Rembulan

Rembulan
Ampun Bang Jago


__ADS_3

Lift berjalan seperti merayap, berjalan di lorong hotel kaki Juno seperti tidak menapak, perasaannya seperti tidak karuan. Perasaan marah, kesal, dan sedih bercampur menjadi satu, dan yang paling mengherankan ada perasaan seperti ingin menangis. Emosi yang ia rasakan bukan lagi perasaan marah yang ingin ia luapkan saat melihat Kevin merangkul istrinya. Tapi muncul ketakutan ia akan merasakan sedih, kecewa, dan bingung semakin mendera hatinya.


Nomor demi nomor ia lewati dengan mata nanar hingga akhirnya sampai di depan kamar 709.


“Ini Pak kamar 709” security mempersilahkan Juno untuk memijit bel sendiri. Juno menarik nafas dan menatap pintu kamar di depannya.


“Ini kamar Executive Suite Pak” jelas security lagi, Juno hanya diam dan kemudian memijit bel di samping pintu. Tak lama terdengar kunci dibuka, seorang perempuan muda memakai kerudung tampak membuka pintu dengan hati-hati.


“Pak Juno?” tanya perempuan itu pelan, Juno mengangguk, dahinya berkerut ia tidak mengenalnya, tapi wajah perempuan muda itu rasanya sangat familiar. Di dorongnya pintu dan melangkah masuk.


“Saya pamit kalau begitu Pak” ucap Security pada Doni yang langsung menganggukan kepala dan mengikuti Juno masuk.


“Aa…” suara Bulan terdengar lirih. Tapi perhatian Juno terfokus pada laki-laki yang duduk di meja kerja yang terletak di sudut ruangan. Executive Suit ternyata menyediakan ruangan terpisah dari kamar tidurnya. Di ruangan itu ada meja kerja yang terletak di sisi jendela hotel yang memperlihatkan keindahan lampu-lampu Kota Jakarta di malam hari. Di tengah ruangan ada sofa panjang dan kursi duduk mengitari meja. Bulan duduk disana diantara tumpukan dokumen.


Laki-laki yang duduk di meja hotel itu, duduk dengan penuh kebanggaan dan kesombongan yang terpancar di wajahnya. Papa Bhanu. Menatap Juno yang tertegun melihat kehadirannya.


“Papa… sedang apa Papa disini?”


“Bekerja. Dibantu istrimu” hanya itu jawaban dari Bhanu, sambil melirik Bulan yang tampak pucat melihat Juno.


“Jangan marah sama istri kamu, Papa yang minta dibantu untuk menyelesaikan pekerjaan sekarang”


“Dari tadi dia udah gelisah aja mau pulang hanya saja ini tinggal sedikit lagi dokumen yang perlu diperiksa. Kalau sudah selesai semua Papa bisa proses ke pihak yang berwenang”


“Pekerjaan apa? Kenapa melibatkan Rembulan?” Juno menatap Bulan yang hanya bisa berdiri terdiam.


Bhanu melirik kehadiran Doni yang diam mematung di belakang Juno. Paham kalau Papanya merasa tidak nyaman dengan kehadiran Doni kemudian Juno berbalik menatap sahabatnya.


“Lu belum makan malam kan? Duluan aja makan dulu, barengan sama…?” Juno menatap perempuan yang juga diam berdiri di samping Bulan.


“Indri” sambung Bulan menjelaskan nama perempuan itu. Indri hanya menatap Bulan dengan tatapan bingung, tiba-tiba disuruh pergi dengan laki-laki yang tidak ia kenal.


“Gak apa-apa ndri… Bang Doni orangnya baik kok… kamu juga kan belum makan dari tadi hidangannya belum sempat kita makan” ucap Bulan sambil melirik ke arah tray yang ternyata berisi makanan tapi belum sempat mereka sentuh.


Indri menatap ke arah Papa Bhanu dan melihat anggukan dari laki-laki itu, akhirnya ia mengambil tas dan berjalan ke luar diikuti Doni.


“Gw turun dulu” ucap Doni sambil menepuk Juno yang hanya mengangguk.


“Om saya makan dulu kebawah, Bul… gw turun dulu yah” ucapnya sambil tersenyum menatap Bulan yang mengangguk sambil tersenyum ramah.


Tak lama setelah pintu tertutup Juno menatap Bulan dengan tatapan kesal.


“Jangan marah, aku lagi lemes ini belum makan, nanti marahnya kalau aku udah makan” Bulan beranjak ke arah pantry dan mengambil makanan yang di tray.


