja tiba-tiba sama dia”


“Tadi aku jadi keingetan waktu nyebut Abi… biasanya dia suka banget pake panggilan Abi Umi” jelas Bulan

__ADS_1


“Maaf jangan marah Bi” bujuk Bulan


“JANGAN MANGGIL MANGGIL BI ..BI LAGI!!”


“Eneg aku dengernya!” hardik Juno, amarahnya langsung memuncak saat mendengar alasan Bulan, ia terus saja berjalan cepat tanpa memperdulikan Bulan yang ada di belakangnya.


Sesampainya di Cafe, ia langsung masuk tanpa menunggu Bulan yang sudah tertinggal jauh, langsung duduk di meja yang terdekat dan menunggu Bulan sambil bermain hp. Mukanya terlihat kesal dan marah. Saat waitress menawarkan menu untuk dipesan ia hanya bilang untuk menunggu sebentar.


Bulan masuk dengan muka pucat, berusaha berjalan mengikuti Juno, tapi tidak mau terlalu dekat, ia masih kaget melihat amarah Juno saat menanyakan soal Anjar. Sebetulnya ia ingin menangis tapi merasa gengsi. Begitu masuk ke dalam Cafe dan melihat Juno sedang duduk, ia tidak langsung menghampirinya tapi memutuskan ke toilet terlebih dahulu untuk merapikan diri.


Keluar dari toilet ia melihat ada dua gelas minuman di meja dan Juno masih asyik saja bermain hape. Ia duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun dan duduk diam, hanya memandang ke sekeliling tanpa ada niat untuk memulai percakapan.


“Sudah bisa pesan sekarang?” tiba-tiba waiters menghampiri sambil membawa daftar menu. Bulan menatap makanan yang ditawarkan di daftar menu tanpa ada keinginan untuk memesan. Pikirannya campur aduk menjadi satu sedih, kesal, takut,dan merasa tidak berdaya.


“Iga Bakar Rica-Rica sama Grilled Chicken with Orange Sauce, dan Superfood Salad” kemudian menutup buku menu tanpa bertanya apapun pada Bulan. Mukanya masih dalam template dingin.


“Sudah itu saja?” waiters seperti bingung karena Bulan seperti tidak berminat untuk bicara.


“Belum, dia belum pesan” ucap Juno sambil mengarahkan pandangannya ke Bulan, kemudian waiters menatap Bulan lekat.


Sadar kalau dirinya tidak memesan hanya akan memicu pertikaian di depan umum, akhirnya kembali membuka buku menu dan memilih menu yang paling ringan.


“Saya mushroom soup” ucap Bulan pendek dan mengembalikan buku menu kepada waiters, menandakan ia selesai memesan. Juno langsung mengalihkan pandangan dari hp-nya seperti akan berbicara tapi kemudian mengurungkan niat dan kembali memandang hp tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Bulan cuma bisa menarik nafas panjang, keadaan seperti ini seperti Dejavu. Makan malam dan orang disebelahnya asyik bermain hp. Bedanya sekarang ia tidak bisa lagi meninggalkan laki-laki itu dengan hp-nya. Dia sudah menjadi suaminya, jadi apapun kondisinya sekarang ia harus duduk manis dan menerima nasib.


Tiba-tiba handphone Bapak berbunyi, memecah kesunyian saat menunggu makanan.


“Assalamualaikum… ada apa de?” rupanya Benny


“Hmmm… Bapak di kamar ICU”


“Iya… gak bisa ditengok, disteril soalnya masa kritis malam ini” lama Bulan mendengarkan Benny berbicara. Senang juga ada yang bisa mengajaknya bicara ditengah kekakuan bersama laki-laki yang ada di depannya itu.


“Iya kita doakan saja… Ade gak usah ke rumah sakit, fokus aja buat uji coba CBT besok”


“Makan yang baik yah, biar gak sakit sama masuk angin!” ucapnya sebelum mengakhiri panggilan.


“Ya teteh transfer sekarang, kamu ambil dulu ke atm supaya besok Ema beli makanan ayam danburung ke pasar”


“Jangan sampai mereka kelaparan trus mati”


“Bisa-bisa kita semua diusir dari rumah pas Bapak pulang” akhirnya ia tersenyum walaupun kecut oleh bayangan itu.


“Ya.. Teteh transfer sekarang yah, sama buat pegangan kamu selama persiapan ujian”


“Jangan tidur terlalu malam yah De… jaga kesehatan. Assalamualaikum” Bulan mengakhiri panggilan dengan tarikan nafas panjang. Ada tatapan sedih saat melihat hp Bapak saat ia mematikan sambungan telepon, foto mereka bertiga saat liburan di Pangandaran ternyata terpasang menjadi wallpaper di Hp Bapak. Di foto itu Bapak tampak sehat, foto lima tahun yang lalu, saat negara Api belum menyerang.


Untung saja di setiap meja disediakan colokan listrik, ternyata salah satu kebutuhan primer saat ini adalah terminal listrik. Mengeluarkan Hp-nya yang sudah mati dan berusaha untuk mengisi baterai nya dengan memegang ujung kabel agar bisa masuk arus listrik.