“Aa juga belum makan kan?” tanya Bulan sambil mengambil piring makan, Juno menggelengkan kepala kemudian duduk.


“Jelaskan apa yang Papa lakukan disini dan mengapa menyuruh Bulan mengerjakannya tanpa memberitahu aku?”


“Kemarin Papa malah tidak suka aku menikah dengannya, tapi sekarang malah menyuruhnya bekerja untuk Papa”


“Mendingan makan dulu A… biar ada tenaga ngambeknya” ucap Bulan santai sambil mengisi piring dengan berbagai makanan yang tersaji.


“DIAM… Aku mau bicara sama Papa, kamu makan dan jangan banyak bicara”


“Iyaaaa… aku diam, makan kalau sambil bicara bakalan keselek” duduk santai di sofa sambil menikmati makan malamnya.


“Ada tikus yang menggerogoti perusahaan Papa, sudah lama ternyata, pantas saja profit perusahaan selama lima tahun kebelakang tidak mengalami peningkatan yang signifikan”


“Indri yang menemukan penyelewengan itu” Bhanu menarik nafas panjang,


“Siapa Indri? Perempuan baru lagi? Masih belum cukup rupanya menikah dua kali” Juno tersenyum sinis.


“Jangan kurang ajar kamu, kamu pasti tidak ingat… dia anaknya Murtoyo supir Papa”


“Papa sekolahkan dia dan sekarang dia bekerja di perusahaan sebagai staf keuangan”


Juno mengerutkan dahi, pantas saja dia merasa mengenal perempuan muda tadi, beberapa kali keluarga Pak Murtoyo datang ke rumah waktu Bhanu dan Nisa belum bercerai.


“Papa sulit mencari orang yang bisa dipercaya di kantor”


“Kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan dalam kondisi seperti ini”.


Juno tersenyum sinis, mendengar permasalahan yang dialami Papanya sulit baginya untuk berempati.


“Dan akhirnya orang yang tidak Papa sukai menjadi orang yang Papa percayai.... Hahahaha ironis sekali”


Bulan hanya menggelengkan kepala melihatnya, ia malas ikut masuk ke dalam pembicaraan bapak dan anak seperti ini. Kalau diperbolehkan sebetulnya ia lebih suka ikut dengan Doni dan Indri turun makan di restoran, daripada sekarang makan tapi dengan aura mencekam di ruangan.


“Iya ironis memang, mungkin ini harga yang harus Papa bayar atas banyak kesalahan di masa lalu” ucap Bhanu lirih. Juno mengerutkan dahi tidak seperti biasanya Bhanu bersikap pasrah dan terlihat lemah.


“Kalau Papa tidak bertemu Bulan mungkin Papa akan memilih untuk berkompromi dengan keadaan, menerima nasib untuk dibodohi oleh orang-orang”.


“Kenapa tidak ada yang bilang sama aku soal ini?” tanya Juno sambil memandang Bhanu dan Bulan bergantian.


“REMBULAN!” akhirnya Juno membentak karena Bulan tampak asyik sendiri dan tidak memperhatikan dirinya. Bulan langsung tersentak, kaget karena tidak menyimak apa yang ditanyakan Juno.


“Ehhh… kenapa? Maaf aku laper banget jadi tadi gak denger” ucapnya bingung. Juno menarik nafas panjang, rasa marahnya seakan terbang melayang-layang melihat ekspresi istrinya yang bingung dan panik saat ia membentaknya.


“Papa bilang jangan marahi dia, karena Papa yang melarangnya untuk bicara sama kamu” tegas Bhanu.


“Bulan kenapa kamu menutupi kalau kamu sedang membantu Papa?” Juno seperti tidak peduli pada ucapan Bhanu.


“Aku… aku juga bingung sebenarnya, tapi aku kasian sama Papa soalnya kasus penipuan yang dialami Papa berat juga A… sekarang kalau aku hitung penggelapannya sudah mencapai  hampir 100 milyar lebih” ucap Bulan pelan. Mata Juno membulat mendengar jumlah yang tidak sedikit.


“Tapi kalau aku bilang sama Aa pasti gak akan disetujui, Aa pasti marah, trus nanti siapa yang akan bantu Papa?”


“Indri masih belum cermat dalam membaca transaksi keuangan”


“Kalau dibantu sama Afi pasti akan lebih cepat Pa… Afi jago banget dalam membaca laporan keuangan”


“Papa tidak berani minta bantuan sama kamu dan Afi” ucap Bhanu dengan suara tersekat.


“Papa malu… selama beberapa hari kebelakang setelah Bulan melaporkan bukti penyelewengan dan jumlahnya yang semakin lama semakin besar”

__ADS_1


“Papa merasa kalau Papa sedang menerima hukuman dari kesalahan-kesalahan Papa”.


Juno tampak tersenyum sinis mendengar ucapan Papanya.


“Semakin Papa bertambah usia, semakin Papa sadari kalau kesuksesan dan materi itu tidak memberikan kebahagian yang berarti”


“Ternyata kepuasaan untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam materi tidak pernah ada akhirnya”


“Ada kalanya kita merasa kita ingin berbagi dengan orang yang kita kasihi, tapi ternyata mereka tidak merasakan itu sebagai keberhasilan”.


“Beberapa waktu belakangan ini Papa merasa sepi dalam keramaian” keluh Bhanu.


“Penyesalan memang selalu datang terlambat Pa” jawab Juno.


“Kami sudah tidak membutuhkan Papa lagi, hidup kami sudah baik-baik saja”


“A…” Bulan langsung menegur, ia tidak tega mendengar ucapan Juno yang seperti tidak peduli akan keluh kesah Bhanu. Tapi Juno seperti tidak peduli dengan pikiran Bulan.


“Bulan itu istriku… perempuan yang Papa sebut tidak layak menjadi menantu Papa”


“Aku tidak suka kalau Papa berurusan dengan Bulan tanpa sepengetahuan aku”


“Kedepan kalau Papa membutuhkan pertolongan kami… Papa harus minta izin pada Mama” ucap Juno tegas, Bhanu hanya bisa menarik nafas mendengar ucapan Juno.


“Kita pulang sekarang!” ucap Juno sambil menatap Bulan yang masih asyik dengan makanannya.


“Huhhhh… pulang sekarang?” Bulan terlihat bingung.


“Biarkan dia menghabiskan makanannya dulu”


“Dari tadi dia bekerja tidak berhenti” suara Bhanu terdengar memaksa.


“SEKARANG” ucap Juno lagi. Mendengar nada Juno yang terakhir Bulan langsung menyimpan makanan yang tengah disantapnya.


“Mubazir A… gak ngabisin makanan” ucapnya sambil menjilati jari jemarinya dan kemudian bergegas menuju toilet untuk mencuci tangan.


“Jangan kamu marahi dia, dia gak punya salah apa-apa… Papa yang melarang dia untuk bicara sama kamu”


“Papa merasa malu” ucapnya lagi.


“Dia istri aku, Papa tidak usah mengajari aku bagaimana memperlakukan istri”


“Sepengetahuan aku, Papa adalah laki-laki yang tidak bisa memperlakukan istrinya dengan baik”


Mendengar ucapan Juno, Bhanu langsung terdiam. Bulan yang baru keluar dari toilet tahu kalau suasana semakin memanas.


“Papa aku pulang dulu, dokumen yang sudah disusun ini dibiarkan saja dulu, besok Indri akan menyelesaikannya”


“Aku nanti akan membuat rekapnya”


“SIAPA YANG MENGIJINKAN KAMU UNTUK MEMBANTU PAPA!” teriak Juno membuat Bulan terhenyak kaget.


“A… jangan teriak-teriak gitu dong, hadeuh jantung aku sampai mau copot dengernya” Bulan mengusap-usap dada.


Juno mendengus kesal, tahu kalau ucapan Bulan hanya lip service untuk menyenangkan dirinya semata, karena pada kenyataannya perempuan ini penuh dengan tipu daya dalam melakukan semua keinginannya.


“Sekarang kita pulang!” Juno menarik tangan Bulan untuk segera keluar dari kamar hotel.


“Iya bentar atuh pamit dulu sama Papa ihhhh” Bulan melepas tangan Juno dan menghampiri Bhanu.


“Bulan pamit dulu Pa… jangan banyak pikiran, Papa makan dulu biar nanti pulang emosinya stabil”


“Jangan sampai yang marah-marah kaya anaknya, itu juga karena belum makan jadi emosi” sambung Bulan sambil salim, Bhanu tersenyum mendengarnya, diusapnya kepala Bulan sambil mengangguk sedih.


“Makan yaa Paa biar sehat dan semangat”


‘‘REMBULAN” suara Juno langsung membuat Bulan bergegas


“Iyaaaa… ih meni gak sabaran, gak anaknya gak bapaknya sama aja ternyata” gerutu Bulan sambil berjalan menuju ke pintu.