“Lagi apa kamu?” tanya Juno saat melihat Bulan sibuk pegang hp sampai di bolak balik.


“Nge-charge!” jawabnya pendek.


“Dibilang tadi disuruh beli yang baru, keras kepala banget sih!” gerutunya, Bulan hanya diam, malas untuk menimpali ucapan Juno. Sudah cukup sekali ia dihardik hari ini, selama ini ia tidak pernah ada yang menghardik kecuali saat di ospek masuk perguruan tinggi. Itu adalah masa salah gak salah pasti salah.


Setelah beberapa menit mengisi, ia berusaha menghidupkan hp, tapi daya listrik masih belum cukup sehingga kembali mati. Bulan hanya bisa menarik nafas panjang, disaat seperti ini selalu saja cobaan datang. Ia lupa kalau transfer dengan mobile banking akan menjadi masalah saat hp-nya sedang bermasalah.


Saat waiters mengantarkan makanan yang dipesan ia langsung terpikir untuk mentransfer via atm.


“Maaf mbak, ATM yang terdekat disini dimana yah?”


“Di dalam Kampus  atau dekat Circle X dipinggir jalan sebelah sana Mbak” Bulan menganggukan kepalanya, nanti pas pulang ia akan langsung transfer.


Tak lama kemudian handphone Bapak kembali berdering.


“Asslm…” belum selesai ia menjawab terdengar suara Benny.


“Iya belum sempat ditransfer De… teteh lupa kalau Hp teteh rusak jadi gak bisa pakai mobile banking”

__ADS_1


“Nanti teteh ke ATM setelah selesai makan… sabar doong” Bulan kesal juga mendengar Benny nyerocos sambil marah-marah karena menunggu lama.


“Iya tadi teteh bilang pergi ke ATM sekarang karena pikiran Teteh Hp nya gak rusak”


“Ya maaf… kamu jangan marah-marah gitu dong… teteh kan lupaa hp nya rusak… kenapa sih hari ini semua orang marah-marah!” Bulan menarik nafas panjang.


“Ya sudah kamu pulang aja dulu, besok aja sepulang sekolah ngambil uangnya… ayam gak bakalan mati kalau telat makan bentar… kasih beras aja… gitu aja kok repot sih!” Bulan mematikan hp, rasanya kesal sampai ke ubun-ubun.


Tangannya mengaduk-aduk sup, berusaha berpikir jernih. Tapi tidak mungkin untuk memberikan makanan yang sembarangan untuk ayam jago kesayangan Bapak. Kemudian ia meraih handphone Bapak dan langsung telepon ke rumah.


“Assalamualaikum Emaaa”


“Ini teteh… Ema maaf teteh belum pulang, masih nungguin Bapak”


“Kata Ade makanan ayam sama burung habis yah?”


“Teteh baru bisa kirim uangnya besok pagi”


“Ema bisa pinjam dulu makanan ayam dan burung sama penjualnya kan?”


“Mereka udah kenal sama Ema…”


“Nanti sepulang Benny sekolah langsung dibayar”


“Iya gitu aja… tolong yah Ma… Doain Bapak".


Hanya itu solusi yang dipikirkan oleh Bulan, Juno menatapnya dengan kesal tapi tidak bicara apapun. Ia hanya menuliskan sesuatu di hp nya dan kemudian langsung mengangkat telepon.


“Ben… masih di ATM?” Bulan menatapnya kaget, sejak kapan Juno memiliki no telepon Benny.


“Abang sudah transfer uang, kamu bisa ambil sekarang”


“Yah… sukses uji coba ujiannya besok. Jangan tidur terlalu malam” menutup handphone dan kembali melanjutkan makan.


“Aku bisa transfer uang nanti ke ATM, gak usah repot-repot” Bulan menatapnya kesal, tapi Juno seperti yang tidak peduli, hanya makan sambil terus sesekali bermain hp. Merasa tidak dihiraukan akhirnya Bulan hanya diam. Saat Juno memesan take away pun ia masih saja diam dan tidak mau bicara lagi.


Percampuran rasa marah, sedih dan merasa terhina karena merasa tidak mampu untuk mengirimkan uang kepada Benny kemudian dibantu tanpa ditanya terlebih dahulu, seakan ia tidak memiliki hak untuk menolak. Matanya sudah ingin menangis tapi stok air mata sudah terkuras oleh Bapak sehingga ia cuma bisa berkaca-kaca saat menghabiskan makanan yang ada di depannya.


Begitu dilihatnya Juno menyelesaikan makanan, tanpa banyak bicara Bulan berdiri dan berjalan keluar mendahului Juno. Melirik ke kiri dan kekanan waktu sudah hampir jam 10 malam, cafe ini bukan berada  di jalan utama walaupun di dekat kampus,tapi  agak gelap karena pohon-pohonnya tinggi dan besar. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari ATM yang dekat Circle X, sesampainya disana ternyata posisinya ada  di bagian luar.