“Paa.. Indri aku suruh pulang aja yaaa.. Kasian udah malam” sambung Bulan sambil memandang Bhanu yang menatap lekat dirinya yang menuju pintu keluar.


“Ya… suruh Indri pulang saja, besok pagi dia yang akan merapikan semua dokumen ini” jawabnya, menyandarkan tubuhnya ke kursi seakan mencari tumpuan untuk tubuhnya yang terasa lelah.


Begitu keluar dari kamar hotel Juno menarik tangan Bulan untuk berjalan mengikuti dirinya dengan cepat.


“Sans atuh A sans… jangan buru-buru begini kaya yang kebelet pengen pipis” ucap Bulan kesal.


“Jangan banyak bicara kamu, sudah berani berbohong sekarang yah!” genggaman tangan Juno terasa mengeras hingga membuat Bulan meringis.


“Aduuuuh sakit jangan keras-keras atuh pegang tangannya” Bulan mencoba menarik tangannya tapi Juno enggan melepaskan.


“A… sakit… megangnya jangan keras-keras” keluh Bulan, Juno menatap perempuan yang meringis di sebelahnya itu dengan tatapan kesal sekaligus kecewa. Akhirnya melepaskan genggaman tangannya, Bulan langsung mengusap-usap tangannya yang tampak kemerahan.


“Jangan suka marah kaya gitu atuuuh”


“Aku minta maaf… aku kan gak berbohong sama Aa”


“Waktu itu kan aku bilang kalau aku dimintai tolong untuk memeriksa keuangan yang mengalami penyelewengan” kilah Bulan


“Iya tapi kamu tidak jujur kenapa kamu tidak bilang kalau kamu membantu Papa”


“Memangnya Aa akan mengijinkan kalau aku bilang terus terang aku bantuin Papa?”


“Pasti Aa akan menolak sedangkan kalau Aa tahu kondisi penyelewengannya berat”


‘Bukan ratusan juta tapi sudah milyaran”


“Perusahaan gak kolaps juga udah hebat banget… gila banget itu perempuan beranian banget… bukan jadi tikus tapi udah jadi komodo”


“Menggelapkannya sampai milyaran”


“Perempuan?!” Juno terlihat bingung.

__ADS_1


“Iyaaah” Bulan melirik ke kiri dan ke kanan di depan pintu lift. Seakan takut orang mendengar rahasia itu.


“Istrinya Papa… itu si Jamet kata Afi mah...hihiihi” Bulan tertawa terkikik tanpa mempedulikan muka Juno yang berkerut.


“Maksud kamu pelaku penggelapannya dilakukan oleh perempuan itu?”


“Papa ditikam di belakang?” tanyanya lagi.


“Bukan hanya ditikam tapi kemudian dimasukkan ke dalam sumur menunggu kehabisan darah dan mati”


“Untung ketahuannya sekarang A… ditunggu aja deh setahun lagi Perusahaan Papa akan mulai kolaps” jelas Bulan, mendengar penjelasan istrinya Juno hanya diam.


“Aku sama sekali gak berniat membohongi Aa, kan Aa gak pernah tanya kalau kerja sama Papa nggak?” Bulan tersenyum sambil memegangi tangan Juno dengan manja.


“Jangan berkilah, walaupun aku gak bertanya, mestinya kamu jujur” Juno menepis tangan Bulan yang memegang tangannya.


“Mulai deh ngambek-ngambek gak jelas!” Bulan menggerutu sambil memijit-mijit tombol lift dengan kesal.


“Nolongin Bapaknya sendiri aku tuh bukan orang lain”


“Kalau jadi anak mesti berbakti, meskipun orang tua melakukan kesalahan yah kita mesti maklum”


“Manusia itu kan tempatnya salah”


“Bayangkan kalau tidak kita bantu, kemudian Papa terpuruk”


“Udah mah Papa teh ngeselin dulu trus kemudian kondisinya miskin”


“Beuuuh makin sebel dan hoream lah kita membantunya”.


“Apa itu hoream?” tanya Juno, beberapa kali Bulan masih saja suka menyelipkan bahasa sunda dalam percakapan dengannya.


“Males hoream itu… gimana sih.. Udah berbulan-bulan nikah masih belum hafal bahasa Sunda” gerutu Bulan sambil masuk ke dalam lift.


“Kalau aku lihat Papa itu banyak perubahannya, kaget kayanya beliau karena kejadian ini”


“Aku suka kasian juga ngeliatnya”


“Suka nanyain gimana Afi, trus gimana Aa, udah banyak belum projectnya”


“Eh kemarin malah nanyain Mama loh…. Hihihi nanyanya kaya yang ragu-ragu gitu”


“Berapa kali kamu ketemu Papa?” tanya Juno datar, ada beberapa orang yang juga masuk ke lift.


“Lima kali sama waktu dulu di Gancit, waktu pertama kali ketemu Papa” mendengar jawaban Bulan, Juno langsung melotot kesal.


“Jadi waktu kamu janjian sama teman itu kamu sebenernya ketemu Papa”


“Hehehe… maapkeun… nah kalau itu aku beneran ngebohong, padahal gak ketemu sama temen divisi lain cuma yang satu divisi aja, terus gak sengaja ketemu Papa”


“Peace… jangan marah” bisik Bulan sambil tersenyum semanis mungkin.


Juno menarik nafas panjang, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka mereka semua keluar dan ternyata ada Doni dan Indri yang menunggu di depan lift. Rupanya mereka sudah selesai makan dan akan naik lagi ke atas.


“Ehhh Indri tadi aku udah bilang ke Papa supaya kamu bisa pulang aja, teteh juga udah mau pulang kok” Bulan langsung merangkul teman baru yang membantunya selama ini.


“Tapi berkas-berkasnya gimana teh? Kan belum diberesin”


“Gak apa-apa besok Indri kesini lagi aja, untuk membereskan data… sama teteh mau direkap dulu hasil hari ini”


“Besok tinggal disusun laporan sesuai dengan hasil rekap”


“Supaya bisa dijadikan barang bukti”


“Hotel baru check outnya besok jam 12 jadi kita bisa punya waktu sampai jam 12 siang” jelas Bulan santai, mendengar penjelasan Bulan kembali Juno melirik tajam.


“Siapa yang ngasih ijin kamu kesini lagi besok?” tanyanya dingin. Bulan tersenyum


“Aa Juno… anak soleh dan baik, yang punya hati seluas samudera memberikan pintu maaf bagi orang-orang yang suka menzaliminya”


Doni langsung terbahak mendengarnya.


“Seluas samudera bikin tenggelem orang-orang dalam pusaran air kaya segitiga bermuda” ucap Doni, Indri yang mendengarnya tampak berusaha menyembunyikan senyumannya, ia tahu kalau selama ini Bulan menyembunyikan kenyataan kalau ia membantu Bhanu.


“Lu antarin si Indri balik Don… gw mau pulang sekarang” ucap Juno tanpa ekspresi. Terlalu banyak kejutan yang ia alami hari ini.


“Laaah tadi gw numpang di mobil elu, nganterinnya gimana?” Doni menggaruk kepala bingung.


“Gak usah Mas, saya bisa pulang sendiri. Masih ada busway ke arah rumah. Masih aman kok” jawab Indri cepat.


“Eh gak apa-apa… kita pakai taksi aja udah malem” jawab Doni


“Gak usah Mas… saya udah biasa kok, jangan khawatir. Pak Juno saya pamit dulu… Teh saya pulang duluan kalau begitu, besok saya kesini lagi. Kunci kamarnya saya simpan di resepsionis saja”  Indri berpamitan sambil kemudian beranjak pergi dari depan lift. Juno memberikan tanda kepada Doni untuk mengikuti Indri.


“Ya udah gw pulang duluan kalau begitu” ucapnya melambaikan tangan dan bergegas mengikuti Indri.


“A… ya Allah aku baru sadar sekarang” Bulan memandang Juno dengan mata berbinar.


“Apa lagi? Banyak maunya kamu sekarang… udah berbohong… tapi gak merasa bersalah lagi” gerutu Juno sambil berjalan keluar menuju pintu keluar hotel.


“A… hihihi kita jodohkan Bang Doni sama Indri” ucap Bulan dengan penuh semangat.


“A… yah...kita jodohin mereka… Indri perempuan yang baik, solehah, pinter lagi” bujuk Bulan sambil menarik-narik tangan Juno yang berjalan lurus sambil cemberut,


“A… ih meni gak respon”


“Jangan suka ikut campur sama urusan orang”


“Urus diri kamu sendiri, mulai besok kamu gak aku izinkan keluar rumah” ancam Juno.


“Ya Allah kejam amat, ngebantuin mertua sendiri malah dihukum” keluh Bulan.


Bulan...Bulan nasib kamu aja belum jelas udah mikirin orang… Ampun deh Bang Jago

__ADS_1


__ADS_2