Bulan bergegas masuk, ia sudah tidak memperdulikan lagi ada dimana Juno, ia hanya ingin mengembalikan uang Juno. Ia masih punya harga diri, uang hanya untuk membeli makanan ayam dan burung masa sampai harus dibantu juga. Ia tidak mau kesannya seperti aji mumpung karena sudah menikah semuanya ditanggung oleh suami. Tapi saat akan mentransfer balik ia ingat kalau dia tidak punya nomor rekening Juno.


“Berapa nomor  rekeningnya?” Bulan menatap Juno yang berdiri menunggunya di luar ATM, sambil asyik merokok. Juno hanya mengangkat bahu acuh.


“Aku tanya berapa nomor  rekening Kak Juno… aku mau mengembalikan yang tadi dikirim ke Benny, kirim berapa tadi ke Benny?” mata Bulan sudah penuh dengan amarah, sikap Juno yang tidak peduli semakin memicu kemarahannya.


“Aku gak pernah ngapalin nomor rekening” jawabnya pendek. Mukanya tersenyum mengejek, Bulan menarik nafas menahan tangis. Mereka bertatapan seperti saling mengukur kekuatan, akhirnya Juno membuang muka dan pergi dari sana. Bulan menatap punggung laki-laki yang menjadi suaminya itu, laki-laki macam apa dia terkadang baik, terkadang hangat dan menyenangkan tapi lebih seringnya menyebalkan.


Pernikahan macam apa ini yang akan ia hadapi kedepan, semuanya terasa membingungkan. Ia merasa tidak memiliki nilai tawar apapun sekarang, kalau dulu saat diperlakukan tidak adil oleh Juno ia bisa melawan, tapi sekarang ia tidak bisa. Terlalu banyak hutang budi yang ia dapatkan dari laki-laki itu, ia belum bisa membayar semua pinjaman uangnya pada Juno karena hingga saat ini semua simpanannya masih belum bisa ditarik tunai.


Kondisi Bapak yang masih belum stabil membuatnya harus berhati-hati dalam mengambil tindakan, jangan sampai ia melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Bulan menarik napas, melihat laki-laki itu pergi, tidak membuat ia ingin pergi mengejar, ia butuh ruang untuk bisa jauh darinya.


Dosa apa yang ia perbuat sehingga mengalami cobaan yang beruntun seperti ini, rasanya ia tidak pernah menyakiti orang lain. Bulan akhirnya duduk di pelataran  parkiran Circle X, tidak terlalu kentara karena agak dipojokan sehingga orang tidak memperhatikan. Lama ia berpikir kenapa hanya karena dia menanyakan soal Anjar, kemarahan Juno langsung meledak dan sulit untuk diredam. Padahal waktu Benny kemarin bercerita soal Anjar, Juno tampak seperti tidak peduli. Tapi kenapa jadi berbeda saat ia yang bertanya, tanpa terasa air mata mulai mengalir di pipinya. Menutup muka dan berusaha menahan tangis, sampai kapan masalah ini akan terus berlanjut.


“Mau sampai kapan kamu duduk disini?”


“Kamu gak tau kalau disitu pernah ada yang mati di bacok sama perampok?”


“Anak kampus sebelah, dibacok waktu malam-malam beli makanan, mau diambil kunci motornya tapi ngelawan jadi dibacok”


“Karena gelap jadi gak keliatan, dia mati karena kehabisan darah” tiba-tiba saja Juno sudah berdiri saat Bulan menutup mukanya, Bulan langsung terhenyak, bayangan orang mati bersimbah darah lumayan mengerikan.


Ia langsung berdiri dan berjalan mendahului Juno, berjalan cepat sampai tidak memperdulikan soal napasnya yang tersegal-segal. Saat akan berbelok ke Rumah Sakit Juno menariknya ke arah Hotel dan tidak melepaskan genggaman tangannya sampai mereka berhenti di depan kamar.


“Aku gak mau sekamar sama Kak Juno!” ucap Bulan kesal.


“Siapa yang mau sekamar sama kamu?  Kamu tidur di kamar mandi sana!” Juno mendorong Bulan masuk kemudian mengunci pintu.


“Aku gak suka sama Kak Juno!” ucap Bulan kesal.

__ADS_1


“Memangnya gw pikirin!” jawabnya sambil menyimpan makanan take away di meja kamar. Bulan berdiri mematung di dekat pintu kamar, ia bingung, kamarnya hanya satu tempat tidur, ada sofa tapi hanya satu seat walaupun besar.


“Jangan berpikir untuk keluar dan kembali ke rumah sakit. Kalau kamu lakukan itu, aku gak akan peduli apapun yang terjadi sama kalian!” ancamnya sambil mengacungkan jari telunjuk pada Bulan, air mata sudah kembali berlinang tapi ia tidak ingin menjawab apapun. Hanya bisa menarik nafas panjang, api jangan dibalas dengan api. Saat ini posisinya sangat lemah tidak memiliki nilai tawar apapun. Telan semua harga diri dan tunggu hari pembalasan.


__ADS_2